Masih ada lho yang menganggap bahwa agama itu hanya kedok.
Kok gitu ya ?
Pemahaman ini ada yang muncul dari kesimpulannya terhadap sejumlah fakta, dan ada juga yang [mengira] dari panalaran tajam (kritis) nya.
—
Yang pertama prinsip ateis,
mereka menganggap bahwa agama hanya kedok untuk mengatasi ketidakmampuan manusia memahami berbagai misteri di kehidupan. Menurut mereka manusia-manusia jaman dahulu yang kebingungan dengan dirinya dan hidupnya menciptakan agama demi menentramkan kebingungan tersebut.
Yang kedua prinsip sekuler,
mereka menganggap mencampur-tangankan agama terhadap urusan dunia dan/atau urusan publik hanya lah kedok sebagian orang untuk kemudahan menguasai (mengontrol) orang lain.
Yang ketiga para pelaku meta hipokrit,
mereka mengira bahwa agama hanya lah topeng (kedok) bagi sebagian orang untuk mengelabui kebusukan dirinya atas nama agama demi berkesan seolah-olah ia orang baik-baik.
—
Kita tidak menutup-nutupi fakta bahwa sebenarnya memang ada di antara kita yang menggunakan agama sebagai kedok “nya”. Lihat saja ke sekitar kita, atau lihat juga ke diri sendiri. Bisa saja kan ? Ada.
Tetapi,
menduga dari sana wajah asli agama,
apalagi,
melakukan generalisasi atas sebagian fakta itu,
lalu,
berkesimpulan sepihak bahwa dimana pun dan terhadap siapa pun agama adalah kedok “nya”,
tentu,
tidak benar.
—
Hidayah
Kebenaran-NYA adalah Hidayah terbesar yang diberikan-NYA kepada kita ummat manusia.
Hidayah apa an ya ?
Ada yang mengatakan, hidayah adalah menggunakan akal seoptimal untuk-NYA dan melakukan (beramal) terhadap apa yang telah dicapai sebisanya, lalu memelihara kontinuitas kemanfaatan akal dan amal ini dengan ikhlas dan berpasrah diri pada-NYA.
Maksudnya mungkin,
agama butuh bukti.
Bukti bahwa ia bermanfaat di kehidupan ini.
Sehingga,
jangan jauhkan DIA dari kehidupan.
Maksudnya tentu,
Jangan jauhkan agama dari dunia – NYA.
Jangan jauhkan dunia dari agama – NYA.
Karena,
DIA ada dimana-mana.











Lalu..lalu….
wajah agama yg sebenernya ntu gimana pa?
(ah saya memang hipokrit
)
————————–
Herianto :
Inni wajjahtu wajhiya lilladzii …
Itukah ?
Jadi yang bagus yang bagaimana pak.. Beragama dengan tetap berlogika atau berlogika dengan tetap dipayungi agama.
Kritik2 di atas, mungkin ada benarnya sebagai singggungan bagi kalangan tertentu. misalnya bagi para pelaku meta hipokrit… meski demikian saya tidak setuju jika digenaralisasikan…
wajah pemikiran anti agama kadang bagus untuk dijadikan refleksi buat orang tengah menggandrungi agama..
ah mbuh ah pak…
———————–
Herianto :
Emang itu beda ya pak ?
….
….
Masalah generalisasi … kadang menyesatkan ya pak ? Tapi ada teori ilmiahnya juga lho.
Berefleksi dari anomaly pemikir anti agama.
Karena agama adalah dunia ide, dunia pilihan,
karena harga dunia lebih dianggap kemenangan (kah) !.
karena kaya di dunia menjadi (dianggap) lebih berharga dari pada takwa yang sebenar-benarnya.
karena semu lebih menggoda.
————
Herianto :
Plus,
karena takwa yang sebenar2 nya adalah prilaku yang diharapkan-NYA tatkala kita di dunia.
kalau agama adalah tuntunan, berarti wajah agama adalah wujud sebuah jalan. sepertinya kok tidak mungkin menjadi kedok, tapi kalo dipakai untuk tameng boleh jadi. *halah*
———————
Herianto :
Perjalanan berkedok, atau kedok di perjalanan … *halah*
eh,
Perjalanan bertameng, atau tameng di perjalanan …
Kok sama ya ?
Yah…. maklumlah kalau orang luar berpendapat seperti itu, karena mereka “tidak memahami” esensi agama orang, mereka berusaha melihatnya dari sudut pandangnya sendiri.
Bagaimana pandangan kita terhadap pandangan mereka atau agama lain??
—————
Herianto :
Setuju mas Yari, kalau kacamata nya berbeda tentu ketajaman penglihatan jadi berbeda.
Bagaimana pandangan kita terhadap pandangan mereka atau agama lain?? Kayaknya surat al kafirun cukup jelas mengungkap hal ini.
semoga postingan ini memberikan pencerahan bagi orang-orang yang punya prinsip pertama s/d ketiga… amin..
***alhamdulillah, bisa nambah materi liqo’ dengan baca-baca di sini, jazzakallah pak***
————-
Herianto :
Syukron pak telah berkunjung …
baca judul sekilas, saya pikir ‘agama kodok’. padahal udah penasaran apa kodok punya agama. ternyata ‘kedok’ to..
(ini tulisannya menyindir saya ini.. gak bener itu..)
—————-
Herianto :
Terima kasih mas telah membaca artikel ini dan juga atas pengakuan ketersindirannya.
hmmm, benar kata bapak.
apalagi dengan semakin maraknya perilaku orang-orang yang beragama, melakukan tindakan destruktif yang kita tak tahu apakah memang berlandaskan agama atau hanya mengatasnamakan agama….
semakin menguatkan anggapan bahwa agama hanyalah kedok untuk berbagai tujuan, sebagai mana kolonial pun membawa agama sebagi jalan untuk melempangkan tujuannya
agama, bagi saya adalah pisau bermata dua. dia bisa jadi sarana penyuci jiwa ataupun senjata untuh membenarkan tindakan demi tujuan
wallahu ‘alam bisshawab
allahuma nawir qulubana, binuuri hdayatika, kama nawarthal ardha binuuri syamsyik
abadan, abadan…
—————-
Herianto :
Agama adalah sarana penyuci jiwa. Lalu setelah suci untuk apa ? Untuk dibuktikan manfaatnya di kehidupan. Jangan jauhkan agama dari hiruk pikuk dunia ini, agar terbukti kemanfaatannya.
Tantangan paling suseh untuk seluruh umat beragama justru itu : bagaimana cara kita membuktikan kalo agama memang bukan kedok ? Punya tipsnya ?
—————
Herianto :
Tipsnya sederhana aja mas :
jangan jadikan agama sebagai kedok.
Bersungguh-sungguhlah dalam ber agama.
Semakin banyak kita menyebar-duga bahwa agama hanya lah kedok, semakin meraja-lela orang yang biasa-biasa saja (tak merasa berdosa) melakukannya.
sigodang hata do baeon ! aha do agamu puang lae ! nang pe marjilbab hallet mi belum tentu do i silam
——————-
Herianto :
Banyak yg tidak percaya dengan keberadaan manusia2 meta hipokrit.
Kunjungan dongan akankah mengembalikan kepercayaan itu ?