Haruskah kita seperti Ibrahim as ?
20 April, 2008 oleh Herianto
Tulisan ini dibuat sambil ngobrol di kelas, sambil mikirin yang lain-lain juga, jadi sama sekali belum digarap dengan serius.
Inti-nya…, yah yang penting nulis dulu.
Mudah-mudahan ada masukan yang serius…
—
Begini,
Pernah dengar atau baca kisah Ibrahim AS mencari Tuhan ? Pasti pernah.
Lalu,
haruskah kita juga saat ini melakukan pencarian seperti itu ?
Mempertanyakan,“ Apa itu Tuhan ?“. Tabukah ?
Mempertanyakan,“ Kebenaran yang sungguh-sungguh itu yang mana sih ?“. Tak mungkinkah ?
—
Kenapa ?
Bukankah kehidupan dan rahasianya semakin misteri. Semakin beragamnya paham-paham dan keyakinan. Semakin aneh-aneh saja segelintir orang berpendapat dan memegang pendiriannya ?
Lalu, komplitkah fakta-fakta di atas mengarahkan kita untuk kembali melakukan pencarian seperti yang dilakukan Ibrahim AS ?
—
Teori Keyakinan
Apa guna keyakinan ?
Setiap manusia dalam hidupnya butuh “ini“. Ini maksudnya ya keyakinan tadi.
Keyakinan adalah energi hidup itu sendiri, energi sekaligus yang mengarahkan manusia dalam kehidupannya.
Minimalis
Adalah tidak mungkin manusia hidup tanpa ada yang diyakininya. Minimal (minimalis) dia yakin pada apa yang ada pada pikirannya sendiri. Atas dasar itulah dia hidup dan bekerja.
Manusia yg minimalis dalam berkeyakinan ini mungkin yang membentuk kelompok atheis. Yang mengupayakan keyakinan dari semata-mata yang berasal dari kemampuan akalnya menangkap saja.
(minimalis = perangkatnya serba kurang)
Maksimalis
Sekali lagi, adalah tidak mungkin manusia hidup tanpa ada yang diyakininya. Maksimal (maksimalis) dia yakin pada apa pun jenis keyakinan yang tersedia. Atas dasar itulah dia hidup dan bekerja.
Manusia yg maksimalis dalam berkeyakinan ini mungkin yang membentuk kelompok pluralisme. Yang mengkompromiskan semua keyakinan demi alasan-alasan humanistis.
(maksimalis = perangkatnya serba berlebihan)
Optimalis
Kalau ada minimalis, ada maksimalis, tentu boleh juga ada optimalis.
Ini bagusnya apa ya ?
(Optimalis = perangkat berkecukupan ?)
—
Masih bolehkah kita bicara iman ?
Bicaralah tentang iman.
Lalu katakan itulah energi keyakinan yg sesungguhnya.
Yang tentu saja dari DIA. Karena iman adalah berkenaan dengan eksistensi-NYA.
Bagaimana kita disebut beriman, jika eksistensi-NYA diragu-ragukan. Bagaimana iman menjadi keyakinan jika upaya pencarian tak pernah selesai. Bagaimana keyakinan menjadi bermanfaat jika kita tak pernah rela memilikinya.
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang padamu keyakinan“ (QS Al-Hijr : 99)
Keyakinan harus tak terbantahkan. Termasuk, jangan [banyak] berbantah-bantahan.
—
Lakukan aja, keyakinan.
Lakukan apa yang diyakini.
Lalukan apa yang sekarang.
Tidak sibuk berbantah-bantahan… doang.
—
Mengabdilah pada-NYA terus, sampai datang padamu kematian .
—
Bukan menunda-nunda,
bukan menunggu datangnya keyakinan sempurna (kematian itu).
—
Beres.











setuju banget, pak herry. keyakinan kita laksanakan, tanpa harus meributkan keyakinan orang lain. nah, paham yang begini ini sepertinya lebih cocok kalau diterapkan di negeri kita yang multiagama. sebaiknya memang perlu dimulai dari diri kita masing2.
Assalamu alaikum
MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU
Siapa yang kenal akan dirinya maka dia sudah kenal akan pengasuhnya(pendidik)
Yach…..kalo nggak mampu kayak Nabi IBRAHIM…Kenali diri dulu aja dech……
Wassalam
@sawali tuhusetya
Ketika keyakinan kita tidak mengusik (ngutak-ngutak) keyakinan orang lain, pasti aman pak.
Negeri Madani, Baldatun toyyibatun, kan gitu ya ?
@Ayruel chana
Ya…, benar.
Itu hadist atau pribahasa arab ya ? Siapa yg mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.
—
Dalam hal proses pencarian sebaiknya kita ngikut hasil riset nabi Ibrahim saja ya …
Mosok harus menjalani proses riset seperti itu lagi, ngabisi waktu dan umur, yg belum tentu ketemu yg benarnya… terus kapan ibadahnya ?
Sami’na wa atho’na, pada Tuhan dan Utusan-NYA, dan …
Assalamu alaikum wr wb..
Lupa kepastiannya ,,udah lama dihafal sejak dahulunya.
kalo nggak salah perkataan seorang ulama sufi(lupa namanya)biasanya buku2 tasawuf banyak membahas itu,seperti 4m dan permata hati,ihya ulumuddin dll
wassalam
Salam,
Setiap kali membaca postingan mas Her, sepertinya saya tidak mampu berkomentar banyak kecuali membaca dan merenungi apa yang mas paparkan.
Misalnya kategori Optimalisasi (perangkat berkecukupan) kesan yang saya peroleh nuansanya tidak berbeda jauh dengan “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Kembali pada point Nabi Ibrahim a.s, bukankah beliau melakukan “kebohongan” dengan mengatakan bahwa istrinya adalah saudara perempuannya, seperti yang kita ketahui pada jaman saat itu para penguasa berhak membunuh “suami” dari perempuan yang dikehendakinya. Nampak jelas Allah mengajarkan toleransi, namun sekali lagi seperti yang mas paparkan kebanyakan orang malahan berusaha meminimalis atau bahkan memaksimalis toleransi yang Allah ajarkan lewat para Rasul-rasulNya.
Wassalam.
Sekedar nimbrung pak,
itu kata2 Ali bin Abi thalib Radhiyallahu anhu.
Berarti “taklid” dong??!
Gimana kalo selaras, sambil mencari ya sambil ibadah. Bisa gak ya??