Jangan Mau Bodoh
7 April, 2008 oleh Herianto
Ada yang bilang pada dasarnya bodoh itu tidak dilarang. Yang dilarang adalah tidak menyadari kebodohan tersebut, lalu sok tau sehingga kehabisan energi (kehilangan arah) untuk [mau] belajar. Jadi sesungguhnya yang dilarang itu adalah : “tidak mau belajar” -nya, bukan “bodoh” -nya. ![]()
Masalah setelah belajar ternyata anda dan/atau kita tetap bodoh, itu masalah lain. ![]()
Maka belajarlah, karena sok tau atau berlagak tau karena…, gengsi, popularitas, ambisi [dianggap] hebat dan seterusnya dan seterusnya yg semisal…, adalah sikap yang buang-buang waktu saja, yang justru menghambat kemajuan untuk belajar.
Jangan mau bodoh, belajarlah terus…
Kenapa ?
Karena seorang bodoh umumnya akan mengalami ragam penyimpangan seperti :
- Mudah dibodoh-bodohi orang lain (Lemah)
- Merasa dibodoh-bodohi orang lain (Selalu berprasangka negatif)
- Mengira telah membodoh-bodohi orang lain (Angkuh Tak Berketentuan)
Sehingga orang-orang bodoh umumnya :
- Mudah terhasut
- Mudah Tertipu
- Suka ngeles, alias berdalih nutupi ketidakmampuan
- Suka menuduh sana-sini (fenomena kambing hitam)
- Selalu kecepatan (terburu-buru) mengambil kesimpulan/keputusan
- Suka bertindak di luar objektivitas sehingga acap memenangkan kepentingan egonya
- Umumnya reaksioner/sangat cepat be-reaksi (dari lisan dan/atau bisa juga tangan) sebelum (bahkan kadang gak) singgah di pikiran
—
Ah,
jangan mau bodoh ya.
Belajar… yuk !
—
Tapi ngomong2, bodoh itu apa ya ?
Mungkinkah ada proses belajar yg tak mampu mengatasinya ?
Eh, maksudnya
Adakah cuma belajar satu2 nya solusi ?
Buktikan aja… dengan
Ayo belajar … !!! Ayo belajar … !!! Ayo belajar … !!!
Yuk !











Tapi ngomong2, bodoh itu apa ya ?
Yaitu mas Her, saya juga bingung dengan ungkapan
“pintar-pintar bodoh” ?
apa lebih baik..
“bodoh-bodoh pintar” ?
Tidak mungkinlah setelah belajar masih tetap bodoh, kecuali memang dia tidak punya kemampuan belajar hehehe…
Apa kabar nih Bang, sudah nengok Siantar belum ?
Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Kalau sepengetahuan saya yang bodoh itu :
Yang nggak mengetahui(nggak ngerti,nggak baca,nggak pake dll) IHDINAS SHIROOTHOL MUSTAQIIM.kalau hanya melafadzkan sich…burung beo pun bisa,kaset,cd,hp dll pun bisa.
oh ya…blog mas heriato saya link di blog saya(boleh nggak)
Wassalam
@haniifa
Menurut saya sementara ini, orang bodoh adalah orang yg menghentikan aktivitas (kesempatan) belajarnya.
Pertanyaan mas Hanif mirip dengan kasus seperti ini : sebaiknya seseorang itu kelihatan bodoh atau kelihatan pintar.
Praktisi bilang sebaiknya ya kelihatan pintar, tetapi ilmuan dan sebagian sufi bilang ada juga baiknya kelihatan bego.
Jadi pintar-pintar bodoh itu seperti kelihatannya saja pintar.
Sedangkan bodoh-bodoh pintar adalah kelihatannya saja bodoh.
@tobadreams
Yang penting usaha [belajar yg optimal] ya bang, hasilnya (jadi pintar atau tidak) terserah DIA.
Siantar ? Bah Fuaa… ang…
@Ayruel chana
Saya jadi teringat dengan quota ini :
“Jika Allah menginginkan sesorang itu diberi hidayah pintar (cerdas), maka akan dimudahkanlah baginya untuk memahami agama.”
Syukron dah ngeLink …
Heu heu, sebuah kebodohan akan berkembang biak jadi anak-kebodohan lainnya ?
Saya juga nggak mau bodoh, takut…dibodohi, membodohi dan jadi bodoh. Halah!
Assalaamu ‘alaikum pak Her… Semoga sehat wal afiat selalu.
Saya tergelitik dengan postingan soal Jangan Mau Bodoh ini. kata bodoh dalam bahasa Arab adalah Jahil, yang artinya tidak tahu.
Bodoh sendiri, sepengetahuan saya ada dua macam; bodoh secara maknawi dan bodoh secara hakikat. Bodoh secara maknawi adalah bodoh karena tidak mengetahui mengenai suatu hal, penyebab utamanya adalah keengganan untuk belajar atau belum datangnya kesempatan untuk belajar. Sedangkan bodoh secara hakikat adalah pengabaian terhadap apa-apa yang telah diketahuinya. Semisal orang yang tahu bahaya merokok, tapi masih tetap merokok. Tahu bahaya narkotika, tapi tetap mengkonsumsinya…
Salam kangen…
Wah rame juga nih soal bodoh-bodohan, makanya wajar kalau para pemimpin kita sebagian masa bodoh sama rakyatnya.
Lha rakyatnya juga bodoh sih, milih mereka jadi pemimpin.
Makanya enggak heran kalau Allah SWT berfirman dengan sangat tegas, “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, yaitu orang-orang yang lalai dalam kebodohan” (QS.51:11-12).
Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com
@Donny Reza
The point is : jangan mau untuk tidak belajar …
@Ram-Ram Muhammad
Yang pertama sepertinya : tidak tahu di tidak tahu (maknawi)
Yang kedua sepertinya : tahu di tidak tahu (hakekat)
Eh, apa beda maknawi dengan hakekat ya pak kyi ?
Memang orang yang tahu (berilmu) belum tentu melaksanakan.
Itu barangkali beda seorang ulama konvensional (berilmu doang) dengan seorang harakah (pelaku aktif sekaligus).
Ada pengalaman saya lho pak kyai yg menyimpulkan, bahwa memang beda prilaku ulama doang dengan ulama yang sekaligus menekuni prinsip2 harakah.
Teladan rasulullah : “jangan berkata (mengajak/dakwah) sebelum anda nyata menyaksikannya (beramal) “.
Kesimpulan2 dari pemikiran semata, seringkali dipengaruhi fatamorgana-nya.
@Aristiono Nugroho
Kita memang sebaiknya tidak memilih pemimpin yang OMDO saja. Pemimpin yg kelamaan bertapa di langit2 (tidak pernah terjun), pemimpin yg sibuk meng-kritik tanpa kerja nyata yg setara, dan pemimpin yg gila berkuasa saja.
Salah satu gejala dusta tentunya, yaitu : enggan terjun nyata (terjun kerja) dengan alasan [menjaga diri] agar tak terpengaruh berdusta. Lha… kalo orang yg gak pernah bicara sehingga tidak pula pernah berdusta… gmana ya ?
Eh, kayaknya blogspot masih kena cekal tuh …
nah yang jadi masalah sekarang mas, kebanyakan masyarakt kita malah udah antipati duluan mengenai dunia politik (bukan hanya masyarakat kecil tapi bahkan juga mahasiswa kita).
Akibatnya, dunia politik menjadi semakin muram karena monopoli para dedengkot2 yang kemudian meneruskan kebusukannya kepada para bawahannya
kalau ndak ada kemauan gimana mo belajar??
*misuh2 kemana ya*