Feeds:
Tulisan
Komentar

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

About 3 million people visit the Taj Mahal every year. This blog was viewed about 31,000 times in 2010. If it were the Taj Mahal, it would take about 4 days for that many people to see it.

 

In 2010, there were 2 new posts, growing the total archive of this blog to 138 posts. There were 2 pictures uploaded, taking up a total of 276kb.

The busiest day of the year was June 3rd with 259 views. The most popular post that day was Sejarah Yahudi – Israel.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were google.co.id, search.conduit.com, facebook.com, herianto.unsada.ac.id, and lowongankerjamu.com.

Some visitors came searching, mostly for yahudi israel, sejarah yahudi, kecelakaan, pemrograman terstruktur, and rj 45.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Sejarah Yahudi – Israel January 2009
100 comments

2

Jurusan Teknik Informatika, Terbaik, Terfavorit [?] June 2007
91 comments

3

Sistem Pakar : Evolusi Sistem Pengolahan Komputer April 2007
127 comments

4

Muhammadiyah vs NU : Siapa tradisional, siapa modern [?] July 2007
67 comments

5

Ruang Diskusi IT April 2007
261 comments

Gara-gara

Banyak hal yang mungkin membuat kita berubah, lalu seorang Muslim diminta penyebab perubahan itu adalah “gara-gara” Allah Subhanahu Wata’ala. Term ini sering juga disebut dengan ikhlas, atau dalam konteksnya dengan niat sering disebut dengan : lillahi ta’ala.

Baik,

hal di atas itu kan infomasi yang normatif saja, dimana setiap kita yang Muslim tentu sudah umum mengetahui keharusan ikhlas atau lillahi ta’ala semacam itu.

Lalu ada kasus-kasus begini,

Pertama : Seseorang menjadi taat atau bertobat (lebih mendekat pada-NYA) gara-gara putus dengan pacarnya misalnya (efek frustasi), atau gara-gara orang tuanya atau orang yg dikasihinya yg lain meninggal, atau gara-gara diputus kerja, atau gara-gara menderita penyakit keras, atau gara-gara musibah lalu jatuh miskin, atau gara-gara mendapat musibah lain dalam berbagai bentuknya, dstnya dstnya.

Kedua : Ada orang yang ia menjadi lebih taat gara-gara “terseret” ikut taklim, gara-gara diminta oleh pacaranya istrinya untuk taat, gara-gara malu kalau ketauan sama guru ngajinya pemalas, gara-gara ia menjadi tokoh, gara-gara … gara-gara dan gara-gara.

Terus gimana ?

Yang benar dan tentu yang diterima oleh-NYA sebagai amal baik (ganjaran ridha/pahala) tentu perbuatan yang dilakukan karena-NYA tadi, gara-gara ikhlas atau lillahi ta’ala. Lalu bagaimana dengan kasus-kasus seperti di atas itu.

Perhatikan,

niat dan Lanjut Baca »

Hampir semua kita bisa dipastikan pernah berucap bahwa : “kritik adalah sesuatu yang berguna dan dibutuhkan“. Dalam ilmu sosial termasuk bidang manajemen, kritik menjadi salah satu elemen kontrol.

Tetapi kenyataannya tidak semua berakibat kebaikan demikian.

Kesan nilai positip dari kritik kadang menjadi landasan untuk meneruskan  pelampiasan. Misal : Lanjut Baca »

Kuliti

‘Kita kadang begitu mudah menilai kerusak-fatalan orang lain. Lalu  itu menjelma menjadi penutup, pembiar dan penerus kerusak-fatalan diri kita sendiri.”

Duhai diri,

kepadamu kata-kata ini menjadi tidak tersembunyi :

Kita gemar bersembunyi di pembicaraanan kelemahan orang lain.

Aku harus berani mengkuliti diri sendiri.

Harus.

Ketika kukuliti banyak orang.

Kukuliti setiap orang yang mengkuliti hal-hal yang berkaitan dengan aku

Aksi balas itu harus ada akhirnya.

Untuk mengatakan dirimu benar, engkau tidak mesti berusaha membuktikan bahwa orang lain itu salah.”

Aduh… Lanjut Baca »

HAMAS dan Teroris

Satu-satunya komunitas yang masih dan terus saja bertahan mendukung penjahan di bumi Pelestina saat ini adalah pemerintah amerika dan israel itu sendiri. Kok ? Ya, karena pada dasarnya amerika dan israel itu satu. Secara negara mungkin berbeda, tetapi kekuatan lobbi yahudi terhadap pemerintahan amerika saat ini jauh lebih kuat ketimbang mengikuti arus pemikiran warganya (amerika) itu sendiri.

Itulah “hebat” nya yahudi ini. Licik aja kali. Mereka memang terus menjadi batu ujian bagi nilai-nilai kemanusiaan. Memperhatikan mereka kita bisa saja teringat dengan makhluk yang disebut  syetan  Lanjut Baca »

Belajar dari Kehilangan

Belajarlah dari kehilangan

duhai diri yang acap lalai

Wahai Zat yang Maha Pendidik

Engkau hilangkan setelah Kau beri

Tanda Kau masih bentang waktu itu,

“Berbenahlah”, kata-MU.

duhai,

belajarlah dari Lanjut Baca »

Sejarah Yahudi – Israel

Kisahnya itu kita mulai dari sini :

Sebelumnya mereka adalah bangsa yang terlunta-lunta tanpa tempat tinggal. Tak satu pun bangsa lain di dunia ini yang rela ditumpangi karena khawatir prilaku licik mereka yang selalu kelewatan. Kelicikan ini didukung pula oleh kecerdasannya yang konon memang lumayan. Akibat tersohornya kelicikan ini sampai-sampai bangsa Jerman sempat berhasrat untuk melenyapkan mereka dari muka bumi.

Yahudi. Ya merekalah si Yahudi itu.

Lalu entah darimana tiba-tiba mereka teringat dengan [konon] tanah para leluhurnya yang dulu-dulu sekali itu (yaitu daerah palestina plus sekitarnya sekarang). Opininya adalah tanah itu merupakan tanah nenek moyang yang mereka akui dari keturunan Musa as dulu. Duh, padahal kita tahu ajaran musa sendiri mereka khianati.

Lalu dirancanglah skenario itu.

Dengan dibantu oleh bangsa-bangsa lain yang ketakutan tanahnya sendiri direbut oleh si Yahudi ini maka strategi licik itu dimulai. Mulanya sempat tanah yang ditentukan itu adalah dataran brazil sekarang, argentina dan uganda  dan sampai akhirnya mereka memutuskan daerah palestina saja. Apalagi mereka bisa menggunakan alasan historis dan kitab suci untuk merebut daerah palestina plus-plus tersebut.

Penguasa di palestina saat itu pada mulanya sangat kuat dan konsisten dalam mempertahankan tanahnya sendiri. Jangankan di jual sejengkal, untuk ditumpangi sekejap saja pun tidak digubris setiap si Yahudi atau calo-calonya mencoba mencari simpati di awal skenario tadi.

Tapi apa akhirnya …

Yah begitulah… mereka memang licik bersama dengan kecerdikannya.

Sebagian dari bangsa palestina dan arab lain pada waktu itu ada juga yang lengah, apalagi saat kolonial Inggris berhasil menjajah. Pada mulanya istilah numpang. “Bolehkah kami numpang di daerahmu ini sebentaa…aar aja, masalahnya kami dimana-mana diusir dan dipencilkan oleh bangsa lain, apa kalian tidak kasihan dengan kami ?” Katakanlah pada mulanya mereka diberi tumpangan atas dasar belas kasihan. Lama kelamaan mereka bisa membeli, di waktu berikutnya merebut, dan sekarang mereka merasa memiliki. “Ini tanah kami lho“, katanya. “Tuhan memang menghadiahkannya untuk kami“.

Lalu pelan-pelan mereka terus mengatur siasat untuk dapat mengusir sang tuan rumah dari tanahnya sendiri.

Sedari dahulu bangsa Yahudi ini memang begitu. Mereka seperti ditakdirkan untuk menjadi ujian bagi manusia lain di kehidupan ini. Mereka berkali-kali mencoba membunuh utusan Tuhan (seperti kasus Isa as), mengobrak-abrik ajaran para utusan-NYA itu dan selalu menindas manusia lain saat diberi kekuasaan (kekuatan) sedikit saja.

Begitulah seperti halnya yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Tuhan seperti memberi kesempatan pada kita untuk menyaksikan dan membuktikan akan kebejatan mereka setelah ada sebagian dari saudara-saudara kita yang tertipu. Tertipu dengan alasan-alasan kemanusiaannya (humanisme), tertipu dengan alasan kesamaannya (pluralisme) dan tertipu dengan logika pemaksaan pembenaran (apologis) yang dirancangnya.

Sebagian memang ada bangsa Yahudi ini yang baik, yang tersadar dari fitrahnya, seperti halnya di zaman rasulullah terdapat sejumlah yahudi yang menjadi muslim.

Tapi Yahudi-Israel yang kita saksikan saat ini benar-benar telah membukakan mata kita sendiri bahwa mereka memang musuh kita yang sebenar nyata.

Kisah Lengkapnya Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.