KENAPA kita BERBEDA ?
19 Mei, 2008 oleh Herianto
Ini tentang fenomena ummat Islam
Kenapa ada sejumlah pemahaman yang berbeda tentang Islam ?
Ah, ini seperti pertanyaan bodoh aja ya …
atau jangan-jangan termasuk pertanyaan yang sia-sia (yang gak perlu) itu ?
Tapi fakta,
Ada yang bilang Islam itu harus begini, yang lain bilang Islam justru harus begitu… lho kok beda-beda ?
Apanya yang beda ? Nah ini dia.
Bukankah Islam berasal dari Sesuatu Yang Satu ?
Kenapa, kita-kita sebagai hamba-NYA, kita-kita sebagai ummat-NYA, kok gak satu memahami-NYA.
Apa harus satu ya ? Ah, masak.
—
Kenapa KITA berbeda ?
Belum lagi sempat mengulas tentang fakta beda-beda ini, eh rupanya ada perbedaan pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi lagi dalam menyikapi perbedaan ini. Berbeda dalam perbedaan.
Berbeda apa lagi ?
Gini,
ada yang berpendapat perbedaan ini membawa manfaat (rahmat), tapi ada juga yang berpikiran bahwa perbedaan itu adalah mudharat (laknat kah ?).
Berbeda lagi kan ?
Anda setuju yang mana ? Kalo pilihan anda di list di sini pasti tanggapan nya pun berbeda-beda pula.
Yah, berbeda melulu.
Lalu kenapa dong kita berbeda-beda ? Simpan dulu ya jawabannya..
—
Emang kalo berbeda kenapa ?
Nah, pertanyaan yang ini gak salah serunya.
Emang kalo berbeda kenapa ?
Kenapa ya ?
Kok kayak nantang gitu ya ?
—
Jangan sekedar sepenuhnya
Ada yang menganjurkan dalam melihat fenomena ini jangan berdiri pada posisi yang “sepenuhnya” (ekstrim).
Jangan mengira bahwa perbedaan itu semata-mata rahmat saja, lalu asal berbeda (yang penting beda) dan membiarkan apa pun perbedaan yang ada, seperti menganggap penyimpangan [anomaly] sebagai perbedaan wajar juga. Bahaya pandangan seperti ini adalah munculnya energi-balik yang menyerang posisi sendiri.
Sebaliknya, jangan mengira bahwa perbedaan itu mudharat saja. Tidak semua perbedaan itu menyeramkan lalu mesti dihadapi dengan berhadap-hadapan (saling curiga, saling serang atau semacamnya). Bahaya pandangan seperti ini adalah dapat kehilangan sebagian dari anugrah-NYA.
—
Jadi, perbedaan adalah…
sebagian memang anugrah, dan sebagiannya justru ancaman.
Ancaman ?
Ya, misalnya : ancaman keintegritasan, ancaman originilitas, dan sebagainya.
Ayo pilah-pilah, yang mana dari perbedaan itu yang merupakan anugrah dan yang mana ancaman ?
Pasti, bakal berbeda lagi nih…
—
Lalu gmana dong ?
Jangan mau diombang-ambing badai. Perbedaan adalah ujian.
Pegang satu tali, dan bertahan.
Buhul tali itu amat kuat yang tidak pernah ada putusnya. (2:256)
—
Kembali ke Islam
Menyikapi dan menilai perbedaan :
- Islam tak menafikan perbedaan (realita/waqiyah), tapi juga tak membiarkan penyimpangan (jahiliyah).
- Perbedaan (penggolongan) pemahaman Islam dapat dinalar dari karakter komunitas yg berbeda2 itu : keikhlasan-nya, kekaffahan-nya dan istiqamah-nya.
Apa ini permulaan ya ?
Kenapa kita berbeda, dan bagaimana menyikapinya.
—
Mencoba-coba menilai
Pertama : ikhlas.
Ikhlas adalah berbuat karena DIA, bukan karena tidak pada apa-apa atau tulus kosong semata, bukan gitu dong tentunya maksud ikhlas… Tetapi adalah karena DIA. Apa pun itu yang DIA sukai, itulah dia karena DIA. Setuju ?
Kaffah.
Kaffah bisa berarti sekomplitnya (totalitas), misal : tidak di akal saja, tidak [dalam] hati (perasaan, spritual) saja, atau sibuk di amal semata, tidak melalui kekuasaan (politis) saja dan tidak pula berkutat di kultural semata, tidak tekstual saja dan tidak pula kontekstual semata, tidak kontemplasi (kesalehan ritual) semata dan tidak pula asal terlibat (kesalehen sosial) saja. Kaffah juga berarti keseimbangan; tidak menurut (taqlid-tsiqah) semata dan tidak pula sibuk kritik (logika) saja, tidak terus mengalah (damai semu itu) semata dan tidak juga asal menyerang (aksi teror) [semena-mena]. Kaffah bisa juga berarti berkeadilan, tidak demi kepentingan pribadi (fardi/ego) saja, dan tidak pula demi kepentingan kelompok (jema’ah/golongan) saja, tidak mengacu ke masa lalu saja (kejumudan ber-salaf) dan tidak pula mengikuti kontemporer (trend) semata.
Lalu istiqamah.
Istiqamah berarti teruskan saja. Teruslah atas dasar ikhlas dan kaffah; Allah pasti menunjuki jalan-jalan-NYA.
Ini logika iman.
Tidak sekedar seperti mengikuti air mengalir saja, tentu harus ada pilihan2 untuk memutuskan arah, memilih energi, dan melakukan “gerakan-gerakan” (usaha) sebagai konsekuensinya.
Siapa pun yang ikhlas dan kaffah, PASTI mencapai jalan-NYA, istiqamah.
—
Ayo kita sudah sampai mana ?
Sudah sampai pada kesimpulan bahwa munculnya perbedaan (penggolongan dalam Islam) bisa saja muncul dari perbedaan dalam kualitas ikhlas-nya, implementasi kaffah-nya dan kemauan istiqamah-nya.
Ikhlas itu arahnya, kaffah caranya dan istiqamah pembuktiannya.
Sekarang amati lagi beberapa perbedaan (golongan) yang ada : keikhlasannya (dapat diakseskah ?), kekaffahannya (dapat dinalarkah ?) dan istiqamahnya.
—
Setidaknya katakanlah,
demikian pandangan yg saya terima.
—
Berani beda ?












kok kategorinya Artificial Intelligence yah?
Herianto :

Eh iya tuh. Jeli juga.
Ternyata ada beberapa postingan lain yang secara gak sengaja terkategori : Artificial Intelligence. Rupanya karena default. Terima kasih.
Jadi kangen nih nulis ttg AI lagi. Apa ya ?
@mas Her
Ternyata masih banyak yang berpendapat bahwa perbedaan adalah “musuh”. ??
Sedangkan persamaan adalah “kawan” ??
Sekali lagi saya masih kurang sabaran he.he.he
@haniifa
Mas Haniifa…
Saya mendukung gagasan ini :
Mari bekerja sama dalam hal2 yg kita sepakati dan saling menghargai (bertoleransi) dalam beberapa hal dimana “perbedaan” terjadi.
Agar kalimat di atas tidak di salah gunakan, maka perlu ditambahkan catatan bahwa :
Perbedaan tentu beda dengan penyimpangan.
Nah…
“Pelangi itu indah karena beragam warnanya” (klise bangeeet)
Hemmmm.. *manggut..manggut..*
“Perbedaan tentu beda dengan penyimpangan”
@nurma
BBM mau naik kok malah manggut2 Nur…
…
…
Mmm… ya dong,
“Perbedaan adalah beda dengan penyimpangan”
Jadi teringat dengan bait Kantata Takwa :
“dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”
Ho ho ho ho…
#Buru2 ke SPBU
Boong nih masih nongkrongi kompu kok …BBM naik tinggi, susu tak terbeli…
@Haniifa



Ya, ya ya…
Tapi kenapa kita (rakyat) dan pemerintah selalu beda ya ?
Naikkan BBM kata mereka, jangan dong, kata kita.
—
Apakah perbedaan semacam ini juga dapat ditilik dari aspek : objektivitas (keikhlasan) niat/tujuan masing-masing kita, kekaffahan dalam [memahami] berbagai hal dan istiqamah/keteguhan berjuang ?
—
Mungkinkah mereka (pemerintah) dalam hal ini lebih bersikap realistis lalu kita-kita maunya yg idealis saja ? Atau justru sebaliknya ?
Atau ?
—
Ah, selamanya kah rakyat dan pemerintah harus berseberangan ?
Lalu apa guna pemerintah, apa guna rakyat ?
@ mas haniifa
gitulah mas, efek domino. susu gak kebeli, gizi anak2 gak kecukupi, penerus bangsa jd bodoh2 & kurang gizi, yg miskin tambah miskin yg kaya tambah kaya, kesenjangan!!! wah maaf..maaf.., kok saya jd emosi gini yah??!
iya pak, prihatin karena terimbas, alamat ongkos angkot bakal naek nih
napa sih pak, angkot (public fascility) gak ikut d subsidi juga?! *pulang dg dongkol*
@nurma
::Karena presidennya gak saya …
#Semua pada pengen jadi presiden#
—
Gerah juga lihat orang2 pada nampang muka (lihat iklan di TV) mengambil kesempatan atas penderitaan rakyat ini. Kenapa uang iklan itu gak dipake untuk membantu rakyat saja kalo memang hidup adalah perbuatan dan cinta rakyat …
Meng-kritik pada situasi seperti ini memang enak ya, coba kritik diri sendiri seperti itu…
@mas Her
Ah, selamanya kah rakyat dan pemerintah harus berseberangan ?
Seharusnya menyatu, karena mulai dari : hulu … badan … dan ekor mempunyai daya adhesi yang sangat kuat.
Lalu apa guna pemerintah, apa guna rakyat ?
Pemerintah tampa rakyak := kepala tampa badan
Rakyat tampa Pemerintah := kembali kejaman jahiliyah
@Nurma
)
Efek domino..
Jadi inget kebijakan OTDA (Otonomi Daerah)…
Kebijakan tersebut pada hakekatnya baik, yaitu pendistribusian sistem sentralistik menjadi semi-sentralistik. Namun ibarat orang naik tangga yang tinggi kemudian turun secara drastris (langsung terjun he.he.he.
Seharusnya dilakukan secara gradual …. anggap saja 5 tahun pada kekuasan tingkat Gubernur… jika berhasil maka 5 thn berikutnya ke tingkat Walikota/Bupati.
Nyatanya khan enggak… ??
Tidaklah mengherankan jika ujug-ujug timbul raja-raja kecil baru yang lalim… !!!
Efek domino..
Begitu juga mengenai BBM…
Minyak tanah merupakan hajat hidup orang banyak.
Dari konsumen rumah tangga, tukang bakso, tukang mie goreng…. dan sedikit pengusaha tukan kibul …. semua pakai miyak tanah.
Menurut saya yang OOT…
Minyak tanah := tetap subsidi (bukannya be-el-te)
Non Minyak tanah := Monggo ikuti tren dunia
Wahhh… mas Her, maaf nungpang kesel neeh…
Herianto :
Indonesia raya, merdeka.. merdeka
Tanahku, negeriku… yang kucinta…
………
………
………
Merdeka, merdeka.
Eh sudah ya…
@ mas haniifa & pak heri
Wah kayaknya komennya pada berisi “keluhan seputar kenaekan BBM” yah, jadi OOT jauh dari topik kayaknya, biasa kalo dah kbawa angin emosi
wes pak, ganti aja judul postingannya, he..
@Nurma
Malah saya usul untuk 2009 nanti mas Heri menjadi Meneg BUMN, dan Nurma menjadi Sekneg….
Lha saya… mencalonkan diri menjadi menteri ke-air-an alias kebanjiran
@nurma
Judul post-nya kan : “Kenapa kita beda”.
Lah comment di post ini kan sudah beda2 … cocok dong.
@haniifa
Setuju.
Mau, mau.
Good, berbobot nih…
komentar lain ntar dulu yah…udah malem Pak…