Dari suatu majlis ta’lim, seorang peserta bertanya ke pembicara (ustadz) nya tentang dilema antara keikhlasan dan profesionalisme.
Penjabaran masalahnya seperti ini :
ikhlas adalah berbuat tanpa mengharapkan apa pun selain ridha-NYA, sementara profesionalisme (terutama yang berkaitan dengan maisyah/mata pencaharian) [tentu saja] mengharapkan imbalan (uang, jabatan). Lalu apakah berarti orang-orang yang bekerja secara profesional itu tidak ikhlas atau setidaknya terganggu keikhlasannya ?
Berkaitan dengan ini ada juga dicelotehin pada blog ini : di sini dan di sini.
—
Kalau memang hendak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut, kita bisa saja memulainya lagi dengan bertanya seperti ini :
- Bolehkah karena merasa kurang ikhlas lalu kita menghentikan (menunda) kewajiban amalan [shaleh] yang lain ?
- Bagaimana mungkin prinsip ikhlas justru menyempitkan ruang gerak [kemanfaatan] kita di lingkup kehidupan ini ?
—
Definisi
Ikhlas adalah mengharapkan ridha Allah semata. Kata kuncinya adalah : “ridha Allah semata“.
Atas definisi ini tentu bisa dilanjutkan ke pertanyaan berikut :
- Mungkinkah kita memperoleh ridha Allah jika mendapatkan uang dari pekerjaan profesional tersebut ? Atau Allah lebih ridha jika kita membiarkan saja (bahkan menolak) hak tersebut atau justru sebaliknya bisa juga menjadi embrio mukmin yang lemah (fenomena kekufuran) dan/atau pengabaian fitrah.
- Mungkinkah Allah ridha jika kita mendapatkan kekuasaan ? Apakah kita punya hak berkuasa atau kita biarkan agar para ahli maksiat saja yg boleh berkuasa.
- Ridha kah Allah jika kita kaya raya ? Apakah kekayaan tersebut hak orang lain saja atau kita seharusnya meraihnya dan menggunakan sebagai sarana berjuang dijalan-NYA.
Pertanyaan intinya adalah :
Apakah orang-orang yang hendak meraih ikhlas tidak boleh menerima imbalan semacam : pujian (reward penyemangat), kekuasaan, kekayaan dan seterusnya tersebut walaupun target hakiki (ujung sekuensial) dia/mereka sesungguhnya tetap dalam koridor (lingkup) mengharapkan ridha Allah ?
Kita bersikeras di istilah “ikhlas” yang kosong (tanpa mengharapkan apa-apa) itu saja atau di makna “mengharapkan ridha Allah” nya. Di kulit atau isinya ?
—
Ikhlas tapi Tidak Murni
Ada yang mengatakan,”Itu sih tetap ikhlas tetapi tidak murni“.
Tidak murni bagemana ?
Bukankah para ulama sepakat bahwa ikhlas itu adalah kemurnian tujuan kita pada-NYA. Dalam kaitan ini tentu tidak pantas ada dikotomi istilah : ikhlas yang murni dan ikhlas yang tidak murni. Yang ada harus : “ikhlas yang murni” saja.
Lalu ikhlas yang murni itu bagaimana ?
Apakah yang tidak mengharapkan imbalan uang, pujian (baca : reward /penyemangat), jabatan dan seterusnya tadi ?
Kalau memang makna seperti ini yang dikembangkan, lalu apa saja pekerjaan (profesional) yang boleh kita lakukan di kehidupan ini ?
Jadinya ya gak ada dong.
Berarti kita gak boleh kerja.
Pantes aja sebagian ummat ini pada ogah-ogahan untuk bekerja (meraih kesuksesan dunia) :
- Mereka takut berlaku tidak ikhlas atas pengertian seperti tadi, pada akhirnya cenderung terdorong untuk tidak melakukan apa-apa.
- Mereka dicecoki dengan pengertian-pengertian sempit yang membatasi keterlibatan aktifnya di kehidupan.
- Mereka ditakut-takuti untuk terlibat sukses di dunia padahal telah tertata energi ruhiyah (ikhlas –> ihsan) dari ibadah ritualnya yang justru dibutuhkan di aktivitas/perjuangan kehidupan.
—
Ikhlas di ibadah ritual dan di pekerjaan dunia itu berbeda ?
Ada juga pendapat bahwa : Ikhlas di ibadah ritual dan di pekerjaan dunia (profesional) itu berbeda.
Lho kok beda. Ikhlas ya ikhlas. Dimana pun maknanya ya tetap ikhlas.
Kalau sekiranya makna keikhlasan [ibadah] tidak dapat dikaitkan dengan keikhlasan pekerjaan [profesional], berarti kita memisahkan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kehidupan. Bukankah sudah lama faham sekuler dikritik melalui pemaknaan seperti di atas.
—
Profesional = Bersinerginya Keikhlasan
Pernah dengar istilah : Ihsan ?
Suatu ketika Rasulullah [pura-pura] ditanya [langsung] oleh malaikat/Jibril [yang menyamar] dengan 3 (tiga) pertanyaan berikut : Apa itu Islam, Apa itu Iman, Apa itu Ihsan ?
Ihsan.
Ihsan inilah profesionalisme, yang salah satu syaratnya : ikhlas.
Profesionalisme seorang muslim adalah bersinerginya keikhlasan dalam setiap aktivitasnya.
Tidak ada ikhlas tanpa aktivitas.
Dan ikhlas bukan tidak mengharapkan apa-apa,
tetapi,
mengharapkan ridha-NYA.
—
Jangan berdiam diri dengan alasan menjaga keikhlasan.
Lakukan.
Beraktivitas.
Lakukan.
Tidak ada ikhlas tanpa aktivitas.
Karena ia diterapkan di nyata.
Harus nyata.
—
—
—
Ide :
Gara-gara baca : di sini, sini, sini dan sini.
{masih update}











{masih update}… blon ikhlas yach
@ haniifa
Tuh sudah ikhlas.
Menilai diri,”ikhlas”, tanda : tidak ikhlas,
menilai blon ikhlas, tanda …
blonikhlas.Blon ikhlas nih.
1 haniifa……………..di/pada 6 Agustus, 2008 pada 6:33 am{masih update}… blon ikhlas yach
Ikhlas… Clear
lihat komen diatas
dasar mas haniifa!!!
@ pak her
Hmmmh…, bagi saya, ada kalanya “diam” adalah jawaban terbaik ^-^
saya kira ikhlas itu di tataran hati..sedangkan profesionalosme itu berlaku di tataran sikap..jadi kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan..karena keihlasan adalah fondasi bagi sikap profesionalisme..dan pengertian profesionalisme tidak perlu terlalu dipersempit menjadi hanya untuk mencari uang…itu menurut saya…he,he..
@haniifa
Ikhlas = clear.
@nurma
Diam itu kan
emassalah satu tahap berjuang.Tangan.
Lisan.
Diam.
Eh posisi nya bontot ya …
@arylangga
Dalam hal ini kasusnya kebetulan mengenai profesionalisme dalam kaitannya dengan mata pencaharian.
Tapi dimanapun posisinya, “kemauan” ikhlas ya tetap harus ada ya …
Ikhlas, Ikhtiar, Berserah diri pada Allah, berbuat baik, melakukan pekerjaan untuk mendapatkan uang yang halal, tidak mengharuskan segala cara.
ikhlas…kunci surga…
berbuat yang terbaik..
beramal yang terbaik..
bersedekah yang terbaik..
insya Allah karena ikhlas sangat dekat dengan ujub..waspada
mari saling menjaga dan menasehati..
ikhlas itu adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas
Wwah… ternyata @Mba Nurma, masih menyisakan satu omelan nehhh… nggak ikhlas ahhh… , Mar Her. !!
Selama niat seseorang masih memperturutkan kesenangan dunia dan segala isinya, akan semakin sulit ikhlas.
Berarti dia mencintai dua hal sekaligus dalam hatinya yaitu: Allah dan dunia, padahal dunia gak pernah dilihat Allah setelah Dia menciptakannya
Ikhlas adalah kita tidak menyekutukan Allah, kalau kita mau melihat apakah kita menyekutukan Allah atau tidak, maka tanyalah kepada diri kita sendiri, apakah Allah atau selain Allah yang lebih kita cintai. Dengan kata lain persekutuan adalah dalam hal CINTA
Bukankah Allah mengingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal? Kenapa anda memilih yang “kurang baik” dan akan hancur
Padahal Allah mengancam barangsiapa yang mengambil kehidupan dunia, dia tidak akan mendapatkan akhirat.
Bagaimana mungkin dia mendapat ridha Allah jika dia tidak ridha terhadap ketetapan/keputusan Allah terhadap dirinya
Ikhlas mudah jika anda beriman dan menerima dengan ikhlas apa yang ditawarkan, dijanjikan, oleh Allah dan Rasul-Nya, kalau tidak akan ada tarik menarik
Nggak ngerti ahh…