Dimana KEBENARAN ?
5 Mei, 2008 oleh Herianto
Perbincangan (termasuk perdebatan) tentang “kebenaran” apalagi kalau dikaitkan dengan masalah keyakinan memang bisa rumit.
Ops, …tunggu !!
Tapi kebenaran yang mana dulu ?
Kebenaran ilmiah atau kebenaran spiritual ?
Kebenaran kedua-nya dong.
O… ow, apa mungkin kebenaran keduanya dapat dipersatukan ?
Kenapa tidak, atau kalau tidak [memang] kenapa ?
—
Kok ini melulu ya…
Kebenaran spiritual (wahyuniah) umumnya lebih bersifat idealis ketimbang kebenaran ilmiah (alamiah) yang tentu saja lebih bersifat realis.
Ada yang protes ?
Ada.
Protesnya begini.
Bukankah fakta alamiah itu adalah Kreasi dari sang Pencipta. Lalu bagaimana mungkin si Maha-Ideal Menciptakan alam-NYA dengan tidak ideal.
Ho ho ho ho … Suatu sanggahan yang cerdas.
Tapi keliru.
Dimana kelirunya om ?
Begini.
Fakta alamiah yang dimaksud di sini adalah fakta yang mampu dicerna oleh si manusia itu termasuk dari daya kreasinya sendiri. Katakanlah dalam hal kreasi, si manusia telah membuat formula dari fenomena alam, atau merancang suatu solusi teknis (teknologi), atau menggagas suatu ide dari masalah2 sosial. Dalam hal ini si manusia selalu bekerja di bawah constraint ketidak-idealan fenomena alamiah/sosial tersebut.
Atas ketidak-idealan tersebut, tentu si manusia tak boleh berhenti.
Tak boleh berhenti berkreasi, tak boleh berhenti dalam menggagas pemecahan atas masalah-masalah dari interaksi-nya.
Mmm, pasti masih ada yang protes. Atau malah jadi tambah bingung …
Yang protes berarti [masih] idealis [menyimpang].
He he he strategi membungkam massa idealis.
—
Lalu dimana Kebenaran ?
Pertanyaan ini dikoreksi dulu, atau katakanlah “bunyinya” sedikit dibelokkan menjadi : darimana Kebenaran ?
Apa berbeda ya antara bertanya : “dimana kebenaran” dengan “darimana kebenaran” ? Mau tau jawabannya ?
—
Ini cerita tentang Islam
Kebenaran kalo sekedar di pemahaman [saja], tentu bukan ini yang diinginkan Islam (baca: Al-Haq).
Lalu,
gimana kalo kebenaran yg sekedar di pelaksanaan saja (yg mottonya : pokoknya amal), atau gimana pula kalo kebenaran yg sekedar di penghayatan saja (seperti si gila spiritual) ? Mungkinkah ?
Ah, apa topik ini seru ya kalo digosipin ?
—
Kebenaran, metoda ilmiah dan iman
Penemuan kebenaran melalui metoda ilmiah membutuhkan kajian rasional dan fakta empiris. Variannya adalah dari rasional ke fakta empiris lalu kembali dikaji secara rasional. Jadi metoda ilmiah tidak cukup dengan rasional saja , juga tidak utuh (mentah) kalau berupa fakta empiris saja. Tidak boleh berat sebelah. Keterbatasan jangkauan rasional harus dilengkapi dengan pengambilan fakta empiris tadi. Dengan cara inilah aktivitas keilmuan menjadi lebih diterima manfaatnya.
Lalu kebenaran iman ?
Cukupkah dengan kajian rasional saja ? Tentu tidak.
Atau,
barangkali ada juga yg maunya [dominan] di amalan saja atau maunya [dominan] di hati saja ?
Mari kita baca lagi apa kata fuqaha,
begini :
—
Iman adalah sesuatu yang dipahami, diamalkan dan diyakini. Iman diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan kelakuan. Karenanya, iman yang ada di dalam hati saja tak cukup. Tak cukup kita meyakini bahwa Tuhan Yang Esa, yang menguasai hayat hidup kita, yang Mahatahu yang terbaik bagi kita, namun kita juga harus mengikrarkannya, dan yang lebih penting lagi kita harus menampakkannya dengan mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya. Dalam tauhid, kita tak hanya mengenal apa yang disebut dengan tauhid Rububiyah, dimana kita meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, namun dikehendaki juga adanya tauhid uluhiyah, yang membutuhkan bukti bahwa Allah adalah satu-satu sesembahan kita dengan semua makna (konsekuensi) yang terkandung di dalamnya. Maka iman adalah hati, lisan, dan kelakuan. Bukan NATO, alias No Action Talk Only, tapi ia juga talk and action.
—
Wow, rasanya gak kuat untuk menulis kalimat itu sendirian. Terima kasih paman google “copy paste” .
—
Saatnya menulis resume
Kebenaran [dalam Islam] tak mudah dicapai jika tanpa [melalui] pelaksanaan, terutama karena pelaksanaan akan mendorong kita pada penghayatan. Bahkan jalan pikiran [semata] pun bisa menjadi ancaman pencapaian Kebenaran jika tanpa “mengangsur” pengamalan. Kita memiliki hati yang butuh penghayatan melalui pengalaman amalan. Perhatikan saja para “penyiar” orientalis, atau sebagian teman liberal yg terbeban pemikiran “nya”, atau kaum sufi spesialis yang [terlalu] kelebihan spiritual “nya”, atau siapa pun yang berilmu minus amal, atau beramal minus di kenyataan, mereka acap berputar-putar di “poros” nya sendirian. Merasakan nikmat sendirian ?
Ya. Rasakan nikmatnya pemikiran dan spiritualitas [semata] itu. OK lah. Tapi kemana dulu nikmatnya kenyataan.
—
Dimana kebenaran ?
Ya… di sana, di kelengkapan.
—
Dimana ? Coba.
Let’s go to the “Yang” complete,
di Kaffah.


Salut Salut Salut Ambo samo Buya…
Sepertinya calon filosof penerus Buya Imam Ghazali, Buya Hamka end etc..
Kebenaran ? mhhh mungkin berada dalam Kebenaran itu sendiri, hehehe….
Tarimo Kasih atas Do’a Buya, Semoga Bapanda tenang dan damai disisi-NYA..
Merci Beaucoup !
Baca-baca dulu aja yach !! mas Her…, berat neeh
@ JB’lOg
Barek tuh ha … menyandingan ambo jo urang2 besar tu …
—
Insya Allah doa anak yg shaleh adalah harapan abakanda.
Amak lai masih ado kan ?
—
Waktu membaca postingan angku, ambo takana jo abak dan amak (di SUMUT) nan lah lamo ndak basua langsung.
Samo tarimo kasih.
@ haniifa

Berat ya ?
Berat dan bingung ya, mungkin kata2nya yang sulit dijamah.
Kayaknya harus di-edit lagi nih sistematis jabaran gagasan-nya dan pilihan katanya juga.
—
Di postingan ini sebenarnya saya seperti ber-hipotesa untuk menjawab fenomena : kenapa kita berbeda dalam mencapai Kebenaran ?
Salah satu yg hendak saya ungkapkan adalah karena berbedanya [ada deviasi pada] totalitas (kaffah) dan keseimbangan (tawazzun) masing2 kita dalam menggunakan semua potensi jika dikaitkan dengan keharusan jati diri seorang muslim [sejati]. Ideal ya ?
Wallahu a’lam.
al-haqqu mirRobbikum , kebenaran itu dari sisi Tuhan.
yang benar pasti sambung-menyambung dengan yang benar.
kebenaran akan kau dapatkan pada detik yang sama saat kau mulai mencarinya
namun kebenaran akan berhenti kau dapatkan pada detik yang sama saat kau berhenti mencarinya.
makanya ada istilah kau berjalan Tuhan berlari…dst
dan tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah
(bukan lebih baik memberi dari pada menerima lho)
tangan diatas= tangan yang bekerja, yang berserah diri, yang memberi dan menerima kebenaran
assalamualaikum. puyeng juga nih ngunyahnya. jadi baca baca aja dulu deh. salam kenal pak
Mohon maaf mas Her.
Bukan sistematis jabaran gagasan-nya dan pilihan katanya yang kurang, jujur saja saya merasakan juga “fenomena : kenapa kita berbeda dalam mencapai Kebenaran ?”
Muslim [sejati]. Ideal ya ? Insya Allah,
————–
Kebenaran ilmiah atau kebenaran spiritual ?
Kebenaran kedua-nya dong.
Saya 100% setuju.
Nah pada saat kita membeberkan kebenaran ilmiah, kita dijebak oleh “tools” yang dibungkus dengan rapih lewat metodologi ilmiah.
Begitu juga pada saat kita membeberkan kebenaran spiritual, kita dijebak oleh “tools” yang dibungkus rapih lewat testing “Truth Claims”
Sekali lagi mohon maaf, saya memberikan contoh “realita” Seputar teori (”Bumi mengelilingi matahari” VS “Matahari mengelilingi Bumi”
tak pernah henti bukan ??
Dari berbagai disiplin ilmu, baik dibidang ilmiah maupun teologi saling adu argumentasi mulai dari cara yang halus sampai dengan yang paling vulgar.
Kita hidup di Indonesia (Khatulistiwa), mayoritas penduduknya hanya mengenal dua musim.
Saat musim hujan = matahari condong ke Utara.
Saat musim kemarau = matahari condong ke Selatan.
Ini guyon yach… jangan diambil hati…
Assumsi: Mas Her pro teori MB, dan saya pro teori BM.
1. Bisakah kita dengan segala cara meyakinkan “Muslim” di Indonesa ?? … Sesungguhnya di Indonesia itu ada 3 Musim.
2. Bisakah kita meyakinkan para pelajar di Indonesia bahwa Garis Khatulistiwa ??… melewati Malaysia.
3. Bisakah kita meyakinkan pada para pelajar di Indonesia ?? … Sesungguhnya titik balik LU dan LS 50derajat.
Bukan “Metodologi Ilmiahnya” dan “Truth Claims”nya yang salah, tapi “tools”nya yang disodorkan ??
Wassalam, Haniifa.
Tambahan…
“Tools” kesannya dikotomi… yach!.
Sulit saya mengatakan, tapi saya praktekan pada “Daeng”
apa beda antara benar dengan betul?ehm..mungkin semua sepakat kalau itu sama. Namun ada satu lagi nih:
apa beda antara ke-benar-an dengan ke-betul-an?
sebuah kebenaran dapat dianggap benar oleh orang lain adalah jika ada right reason yang dapat men-sugesti orang lain.
Contoh:Christopher Colombus dapat meyakinkan orang lain bahwa dia adalah penemu benua amerika. Kemampuan public relationnya sedemigian dahsyat, sehingga orang menganggap benar bahwa dia adalah penemu amerika. Hanya sedikit yang menyadari bahwa dirinya adalah orang pandir yang kesasar. Bukankah tujuan utamanya adalah akan ke India? dia kesasar ke daerah yang cukup jauh.
Lebih gawat lagi, 70 tahun sebelum kedatangannya di Amrik, pengelana muslim berkebangsaan Tiongkok, Cheng Ho, sebenarnya telah menancapkan benderanya di Amerika. Hanya saja ia kurang mampu meyakinkan dunia bahwa ia adalah penemu amerika.
–iman yang baik adalah iman yang beralasan–
@mas ompiq
apa beda antara ke-benar-an dengan ke-betul-an?
Bedanya….. ya hurufnya dunk…
1. benar = b-e-n-a-r
2. betul = b-e-t-u-l
Samanya…ya artinya dunk…
BENAR = BETUL
Salam kenal,
@mas her
Menurut mas gimana…
Kebenaran = Kebetulan ??
@47isdead
Terima kasih nih mas atas sejumlah referen-nya.
Tentu Kebenaran (Al-Haq) berasal dari Tuhan, dan ini sekaligus (satu paket) dengan jalan pencapaian-NYA, bimbingan-NYA dan hidayah-NYa.
Kebenaran-NYA adalah Totalitas sekaligus keseimbangan.
Kaffah.
—
Kebenaran mutlak sebagai Hak-NYA, tentu hanya kita capai melalui (jalan)-NYA.
Siapa pun yang melangkah melalui jalan-NYA tentu akan mencapai Kebenaran-NYA.
Capaian Kebenaran tentu berproses, karena proses itulah jalan-NYA, kecuali bagi orang2 yang ditentukan-NYA (seperti nabi, rasul, …). Ketika kita mencobanya sendiri pasti akan ada liku, bisa panjang, bisa macet dan …
Mumet kah kalo diperturutkan… ?
@maskun
Terima kasih mas telah mampir lagi dan salam kenal lagi.
@haniifa
Menurut saya,
Kebenaran alamiah (ilmiah) memang tidak akan mutlak untuk kita (manusia) mampu mencapai-nya. Kita sepertinya hanya mampu memahami alam (termasuk fenomena sosial) sejauh realita-nya (ketidak-idealan-nya).
Tentang beberapa kasus ilmu alam yang mas Haniifa sempat lontarkan di blog-nya, saya juga baru bisa baca2 aja. Belum menemukan referensi.
Tentang fenomea Mekkah sebagai ‘pusat’, itu perlu dieksplorasi terus mas. Asyik.
@ompiq
Ah, penggunaan kata : “kebenaran” dan “kebetulan” di komunikasi kita sehari2 sepertinya beda ya ?
Apa ayo ?
Apa ini bisa buat puyeng ya ?
—
Saya sebenarnya lagi menyiapkan postingan tentang apa yg saya pahami dari fakta : kenapa kita berbeda dalam memahami Kebenaran (dalam hal ini : Islam) dan usaha2 menegakkan-NYA.
Tapi belum ON nih…
Ma’af.
Duhh… setuju sekali mas Her, “Kita sepertinya hanya mampu memahami alam (termasuk fenomena sosial) sejauh realita-nya (ketidak-idealan-nya).“.
Justru itu saya melontarkan balik ke postingan mas Agorsiloku pada judul “Mekah sebagai pusat bumi 3″ dengan harapan semua menyepakati angka (40 dan 23.5)
Sejarah membuktikan baik “Dunia Kristen” maupun “sekarang Dunia Islam” ramai membicarakan teori “Heliosetris” dan “Geosentris”.
Tapi rupanya saya masih nggak sabaran kali….
Ya di dua-duanya dong, kenapa harus dipilah dan dipertentangkan?
@haniifa
“Mekah sebagai pusat bumi”, tampaknya makin seru nih bahasannya.
Kalo saya sih maunya langsung setuju aja…
@Ersis Warmandyah Abbas
Duh, rupanya saya kedatangan “tamu istimewa” bapak blogger kita nih.
SubhanaLlah, terima kasih pak Ersis atas kunjungannya.
Jujur aja sebenarnya saya dah beberapa kali “nyolong” ilmu tulis-menulis dari blog bapak …
Hi hi ketauan ya …
Salam hangat.
He…he… waktu dipostingkan, saya malah jadi mikir (sambil bingung), apa bedanya ya !. Saya pikirkan saja dalam bahasa sehari-hari kebenaran dan kebetulan dalam bahasa Indonesia ini ya. Dalam pemahaman saya :
Kebenaran itu bekerja pada keobjektifan persoalan, sedangkan kebetulan lebih terasa pada penilaian pada objektifitasnya.
Jadi kalau 1+1 = 2, jawaban ini benar.
Kata 2 itu sebagai jawaban adalah betul. Betul sebagai jawaban 2 dan benar adalah kalkulasi 1+1nya tentu.
Secara umum, saya menangkap bahasa komunikasi manusia Indonesia terhadap benar dan betul adalah begitu.
Karena pandangan pada kata “betul” lebih memberikan penilaian pada faktor kejadiannya bukan pada hakikat “betul”nya maka kita bisa menganggap sesuatu betul, padahal tidak benar.
(ini kalau kita tidak ingin menukar-nukarkan kata ini).
Bolehkan ditukar-tukarkan antara benar dan betul.
Jawab saya : Tidak, karena kata betul punya arti lain ketika menjadi kebetulan (sebagai kemunculan peristiwa yang dihitung secara statistik).
Jadi kalau kita mencari kebenaran, kita terus mencari pada hakikat… sedang mencari kebetulan, maka yang kita cari adalah unda-undi…
Ass.
mohon dimaafkan ya.
Mas Heri maaf komentar no. 15 ini nggak nyambung… maksud saya komennya di Mas Haniifa, soal benar dan betul. Di sini yang diwacanakan beda, dan malah jadi masukan buat saya…
@agorsiloku


Senang mas Agor dah mampir …
Gimana mas her…!!
Kelihatan mas Daeng kebingungan khan ?!
Mas Daeng ini lupa kalau teorema Pythagoras, dibuktikan dari pembuktian secara Geometris (sengaja saya tidak tampilkan untuk meyakinkan dirinya sendiri)….
Matanya tertutup oleh bukti aritmetika, karena tidak mau melihat bukti geometri (titik, garis, segita, segi empat, lingkaran) sehingga pada saat mas Daeng baca di Oom Wiki….yo wish pokoke gitu ajah…..
Saya sendiri masih sulit membedakan dualisme seperti itu,,
@mas Petakt
Betul sekali mas memang sulit membedakan dualisme itu !!
Mudah-mudahan kita sama-sama memahami, bahwa gambar 3D (tiga dimensi), semisal menggunakan software 3D max, kita tertipu oleh mata kita sendiri.
Sebab secanggih apapun resolusi layar monitor…. toch tetap saja gambar 3D tersebut pada dimesi 2 bukan dimensi 3.
Begitu juga dengan gambar persfektif atau Proyeksi ortogonal (gambar pandangan majemuk) pada dasarnya kita menggabar dipermukaan kretas 2 dimensi bukan !!
Salam kenal, Haniifa.
@petak
Tapi dualisme pada metoda ilmiah penting lho.
Seperti : idealis-realis, rasional-realitas, berpikir-bekerja, …
@haniifa
Pembuktian Kebenaran memang harus berdasarkan ko-komplitan-nya mas.
Kaffah kah ? ;D
Alhamdulillah…
Jujur saja bantuan moral dari mas Her, sangat berarti sekali, semoga Allah melimpahkan rahmatNya pada mas Her sekeluarga khususnya dan rekan-rekan yang senada umumnya. Amin
Wassalam, Haniifa.
Herianto :
Tetap semangat.
Assalamualikum.
sorry, ikutan silat-turrahmi.
Bila hendak mencari kebenaran, katanya pak kiyai bersihkan hati dulu buat persiapan menerima petunjuk dari ‘ATAS’ bila sudah siap baru dikasih tau.
Katanya lagi, Kebenaran tunggal itu tidak terucap atau pun tertulis.
Salam kenal buat semuanya.
Kebenaran? Kebenaran apa nih? Penciptaan? Yah, saya sih nurut aja ke peribahasa orang beriman: “Jika orang berjalan di atas pantai, maka kita bisa lihat jejak kaki yang dilewatinya. Jika kita lihat jejak kaki kuda di atas pasir, pasti ada kuda yang baru lewat sini. Kalo kita lihat jejak orang, ya berati ada orang baru lewat dongg. Nah, kalo kita lihat langit yang dihiasi bintang, bumi yang dihiasi gunung, laut yang dihiasi keindahan, tidakkah itu cukup bagimu untuk meyakini bahwa ada yang menciptakan itu semua?”. Fiuuh. Kebenaran absolut sih kagak ada. Kecuali Tuhan, namun, karena Tuhan tidak mungkin terikat oleh ruang dan waktu, kalo saya bilang tuhan itu tidak ada kayaknya masih valid deh, emang ghoib kan? wkwkwk. Akhir kata, I would rather live a life as if there is God and die to find out that there isn’t than to live my life as if there isn’t and die to find out there is.
[...] … ternyata benar, saya masih terbelakang juga bermain dengan kata. Inga-inga saya, kebenaran itu bukan “kebetulan”. Jadi tidak bicara benar sama betul , yang berpihak atau memihak [...]