Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Jaringan Komputer’ Category

Prematur
 

Ini sungguh2 postingan prematur, yg lahir sebelum waktunya. ūüė¶ Yah, gimana lagi. Ada sejumlah kesibukan di minggu2 ini yg mengakibatkan¬†komentar teman2 dan munculnya postingan baru menjadi terlantar.

Tapi sudahlah, dari¬†pada tidak sama sekali, biarlah postingan yg masih dalam status draft ini saya paksa untuk mau tampil di ruang publik. Semoga ada tambahan dan koreksi dari sana sini.¬† ūüôā

—¬†

The Content 

Tulisan ini demi melanjutkan (baca:melengkapi) postingan atau lebih tepatnya curhat masalah bandwidth di negeri ini yg imbasnya juga ternyata mengena ke sektor2 lokal dimana kita berada (corporate) dan bahkan ke sektor diri pribadi (pengguna personal). Tetapi benarkah ini masalah bandwidth semata?

Apa sebenarnya makhluk yg bernama bandwidth tersebut ? Di dunia analog (komunikasi analog, seperti halnya radio dan televisi saat ini) bandwidth dikenal sebagai : range frekuensi (dari min ke maks) yang digunakan oleh sinyal pembawa (carrier) informasi, satuanya hz (heartz). Tetapi di dunia digital (komunikasi digital, seperti halnya komputer dan internet) defenisinya tidak sama, dalam hal ini bandwidth adalah : jumlah bit yang dapat dikirimkan per satuan waktu. Di dunia bisnis IT ada lagi istilah bandwidth volume, yg didefenisikan sebagai ukuran besar data (space) maksimal yg boleh ditransfer oleh pelanggan melalui koneksi tersebut. Misalnya jika provider menentukan spec 1 GByte/bulan, maka ini artinya maksimal data yg dapat anda transfer melalui koneksi tersebut adalah 1 Giga Byte. Ini tentu berbeda dengan defenisi bandwidth yang dimaksud pada tulisan ini.

Berdasarkan defenisi pertama, maka jika bandwidth internet anda 384kbps artinya dalam satu detik dapat dikirimkan data sebanyak 384 kilo bit (kb). Jika anda memaksa untuk menggunakan satuan Byte (satuan yg lebih kita akrabi) maka bagi aja angka tersebut dengan 8 (sebab 1 Byte= 8 bit) sehingga menjadi 384kb/8= 48 kByte. Dan sekarang kita dapat berkata bahwa dengan bandwidth 384kbps tersebut dalam waktu 1 detik dapat terkirim data sebesar 48 kB, yg berarti juga untuk data sekitar 500 kB (genapan dari 480 kb) maka waktunya sekitar 10 detik, dan jika data tersebut 1MB (2 x 500kB) maka waktunya menjadi 20 detik (2 x 10). Hitungan ini cuma kira2 saja dan tentu saja masih sangat kasar. Kenapa kasar ? Karena ternyata 1 kilo (K) dalam IT tidak benar-benar 1000 (seribu), dan 1 mega (M) tidak benar2 1000.000 (sejuta). Tepatnya di dunia IT 1 kilo itu adalah 1024 dan 1 mega adalah = 1048576. Dalam kaitan dengan masalah transfer data bit di atas, ternyata selama proses transfer terjadi, terlibat juga (ikut ditransfer) bit-bit lain (misalnya bit pengontrol transmisi), sehingga bit yg ditransfer melebihi dari data yg sesungguhnya. Belum lagi masalah propogasi (tergantung media) dan delay antrian (masalah kelincahan device perantara) yang turut juga menentukan waktu transfer (latency) ini.

Ah… ini kok jadi terlampau teknis … ūüėČ


Baiklah, kembali ke pertanyaan awal di atas,“Kenapa koneksi internet menjadi lambat ?“.

Ini pertanyaan standar yg sering diajukan para user ke provider, ke admin, atau ke petugas IT lain yg sejenis. Ini bisa saja terjadi karena user merasa ada ketidak-wajaran akibat dari defenisi kewajaran berinternet yang dia pahami, dan/atau akibat rangsangan nafsu yg kelewat tinggi dalam hal ber-internet-ria-an tersebut.

Napa ini terjadi ya ? Maksudnya tentu napa lemot, bukan masalah nafsu tinggi itu lho. :mrgreen: Kalo masalah nafsu tinggi tersebut, itu mah masalah lain. Bukankah di bulan ramadhan kmaren kita telah lolos di pelatihannya ?

Untuk memahami fenomena ini tentu kita sebaiknya mencari informasi yg se-objektif-nya, karena kalo tidak, akan ada-ada saja yang mengeruk di air yg keruh sebagai celah pemanfaatan bahkan semacam pemaksaan agar terjadi deal bisnis [baru]. ūüėź

Baik,

saya menawarkan corat-coret berikut untuk mengulas permasalahannya dan mengajak anda berdiskusi (menambah informasi) melalui pemaparan sejumlah alasan yg pernah saya ditemui. Mungkin saja lambatnya (ke-lemotan) koneksi internet anda akibat dari beberapa hal berikut :

1.   Karena besar bandwidth yang disewa dengan jumlah terminal yang menggunakannya berada di bawah standar kenyamanan. Misal bandwidth yang anda sewa 256kbps dan terminal yang lagi konek ke internet 50, maka rata-rata (jika memang rata) akan mendapat 256/50 = 5.12 kbps. Ini berada dalam level ketidaknyamanan berinternet (<10kbps), jika sekedar dikaitkan dengan bandwidth saja.

Saran cara mengatasinya : tentu dengan menaikkan besar bandwidth yg disewa. Sejumlah provider untuk kalangan corporate menawarkan bandwidth mulai dari 64kbps, 128kbps, 256kbps, 512kbps, 1Mbps, dan seterusnya. Tawaran besaran bandwidth ini juga diiringi dengan tawaran rasio-nya seperti : 1:1 (clear), 1:4, 1:8, 1:16 dan seterusnya. Akhirnya anda juga akan ditawari dengan sejumlah cara (media) koneksi jika memang alternatif lain dimiliki oleh provider tersebut, katakanlah apakah melalui : wireless, kabel atau fo.

2.¬† Karena sejumlah terminal/user menggunakan bandwidth melebihi jatah (lebih…)

Read Full Post »

Bagimana ya ?

Setahu saya tidak ada cara2 yg disepakati, beberapa provider lebih sering memberitahu suatu cara [tentu] sesuai dengan kepentingannya. Namanya juga bisnis.. :mrgreen:

Tapi saya punya corat-coret untuk berbagi tentang ini. Yah, hanya sekedar corat-coret, ūüėČ dan saya [kebetulan] bukan (belum kali ya) seorang business man. Percaya sajalah… !!! :mrgreen:

1. Personal

Jika untuk pribadi (sendiri = 1 diri) maka jawaban yg paling praktis adalah tergantung isi kantong yg sudi anda sisihkan untuk kebutuhan ini. Lagi pula kalo untuk pribadi sepertinya pertimbangannya bukan berapa besar bandwidth yg dibutuhkan, tetapi lebih cendrung kepada sesering apa anda konek ke internet ?

Jika jarang2 konek (maksudnya sekali sekali), pake aja model dial up seperti telkomnet@instan. Tapi kalo tnyata mobilitas anda tinggi tentu telkomnet@instan gak cocok lagi, anda butuh HaPe ato PeDeEe ato LeptoP aja sekalian yg koneksi ke internetnya bisa menggunakan jalur gprs ato jalur 3g yg sekarang banyak ditawarkan. Terserah mau berbasis time atau space cara bayarnya. Dan kalo mobilitas anda ternyata lebih tinggi lagi, dimana HaPe, PeDeEe dan LeptoP bukan pemecahannya, maka saran saya, anda pake aja wArNEt. Kalo ini tidak juga pass untuk anda, itu artinya anda belum butuh internet. Tapi oleh karena anda sempat2nya mbaca postingan ini, saya gak percaya kalo anda gak butuh internet untuk selanjutnya. :mrgreen:

Terus berapa bandwidth yang dibutuhkan ? Yah, kalo mau bicara bandwidth juga, barangkali untuk kebutuhan pribadi sebenarnya dapet 10kbps aja [menurut saya] sudah bagus (nyaman), asalkan stabil. Perhatikan kriterianya, asalkan stabil. Sure lho… ūüėÄ

2. Corporate

Tapi kalo untuk kebutuhan corporate (akses rame2) masalahnya lain lagi. Untuk kasus ini dibutuhkan pertimbangan bahkan perhitungan yang [semestinya] matang dalam menentukan besar bandwidth yang akan disewa (leased). Jika ke-gede-an corporate (perusahaan, kampus, etc) anda akan rugi alias kedodoran, sebaliknya jika kekecilan maka sebagai admin siap2lah mendapat sumpah serapah dari pengguna (user) di corporate anda (pengalaman pribadi neh.. ) :mrgreen:

Apa parameter yg dibutuhkan dalam menentukan besar bandwidth yg akan disewa ?

Parameter tersebut [menurut saya aja ya, (lebih…)

Read Full Post »

Mahal ?

Ah, mosok.

—¬†

Begini,

Berapa jumlah manusia2 di lembaga tersebut ? Katakanlah : 3000 an.

Berapa total pengguna aktif per hari ? Katakanlah 10% saja : 300 an.

Berapa kemungkinan terbanyak penggunaan serempak (dalam waktu yg bersamaan) setiap hari ? Katakanlah : 100 titik.

Berapa bandwidth yang disewa tersebut ? Katakanlah dengan biaya sedemikian (20 juta-an) : 256 Kbps lease line, Clear (1:1).

Untuk apa saja koneksi internet itu digunakan ? Katakanlah untuk : komunikasi remote dan/atau on line (emailling, chatting, blogging), mengikuti berita/isu terbaru, download bahan perkuliahan, download lagu2 terbaru (mp3), download software gratisan, bahkan buat koneksi web server ke publik/internet.

Cukupkah bandwidth sedemikian untuk memenuhi kebutuhan di atas ? Tidak.

Kenapa tidak ? Katakanlah : karena rata2 kebutuhan lebih dari itu, karena pengguna tidak disiplin dalam berbagi bandwidth (rebutan download mlulu), karena fasilitas management bandwidth belum optimal.

Mungkinkah dengan menerapkan policy (user/bandwidth management) yg ketat penggunaan bandwidth 256 kbps untuk kebutuhan di atas dapat dioptimalkan ? Wah, berat.

Butuh bandwidth yang lebih. Tentu dengan biaya yg lebih pula.

Mahal amat ?

Ah, mosok.

Anda orang IT ? Atau anda orang yang mengenal IT level “nyrempet2” dikit¬†? Jika tidak, maka teriakan anda tentang betapa mahalnya harga koneksi internet untuk sebuah lembaga semacam perguruan tinggi dengan kemampuan anggaran pas2 an, tentu bisa jadi lebih keras. “Mahal amat ?”. Bahkan jika ada pihak2 yg mencoba mengeruk di air keruh (biasalah, adat anak bangsa), maka teriakan anda jadi lebih keras lagi, “Mahal amat !!!”.

Berbicara tentang harga kebutuhan IT khususnya koneksi (bandwidth) internet di negeri ini memang masih cukup mahal. Pemerintah melalui PT. Telkom (lebih…)

Read Full Post »

Belajar dari meniru prilaku intel

(Edisi Pemula)

Alkisah : 

‚Ķ Tiba-tiba si mahasiswa menyela,‚ÄĚKalo begitu mereka ngibuli kita dong pak,¬†beli 8 dapat 4, yang dibeli 8 tapi yang kepake cuma 4. Ada apa sih¬†sebenarnya, kok bapaknya diam aja. Inikan namanya penipuan, protes dong,¬†katanya kita kan harus jadi¬†aktivis moral.¬†Ok, kalo begitu¬†kedok dari penipuan ‚Äėmassal‚Äô ini akan kami bongkar sendiri. Jangan-jangan bapak terlibat dalam perkolusian besar..‚ÄĚ.¬† Ha‚Ķ?!! ūüė¶¬†

Kronologis

Sebelum si para mahasiswa melakukan ‚Äėgerakan‚Äô pembongkaran ‘kedok’, saya harus menjelaskan kronologisnya pada rekan-rekan blogger sekalian. Anggap aja ini konfrensi pers yang saya lakukan untuk mengklarifikasikan apa yang terjadi sebenarnya, bahwa ‚Äėgosip‚Äô aja kalo saya mereka tuduh terlibat diper-kolusi-an (kayak selebritis aja ya klarifikasi segala ?¬†)¬† ūüôā¬†¬†

Lagi¬†‘jenuh’¬†nih, jadi nemu ide nulisnya ginian ….

(lebih…)

Read Full Post »

Melalui¬†“penekanan”¬†KONSEP jaringan private dan publik (New)

     

Pengantar Pedagogis  

Metode penyampaian materi ajar bisa bermacam-macam dan yang bermacam-macam itu bisa di ranking sehingga menjadi berlapis-lapis. Untuk satu materi ajar saja bisa jadi kita menemukan beberapa cara penyampaian yang berbeda dalam hal : urutan apa-apa yang akan dijelaskan lebih dulu, penekanan pokok bahasannya, model komunikasinya dan seterusnya. 

Kalo saya bisa jadi menyiapkan beberapa jurus untuk menyampaikan materi ajar tertentu. Jurus-jurus tersebut ditemu-kembangkan gara-gara sering ‘banget’ menjelaskan materi itu¬†untuk beberapa kelas paralel misalnya, sehingga kadang-kadang bahannya jadi luar kepala (di luar kepala semua ? ūüôā ). Tapi bukan hafalan bahan materi ajar itu yang penting di sini, tetapi bagaimana (strategi) cara kita menyampaikannya ke sejumlah ‘kepala’ pembelajar (mahasiswa) sehingga lebih mengena bagi mereka untuk cepat memahaminya. Ini¬†ilmu pedagogis.

Lapisan strategi¬†itu bisa¬†ada beberapa untuk suatu materi. Misalnya materi : “Perancangan IP address ini”,¬†bisa ada¬†3 lapis¬†strategi tentang bagaimana menyampaikannya. Pemilihan strategi yang digunakan tentu tergantung penilaian kita tentang audience yang akan mendengarkan.¬†Ini contoh¬†strategi lapisan ke-2 dalam menjelaskan masalah penentuan (perancangan)¬†IP Address ke jaringan komputer. Jika mutu audience – nya cukup parah (susah nyambung) gunakan strategi lapisan pertama, tetapi jika mutunya lumayan bagus¬†(cepat nyambung) gunakan strategi lapisan ke 3.

Begitulah kalo ngajarnya¬†ke mahasiswa swasta,¬†kebutuhan adaptasinya tinggi. Di situlah seninya…¬†¬†

(lebih…)

Read Full Post »