Kembali ke Seri Idealis
Tidak jarang kita menyaksikan orang-orang yang sanggup idealis di saat kondisinya terjepit. Apa sih maksudnya kondisi terjepit itu ?
Terjepit itu maksudnya ya semacam keterdesakan, penderitaan, kepedihan dan berbagai kondisi ketidaknyamanan hidup lainnya.
Lalu pada postingan ini lebih dimaksudkan seperti ini :
- Saat lagi ter[di]singkir[kan] oleh sistem
- Saat bisanya cuma menjadi oposisi.
- Saat sebelum mengemban tanggungjawab real (jabatan) tertentu.
- Saat masih berada di tahap awal [titik rawan] perjuangan.
- Saat di “pelototin” banyak mata
- Saat merasa statusnya minoritas
- Dan seterusnya, dan seterusnya
- Yang semacam itulah.
Kali ini poinnya gak perlu sampai 8 (delapan) ya …
—
Di era ini tidak sulit kok menemukan contoh orang yang kelihatan idealis ketika menilai orang lain [saja] tetapi lupa (persisnya sih lalai) untuk menerapkan ke dirinya sendiri khususnya saat berada pada posisi yg serupa. Dalam hal ini apa yang kita sebut dengan autokritik (maksudnya kritik ke diri pribadi/sendiri) menjadi semakin wajar dipertimbangkan (Baca: didahulukan).
Maksudnya ya jangan taunya cuma meng-kritik orang lain doang.
—
Kita lebih kuat ketika terjepit ?
Kuat dalam hal ini maksudnya konsisten, istiqamah, dstnya.
Tidak sekali dua kita mendengar kisah-kisah sejumlah orang yang tiba-tiba saja dirinya mampu melakukan sesuatu yang [padahal] dalam keadaan normal (tanpa ada “jepitan”, atau “keterdesakan”) tidak mampu. Ada kisah teman yang saat terjadi kebakaran hebat di sekitar rumahnya lalu secara spontan mampu memindahkan lemari besar sendirian, atau seseorang yang menjadi berani melompati (menyebrang) kali (parit besar) lebih dari 2 (dua) meteran saat dikejar-kejar anjing gila, dan kisah lain semacamnya.
Semacamnya ?
Ya, seperti orang-orang yg jujur saat di permulaan saja, kompak ketika di awal-nya, sabar saat tak ber senjata (tak berkuasa), setia di penderitaan bersama, … idealis saat nulis di blognya, dan seterusnya lah.
Dalam hal ini saya cuma ingin mengkaitkan antara energi “ajaib” yang dapat muncul saat kita terdesak dengan energi idealis yang tiba-tiba hadir saat kondisi kita terjepit atau tersingkirkan atau katakanlah bahasa halus-kasarnya: saat tidak kebagian.
Idealis sesaat yang muncul seperti penyakit kumatan. Alim saat menderita, bermaksiat saat diberi berbagai ke-enak-an. Duh, hati ini terhenyak sendiri. Sakiiit.
—
Haruskah kita terus terjepit ?
Tentu tidak. Bukankah hidup ini seperti roda berputar. Kadang kita diberi-NYA kesenangan, di lain waktu diberi-NYA ke-tidak-enak-an.
Lalu gimana dong ?
Yang pertama, kita tidak mungkin mengelak dari kewajiban-kewajiban yang harus diemban di kehidupan ini (Ubudiyah plus khalifah). Dalam hal ini tentu terutama kemauan terlibat pada setiap lini “penting” di kehidupan (keduniaan) ini. Setiap hikmah adalah milik kita, ia tercecer dimana-mana, kumpulkan dan manfaatkan.
Yang kedua, kita juga tidak semestinya terus-menerus menghindar dari media/sarana yang kesan-nya kesenangan /kemegahan di dunia saja. Bukankah tidak ada larangan bagi seorang muslim untuk menggunakan sarana “bersenang2″ itu yg tentu akan sayang sekali jika ternyata kebanyakan manusia yang mau merebut kemewahan (sarana) hidup itu hanyalah manusia-manusia pecinta kemaksiatan saja.
Yang ketiga, perlu ada stabilisator untuk menjaga energi “ajaib” itu selalu muncul, agar tidak hadir saat di keterdesakan saja. Bahkan stabilisator itu harus mampu men-generate “energi itu”. Ulama-ulama terdahulu meng-ada-kannya dengan tahajjud (shalat malam) dan ulama-ulama sekarang (harakah) melengkapinya dengan tarbiyah (pengajian/pendidikan). Yang pertama dalam rangka meraih energi ruhiyah, sedangkan yang kedua demi meraih energi syumuliyah.
—
Begitukah …
Agar IDEALIs tak sekedar hadir saat terjePIT.
Duh, sayakah itu ?












IDEALIPIT…. IDEALIPIT…..IDEALIPIT
“Idealipit” Wahhh…. patut dipertimbangkan untuk menyongsong 2009… ?!
(Pak Capres @Mas Herianto memang penuh… penuh…. inspirasi, kalau gituh saya slogannya “deal-pit” ahh )
Hore… hiidup… deal-deal kejepit
Semestinya kita percaya ya… setelah kejepit kesulitan, maka kita akan bertemu kemudahannya. Namun, kerap kita hadapi kesulitan, dan kita berpasrah (sambil berguman, mungkin bukan jodoh kita, mungkin bukan rejeki kita, mungkin tempat yang tak cocok untuk kita, mungkin bukan garis tangan kita), dan kita tidak sempat melihat jepitan sebagai latihan untuk waspada dalam kemudahan….
Dan saya meninggalkan latihan itu pergi mencari yang lain lagi, padahal latihan (mungkin) belum juga usai.
Wah… jadinya terjepit kemudahan…
Kejepit kemudahan…. ?!
Wah… sayah masih teka neehhh
@haniifa
…menyongsong 2009… ?! Apa an tuh ?
Kura2 dalam perahu.
Penuh inspirasi ? So tentu dong, generasi muda kan harus energik dan kreatif.
Deal-Pit itu = politik dagang sapi ya ?
masih berpura tidak tahu.
@agorsiloku
Benar ini mas (dari pengalaman hidup), setelah kesulitan selalu datang kemudahan (sama dengan bunyi ayat : inna ma’al usri yusro).
Bukan jodoh kita, kok kayaknya mirip dengan bukan usaha kita ya mas agor.
Mirip atau semestinya diganti aja …
@haniifa

Anak TeKa dilarang pake sandal jepit.
Eh, apa an ini. Ngawur aku ya …