Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pemula IT’ Category

Seperti apa sih kompetisi (perjuangan) karir yg terjadi di perguruan tinggi. Samakah dengan fenomena kompetisi yg terjadi di instansi lain ?

Mmm…

Mana yang lebih mereka dulu kan ?
Kebanggaan-kebanggaan di prestasi (kedudukan) (lebih…)

Read Full Post »

Mukaddimah

speedy.jpgAkhirnya berhasil juga rayuan marketing telkomspeedy itu beberapa hari yg lalu. “Pak, pasang speedy dong. Kalo memang sampai 200 rb an perbulan untuk bayar telkomnet_at_instan apa gak lebih baik pake speedy aja yg cuma 100 rb perbulan khusus untuk [profesi] bapak. Lebih cepat dan lebih OK lho…

Saya pikir marketing-er ini kok tega2 nya menjatuhkan nama baik kakak kandung perusahaan sendiri demi menjajakan mainan baru [speedy] nya ini. Ah, bodo ah, kenapa mikiran urusan internal mereka. Dan terakhir memang akhirnya pikiran ini memutuskan untuk memasang akses speedy di rumah.

Yang pertama mengisi sejumlah borang. Ah, ini pekerjaan yg paling ku tak suka, berkadar rutinitas (yg ditanya itu2 aja) dan pekerjaan pencatatan manual itu (paper oriented) yg membosankan. Kayaknya waktu itu asal aja ngisi form/borang nya (form atau borang ya yg lebih benar eyd-nya), oh… jangan2 ada jebakan (#su’udzan mode on), kebiasaan buruk nih. Besok harinya ada petugas yg nelpon apa sudah punya modem adsl atau belum, kalo sudah mereka mau instalasi segera (cepat juga ya prosesnya). Karena waktu itu di kampus lagi ada kerjaan yg membuat pulang sering agak malaman, diputuskan aja untuk membeli modem tawaran [marketing] telkomspeedy itu (Aztech, 330 rb an). Padahal niatnya pengen punya modem yg ada wi-fi sekalian, tapi ya sudah ntar2 aja yaaah …

Sehari saja setelah modem datang, petugas speedy lain (teknisinya) sudah minta waktu untuk datang meng-instal (ngebet benar ya). Esoknya, tidak sampai 15 menit si petugas kotak-katik di rumah semuanya rebes eh beres dah. Speedy says,”I’m coming oo..i”.

Coba2 sebentar, eh OK juga nih. Waktu di test pake ini, benar juga bisa mencapai 300 kbps, dan waktu coba pake ini malah kadang lebih dari 384 Kbps. Coba lagi download sekitar 5 puluhan MB (download apa waktu itu ya ?), benar lho… cepat eh speed, gak sampe 10 menit. Kayaknya speedy OK juga nih … ūüėÜ

Ketidaknyamanan itu

Yang pertama, koneksinya gak stabil. Kadang lagi enak2 nya browsing (lebih…)

Read Full Post »

Prematur
 

Ini sungguh2 postingan prematur, yg lahir sebelum waktunya. ūüė¶ Yah, gimana lagi. Ada sejumlah kesibukan di minggu2 ini yg mengakibatkan¬†komentar teman2 dan munculnya postingan baru menjadi terlantar.

Tapi sudahlah, dari¬†pada tidak sama sekali, biarlah postingan yg masih dalam status draft ini saya paksa untuk mau tampil di ruang publik. Semoga ada tambahan dan koreksi dari sana sini.¬† ūüôā

—¬†

The Content 

Tulisan ini demi melanjutkan (baca:melengkapi) postingan atau lebih tepatnya curhat masalah bandwidth di negeri ini yg imbasnya juga ternyata mengena ke sektor2 lokal dimana kita berada (corporate) dan bahkan ke sektor diri pribadi (pengguna personal). Tetapi benarkah ini masalah bandwidth semata?

Apa sebenarnya makhluk yg bernama bandwidth tersebut ? Di dunia analog (komunikasi analog, seperti halnya radio dan televisi saat ini) bandwidth dikenal sebagai : range frekuensi (dari min ke maks) yang digunakan oleh sinyal pembawa (carrier) informasi, satuanya hz (heartz). Tetapi di dunia digital (komunikasi digital, seperti halnya komputer dan internet) defenisinya tidak sama, dalam hal ini bandwidth adalah : jumlah bit yang dapat dikirimkan per satuan waktu. Di dunia bisnis IT ada lagi istilah bandwidth volume, yg didefenisikan sebagai ukuran besar data (space) maksimal yg boleh ditransfer oleh pelanggan melalui koneksi tersebut. Misalnya jika provider menentukan spec 1 GByte/bulan, maka ini artinya maksimal data yg dapat anda transfer melalui koneksi tersebut adalah 1 Giga Byte. Ini tentu berbeda dengan defenisi bandwidth yang dimaksud pada tulisan ini.

Berdasarkan defenisi pertama, maka jika bandwidth internet anda 384kbps artinya dalam satu detik dapat dikirimkan data sebanyak 384 kilo bit (kb). Jika anda memaksa untuk menggunakan satuan Byte (satuan yg lebih kita akrabi) maka bagi aja angka tersebut dengan 8 (sebab 1 Byte= 8 bit) sehingga menjadi 384kb/8= 48 kByte. Dan sekarang kita dapat berkata bahwa dengan bandwidth 384kbps tersebut dalam waktu 1 detik dapat terkirim data sebesar 48 kB, yg berarti juga untuk data sekitar 500 kB (genapan dari 480 kb) maka waktunya sekitar 10 detik, dan jika data tersebut 1MB (2 x 500kB) maka waktunya menjadi 20 detik (2 x 10). Hitungan ini cuma kira2 saja dan tentu saja masih sangat kasar. Kenapa kasar ? Karena ternyata 1 kilo (K) dalam IT tidak benar-benar 1000 (seribu), dan 1 mega (M) tidak benar2 1000.000 (sejuta). Tepatnya di dunia IT 1 kilo itu adalah 1024 dan 1 mega adalah = 1048576. Dalam kaitan dengan masalah transfer data bit di atas, ternyata selama proses transfer terjadi, terlibat juga (ikut ditransfer) bit-bit lain (misalnya bit pengontrol transmisi), sehingga bit yg ditransfer melebihi dari data yg sesungguhnya. Belum lagi masalah propogasi (tergantung media) dan delay antrian (masalah kelincahan device perantara) yang turut juga menentukan waktu transfer (latency) ini.

Ah… ini kok jadi terlampau teknis … ūüėČ


Baiklah, kembali ke pertanyaan awal di atas,“Kenapa koneksi internet menjadi lambat ?“.

Ini pertanyaan standar yg sering diajukan para user ke provider, ke admin, atau ke petugas IT lain yg sejenis. Ini bisa saja terjadi karena user merasa ada ketidak-wajaran akibat dari defenisi kewajaran berinternet yang dia pahami, dan/atau akibat rangsangan nafsu yg kelewat tinggi dalam hal ber-internet-ria-an tersebut.

Napa ini terjadi ya ? Maksudnya tentu napa lemot, bukan masalah nafsu tinggi itu lho. :mrgreen: Kalo masalah nafsu tinggi tersebut, itu mah masalah lain. Bukankah di bulan ramadhan kmaren kita telah lolos di pelatihannya ?

Untuk memahami fenomena ini tentu kita sebaiknya mencari informasi yg se-objektif-nya, karena kalo tidak, akan ada-ada saja yang mengeruk di air yg keruh sebagai celah pemanfaatan bahkan semacam pemaksaan agar terjadi deal bisnis [baru]. ūüėź

Baik,

saya menawarkan corat-coret berikut untuk mengulas permasalahannya dan mengajak anda berdiskusi (menambah informasi) melalui pemaparan sejumlah alasan yg pernah saya ditemui. Mungkin saja lambatnya (ke-lemotan) koneksi internet anda akibat dari beberapa hal berikut :

1.   Karena besar bandwidth yang disewa dengan jumlah terminal yang menggunakannya berada di bawah standar kenyamanan. Misal bandwidth yang anda sewa 256kbps dan terminal yang lagi konek ke internet 50, maka rata-rata (jika memang rata) akan mendapat 256/50 = 5.12 kbps. Ini berada dalam level ketidaknyamanan berinternet (<10kbps), jika sekedar dikaitkan dengan bandwidth saja.

Saran cara mengatasinya : tentu dengan menaikkan besar bandwidth yg disewa. Sejumlah provider untuk kalangan corporate menawarkan bandwidth mulai dari 64kbps, 128kbps, 256kbps, 512kbps, 1Mbps, dan seterusnya. Tawaran besaran bandwidth ini juga diiringi dengan tawaran rasio-nya seperti : 1:1 (clear), 1:4, 1:8, 1:16 dan seterusnya. Akhirnya anda juga akan ditawari dengan sejumlah cara (media) koneksi jika memang alternatif lain dimiliki oleh provider tersebut, katakanlah apakah melalui : wireless, kabel atau fo.

2.¬† Karena sejumlah terminal/user menggunakan bandwidth melebihi jatah (lebih…)

Read Full Post »

Bagimana ya ?

Setahu saya tidak ada cara2 yg disepakati, beberapa provider lebih sering memberitahu suatu cara [tentu] sesuai dengan kepentingannya. Namanya juga bisnis.. :mrgreen:

Tapi saya punya corat-coret untuk berbagi tentang ini. Yah, hanya sekedar corat-coret, ūüėČ dan saya [kebetulan] bukan (belum kali ya) seorang business man. Percaya sajalah… !!! :mrgreen:

1. Personal

Jika untuk pribadi (sendiri = 1 diri) maka jawaban yg paling praktis adalah tergantung isi kantong yg sudi anda sisihkan untuk kebutuhan ini. Lagi pula kalo untuk pribadi sepertinya pertimbangannya bukan berapa besar bandwidth yg dibutuhkan, tetapi lebih cendrung kepada sesering apa anda konek ke internet ?

Jika jarang2 konek (maksudnya sekali sekali), pake aja model dial up seperti telkomnet@instan. Tapi kalo tnyata mobilitas anda tinggi tentu telkomnet@instan gak cocok lagi, anda butuh HaPe ato PeDeEe ato LeptoP aja sekalian yg koneksi ke internetnya bisa menggunakan jalur gprs ato jalur 3g yg sekarang banyak ditawarkan. Terserah mau berbasis time atau space cara bayarnya. Dan kalo mobilitas anda ternyata lebih tinggi lagi, dimana HaPe, PeDeEe dan LeptoP bukan pemecahannya, maka saran saya, anda pake aja wArNEt. Kalo ini tidak juga pass untuk anda, itu artinya anda belum butuh internet. Tapi oleh karena anda sempat2nya mbaca postingan ini, saya gak percaya kalo anda gak butuh internet untuk selanjutnya. :mrgreen:

Terus berapa bandwidth yang dibutuhkan ? Yah, kalo mau bicara bandwidth juga, barangkali untuk kebutuhan pribadi sebenarnya dapet 10kbps aja [menurut saya] sudah bagus (nyaman), asalkan stabil. Perhatikan kriterianya, asalkan stabil. Sure lho… ūüėÄ

2. Corporate

Tapi kalo untuk kebutuhan corporate (akses rame2) masalahnya lain lagi. Untuk kasus ini dibutuhkan pertimbangan bahkan perhitungan yang [semestinya] matang dalam menentukan besar bandwidth yang akan disewa (leased). Jika ke-gede-an corporate (perusahaan, kampus, etc) anda akan rugi alias kedodoran, sebaliknya jika kekecilan maka sebagai admin siap2lah mendapat sumpah serapah dari pengguna (user) di corporate anda (pengalaman pribadi neh.. ) :mrgreen:

Apa parameter yg dibutuhkan dalam menentukan besar bandwidth yg akan disewa ?

Parameter tersebut [menurut saya aja ya, (lebih…)

Read Full Post »

Mahal ?

Ah, mosok.

—¬†

Begini,

Berapa jumlah manusia2 di lembaga tersebut ? Katakanlah : 3000 an.

Berapa total pengguna aktif per hari ? Katakanlah 10% saja : 300 an.

Berapa kemungkinan terbanyak penggunaan serempak (dalam waktu yg bersamaan) setiap hari ? Katakanlah : 100 titik.

Berapa bandwidth yang disewa tersebut ? Katakanlah dengan biaya sedemikian (20 juta-an) : 256 Kbps lease line, Clear (1:1).

Untuk apa saja koneksi internet itu digunakan ? Katakanlah untuk : komunikasi remote dan/atau on line (emailling, chatting, blogging), mengikuti berita/isu terbaru, download bahan perkuliahan, download lagu2 terbaru (mp3), download software gratisan, bahkan buat koneksi web server ke publik/internet.

Cukupkah bandwidth sedemikian untuk memenuhi kebutuhan di atas ? Tidak.

Kenapa tidak ? Katakanlah : karena rata2 kebutuhan lebih dari itu, karena pengguna tidak disiplin dalam berbagi bandwidth (rebutan download mlulu), karena fasilitas management bandwidth belum optimal.

Mungkinkah dengan menerapkan policy (user/bandwidth management) yg ketat penggunaan bandwidth 256 kbps untuk kebutuhan di atas dapat dioptimalkan ? Wah, berat.

Butuh bandwidth yang lebih. Tentu dengan biaya yg lebih pula.

Mahal amat ?

Ah, mosok.

Anda orang IT ? Atau anda orang yang mengenal IT level “nyrempet2” dikit¬†? Jika tidak, maka teriakan anda tentang betapa mahalnya harga koneksi internet untuk sebuah lembaga semacam perguruan tinggi dengan kemampuan anggaran pas2 an, tentu bisa jadi lebih keras. “Mahal amat ?”. Bahkan jika ada pihak2 yg mencoba mengeruk di air keruh (biasalah, adat anak bangsa), maka teriakan anda jadi lebih keras lagi, “Mahal amat !!!”.

Berbicara tentang harga kebutuhan IT khususnya koneksi (bandwidth) internet di negeri ini memang masih cukup mahal. Pemerintah melalui PT. Telkom (lebih…)

Read Full Post »

– – –¬†

Postingan ini saya buat gara2 di jalur darat ada¬†sjumlah bisik2¬†yang mempertanyakan¬†pemahaman saya¬† di postingan sebelumnya¬†yg seakan2 menafikan¬†kpentingan konsep (teori). Saya khawatir juga jangan2 mahasiswa yg mbaca postingan tersebut mengkaitkannya dengan model perkuliahan, dimana kalo yang namanya konsep itu kan diberi pada kuliah teori,¬†sedangkan¬†operasional (contoh penerapannya)¬†diberi¬†pada kuliah praktikum. Bukankah saya lebih lihai banyak mengajar kuliah teori ktimbang kuliah praktikum? Trus, kenapa saya seakan2 menafikan konsep ? Wadduh bisa krepotan sendiri nih… :mrgreen:

Baik, simaklah konfrensi pers-nya berikut ini :

– – –

(lebih…)

Read Full Post »

Kepada Para “Pekerja” Skripsi¬†

Curhatnya

Hampir sebulan kemaren waktu atau hari-hari kami (dosen+mahasiswa) di kampus habis “tersedot” oleh kegiatan sidang skripsi mahasiswa. Fenomenanya adalah si para mahasiswa¬†sedemikian berebutan¬†minta skripsinya segera saja disahkan, lalu mohon diizinkan untuk mengikuti “sesi” uji isi/materi¬†demi mencapai¬†¬†tangga final¬†yaitu sidang akhir (kompre/pendadaran). Di kampus kami skripsi/tugas akhir memang¬†dilakukan mlalui 3 (tiga) tahapan, yaitu : [1] Uji judul/tema penelitan, [2] Uji Isi/Pembahasan hasil sementara dan [3] Uji akhir (kompre).

Yang saya kesalkan adalah (he he sok kesal¬†aja ah), kenapa di batas2 akhir¬†ini (semacam¬†injure time seperti sekarang) mereka (para mahasiswa) baru sibuk menjenguk dosen pembimbingnya, menumpuki meja kerja dengan tumpukan naskah skripsi yang (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »