REALIS, tanda kelemahan diri kah [?]
29 April, 2008 oleh Herianto
Agar KRITIK tidak menjadi omong doang. Agar REALISTIS tidak menjadi dalih [alasan] doang. ![]()
—
Bentuk-bentuk ideal sebenarnya cuma ada di [hasil kerjaan] kepala (pikiran) kita saja. Apalagi jika kita hanya menggunakan “piranti” di kepala itu saja (atau istilah lainnya : cuma berdasarkan rasional murni saja) dalam membuat perencanaan (merancang harapan). Akan menjadi semakin “tak bercacat” saja (baca: tak mempertimbangkan keberadaan ketidak-sempurnaan ) hasil dari PLANNING kita itu. Ini tentu kurang baik.
Sebaliknya, prilaku alam (fakta kehidupan) pada umumnya memperlihatkan ketidak-ideal-an. Realita justru lebih sering memperlihatkan ketidak-idealan. Ktidak-idealan di sini maskudnya adalah ketidak-sesuaian dengan kemauan/harapan kepala/pikiran kita.
Ah, kok mumet juga baca komat-kamit di atas ya.
Baik,
Mungkin maksudnya begini :
—
Sesuatu yg Ideal sangat mudah muncul di pikiran kita, Sementara fakta di alam/kehidupan justru memperlihatkan yg sebaliknya dibandingkan idealita yang singgah di benak tadi.
Idealita adalah buah dari pikiran, sedangan realita adalah tontonan dari kehidupan.
Sekali lagi :
Idealita (kemauan sempurna) adalah buah dari pikiran [saja], sedangan realita (ketidak-sempurnaan) adalah tontonan dari kehidupan.
Sekali lagi :
{Ya..h sekali lagi melulu, baca aja lagi satu baris di atas}
—
Mmm, … lanjut.
Seorang pemikir yang minus percobaan (minim terjun ke lapangan) akan menghasilkan buah pikiran yang pantasnya cuma jadi angan-angan saja.
Sebaliknya,
Seorang aktivis (praktisi) atau orang-orang di lapangan yang minus olah pikiran akan menghasilkan beragam kebodohan.
—
Terus, gimana ya ?
Makanya, makanya, makanya …
—
Saya jadi teringat dengan beberapa mahasiswa yg sibuk demo meneriakkan,”Praktek, praktek, praktek… Ayo praktek dong pak, Teori melulu“. Dan,
Saya juga teringat dengan beberapa para pembesar-pembesar di sekitar saya yang juga sok hebat sibuk berteriak,”Analisis, perancangan… Konsep, konsep, konsep“.
Abrakadabra kalian semua.
Eh, apa kaitannya ya ?
Ntahlah …
—
Jangan terjebak di angan-angan pikiran !
Tapi juga,
Jangan ceroboh di tindakan-tindakan !
Apa dua kalimat di atas ada kaitan ya ?
—
Lebih jelas :
jangan sok idealis DOANG !
juga,
Jangan sibuk di aktivitas SAJA !
—
Kritik Idelism
Manusia2 idealis pada umumnya memiliki “bibit unggul” dalam melakukan kritik. Istilah lainnya : mereka hebat melakukan kritik. Mereka mampu melihat apa pun cacat bahkan “setitik-noktah” ketidak sempurnaan di fakta/kehidupan sekitar dia. Apalagi setitik-gadjah.
Hati-hati ya, …
Jangan tidur saat berangan-angan. Ayo bangun !!!
—
Kritik realism
Manusia realism, sering juga menjadi pecundang. Manuver kompromistis, prostitusi-pragmatis, politik dagang sapi, dan…, dan…, dan yang semacamnya lah … Enggak kuat nyebutnya semua, takut nyebut diri sendiri kah ?
—
Ini dia
Ada yang bilang :
berpikirlah global, bertindak lokal.
Ada lagi teman yang membisikkan :
Jangan berkutat di tekstual doang, di debat-debat doang, … Ayo nyata !!!
Ada juga yang mengatakan :
… … …
… … …
Ini dia.
Fiqhul waqi’. Ya fiqhul waqi’.
Adalah Fikih Realita. Tentang bagaimana cara memahami (fiqh=faham) kenyataan (waqi’) di sekitar yang penuh cacat ini.
Agar kritik tidak menjadi omong doang (omdo). Agar realistis tidak menjadi dalih doang (dado).
Itu juga… Kaffah.
—
Menurut [kepala] saya … tentunya.
Lalu,
Selamat datangkan realita.
I’m coming oooi…











Aih..aih.. bicara soal ginian lagi.
bikin sayah makin merasa tambah “menyimpang”
Ah iya ya pak, setuju..setuju.. *manggut..manggut..*
*akhirnya paham juga, pulang, ngedit postingan*
@nurma

Setuju ya…
Ayo pulang, kembali ke kaffah.
saya sangat setuju sekali dengan ajakan nurma tuk pulang ke kaffah tapi bagaimana caranya kalau sekarang ne kita yang ngaku2 islam masih banyak menganut paham keislaman yang berbeda2, mulai dari aliran islam KTP, Islam Nenek moyang sampai beragam organisasi yang ngaku dia yang paling benar ditambah kita masih dalam negara antah barantah seperti yang pernah saya komentari sebelumnya.
Lalu bagaimana menentukan parameter supaya kita tidak dapat menentukan titik pergeseran dari “OMDO” (omong doang” ke “PRADO” (praktek doang), atau sebaliknya dari prado ke omdo ?? Intropeksi dirikah.
Maaf mas koreksi, bukannya “tidak” dapat menentukan titik pergeseran tapi yang dimaksud “MENENTUKAN”
@ afriadi Idris
Yang penting [menurut saya] teruslah belajar tentang [keluasan] ilmu dinul Islam, amal-kan dan istiqamah-kan.
Setelah itu, Allah pasti mengarahkan kita ke yang terbaik-NYA.
Pasti.
@haniifa
Untuk sementara ini yang saya ajukan bukan parameter, tapi tool (perangkat)-nya.
Saya [juga] lagi belajar [baca-baca] konsep pengembangan kaidah fiqih berkaitan dengan wawasan kontemporer, seperti :
- Fiqhul aulawiyat (Fikih bagaimana memahami skala prioritas, ini dulu baru itu atau itu dulu baru ini
)
)
- Fiqhul waqi’ (Fikih cara memahami realita dan bertindak atas dasarnya, misal apakah kita harus lari dari kenyataan ini ?
Ada juga :
Fiqhul Ikhtilat (Fikih memahami berbagai perbedaan yg terjadi di tubuh ummat)
Dari berbagai buku-buku/tulisan.
Karangan [terutama] : Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Dah pernah baca ya ?
[...] Paradigma idealis - realis [...]