—
Kita dan prinsip
(Karena kita makhluk pencontek
—
-
Prinsip kita,
cuma sejauh mata memandang.
Sejauh kepencapaian kita mendapati tauladan yang pantas dikagumi
La yukallifuLlahu nafsan illa wus’aha
—
Sedetail apa pun logika mampu dicernakan
jika tanpa tauladannya
tanpa bukti kata yang tercurahi
tetap sulit memutuskan memilih
menjadi prinsip yang diteguhi
—
Prinsip kita adalah, dimana kita terdampar
darimana masalah diri muncul,
dan
darimana itu ada tercerahkan
lalu kita memilih
memilih yang ditauladani,
yang terkagumi
—
Ajakan bil-lisan, ajakan bit-tulisan, ajakan bit-tauladan
terpilih pasti dari bit-tauladan
karena asal prinsip kita adalah
sejauh mata memandang
sejauh pergaulannya tertauladani,
tercerahi
terkagumi
…
…
siapa pun itu,
kita.
—
(Karena kita makhluk pencontek, pentauladan)











Dan kita pun tau siapa teladan terbaik kita
Laqod kaanaa fii rasulullahi uswatun hasanah…
(al ahzab…, 21??)
@nurma

Salut ama ustadzah yang satu ini.
Boleh nanya ustadzah.
posting-er nya kok malah nanya.begini,
Para sahabat dahulu pertama sekali tertarik dengan ajakan Rasulullah cenderung (dominan) didahului dari pemahaman konsep islamnya (bil-lisan, bit-tulisan) atau dari tauladannya (bit-tauladan).
Kok saya berangan2 dari menyaksikan pribadi rasulullah dulu baru kemudian mudah menerima ajakan-ajakan berikutnya.
Mohon pencerahannya ya ustadzah …
dalam dinamika hidup memang kita butuh sosok yang layak untuk diteladani, pak heri. bagi kita yang muslim kiblat teladan kita jelas Rasululllah sebagai uswatun hasanah. semoga kita bisa meneladani tutur kata dan tindakan Beliau. amiiin.
Kok??!
dipanggil “ustadzah”
mohon tidak memanggil demikian *tertekan* krn sy juga masih dlm proses belajar pak..
) klo kata “akal” saya sih…, dibalik aja, klo skr mau “membayangkan” bgmn beliau hidup? kita berpaling aja ke-2 wasiatnya td
(ah gak tau ah… )
-Ah siapa sih yg gak pengen menyaksikan langsung pribadi itu? Kata ust. sy, jika kita ingin melihat bagaimana qur’an dipraktekkan, lihatlah nabi, kan pribadinya Qur’ani, maksum pula, makanya saya juga pengen “menyaksikan” lgsg
saya dulu malah berangan-angan utk berguru lgsg padanya, buanyak skali yg ingin saya tanyakan…
-Nah, tp krn ia manusia “biasa” yg hidupnya tak mungkin kekal, maka ia sudah meninggalkan 2 wasiat yg jika kita berpegang pdnya kita akan selamat (msh ingat hadits tsaqolain-kan?
-kalo soal dakwah itu memang benar ada bil qalam (tulisan), bil lisan (retorik), dan bil hal (perbuatan). Tp yg mana duluan / yg lbh penting? Maaf, saya tidak bisa menjawab krn saya juga sedang berusaha menyeimbangkannya ^-^ gmn klo kita jalani bebarengan ya ustadz???
-salam-
@Sawali Tuhusetya
Istilah lainnya mungkin idola ya pak …
Kita manusia, dan terutama para pemudanya, selalu saja mencari2 sosok idola itu.
@nurma
Ya ustadzah, kitakan akan berdoa terus untuk yg sedemikian.
assalamu’alaikum wbt.
galat dan peluang; walau Rasulullah saw ma’shum, tetap ada peluang galat (sbg manusia biasa). sejarah membuktikan digenerasi berikutnya, sudah mulai ada galat, meski masih umat terbaik. bayangkan berapa besar %galat generasi2 akhir zaman (jaman?
). karena itu, harus ada orang/generasi yang bekerja mengurangi galat demi galat itu, dengan mengajak kembali kepada konsep yang benar, benchmark, set-point, sepertimana yang DITELADANKAN Rasulullah saw dahulu, seutuh mungkin. Maksud saya, tanpa perlu membayangkan secara fisik, apalagi menjadi batal beramal gara2 tak yakin karena tak melihat langsung. kacau deh. [jadi ingat orang2 di pariaman da].
salam kenal,
ustadz, dengan logika saya yang amat rendah, saya belum bisa membuat hubung kait antara judul, MAKHLUK PENCONTEK, dengan maksud ustadz pada kalimat2 ini “Ajakan bil-lisan, bittulisan …dst”. kalau yang dimaksud ajakan disitu adalah da’wah, maka hipotesisnya tertolak dong. justru saya sesuai dengan kalimat terakhir dari mbak (iyake?) norma @4 dech. mohon pencerahan lagi, kalau ada masa.
namun demikian, saya ada sudut pandang yang lain da.
Rasululullah saw, menurut saya, sesungguhnya tidak menganjurkan kita menjadi makhluk seragam (karena menyontek tadi), apalagi mengikuti orang sebatas jarak pandangnya (secara lahiriah) saja. Justru Rasulullah saw meninggalkan konsep, cara pandang dan bersikap yang benar, memenuhi prinsip-prinsip tsawabit dan memberi bingkai pada hal-hal mutaghayyirat. ini yang mesti dicari, digali, dilestarikan dan disebarkan sejauh mungkin, mengingat kecendrungan manusia yang juz’iyah (individualis kali?). karena itu, Islam, adalah pasti kamil, sekaligus mutakamil.
yang kedua, menurut teori
yang ketiga, pandangan yang terlalu ekstrim bahwa kebenaran adalah apa yang dilihat [atau orang2 yang mengusung paradigma ini], saya khawatirkan akan menjerumuskan kita kepada paham materialism dan hanya menemukan kebenaran faktual saja. bukankah Islam adalah kebenaran faktual, kebenaran filosofis, dan juga kebenaran ilahiah (ingat syumuliat-al-Islam). maksud saya, Islam itu bukan amal saja, tapi sekaligus keyakinan dan cara berpikir. waLlahu a’lam.
terakhir, selamat hari raya ‘idul fitri, kullu ‘aam wa antum bi khairin, maaf zahir dan batin.
salam
@nuanne


Wa alakum salam wr wb
Akhirnya “sang ustadz” muncul juga …
Mmm…
Ini asumsi aja,
bahwa lebih 60% manusia (angka kecendrungan dari grafik gauss itu) memilih “prinsip” hidupnya karena terpengaruh oleh fakta dari sang pemilik prinsip (tauladan/idola-nya). Yaitu fakta keberhasilan, kesuksesan, dan tauladan dari orang2 yg memiliki prinsip itu.
Asumsi ini dapat dimanfaatkan untuk menjawab fenomena : semakin bertumbuhnya anak2 muda yang menggemari memahami islam melalui bagaimana model “barat” memahami agamanya, lalu pelan2 mulai meninggalkan model pemahaman “timur tengah” . Kenapa ?
Karena barat berdasarkan fakta kontemporer yang mampu dijangkau oleh anak2 muda ini lebih tercerahkan, lebih bertauladan. Dunia barat secara kehidupan tampak sukses, lebih teratur dan cendrung tampak maju.
Coba saja sekiranya fakta peradaban barat tampak suram, pasti ideologi berpikir [keagamaan] mereka tak akan “heboh” diinspirasi oleh sebagian anak-anak muda ini.
Ini menguatkan bukti bahwa kebanyakan manusia lebih terpengaruh oleh fakta (hasil) ketimbang proses capaiannya, padahal apakah memang mesti begitu.
Ketertinggalan ummat [Islam] di era ini akan menjadi fenomena lingkaran setan jika solusinya justru menjadi menjauhi asal mula dimana ia disebarkan (tanah arab), walau ada kritik : Apakah keilmuan “islam arab” masih representatif dalam kaitannya dengan islam “syumuliyah” itu ? Respon-respon “ekstrim” dalam menghadapi hal ini harus diawasi.
Akhirnya kembali ke asumsi tadi bahwa kita dominan terpengaruh oleh fakta keberhasilan, bukan bagaimana keberhasilan itu dicapai.
Dalam hal bisnis : Seorang pengusaha yg sukses cendrung lebih didengarkan ketimbang akademisi di bidang enterpreneur yg [misalnya] belum tampak kenyataan ilmunya.
Dalam hal politik : Partai politik yg kerja nyata (faktual) cenderung lebih disukai ketimbang yang berkoar-koar dengan kebaikan/kesucian ideologinya. Kerja nyata di negeri ini bisa berarti “nyata uangnya” atau bisa juga memang “nyata kerjanya”. Kita harus di sini kan ?
Ketika tsiqah telah tertanam, adalah sangat mudah untuk melakukan proses pengajakan.
Logika-logika (akalisasi) terhadap kebenaran hanya mempengaruhi sekitar 20% manusia saja dalam menentukan prinsip untuk dirinya.
Ini asumsi,
faktanya adalah bahan kajian/riset, kalau mau ….
—-
* Tapi tentu tak bisa digunakan untuk bahan riset phd nya di sana, kecuali kalau bisa dicapai optimalisasinya dengan genetic algorithm itu.
- Salam sukses studinya ya ustadz. –
saya setuju dalam beberapa hal, misalnya bagaimana PKS lahir sbg partai dakwah. ia ingin menunjukkan kpd khalayak bhw siyasiy adalah bagian dari syari’at Islam yang syumul [yg sebenarnya politik selama ini dianggap kotor karena fakta2 tadi da
]. PKS membuktikan banyak hal sepanjang pengamatan saya, hal2 yang bisa ditauladani [bahkan yang selama ini dianggap tak mungkin oleh orang banyak].
. tapi sebagai akademisi, sebaiknya kita menghindari interpretasi spt itu dan tidak hanyut didalamnya. memang, idealnya itu, spt contoh uda di atas, paham konsep enterpreneurship sekaligus pengusaha. tapi, ketika saya menjelaskan gerbang logika, pd masa yang sama, saya juga menjadi pimpinan/designer diperusahaan pembuat chip ? kalau tidak, saya kurang didengar ? tentulah tidak, sebab konsep dan orientasinya berbeda. ini yang juga perlu kita bangun menuju titik ideal tadi.
kenapa? karena [mungkin] jelas konsepnya, kuat keyakinannya, dan ada kesempatan mewujudkannya. banyak partai, atau NGO Islam bahkan tak memilikinya. coba bandingkan dgn saudara2 kita yang lain, eg. ada yang mereka fokus pada keyakinan dan amal [saja] tp kurang penekanan pada konsep/ilmu dan arah pergerakannya [ini saya katakan untuk akar rumput saja da, serta lepas dr istilah ijtihad pemimpinnya]. ada yang sibuk berdebat, menuntut ilmu [katanya], tapi sikap dan ucapannya tidak bisa ditauladani. nah, kita kan maunya simultan dan seimbang. simpelnya, jika konsep jelas, yakin, maka amalkan. jgn sampai Allah SWT mengambil salah satu diantaranya, krn kita luput menjaga dan merawatnya.
da, saya ada teman bangladesh. dia selalu mengatakan bahwa org arab itu foolish dan selfish. ada pula org iran [syi'ah] yang mencaci arabian dgn sunni usa’s servant. ada yang mengatakan, melayu/m’sia pemalas. org pulang haji mengatakan di arab itu tak aman, byk rapist, dsb. kesimpulannya apa da [dr fakta2 itu], SYARI’AT ISLAM tu tak benar.
sebaliknya, lihat singapura [tengah mlm sendirian, anak gadis, bisa kemana2, aman]. korea, etos kerja tinggi, anti korupsi. jerman, jepang, maju & byk scientistnya. kesimpulannya apa da [dr fakta2 itu], gak Islam saja orang bisa maju, cetak ilmuan, dan gak ada korupsi. bahkan ada teman saya mengatakan tak ada kaitan antara Islam dgn korupsi atau tidak.
bagi kita yang tahu, semua kesimpulan ini tentu tidak mengenakkan. memang benar asumsi uda itu dan org kebanyakan
orang solok membuat sampan
untuk dipakai mencari ikan
jayakan Islam dimasa depan
dengan memilih nomor DELAPAN
urang piaman pai ka padang
mambali intan juo pamato
rindu jo uda di rantau urang
dek alah lamo dak basuo
- sukses selalu untuk uda
ciat lagi da.
buat tulisan tentang :
prinsip kita : sejauh mata memandang
prinsip kita : sedalam hati meyakini
prinsip kita : selama akal menerima
komplitttt, 3 in 1. ha . . ha
@nuanne
Ada yg mengatakan usaha mengorek akar masalah ummat ini bisa bersumber dari realita dan bisa pula dari idealita.
Kalau kita menggunakan metoda realita semata2, ada kekhawatiran spirit Islamnya menjadi hilang, sebaliknya kalau kita menggunakan metoda idealita semata (Konsep/referensi : AQ + AsSunnah) maka jadinya ya menjauh dari realita (kelihatan primitif).
Beberapa dari kita memilihnya secara ekstrim. Sependek pengamatan saya, teman2 liberal cenderung beradaptasi ke realita saja, sementara teman2 salaf cendrung ber-reaksi atas dasar idealita/konsep saja. Untuk tegak di keduanya tentu dibutuhkan kedalaman sekaligus keluasan, yang kita akui sebagai metoda lengkap (syumuliyah tadi).
—
Kembali ke tema : Prinsip kita : Sejauh mata memandang, dalam hal ini istilah mata diharapkan dapat mewakili semua itu. Sehingga prinsip yg kita miliki sesungguhnya sejauh akal, hati dan jangkauan fisik kita mampu menggapai sang tauladan. Di luar batas itu : La yukallifuLlahu nafsan illa wus’aha.
—
Saya jadi teringat dengan satu hasil survei yang mengatakan bahwa, tidak sampai 20% rakyat kita yg memilih partai karena benar2 dipikirkannya dengan baik, kebanyakan (lebih dari 60%) memilih dengan cara-cara yang asalan, sebelum menjadi tidak memilih sama-sekali.
Tugas siapa meluruskan kesalahan ini semua kalau sebagian rakyat kita yg awam ini tak menganggap orang2 baik itu sebagai kebaikan yg sesungguhnya ?
jadi rakyat perlu bukti (fakta di realita) agar mereka benar2 percaya. Tak cukup “berperisai” terus di kesucian ideologi itu semata.
sejauh mata memandang…brarti cuma beberapa kilo aja donk… perlu alat keker biar lebih jauh… he..he… gak nyambung ya… maav…. hi..hi… abis binunnn sih…..
saya bukan pujangga
jadi nga ngerti puisi heheheheh
Geleng-geleng kefala mbaca komen yang jauh lebih fanjang-fanjang ketimbang fost-nya…
Yang dilihat dan dihukumi adalah lahiriahnya, yang terlihat dan terasakan. Itu mungkin sebabnya, meneladani sesuatu akan jauh lebih mudah dengan menyaksikan contohnya secara langsung, dibandingkan hanya mendengar.
Bahkan, Allah sendiri telah memberikan teladan -contoh- langsung kefada kita. Sebelum memerintahkan kita agar mau berbagi dengan orang lain, terutama dengan kaum dhuafa, Allah memberikan teladan dengan terus menerus memberikan rizki kefada semua makhluk.
Ketika Ia memerintahkan agar manusia bersikaf pemaaf, Allah fun telah memberikan teladan dengan sifat Ghafur-Nya…
*ditendang*
salam kenal,senang bisa berkunjung ke situs anda yang bagus ini…..saya tunggu kunjungan baliknya…..Oh ya saya ingin tukar link,apa anda berkenan?
salam kenal pak *disambit*
tauladan… sejauh mata memandang.. uhmm mata hati ataukah mata kepala nih pak