IDEALIS, sikap menyimpangkah [?]
21 April, 2008 oleh Herianto
Jangan mau idealis
Bersikap idealis tentu baik, karena sikap ini mengarahkan pelakunya pada objektivitas-murni sesuai fenomena yang di-idealiskan.
Seseorang dapat menjadi perfectionis termasuk juga menjadi fundamentalis adalah akibat dari mempertahankan sikap idealis ini. Perfectionis dapat saja positip (tapi tidak selamanya) sebab ia mengajarkan tentang kesempurnaan target, dan fundamentalis pun dapat juga positip sebab ia mengajarkan kefokusan yang sangat tajam (yaitu pada hal-hal yang primitif/ mendasar/ fundamen saja).
Tapi jangan gegabah. Ada perangkap di idealis.
Maka,
Jangan mau [sembarangan] idealis.
—
Hindari penyebab idealis berikut ini :
- Karena : Kurangnya jam terbang terjun di lapangan real (kurang umur, kurang luas bergaul, kurang kesempatan mencoba/pengalaman). Contohnya adalah : katakanlah saya… dulu waktu muda, bisa jadi sekarang masih
. Semua yang terlihat di luar diri sepertinya salah saja, akibatnya salah diri sendiri jadi terlindungi.
Ha ha ha ha…
Lucu juga mengingat2 masa pancaroba muda.
Sok tua.
- Karena : Masih berkutat di refererensi (buku-buku, wacana pemikiran) model falsafah hidup yang kering (minim) terhadap uji-coba dan/atau contoh nyata. Pandangan hidup yang nara sumbernya sendiri lebih acap berkutat di menara gading, adalah hampa. Secara serampangan saya ingin mencontohkan pandangan hidup pengekor/pengikut komunis dan doktrin para teroris. Mereka hidup di menara gadingnya sendiri.
Para pendukung komunis dan/atau teroris silahkan protes.
- Karena : Hanya mau (menyediakan kesempatan) membaca atau mereferensi ke satu arah pandangan (pemahaman) saja. Atau keengganan mendialogkan dengan sungguh-sungguh pandangan sendiri dengan pandangan lain yang berbeda. Ini dapat menyebabkan sikap rigid, saklak tak menentu, jumud, dan yang semacamnya. Selalu ada pencerahan dari kemauan mendengarkan pendapat orang lain tentang dirinya. Kalaupun tidak sudi menerima (menyetujui), setidaknya dapat menambah keluasan ragam pemahaman. Kita pasti menjadi lebih kuat dengan semakin banyak memahami. Agar tidak seperti katak dalam tempurung
. Contoh untuk kasus ini adalah saya juga. Cari aman dah, biarlah contohnya diri sendiri aja.
Memang benar kali ya
—
Idealis vs Realis
Realis mengandung arti sebagai suatu sikap dengan usaha-usaha adaptasi terhadap kenyataan di sekitar.
Apakah sikap idealis lawannya adalah sikap realis ini ? Benar gak ya ?
Menurut saya tidak benar, karena kalau disebut berlawanan maka jadinya tidak mungkin ada seseorang yang bersikap idealis sekaligus realis, atau bersikap realis sekaligus idealis. Menurut saya penyatuan kedua sikap ini adalah : mungkin-mungkin saja.
Apakah penyatuan ini yang disebut pragmatis atau kompromistis. Barangkali ya. Tapi ketika pragmatis dan kompromistis tadi dilanjutkan ke sikap oportunis atau semacam prostitusi-realis lainnya tentu jadinya negatip.
Idealis-realis atau realis-idealis yang kita inginkan tentu yang bernilai positip.
Apa ada ?
Bisa saja kesimpulan hidup sebagian kita menyatakan : ini sukar dicapai. Tapi jangan menyerah begitu dong.
—
Pendapat Diri
Bagaimana kalo kata “idealis” kita maknai sebagai kemauan [sikap] untuk : mempertimbangan semua aspek yang berkaitan dengan masalah yang hendak dipikirkan atau berusaha mengikut-sertakan semua parameter yang berkaitan dengan keputusan yang hendak dibuat. Istilah lainnya mungkin bersikap komprehensip, holistik, menyeluruh, yang kalo menggunakan bahasa Al-Qur’an disebut juga : Kaffah.
—
Kaffah dalam terminologi Al-Qur’an [menurut saya] adalah membaca semua ayat-ayat dalam Al Qur’an dan termasuk semua ayat yang berada di luar [tekstual] Al Qur’an (kauniyah) dalam melahirkan suatu pandangan/ sikap/ pemahaman/ ijtihad/ fatwa.
Suatu sikap yang maunya membaca sebagian ayat Al-Qur’an saja [apalagi] demi memenuhi target-subjektivitas sendiri adalah : kesalahan besar.
Idealis dapat saja berkaitan dengan kaffah. Realis pun tentu dapat juga berkaitan dengan : kaffah.
Tapi Idealis-realis atau realis-idealis kok kayaknya lebih : Kaffah ya ?
—
{Updating :}
[1] Ideal kan realita di sekitar
[2] realita kan idealita ke sekitar
—
Yah, demikian sekilas tentang idealis-idealis-an.
Menurut saya tentunya …
Lalu, apa yg mesti di-idealis-kan ?











waduh..berarti selama ini saya agak “menyimpang” dong pak??! *baru nyadar..*
Tapi pak, mau gak mau qta toh idealis juga, urusan nanti mo kompromistis kan wajar (manuver dikit boleh dong?)
Kalo gak gitu, misalnya kaffah pd idealisme, khawatirnya malah “mati” di hadapan lawan. Hari gini idup dg idealisme yg kaffah jelas susah. Terlalu realis juga bahaya loh (menurut saya..) “ikut arus tanpa tau kemana aliran air itu akan membawanya”.
Mungkinkah Kaffah adalah keseimbangan perilaku idealis yang realis, atau realis yang idealis !
@nurma
Bukan menyimpang, tapi masih dalam perjalanannya
@haniifa

Nah ini dia mas.
Istilah : kaffah, keseimbangan, totalitas dan keadilan.
Ada tarikan makna yang sama.
Tidak ada kaffah tanpa keseimbangan, tidak ada totalitas tanpa keadilan. Tidak ada keseimbangan tanpa totalitas, juga tidak ada kaffah tanpa keadilan, dan seterusnya.
pengertian kaffah menurut haniifa itu benar adanya, tapi dalam keadaan negara toghut ini, apakah kekaffahan seseorang itu sudah benar adanya, karena didalam islam kita harus taat kepada Dinnullah, tapi kenyataannya berbanding terbalik kekafahaan yang kita yakini didalam al-qur’an dengan yang ada di negara toghut.
Setuju banget pak. Setelah saya introspeksi diri ternyata saya termasuk yang bapak sebutkan. Terlalu idealis memang gak bagus. harus seimbang.
@afriadi idris
Mmm, apa ini dilemma …
@maskun
Terlalu idealis ?
Setiap yang ‘terlalu’ itu kan maksudnya ‘berlebihan’.
Yang berlebihan (ghuluw ) memang tidak boleh kan ?
@Herianto
Betul itu pak, segala sesuatu memang tidak boleh berlebihan. Harus ada kadar-kadarnya. Salam kenal
Assalamu alaikum……..
Idealis sich boleh aja………tapi jangan ngaku2 pencipta walau hanya menciptakan sebuah lagu.
Di indonesia kan udah terlanjur akan banyaknya pencipta.
Gaya bahasa yang salah yang berakibat nantinya pandangan anak cucu indonesia akan Sang PENCIPTA (ALLAH)sangat jauh dari apa sebenarnya PENCIPTA.
Wassalam
Tapi Idealis-realis atau realis-idealis kok kayaknya lebih : Kaffah ya ?
Dan kayaknya saya suka yang itu
salam dari malang
http://hmc.web.id (learn english thru’ nasheed)
kalo idealis-realis, justru dua-duanya tidak didapat.
Setengah setengah. Pilih salah satu. Idealis namun tenggelam dengan nama baik. Atau realis yang bisa eksis (belum tentu baik)
-hidup adalah pilihan-
numpang makan ciek Da, taragak jo samba lado mudo.. apo ado jariang mudo di Jakarta Da ?
Idealis ?? mmhhhh
aku pilih realistis rasionalistis dan kebenaran sajalah Da..
ass.wb.wb Pak Herianto……..
saya ini salah satu penggemar blog bapak dan mungkin bapak lupa2 ingat dengan saya. saya adalah merupakan salah satu siswa bapak yang paling bandel dulu di waktu bapak mengajar di SMK ELEKTRO PRATAMA Padang, saya dapat blog ini dari pak Suartin karena beliau juga Dosen saya di UNP sekarang ini. bagaimana kabar bapak dan Uni Esi, Apa dalam keadaan Baik2 aja?. sekian dulu dari.
salam tuk keluarga dan Mak Uning Arman.
[...] April, 2008 oleh Herianto Sesuatu yg [full] ideal sebenarnya cuma ada di hasil kerjaan kepala (pikiran) kita saja. Apalagi jika kita hanya [...]
[...] idealis - [...]
hebat mas luar biasa .bisa jadi inspirasi buat aku
thanks
salam kenal