Kritik dan Alat Vital
2 Maret, 2008 oleh Herianto
Lama gak nulis di blog ini ternyata gatal juga nih tangan dan otak. Eh… ketiban mau nulis kok inspirasi yg muncul yg serius2 kayak gini yah.
Mmm… cuma mau ngobrolin masalah fenomena kritik. Lagi mau aja sih atau bisa jadi lagi ada maunya kali…
Apa ya maunya ? Katakanlah tentang keresahan para blogger yg saat ini lagi dikritik oleh mas Roy Suryo, atau yg semisal saat SBY cs dikritik oleh para oposisinya, atau saat wacana keIslaman dari para pemaham salaf dikritik oleh aktivis khalaf , atau seperti saat wedehel mengkritik penganut agamanya sendiri, atau seperti manusia di blog ini yg sempat juga mengkritik si wedehel cs sendiri, atau…, atau dan tentu banyak lagi.
Oh ya, isi postingan ini sekedar mau menegaskan suatu kesimpulan bahwa : “Kritik adalah alat“. Dia cuma alat. Ada pun judulnya yang sampe membawa2 istilah “alat vital” segala adalah sekedar pemancing doang…
—
Baik, begini…
Sering kita bertanya : Kritik itu positip atau negatip sih ? Atau kritik itu sebenarnya berguna atau tidak sih ?
Jawaban lugasnya mungkin begini.
Bagi kalangan penggerak, pembaharu, oposisi, barisan sakit hati, lawan politis dan semacamnya, bagi mereka2 ini kritik adalah positip, bahkan kadang di positip2 kan. Mereka bilang, “Kritik itu perlu, demi perbaikan, demi ini…, demi itu… dan seterusnya.
Sebaliknya bagi kalangan status quo, penguasa dan yg semacamnya, kritik adalah negatip, bahkan sering di negatip2 kan. Mereka bilang,”Kritik itu hasutan, cuma sampah, provokasi, karena ini…, karena itu… dan seterusnya.
Lalu kritik itu apa sih ?
Untuk mudahnya katakanlah, bahwa : kritik adalah alat.
Sebagai sebuah alat ia dapat berguna untuk hal2 yg baik dan tentu saja dapat pula berbahaya. Bukankah manfaat alat tergantung pada yg memanfaatkannya.
—
Kritik Tak Beguna
Orang yang meng-kritik itu sesungguhnya orang hebat, karena tidak mungkin dia mengkritik jika tidak menguasai apa yg dikritiknya.
Maka,
jangan meng-kritik jika anda tak menguasai permasalahan karena itu artinya sama saja anda telah merendahkan pra syarat dari kritik. Apa pra syarat dari kritik. Ya itu tadi…, menguasai permasalahan.
Aneh sekali jika ada orang yang masih awam tentang IT lalu mengkritik tentang fenomena implementasi IT, aneh sekali orang yg tak mengerti banyak tentang agama lalu mengkritik masalah2 mengakar tentang keagamaan, aneh juga orang yang tak mengenal dunia per-blog-an dengan baik lalu mengkritik para blogger secara meyakinkan
, atau juga orang yg tak mengerti tentang dan sebagainya lalu mengkritik tentang dan sebagainya tersebut.
—
Mengkritik beda dengan bertanya
Apa beda mengkritik dengan bertanya.
Bertanya umumnya didorong dari tak tahu, sedangkan mengkritik karena merasa tahu, merasa lebih tahu, bahkan bisa saja sebenarnya karena sok tahu. Maka, waspada lah…, waspada lah…
Kadang-kadang jauh lebih baik bergaya [atau berpura] bertanya ketimbang berlagak mengkritik.
—
Orang Bodoh dilarang mengkritik
Sekali lagi, kritik itu pekerjaan orang2 hebat. Kalo anda merasa orang hebat maka penuhilah hari2 anda dengan kritik.
Tapi jika ternyata [hebat] itu perasaan anda saja, dan yg sesungguhnya ternyata anda [ma'af] adalah bodoh, maka kritik justru akan mencelakakan.
Sebagai sebuah alat, jika dipakai dengan prosedur yg benar maka baru terasa manfaatnya, tetapi jika digunakan secara tidak benar justru dapat mencelakakan pemakainya. Bukankah kritik itu cuma alat.
Orang bodoh dilarang mengkritik.
Untuk orang2 hebat silahkan mengkritik. Tetapi jangan karena (niat) sok hebat.
Tapi sepertinya orang hebat belum tentu tak bodoh.
—
Kritik hawa nafsu
Mengkritiklah dengan ikhlas sekaligus pasrah. Ini ajakan seremonial.
Sulit memang untuk mengukur apakah seseorang itu mengkritik dengan ikhlas atau tidak. Bisa saja kita terdorong menilai ikhlas jika kritiknya mendukung pribadi kita, sebaliknya jika kritiknya melawan tujuan2 pribadi kita maka biasanya kita terpancing untuk mengatakannya tidak ikhlas. Yah…, begitulah.
Meng-kritik-lah dengan ikhlas karena energi dari ikhlas mudah merangkul kebaikan, sebaliknya energi hawa nafsu umumnya disusup kejahatan.
—
Kritik Dalih
Ada satu jenis karakter manusia yang tak terbiasa mengendalikan kata2nya, acap kelupaan melewatkan lintas katanya ke pikir sejenak sebelum ditransfer ke sarana bicara.
Sebagian mengira manusia seperti ini lugas, saklak, ngomong apa adanya… yg sesungguhnya lebih sering membuat banyak orang tersinggung, terhina, marah dan sebagainya akibat dari kata2nya itu.
Lalu berdalih… kritik. Ini kritik.
Dalam hal ini kritik benar-benar alat. Alat untuk menjadi pembenaran atas kekasaran akhlak kata2nya.
—
Belajarlah mengkritik
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
maksudnya lebih persis… saya.
Belajarlah mengkritik.












kalo saya memandang kritik itu seperti jamu, pak heri, hehehehe
terasa pahit memang, tapi besar khasiatnya *halah* apa pun kritik yang disampaikan oleh pihak lain itu bisa jadi bukti perhatian dari sang pengkritik kepada pihak yang dikritik. sang pengkritik ndak ingin pihak kyang dikritik itu jatuh ke dalam kesesatan atau kesalahan fatal. sayangnya banyak pihak yang masih alergi kritik, sehingga menganggap pengkritik seolah2 sbg musuh yang mesti dijauhi.
Herianto :
Tetapi gmana ya cara menghadapi kritik yg menyimpang dari prosedur sehingga tidak lagi bernama kritik. Maksudnya, sebagai alat istilah kritik sering bersinggungan dengan istilah : nyampah, provokasi, dendam, hasut, …. ( apa ini pendekatan bahasa ya… ?
)
Dalam hal manfaat memang jamu luar biasa khasiatnya pak Sawali.
Cukup ampuh gak ya jika dihadapi dengan jurus : “emang gue pikirin…” saja.
Apa perlu dibantai saja itu orang
hmmm…terus terang saya jarang mengkritik. karena saya bukan ahli dalam mengkritik. saya berani mengkritik apabila saya ‘ahli’ dalam bidang yang saya kritik, sehingga kritikan saya tidak hanya ‘tong kosong’.
tapi kalau masukan/saran, itu beda lagi. makanya saya lebih suka memberikan saran ketimbang kritik. karena saran itu bisa dari sudut pandang masing-masing orang, tanpa perlu melihat latar belakang.
maaf kalau bahasa saya ribet..
Herianto :
Sepertinya kita sepakat chik …
Hubungan Roy Suryo dengan para Blogger Indonesia sejak dulu memang kurang harmonis, entah sejarahnya bagaimana, Banyak para Blogger Indonesia yang mengkritik dan meragukan kepakaran Roy Suryo, sementara itu sering kali Roy Suryo berbicara ke media pers untuk tidak mengambil bahan berita dari para blogger, karena statement yang diajukan oleh para Blogger tidak bisa dimintai pertanggung-jawabannya. Berkali-kali Roy Suryo mengulang bahwa Blog adalah trend sesaat, dan kali ini Pakar Telematika kita mengatakan bahwa Blogger itu Tukang Tipu.
Apakah anda memiliki Blog ? Apakah anda penipu ? tapi pertanyaan yang paling penting adalah
Apakah Roy Suryo seorang Pakar Telematika ?
Baca disitu
http://www.disitu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2483&Itemid=27
Herianto :
Sebagai pakar komunikasi (saya lebih suka julukan ini), mas Roy tentu [semestinya] dapat merasakan betapa dahsyatnya pengaruh blog sebagai alternatif sarana komunikasi terkini.
Kritik ya… dimata saya sama dengan komentar.
Kasus mas Roy …nggak usah memberikan komentar klo nggak siap di komentarin
Herianto :
Oh gitu ya…
Kalo menurut saya setiap kritik adalah komentar dan setiap komentar belum tentu kritik, sehingga mengomentari kritik dan mengkritik komentar adalah 2 hal yg berbeda…
Bang Her ini kalo nulis sangat runtut… dimulai dengan penjabaran mengenai judul, maksud tulisan, deskripsi dan isi, tidak lupa diakhiri dengan pertanyaan untuk para komentator (pembaca). Tema yang sepintas seperti biasa-biasa saja, menjadi menarik untuk diperbincangkan. Mungkin karena bang Her ini punya basic IT dan seorang akademisi… Beda dengan Roy Suryo
Itulah kritikan saya…
*difalu*
Herianto :
Ah… bisa-bisa saja.
Tapi saya gak merasa se-hebat itu kok.
Tapi…
merasa,
lebih hebat lagi…
Mungkin kita harus jujur, mengerti dunia dunia blog atau tidak, yang pasti Roy Suryo itu namanya sudah sangat terkenal dan diakui banyak pihak kepakarannya di bidang IT. Dengan dia memberi kritik kepada dunia blog akan membuat dunia ini tambah banyak di kenal orang. Mungkin orang yang selama ini acuh dengan dunia ini akan meliriknya.
Jadi, kritik Roy Suryo itu bisa berarti mempromosikan dunia blog di negeri ini.
Herianto :
Selalu ada celah positip untuk berwiraswasta eh berprasangka ya mas…
BTW, saya yakin mas Suryo kurang sreg untuk disebut pakar IT mas, beliau kan pakar komunikasi.
“mengomentari kritik dan mengkritik komentar adalah 2 hal yg berbeda…”
Oohhh….
Pantasan Om Roy Suryo nggak punya blog ..he.he.he.