Kita adalah seperti apa yang sering kita duga tentang orang lain
16 Januari, 2008 oleh Herianto
Apa yang bisa kita pahami tatkala Tuhan melarang kita untuk melakukan sesuatu selain menta’ati Titah-NYA itu ? Mencari hikmah… ya mencari hikmah.
Karena Tuhan tidak Berkata-kata sampai di situ saja.
—
Kita adalah seperti apa yang sering kita duga tentang orang lain
Ini masalah prasangka, maksudnya tentu prasangka buruk. “Jauhi kebanyakan berprasangka buruk“, Kata-NYA.
Kenapa ya… kenapa ?
Karena kata-NYA kebanyakan prasangka itu salah (dosa). Juga… karena kebiasaan berprasangka itu dapat mendorong diri untuk mencukil2 keburukan orang lain. (Q.S. 49:12).
Ah masak iya. Jangan banyak tanya ya ?
Tapi bolehkah ocehan ini menambahinya dengan begini :
[1] Karena prasangka [buruk] yang berlarut dapat menggiring diri sendiri ke prilaku [buruk] seperti prilaku yang diprasangkai itu.
[2] Karena dapat membuka aib diri sendiri. Bukankah apa yang sering kita duga tentang orang lain [sesungguhnya] dapat menggambarkan keadaan diri kita sendiri.
[3] Karena mudah menimbulkan suasana tidak kondusif di antara sesama [kolega]. Interaksi yang diwarnai rasa saling curiga, saling serang dan akhirnya serba tak sudi memahami.
Tapi buktinya apa, buktinya lho ?
Buktinya tentu pengalaman diri. Pengalaman [mencoba] memahami diri sendiri (kontemplasi) dan pengalaman merenungi (menguak tabir) atas tingkah laku orang-orang di sekitar.
Adakah pengalaman anda [juga] berbicara seperti itu ?












Pengalaman saya ketika hati diselubungi curiga yang berlebihan; saya sudah mendahului menghukumi yang bersangkutan, tapi ternyata salah atau tidak seperti yang saya duga. Ini tentu membuat saya menjadi merasa bersalah dan malu kepada yang bersangkutan.
Saya punya pengalaman pribadi: Tapi maaf, saya tidak bermaksud melecehkan ras tertentu.
Di kota saya Bandung, para pengemudi angkutan kota yang kebetulan berasal dari salahsatu kota di Sumatera Utara, terlanjur kadung dicap sebagai supir yang kurang baik (padahal urang sundanya juga ada yang berperilaku sama kok). Mereka dikenal dengan tipikal; suka ugal-ugalan, kalau kurang ongkos marah, tapi kalau ngasih kembalian suka dikurangi dan pura-pura lupa. Yang paling bikin senewen, sering menelantarkan penumpang seenaknya, diturunkan tidak sampai tujuan, tapi penumpang tetap harus bayar dengan ongkos penuh
. Alasannya karena macet dll.
Suatu hari saya akan berangkat ke suatu tempat. Berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Setiap kali angkot menghampiri saya, saya cuek dan pura-pura bukan penumpang trayek angkot tersebut. Alasannya sederhana: saya gak mau naik angkot yang supirnya orang Batak -sekali lagi maaf-, karena sarat pengalaman buruk seperti saya sebutkan sebelumnya.
Setelah sekian lama berdiri menunggu angkot yang “saya mau”, sebuah angkot menepi, tapi lagi-lagi supir Batak. saya tidak punya pilihan lain karena dikejar waktu. Maka naiklah saya dan duduk di depan di samping supir. Ajaib! Sekalipun jalan macet, penumpang juga hanya saya dan seorang ibu di belakang, pak supir -yang saya haqqul yakin Batak- tetap mengantarkan kami sampai tujuan. tanpa mengeluh sedikitpun. Setelah saya turun dan membayar ongkos sesuai tarif, saya bergegas menuju tempat tujuan. Belum beberapa meter, supir angkutan kota yang tadi saya tumpangi berlari menghampiri saya. Eh, ternyata pak supir Batak kita ini mau menyerahkan dompet saya yang jatuh tertinggal di dalam angkutan kotanya. Isi dompet saya waktu itu sekitar 3 jutaan, berikut ATM, SIM, KTA, KTP, Surat Izin memegang senjata api dan surat-surat penting lainnya.
Weks… malu saya… !
*panjang banget… kalau mau diedit biar pendek, silahkan pak Dosen Her…*
———————
#Ah gak kok … 

Herianto :
Jangan2 supir yang kyai kisah kan itu adalah………………. saya.
Menurut saya tentu berbeda antara dugaan (prasangka) dan fakta dari suatu prilaku. Menurut pemahaman saya apa yg kyai kisahkan di atas bukan masalah prasangka -nya, tapi masalah generalisasi yang khilaf.
Ktika kbanyakan komunitas memiliki prilaku tententu ternyata bisa saja ada oknum yang keluar dari prilaku kebiasaan itu.
Saya pernah juga berpengalaman mirip2 seperti itu ….
#lho gantian curhat nih
HP saya jatuh di angkot dan dikembalikan langsung melalui tangan si supir angkot itu. Sebaliknya jam tangan saya pernah tinggal di WC kampus, dan tak pernah kembali sampe sekarang.
Ayo… apakah ini fakta dari kesenjangan moral antara yg sering disebut bajingan2 terminal (preman) dan manusia2 kampus (akademik) ?
Salam,
Berprasangka buruklah kepada “bisikan setan” baik berupa jin atau diri manusia dan berprasangka baiklah kepada “Allahu wa ta’ala”
Wassalam.
——————
Herianto :
Yang jadi problem adalah tak mudah membedakan yg mana suara setan dan yang mana suara DIA.
Kecuali hati yang terbuika …
Hati atau akal ya ?
emang harus husnudlon. paling tidak supaya tidak cepat stress
———————
Herianto :
Syukron ustadz…
Kbanyakan pra sangka memang membuat pelakunya [atau mungkin meperlihatkan prilakunya] STRESS.
Tapi sering saya melihat bahwa fenomena prasangka [buruk] ini mudah sekali dilegalkan oleh dalih atau dalil tertentu sehingga kadang berubah menjadi fitnah dan hasut.
berprasangka buruk, su’uzon, atau apa pun istilahnya, seringkali menipu mata dan mulut kita untuk cari celah2 dan kesempatan untuk menaburkan gosip, kemudian berkembang menjadi fitnah, terus jadi konflik. ini makin membuktikan, kalok menurut saya loh pak heri, prasangka buruk bisa menicptakan konflik. apalagi kalo orang yang disangka buruk ternyata tak sama dengan yang kita duga. *halah*
——————
Herianto :
Persis pak… pengalaman saya juga mengatakan demikian.
Tapi bukan hanya diprasangka… kadang kita juga ditipu oleh nafsu meng-kritik.
Benar2 tercerahkan membaca kisah pak Kyai Ram-Ram dan Kyai Herianto .. soal generalisasi. Preman atau mahasiswa. Cool.
Saya cenderung penganut paham zero. Ketika melihat dan menilai sesuatu .. cenderung zero. Tidak under estimate dan tidak over estimate. Membuat saya merasa lebih nyaman pak.
Trims sekali,
Sangat mengingatkan diri saya pribadi,
Seorang guru pernah menyebutkan, bahwa puncak tawadhu’ itu adalah ketika kita mampu berprasangka baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama makhluk-makhluk-Nya.
namun sejujurnya, inilah yang sangat susah. Kita lebih
senang dan hobigampang menyuburkan sifat-sifat buruk di hati daripada menyuburkan sifat-sifat baiknyaSemoga Allah SWT menganugerahkan kita semua kemampuan untuk dapat berprasangka baik dan tidak buru-buru memvonis sesuatu…amin.
mungkin juga kita memang manusia biasa yang hanya bisa memandang dari sudut kita. Ketika kita diangkot melihat pengendara motor yang melaju kencang kita marah bukan main dan semua pengendara motor kita vonis sama, suatu saat ketika kita sedang mengendarai motor tiba-tiba angkot berjalan pelan mencari penumpang, kita terhalangi maka kita mencap semua angkot penyebab macetnya jalan.
Kita memang tidak akan bisa menilai indahnya lukisan kalau kita berada dalam bingkainya.
betul, pak. pernah ngalami juga. katanya ketika kita melihat orang lain, kadang yang tampak adalah bayangan kita sendiri. mangkanya, kita disarankan untuk berprasangka, bicara dan berprilaku yang baik-baik saja. soalnya, boleh jadi keburukan yang kita ungkap adalah merupakan bagian atau bahkan kekurangan sendiri.
setuju dengan pak Hadi Arr. harus ambil jarak supaya liat lebih jelas… :mrgren:
Kalau berprasangka buruk dosa, kalo berprasangka baik, apa dapat pahala. Padahal itu juga prasangka?
@erander
Tampaknya itu prinsip yg Ok bang …
@rumahkayubekas
Setiap membaca postingan ini lagi, saya merasa seperti membaca diri sendiri …
@Fakhrurrozy
Allahumma ya Allah. Amin.
@hadi arr
Menilai orang lain memang lebih enak ya pak …
@sitijenang
Saya bahkan beberapa kali pula terpengarah, betapa sebenarnya tak begitu sulit untuk melihat diri sendiri …
@Zan’s
Eh.. iya dong …
Bukankah di hidup ini selalu ada 2 pilihan.
Kebaikan atau kejahatan. Pahala dan Dosa. Surga dan Neraka. Nur dan kegelapan.
Husnudzan (prasangka baik) dan su’udzan (prasangka buruk).
Fujuraha wa taqwaha …
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Insya Allahpak Her, sementara ini saya harus hiatus dulu. Berhubung ada pekerjaan yang mengharuskan saya berada di daerah terpencil. Jangankan sambungan telepon, internet, listrik juga saya ragu apa sudah ada jaringannya atau tidak. Moho doa restunya saja dari pak Her.
Herianto :
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh
Saya ikut berdoa pak.
Semoga lancar2 saja dan sukses. Amin.
emm … gini …
sampeyan-sampeyan pernah nggak merasa bodoh ?? atau dengan kata lain menyangka orang lain lebih pintar ??
nah … jika pernah, maka andalah sebenarnya si (atau setidaknya calon) orang pintar tersebut …
Kita adalah apa yang kita pikirkan
Sejauh mata orang memandang kita
toh kita adalah diri kita
Terkadang kita ragu akan kemampuan kita hanya karena secuil nasi yang nyelip di gigi kita.
Be the best in your self.
Pernah ketika itu saya menjadi bahan gunjingan teman akibat seringnya main internet.
Emang sih, peristiwa ini disulut ketika teman menanyakan sesuatu tentang internet. yah aku jelasin aja. gak tahunya dia nanya cuman untuk nyari bahan omongan.Gak tahu waktu lah, Sok jago lah de-el-el.
Tapi apakah saya mundur? NO Way…. Yang penting saya kerja mengerjakan apa yang semestinya saya lakukan dan diakhir bulan saya menerima apa yang saya usahakan.
Salam Kenal. Kapan-kapan bapak saya berkunjung ke blog saya ya. komen ini sekaligus undangan he…he….