‘Kita kadang begitu mudah menilai kerusak-fatalan orang lain. Lalu itu menjelma menjadi penutup, pembiar dan penerus kerusak-fatalan diri kita sendiri.”
Duhai diri,
kepadamu kata-kata ini menjadi tidak tersembunyi :
Kita gemar bersembunyi di pembicaraanan kelemahan orang lain.
—
Aku harus berani mengkuliti diri sendiri.
Harus.
Ketika kukuliti banyak orang.
Kukuliti setiap orang yang mengkuliti hal-hal yang berkaitan dengan aku
Aksi balas itu harus ada akhirnya.
—
“Untuk mengatakan dirimu benar, engkau tidak mesti berusaha membuktikan bahwa orang lain itu salah.”
Aduh…
Kenapa ada alpa di petuah ini.
—
Jedalah sejenak…
Duduklah yang manis diriku sayang,
renungi lagi,
himpun kebijakan Sang Maha adil
lalu sebarkan [renungan] diri ke orang-orang [mu] :
“Untuk menunjukkan diri anda sukses, anda tidak mesti berusaha membuktikan bahwa orang lain itu tidak sukses.”
Mmm…
“Untuk menyembunyikan ketidak-becusan diri, anda tidak mesti [mati-matian] memblow up ketidak becusan orang lain“
Halah…
Ini tentang apa ya ?











hmmm…. ^^
semangat pak!
Ini tentang apa ya ?
Kirain.. tentang kutil-i, ternyata tentang “kuliti”…
Yang ke-benar-an mah, @Mba Nurma lebih awal 1 menit…
Paten.
Kucatat mas beberapa penggalan kata di atas. Terasa benar lahir dari perjuangan yg sarat.
Semangat !!
@Ofa Ragi Boy alias ORB7
ngomong2 orb7 gmn tuh dengan nomor 7, adilkan ini?
ADIL DUNK…
1. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
2. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
3. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
4. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
5. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
6. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
7. ORang Bilang OFA bin HAN TOU
Satu Putaran…
hua.ha.ha.
(C)opyright by Sultan @Haniifa.
@haniifa
Om ngomongin apa ?
Mohon maaf lahir dan batin, Rubon n Kel.