Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2007

Kebanyakan blogger ternyata orang-orang yang berlebihan ? Ya benar. Secara tidak sengaja hal ini ter-identifikasi dengan cukup meyakinkan. 😐

Sulit untuk membantah fakta bahwa kbanyakan para blogger itu ternyata memang benar-benar orang yang berlebihan. Pertama, berlebihan dalam hal (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Guruku

Kmaren iseng aja corat-coret (mulanya di kepala aja) nama-nama guru yang telah berkiprah membentuk pribadiku seperti ini, terutama buat guru SD, Ibtidaiyah, SMP dan STM.

Kilasan corat-coret (representasi fisik) -nya kira2 seperti ini :

Guru2 SD ku (SD Alwashliyah Serbalawan – Simalungun – SUMUT) :

Muallim Taher (Kepsek), Ibu Butet (Istri kepsek), Ibu Yus (Guru kelas), Pak Yusuf (Lupa ngajar apa ya pak ? 😦 ), …

Guru2 Ibtidaiyah ku (Ibtidaiyah Alwashliyah Serbalawan – Simalungun – SUMUT) :

Muallim Panusunan (Saya masih ingat waktu muallim ini mengatakan akan dihajikan oleh salah satu bekas muridnya, terbayang… akankah aku juga akan meniru muridnya itu), Muallim Husein, Muallim … , Ustadz Yunus, Ustadz Adek, …

Guru2 SMP ku (SMP Muhammadiyah Serbalawan – Simalungun – SUMUT) :

Pak Yauman BY (sekaligus pamanku), Pak Masturi (sempat jadi kepala sekolah), Pak Rasyid (Abang teman sekelasku), Bu Hasnah (Kalo dah marah kepala kami bisa dijedut ke meja semua, kuat juga ya bu… 🙂 ), …

Guru2 STM ku (Elektronika – STM Negeri Pematangsiantar – Simalungun – SUMUT):

Pak Siahaan (Guru Elektronika Dasar, aku katanya satu2nya siswa yg berani dia beri nilai 9 😉 , harap maklum.. ehmm 🙂 ), Pak Simatupang (Wali kelas 3, kenangan paling indah waktu aku kena tampar, gara2 … ah sudahlah.. ), Pak Saragih (Guru Matematika, lucu), pak Gultom (guru digital yg pertama memperkenalkan defenisi komputer ke aku), ibu kimia itu (wadduh namanya siapa ya..), bapak fisika itu ( 😦 ), …

Astaga… aku benar2 tidak bisa menulis semua nama-nama anda hari ini, cuma wajah dan wejangan kalian saja yg masih melintas2 di sisa2 ruang kepala ini … (knapa ya ingatan ini 😦 )

Ah, guru2 ku… apakah aku termasuk yang tak tau berterima kasih itu… 😦

Oh tidak, tidak…, biar ku titipkan lewat kata2 ini” Terima kasih buat semua bapak2 dan ibu2 guruku sekalian…

Tapi, cukupkah seperti itu saja ? (lebih…)

Read Full Post »

Terinspirasi dari proyek Pemetaan [Potensi] ICT di Indonesia yang [saya] sempat nyelip2 dan [sedikit] terlibat di dalamnya beberapa waktu lalu, maka [berkaitan dengan itu] setiap melakukan blogwalking setiap kali pula terlintas di pikiran tentang keperluan “pemetaan” dalam hal lain seperti pemetaan “Ragam Wacana” yang berkembang di dunia blog (blogsphere) saat ini, terutama yg berkaitan dengan masalah keagamaaan (Islam) yang selalu menjadi topik “hangat” dan dapat meningkatkan hit menarik perhatian. 🙂

(lebih…)

Read Full Post »

Proyek ICT Kita : Gagal Hasut

Seorang rekan dari kampus tetangga menumpahkan curhat-nya begini :

Kampus itu pada mulanya tidak mengenal dunia IT sama sekali kecuali beberapa PC tua yang menyisakan keperkasaan masa lalunya, plus seonggok aplikasi akademik kecil yang feature – nya sangat pas2 an. Lalu beberapa dari kami yang merasakan keterpurukan itu pun menggeliat, mempropagandakan kepentingan penerapan IT di tempat itu demi menaikkan kadar competitive institusi pendidikan tersebut

Terus bagaimana“ pancing saya demi mengorek beberapa isu lain.

Mereka waktu itu menolak“ jawabnya ketus.

Alasannya aneh-aneh, mulai dari ketiadaan dana sampai isu kecurigaan pada kami yang katanya sekedar ingin menaikkan bidangnya sendiri. Ya…, memang kebetulan kami2 yg paling semangat tersebut adalah orang2 dari jurusan IT sendiri. Dan wajar dong yang paling mengerti bagaimana nilai dan pengaruh dunia IT di era ini tentu kami. Jadi itu bukan sekedar propaganda untuk kebanggaan kemajuan bidang kami sendiri, tapi ada banyak alasan2 realitas dan objektivitas yang melandasinya“.

Wah terus-terus, gimana ?“ saya jadi tertarik dengan obrolan ini karena fenomena di proyek IT juga akhir2 ini jadi pemikiran saya.

Sampailah akhirnya suatu ketika kami berhasil mendapatkan dana cukup lumayan untuk pengembangan IT di kampus itu. Maka dengan gegap-gempita dan semangat 45 kami garaplah proyek IT di kampus seperti apa yg kami sekedar bayangkan sebelumnya. Semua lini di-instalasi [titik] network, unit-unit terpenting PC nya diganti dengan yg lebih wah, aplikasi akademik yg sebelumnya diupgrade habis, dan yang terpenting lagi adalah… koneksi internet disediakan

Barangkali semuanya pada kaget… siapa sih kami, sampai bisa2 nya membuat perubahan sedemikian yg menghebohkan. Tapi oops tunggu dulu…

Kenapa ?“ saya refleks aja bertanya demikian.

Itu ternyata cuma sambutan di lapisan pertama“ katanya memelas. 😦

Lha, maksud sampean apa ?“ saya jadi terkesima juga dengan kata2 nya terakhir.

Belakangan muncul kehebohan lain“ katanya pula.

Apa itu ?

Mereka justru khawatir kalo semua proyek yg kami prakarsai tersebut dapat menurunkan pamor mereka2 yang tidak terlibat

Ah, itu pasti cuma prasangka kamu aja ? Lagi pula saya tidak melihat hubungan sebab-akibat yang kuat dari sana

Tapi ini serius dan fakta itu terjadi. Mereka ketakutan ketika tersadar akan hal itu dan mulai mengembangkan isu aneh-aneh

Isu apa sih“ kata saya mencoba sedikit tersenyum menenangkan kemarahannya.

Saya melihat wajahnya sedikit tegang, lalu kembali berceloteh, “Mereka mengembangkan isu kalo kami menggunakan dana secara tidak benar. Menyebarkan praduga miring kalo imbalan kami atas semua proyek itu ratusan juta

Ah, barangkali mereka cuma bermaksud mengkritik dan mengingatkan saja“ kata saya mencoba menularkan pikiran positip.

Kritik apa ?“ jawabnya (lebih…)

Read Full Post »

Ma Ota Lamak

Sekilas catatan dari perjalanan seminggu di ranah Minang

Seminggu full kmaren hari-hari kami sekeluarga berada di Padang “Kota Tercinta”. Ini kali pertama untuk saya, istri dan ketiga anak-anak [lucu] kami pulang kampung bersama. Sebenarnya sebelumnya kami sudah pernah pulang ke Medan (maksudnya Sumatera Utara, tepatnya Kabupaten Simalungun, persisnya Kecamatan Dolok Batu NanggarSerbalawan) juga bersama-sama (sebelum ada si terkecil sekarang). Tetapi oleh karena saya dan/atau istri bukan keturunan Medan, cuma saya aja yg numpang lahir dan menghabiskan masa remaja di sana, maka tidak kami sebut itu sebagai pulang kampung. Benar gak ya ? Trus yg namanya kampung itu, kampung kelahiran atau kampung keturunan sih … ? Ah, pertanyaan gak penting kali ya… 😆

Baik, begini…
kali ini saya cuma mau postingan tentang kesan terkuat dari pulkam kmaren itu, yaitu masalah : “ma ota lamak“ yang artinya [kira-kira] : ngobrol enak. Masalah kemampuan : ma ota lamak ini sebenarnya merupakan keahlian khusus orang minang. Bisa dikatakan salah-satu kriteria [kehebatan] seorang minang adalah : kemampuannya dalam “ma ota lamak“, atau ngobrol dengan orang lain dengan “nikmat“. Dari tradisi memang seorang minang secara sengaja atau tidak, telah diajarkan untuk mampu bercerita atau bertutur yg dapat membuat lawan bicara bisa betah (tertarik) mendengarnya. Bahkan kemampuan ngomong sedemikian (seperti dari ber-pepatah pepitih) telah mempengaruhi sistem nilai di ranah minang dalam mengukur kualitas seseorang. Tentu ini juga yang membuat [kbanyakan] orang minang tampak cakap saat berperan sebagai diplomat, negosiator, dan [termasuk] juga saat manggaleh (jualan). 😀

Yang Tidak

Sayang sekali ternyata saya tidak mencapai kualitas sedemikian. Maksudnya, saya tidak memiliki kemampuan ma ota sdemikian, … kecuali. Kecuali apa ?
Kecuali pada orang2 tertentu dan kecuali pada topik2 tertentu. Saya kan guru/dosen, jadi bagaimana pun di depan kelas harus ma ota dong. Tetapi secara umum, walaupun saya [asli] orang minang, tetapi kemampuan ma ota itu tidak saya capai sebagaimana mestinya. 🙂

 

Nah kmaren itu ada kejadiannya berkaitan dengan hal ini (lebih tepat : kata lagunya,“ Kamu ketauan…“). (lebih…)

Read Full Post »

Memangnya anda Tuhan, Yang berhak menentukan apakah kami termasuk kafir atau tidak, beraliran sesat atau tidak, masuk surga atau neraka ? Anda jangan sok merasa mewakili Tuhan dong di dunia ini ? Apalagi berlagak seolah-olah jadi Tuhan !

(lebih…)

Read Full Post »

Prematur
 

Ini sungguh2 postingan prematur, yg lahir sebelum waktunya. 😦 Yah, gimana lagi. Ada sejumlah kesibukan di minggu2 ini yg mengakibatkan komentar teman2 dan munculnya postingan baru menjadi terlantar.

Tapi sudahlah, dari pada tidak sama sekali, biarlah postingan yg masih dalam status draft ini saya paksa untuk mau tampil di ruang publik. Semoga ada tambahan dan koreksi dari sana sini.  🙂

— 

The Content 

Tulisan ini demi melanjutkan (baca:melengkapi) postingan atau lebih tepatnya curhat masalah bandwidth di negeri ini yg imbasnya juga ternyata mengena ke sektor2 lokal dimana kita berada (corporate) dan bahkan ke sektor diri pribadi (pengguna personal). Tetapi benarkah ini masalah bandwidth semata?

Apa sebenarnya makhluk yg bernama bandwidth tersebut ? Di dunia analog (komunikasi analog, seperti halnya radio dan televisi saat ini) bandwidth dikenal sebagai : range frekuensi (dari min ke maks) yang digunakan oleh sinyal pembawa (carrier) informasi, satuanya hz (heartz). Tetapi di dunia digital (komunikasi digital, seperti halnya komputer dan internet) defenisinya tidak sama, dalam hal ini bandwidth adalah : jumlah bit yang dapat dikirimkan per satuan waktu. Di dunia bisnis IT ada lagi istilah bandwidth volume, yg didefenisikan sebagai ukuran besar data (space) maksimal yg boleh ditransfer oleh pelanggan melalui koneksi tersebut. Misalnya jika provider menentukan spec 1 GByte/bulan, maka ini artinya maksimal data yg dapat anda transfer melalui koneksi tersebut adalah 1 Giga Byte. Ini tentu berbeda dengan defenisi bandwidth yang dimaksud pada tulisan ini.

Berdasarkan defenisi pertama, maka jika bandwidth internet anda 384kbps artinya dalam satu detik dapat dikirimkan data sebanyak 384 kilo bit (kb). Jika anda memaksa untuk menggunakan satuan Byte (satuan yg lebih kita akrabi) maka bagi aja angka tersebut dengan 8 (sebab 1 Byte= 8 bit) sehingga menjadi 384kb/8= 48 kByte. Dan sekarang kita dapat berkata bahwa dengan bandwidth 384kbps tersebut dalam waktu 1 detik dapat terkirim data sebesar 48 kB, yg berarti juga untuk data sekitar 500 kB (genapan dari 480 kb) maka waktunya sekitar 10 detik, dan jika data tersebut 1MB (2 x 500kB) maka waktunya menjadi 20 detik (2 x 10). Hitungan ini cuma kira2 saja dan tentu saja masih sangat kasar. Kenapa kasar ? Karena ternyata 1 kilo (K) dalam IT tidak benar-benar 1000 (seribu), dan 1 mega (M) tidak benar2 1000.000 (sejuta). Tepatnya di dunia IT 1 kilo itu adalah 1024 dan 1 mega adalah = 1048576. Dalam kaitan dengan masalah transfer data bit di atas, ternyata selama proses transfer terjadi, terlibat juga (ikut ditransfer) bit-bit lain (misalnya bit pengontrol transmisi), sehingga bit yg ditransfer melebihi dari data yg sesungguhnya. Belum lagi masalah propogasi (tergantung media) dan delay antrian (masalah kelincahan device perantara) yang turut juga menentukan waktu transfer (latency) ini.

Ah… ini kok jadi terlampau teknis … 😉


Baiklah, kembali ke pertanyaan awal di atas,“Kenapa koneksi internet menjadi lambat ?“.

Ini pertanyaan standar yg sering diajukan para user ke provider, ke admin, atau ke petugas IT lain yg sejenis. Ini bisa saja terjadi karena user merasa ada ketidak-wajaran akibat dari defenisi kewajaran berinternet yang dia pahami, dan/atau akibat rangsangan nafsu yg kelewat tinggi dalam hal ber-internet-ria-an tersebut.

Napa ini terjadi ya ? Maksudnya tentu napa lemot, bukan masalah nafsu tinggi itu lho. :mrgreen: Kalo masalah nafsu tinggi tersebut, itu mah masalah lain. Bukankah di bulan ramadhan kmaren kita telah lolos di pelatihannya ?

Untuk memahami fenomena ini tentu kita sebaiknya mencari informasi yg se-objektif-nya, karena kalo tidak, akan ada-ada saja yang mengeruk di air yg keruh sebagai celah pemanfaatan bahkan semacam pemaksaan agar terjadi deal bisnis [baru]. 😐

Baik,

saya menawarkan corat-coret berikut untuk mengulas permasalahannya dan mengajak anda berdiskusi (menambah informasi) melalui pemaparan sejumlah alasan yg pernah saya ditemui. Mungkin saja lambatnya (ke-lemotan) koneksi internet anda akibat dari beberapa hal berikut :

1.   Karena besar bandwidth yang disewa dengan jumlah terminal yang menggunakannya berada di bawah standar kenyamanan. Misal bandwidth yang anda sewa 256kbps dan terminal yang lagi konek ke internet 50, maka rata-rata (jika memang rata) akan mendapat 256/50 = 5.12 kbps. Ini berada dalam level ketidaknyamanan berinternet (<10kbps), jika sekedar dikaitkan dengan bandwidth saja.

Saran cara mengatasinya : tentu dengan menaikkan besar bandwidth yg disewa. Sejumlah provider untuk kalangan corporate menawarkan bandwidth mulai dari 64kbps, 128kbps, 256kbps, 512kbps, 1Mbps, dan seterusnya. Tawaran besaran bandwidth ini juga diiringi dengan tawaran rasio-nya seperti : 1:1 (clear), 1:4, 1:8, 1:16 dan seterusnya. Akhirnya anda juga akan ditawari dengan sejumlah cara (media) koneksi jika memang alternatif lain dimiliki oleh provider tersebut, katakanlah apakah melalui : wireless, kabel atau fo.

2.  Karena sejumlah terminal/user menggunakan bandwidth melebihi jatah (lebih…)

Read Full Post »