Banyak hal yang mungkin membuat kita berubah, lalu seorang Muslim diminta penyebab perubahan itu adalah “gara-gara” Allah Subhanahu Wata’ala. Term ini sering juga disebut dengan ikhlas, atau dalam konteksnya dengan niat sering disebut dengan : lillahi ta’ala.
—
Baik,
hal di atas itu kan infomasi yang normatif saja, dimana setiap kita yang Muslim tentu sudah umum mengetahui keharusan ikhlas atau lillahi ta’ala semacam itu.
—
Lalu ada kasus-kasus begini,
Pertama : Seseorang menjadi taat atau bertobat (lebih mendekat pada-NYA) gara-gara putus dengan pacarnya misalnya (efek frustasi), atau gara-gara orang tuanya atau orang yg dikasihinya yg lain meninggal, atau gara-gara diputus kerja, atau gara-gara menderita penyakit keras, atau gara-gara musibah lalu jatuh miskin, atau gara-gara mendapat musibah lain dalam berbagai bentuknya, dstnya dstnya.
Kedua : Ada orang yang ia menjadi lebih taat gara-gara “terseret” ikut taklim, gara-gara diminta oleh pacaranya istrinya untuk taat, gara-gara malu kalau ketauan sama guru ngajinya pemalas, gara-gara ia menjadi tokoh, gara-gara … gara-gara dan gara-gara.
—
Terus gimana ?
Yang benar dan tentu yang diterima oleh-NYA sebagai amal baik (ganjaran ridha/pahala) tentu perbuatan yang dilakukan karena-NYA tadi, gara-gara ikhlas atau lillahi ta’ala. Lalu bagaimana dengan kasus-kasus seperti di atas itu.
Perhatikan,
niat dan gara-gara seperti diatas bisa jadi 2 hal yang sama, tetapi dalam konteks ini semestinya dimaknai sebagai 2 hal yang berbeda.
Niat adalah ikrar tersembunyi yang letaknya di dalam hati kita, … ya di dalam hati kita. Sementara ‘gara-gara’ lebih berbentuk dzohir (tampak), adalah sebab yang mengakibatkan kita menjadi taat, atau istilah sok kerennya pemilik blog ini adalah : gara-gara, yang dalam contoh-contoh di atas membuat pelakunya menjadi seorang pecandu kebaikan.
Hihi… kok jadi keingat istilah candu nih bos.
Lanjut…,
gara-gara dalam pembahasan dan contoh kasus di sini bisa jadi merupakan jalan hidayah (cara Allah membuat kita menjadi lebih baik), merupakan bentuk Rahim-Nya (cara sayang), jalan kita untuk mendapat berkah. Suatu momen dimana kita percaya bahwa setiap manusia pasti diberi kesempatan mendapat anugrah ‘gara-gara’ semacam itu.
Sekali lagi,
setiap manusia pasti diberi kesempatan, peluang emas, momen seperti gara-gara di atas, yang bisa jadi dalam bentuk lain yang belum tersebutkan, walau tidak semua mau memanfaatkan alias menindak-lanjuti sebagai jalan kebaikannya .
Sudah mulai dapat disimpulkan bahwa : gara-gara di sini tidak berarti bentuk pengkhiatan kita atas keharusan ikhlas yang diharuskan-NYA itu. Bukan satu bentuk kesyirikan.
Jadi, 2 hal ini merupakan hil yang berbeda.
Gara-gara adalah momen emas, sementara di sisi lain, ikhlas adalah niat tertanam di hati dan keharusan kita.
So, no problem you start it from the gara-gara.
Sembari kita jaga yang utamanya, ikhas !
Amin.












Assalaamu’alaikum,,,,sudah lama tidak berkunjung ke blog ini. Kang…saya lagi ngetes link-link yang ada di blog saya. ternyata blog antum masih aktif.
tetap semangat.
good luck…!!!
nice post gan,,