Satu-satunya komunitas yang masih dan terus saja bertahan mendukung penjahan di bumi Pelestina saat ini adalah pemerintah amerika dan israel itu sendiri. Kok ? Ya, karena pada dasarnya amerika dan israel itu satu. Secara negara mungkin berbeda, tetapi kekuatan lobbi yahudi terhadap pemerintahan amerika saat ini jauh lebih kuat ketimbang mengikuti arus pemikiran warganya (amerika) itu sendiri.
Itulah “hebat” nya yahudi ini. Licik aja kali. Mereka memang terus menjadi batu ujian bagi nilai-nilai kemanusiaan. Memperhatikan mereka kita bisa saja teringat dengan makhluk yang disebut syetan yang pernah berjanji akan terus menggoda manusia agar terlibat berbuat keonaran (maksiat, ingkar) di dunia ini.
—
Opini Teroris
Mengamati fakta akhir-akhir ini semakin meyakinkan kita betapa istilah teroris adalah istilah politis yang bertujuan menjatuhkan citra komunitas tertentu dalam perjuangannya. Mirip dengan istilah ekstrimis yang ditujukan kepada para pahlawan kita saat melawan kolonial belanda di jaman penjahahan dulu.
“Hamas teroris”.
Opini ini terus disebarkan oleh para pendudukung israel dan antek-anteknya untuk menjatuhkan aksi para pejuang Hamas mengusir penjajah israel dari tanah mereka. Bagaimana mungkin dalam hati kecil kita ada yg sampai hati menyebut orang-orang yang berjuang membebaskan tanah airnya sendiri atas penjajahan bangsa lain dengan istilah ini. Itu yang terjadi dengan Obama, sang fenomenal, presiden kulit hitam pertama amerika yang masih keturunan muslim itu. Di hadapan para lobi yahudi ia terpaksa dengan tega menyebut perjuangan hamas ini dengan istilah tersebut. Hamas teorirs. Duh… Sudahlah.
—
Ummat “penyerah”
Di sisi lain sebagian dari ummat Islam ada yang berlaku seperti mengangkat bendera putih. Entah ngalah entah ngaku kalah, lalu dibalut dengan perasaan bijaksana, merasa punya wawasan global, punya keandalan berpikir yang kelogisan, merasa-merasa hebat sekenanya dan sebagainya dan sebagainya. Heh.
Apa kata mereka ?
“Jangan bawa-bawa agama“.
—
Lalu,
untuk apalagi agama yang membalut identitasmu itu
Sudahlah kelakuannya na’udzubullah, shalat ogah-ogahan, puasa kemaren suka-suka aja, zakat-infak apalagi…
Eh, solidaritas untuk sesama muslim pun dipupus juga.
Benar-benar umat yang kalah, eh… ngalah. Halah.
Maksud hati berbesar jiwa, ingin disebut berpikiran matang, berpikir jauh ke depan, bijak, neo-modernisme dan sebagainya, tapi apalah daya ….
Ketipu.
—
Lupakah engkau atas perjuangan para pahlawan yang memerdekanmu ?
Semangat agama mereka sangat-sangat kentalnya.
Semangat dari agama mereka…
Yang meluluh-lantakkan kerakusan kolonial itu.
Lalu,
Masih juga mengenyampingkan [peran] agama ?
Masih juga berkata, “jangan bawa-bawa agama” ?
………
………
Halah.
MERDEKA !!!











Ngapain sih mikirin palestina, mending mikirin tetangga sendiri yg masih banyak dilanda kelaparan.
Untuk baro :
Seakan-akan itu benar juga bro.
Tapi kapan kita pedulinya dgn bangsa lain kalau menunggu rakyat sendiri sampai komplit sejahteranya. Lagi pula di masa kemerdekaan RI beberapa bangsa lain sudi mendukung perjuangan kemerdekaan kita tanpa menunggu rakyatnya terbebas bersih dari kelaparan dulu. Apa mereka salah ?
Ayo bro..
Lah jawaban ente kok gitu.
Jadi mentang dulu ada yang mendukung kita merdeka sekaranga juga harus mendukung bangsa lain walau rakyat sendiri masih banyak yg menderita.
@Baro
Membaca kaidah hukum atau logika jenis apa pun, kok sulit ketemu referensi atas larangan anda : “Jangan membantu bangsa lain saat bangsa sendiri belum beres”.
Tapi kalo anda mengatakan mari kita lakukan kedua2nya (membantu bangsa sendiri dan bangsa lain yg pantas dibantu), ini baru klop.
Lagipula di depan mata sendiri saya menyaksikan bahwa orang2 yg peduli dgn kasus penjajahan israel atas palestin ini juga orang yg peduli dgn penderitaan dan musibah bangsa di sekitarnya. Saksikanlah. Demi Allah saya menyaksikan ini dgn nyata, sementara yg ribut mengkritik aksi2 palestina cuma sebatas ributnya itu aja. Apa pun tidak kecuali bangga di ungkapan2 kritiknya doang.
@Armansyah
Untuk menjaga stamina berbuat, kritik si baro pantas jadi penyemangat.
@ Herianto
sharing yang mencerahkan bro
@ Baro
ah, kata kata itu yang terus diulang..
trus ente sendiri udah bantu apa buat tetangga ente??
Wow, saya bukan maksud menyinggung partai atau kelompok dalam hal ini, kalo soal pks misal sekeras-keras kritik dan makian bbrapa kali pemilu dan pilkada aku masih mau memilih mereka kok. Yah, hitung2 katakanlah partai ini masih mendingan.
Tapi kenapa masalah palestina seperti dipolitisir banget, seolah2 memanfaatkan penderitaan mereka demi ketenaran pks. Ini yg aku kurang sreg banget.
@Baro
Semoga teman2 di pks istiqamah untuk mendukung perjuangan pembebasan tanah palestina, dan tidak bersenang-senang (seperti istilah anda : memanfaatkan) penderitaan mereka.
Bersenang-senang ? Gak mungkin ya.
@Mas Baro
Apa pendapat saudara, tentang penghancuran situs-situs berharga di tanah palestina ?!
Atau perampokan naskah-naskah kuno di Irak ?!
Ulasan yang menarik, namun jujur… saya juga bingung. Dalam pemahaman saya (tolong koreksi Ya Mas Her). Palestina itu tempat turunnya 3 agama besar (Yahudi, Nasrani, dan Islam) yang kemudian melahirkan sejumlah klaim-klaim. Namun, apakah Palestina melahirkan konflik agama, Palestina mewakili perang 3 penganut agama?, perang antara kaum yang menyimpang dari ajaran agama dengan kaum yang mempertahankan keimanan tauhid?.
Ataukah agama tidak lagi penting (tanda kutip dibanding) kepentingan lain. Strategis dan sumber daya alam, hegemoni kekuasaan, atau dan lain sebagainya.
Ketika bom dijatuhkan di tanah Palestina dengan bom fosfor atau jenis bom baja yang lebih kejam lagi… manakah yang kemudian menyeruak hati nurani, kebengisan sebuah koloni manusia anti agama, atau dari salah satu agama, atau kebengisah satu kaum anti agama ataukah kebengisan satu kaum terhadap kemanusiaan?
Setiap jawaban memiliki konsekuensi berpikir tersendiri.
Semua model ini, tentu tidak menafikan fakta bahwa kaum yang teraniaya itu sebagian besar beragama Islam. Artinya, ummat Islam di satu daerah menghadapi derita dan pemusnahan oleh kaum Yahudi di Israel.
Itu pemahaman saya, tapi bukan kaum agama Yahudi membantai kaum agama Islam atau Kaum Nasrani menghancurkan Kaum agama Islam.
Salahkah berpikir ini !.
[...] hati ini mendapat tanggapan yang serius dari @Mas Agorsiloku. @Haniifa : Apa pendapat saudara (baca: @Mas Baro), tentang penghancuran situs-situs berharga di tanah palestina ?! Atau perampokan naskah-naskah kuno [...]
@agorsiloku
Saya kadang juga berpikir begini mas Agor, jika sekiranya saya diberi wewenang yg sesuai, apakah saya akan mengambil resiko utk menangkapi para koruptor dan penjahat kelas kakap itu dengan bayang2 ancaman keluarga atau diri saya sendiri akan diungkit (dicari2) kesalahan oleh kelicikan mereka (seperti kebanyakan kejadian di negeri kita).
Tapi begitulah resiko perjuangan, selalu ada.
Pejuang hamas (dan pejuang lain) mmiliki resiko akan kehilangan keluarganya, kehilangan kesenangan hidup, termasuk kehilangan kepentingan lain semacam sumber daya alam tersebut dan sebagainya.
Saya tetap membayangkan para pejuang kmerdekaan kita dulu. akibat prjuangan itu mereka kehilangan banyak hal (resiko), termasuk pasti hancur leburnya sebagian sumber daya alam. Ketika jalur diplomasi cuma permainan kolonial maka cara2 berakibat ‘fenomena’ kehilangan’ itu kok mirip dengan istilah resiko berjuang itu.
Mmm, ntahlah … sepertinya saya belum segagah berani mereka utk mengambil resiko.
Assalamu alaikum wr wb…
Nggak lama lagi perang dunia 3 kayaknya….
soalnya Rusia dah bikin pangkalan militer AL di sini : http://beritaktual.blogspot.com/2009/01/rusia-membangun-pangkalan-militer.html
hhhhh…..itu udah target timur tengah dengan minyaknya,maka jadilah timur tengah ladang atau medan pertempuran antara dua negara adidaya….
Kasihan islam….hanya menanggung akibat akan perang….walau diujung2kan perang terjadi karena agama….
Moga Bermanfa’at dan wassalam…
Alhamdulillah…
)
@Mas Ayruel Chana
(Komentar ini sebenar pernah saya tulis namun lupa dimana, Mas Her… nitip oret-oretan…
Bila kita ingat do’a Nabi Ibrahim a.s. :
Seandainya saja manusia mendengar do’a beliau saat itu, mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal… Bagaimana seseorang mengharapkan buah-buahan yang banyak di tengah-tengah padang pasir… ?!
Kemustahilanya adalah :
1. Nabi Ibrahim berdo’a diatas Oase Batu yang sangat keras.
2. Debit Curah hujan yang sangat langka.
3. Perlu ribuan bahkan jutaan tahun untuk merubah kontur tanah.
4. dsb.
Kenyataan :
1. Buah-buahan melimpah ruah, datang dari penjuru dunia ketempat dimana beliau berdo’a… tampa harus menanam.
2. Rizki yang banyak, mulai dari devisa negara hingga minyak bumi yang seolah-olah tidak pernah habis.
3. dsb.
Nah… sekarang kita telisik efek domino do’a beliau:
1. Kerajaan Kutai…. Minyak Bumi melipah ruah (Muslim Indonesia)
2. Kerajaan Samudara Pasai… Minyak Bumi melimpah ruah misalh: Siak Indrapuri, Dumai… hingga Aceh. (Muslim Indonesia)
3. Kerajaan Brunai Darussalam…. Minyak Bumi melimpah ruah.
3. Malaysia… Minyak Bumi melimpah ruah.
so..
Kasihan
islamKafirun…. mereka menuju ke jurang kehancuran telak.Umat Islam dimanapun tidak perlu rendah diri karena mereka kaya dimanapun berada.
Umat Islam dimanapun tidak perlu merasa bodoh karena mereka lebih pintar dari siapapun juga.
Umat Islam sabar menetapi kesulitan karena akan mendapat pahala yang melimpah ruah dikemudian hari… baik didunia saat ini maupun kelak.
Kadang saya sulit memahami orang-orang yang merasa kerepotan mendapatkan rizki dari Allah berupa curah hujan ?!
Dengan curah hujan… tumbuh-tumbuhan subur…. untuk manusia.
Dengan curah hujan… binatang musiman muncul… untuk manusia.
Dengan curah hujan… kita dapat minum air bersih.
Lalu apakah lebih baik curah hujan berupa emas intan ataukan berupa air ?!
Wassalam, Haniifa.
oya hari ini gencar-gencarnya pemberitaan dimedia mengenai terorris, nah jadi saya mau nanya pak…
Bagaimana peran Teknologi Informasi mengenai Teroris ini pak.
Wassalam pak.
assalamualaikum …
kira-kira ada ndak hubungan teroris dengan hubungan bilateral dengan negara lain…?