Secuplik pemikiran
Ada satu kalimat ajakan yang kedengarannya bijak : “Menalar-lah dengan benar ! “.
Kenapa menalar dengan benar sedemikian penting ?
Terutamanya [barangkali] begini,
(1) di saat-saat kita melakukan kritik, (2) tatkala merancang suatu gagasan, (3) ketika menatap (menilai) orang lain, dan tentu saja juga (4) saat menatap diri sendiri.
Bayangkan seandainya di saat melakukan aktivitas seperti di atas potensi nalar kita ternyata bias.
Pasti manfaatnya tak kesampaian.
Menalarlah dengan benar.
BTW, menalar dengan benar itu apa ya ?
Harus objektif-kah, harus detail-kah, harus penuh referensi-kah, harus logis-kah, harus ilmiah-kah, harus kaffah-kah…
Nah…, kalo ada variasi pandangan seperti ini bisa agak repot juga.
Ntar dulu debatnya.
—
Kemampuan atau kemauan ?
Mengamati kembali judul tulisan ini : “kemampuan menalar secara benar”.
Sebenarnya “kemampuan” atau Kemauan sih ? Mampu dengan mau tentu beda.
Yang mampu belum tentu mau.
Yang mau belum tentu mampu.
Pembedaan yang berbau klise…
Tapi,
bagaimana kalo pilihannya cuma yang 2 (dua) itu aja :
1) Ada yang mampu tapi kurang mau.
atau
2) Ada yang mau tapi kurang mampu
Anda milih yang mana ?
Saya memilih yang mampu sekaligus yang mau, atau, yang mau sekaligus mampu.
Yah…, sama dong. Semua kita bakal milih yang itu.
Tapi kondisi realita seringkali tak menyediakan solusi seideal itu.
Kalo memilih adalah keharusan, maka :
Saya pilih yang mau, biarlah walau kurang2 mampu ?
Ketimbang mampu tapi kurang mau-nya.
—
Pemimpin yang mana ?
Pemimpin yang mana yang anda pilih ?
Yang mau bekerja, atau yang mampu bekerja.
Saya memilih : yang mau, walau dirasa kurang mampunya.
—
Anda mau jadi apa ?
Karakter mana yang anda pilih.
Yang mau berpikir tapi …. atau
yang mampu berpikir tapi … ???
Saya memilih : yang mau.
—
Langkah awal
Langkah awal kita adalah di kemauan, kemampuan biasa mengiringinya (Kemauan dalam hal ini diarahkan maknanya ke : motivasi, niat, semangat, atau spirit).
Bukankah si jenius itu bukan karena kemampuan di awalnya, tapi lebih karena kemauan belajarnya.
Maka, amati pernyataan2 lanjutannya :
Manusia-manusia Indonesia bukan kurang kemampuan (pengetahuan) nya untuk melakukan sesuatu secara benar, tapi lebih karena lemahnya kemauan untuk itu.
Banyak orang-orang hebat di sekitar kita, di sekitar anda, di sekitar gedung dan istana, tapi …
Tapi kita2 dan ternyata juga mereka2, kebanyakan ; tak mau.
Tau mau benar.
Bukan tak tahu, tapi tak mau.
—
Tau mau bekerja secara benar.
Tak mau menalar dengan benar.
—
Ini yang lebih penting
Apa yang lebih penting ?
Kita harus mau.
Mau dulu.
Mau menalar secara benar.
Mau bekerja secara benar.
—
Apa itu menalar dengan benar ?
Apa itu bekerja dengan benar ?
Termasuk, apa itu beribadah dengan benar ?
Gak pentinglah dulu di awal-awal ini. Ntar malah jadi sibuk debat melulu.
Yang lebih penting,
maunya dulu…
mau untuk yang benar.
—
mau ?












Mau pak!
post anda menyemangati saya nih pak, iya! saya mau skripsi saya selesai, supaya juni bisa sidang & juli bisa yudisium.
Nurma mau pak! mau wisuda september ini (moga gak mleset deh!) *pulang sambil berdoa khusyuk & mulai fokus pd skripsi*
@nurma
Man jadda wa jadda.
Apa ini ya ?
Wahhh… seperti penjabaran niat yang diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan dan dilaksanakan secara fisik.
Lebih pop dan mudah dicerna…
@haniifa
Iya mas.
Terinspirasi hadits ke-1 dari kumpulan hadits arba’in itu.
Oooh, jadi innamal a’malu binniyat yah inspirasinya?
bagus yah ^-^ definisi mas haniifa (kayak plajaran ‘aqidah’ dulu, iman adalah yakin dlm hati, diucapkan lisan & dicerminkan dg prilaku/tindakan)
Pak Heri for President deh!
*masih kepengaruh postingan sbelumnya*
tapi seknegnya jgn sayah lah, ntar kacau jadinyah ;p saya kan jarang serius.. mas haniifa aja, lebih ‘pas’ kayaknya
Wahh…

Sekneg bagusnya Nurma
Saya mentri kebanjiran… proye-an, kebanjian order…., kebanjiran pahala… gitu lho
@nurma n haniifa
Silahkan berebut mau jadi menteri apa pun, saya tunggu hasil rebut2an nya ini.
Yang jelas siapa pun nanti menterinya, yg presiden-nya sudah deal kan ? Yaitu : saya.
Mau ?
::sayanya mau nih.
#Kemana menalar secara benarnya ya
Ha.ha.ha.
Tapi sewaktu mas Her jadi presiden, Hak preogratif di gunduli….
Tinggal satu hak: Pokoke setuju apa kata mentri kebandjiran… !!
Duhh…. apa sekarang dan nanti kayak gituh !!
Jadi mikir lagi neeh…
@haniifa
Saya BERJANJI, …
tidak akan
menaikkan BBMbegitu.justru
saya tetap akan membuat hak preogratif saya semakin menguat dan langgeng.
Bila perlu diktatoris. :mrgreem:
AYO pilih saya.
AYO.
—
Kalo kampanye nya kayak gitu saya bisa laku gak ya ?
#Apa ini contoh menalar secara benar ya ?
Masih betah mengkampanyekan kemampuan eh kemauan nalar nya.
Kalo kampanye nya kayak gitu saya bisa laku gak ya ?
Yaa… tetap laku lah…
Buktinya ada pendukung saya n mba Nurma
Ni
menurut penalaran saya lho… benarmakasih “pujiannya” saya jd tersandung nih
Ealah.., sama aja kayak yg laen ternyata, punya niat terselubung toh?!
Yee.., maunya
tp kalo “Pokoke setuju apa kata mentri kebandjiran” Lha saya nanti jd bingung pak kalo mo laporan, pemimpin sebenernya yg mana nih?
Laku..laku.., lha ini sudah ada 2 mahluk yg ‘ketipu’ dg kampanye bapak
sudah..sudah.., jgn rebutan ‘hak preroigatip’, fokus..fokus..,
“menalar secara benar”nya mana nih? *sambil lirik 2 org diatas* :mgreen:
*kabur sblm dikroyok bapak2 inih*
@nurma
Gara-gara BBM naik, orang-orang jadi pada banyak mencari celah refresh dengan menghindari hal2 serius2. Soalnya masalah kenaikan BBM memunculkan sejumlah hal serius ke setiap orang yang penghasilan pas-pas-pas-an.
Di kantor kemaren kami juga banyak ngakaknya, di samping ada juga yg terpaksa diseriusi gara2 masalah skripsi mahasiswanya yang di tarik ulur. Bukan kamu lho …
Kita memang bisa ngakak waktu “menggunjingi” masalah : Blue energy, Kekayaan Ahmad Zaini dan tingkah politikus2 rakus yg memanfaatkan isu BBM, plus …
isu kemauan pemilik blog ini menjadi presiden juga.
Ke ke ke ke ….

dimana nalarnya ?
AYO jadikan isu nasional.
@mba Nurma

pemimpin sebenernya yg mana nih?
Justru itu, waktu kebanjiran proye-an explorasi migas semua pada ngumpul.
Setelah kebanjiran “Lapindo” semua pada mabur… bahkan ada istilah bencana indirect….
Weleh-weleh mau direct or indirect…. semestinya diganti dunk dengan sewajarnya.
Disisi lain mas Her sebagai president blog, pinter bikin postingan…. Ya wes, dari pada ndumel khan lebih baik disalurkan !!
Ups… kecuali ada Kepres baru….
@haniifa
Untuk menjadi pemimpin yg sukses apa sebaiknya sukses menjadi rakyat dulu ya…
Atau apa pemimpin2 kita itu gambaran dari rakyatnya, kan mereka dulunya rakyat juga.
Terus yang salah rakyat atau pemimpin ya…
Sebagai presiden
blogsaya tak mau disalah-salahkan.#Halah, baru calon aja dah begini
Halah, baru calon aja dah begini

Yach iya lah….
Itu kata orang sono, namanya adaptasi… sebelum jadi presiden beneran
Kata anak muda sekarang mah, pacaran dulu lah…..
Yo… rekan-rekan kita dukung mas Herianto jadi presiden.
Siapa cepat dia dapat…
@haniifa
Hore jadi presiden…
Mulai mengatur cara ngomong, cara jalan, cara menatap, cara tersenyum, cara jaim, cara nyalahin bawahan, cara…
Lha programnya mana nih ?
Gak cocok lah.
#Pura-pura nolak dulu.
@mas Her
Selamat…. kebebasannya jadi terikat dengan sejumlah protokoler yang sangat ketat