Politik Yang Malang
5 Januari, 2008 oleh Herianto
Sejak jaman orde baru (mulai menghirup hidup memang sejak jaman itu
) saya sudah anti dengan yg namanya politik, yg ada di “benak” pikiran tentu saja adalah bahwa politik adalah segala sesuatu yg muatannya “kotor”, penuh intrik dan tak patut. Konon, realitanya memang begitu.
Tetapi berkaitan dengan kejelekan2 politik ini, ada sejumlah hal aneh yg menurut saya timpang :
[1] Adakah [sebegitu sederhananya] kesucian di setiap ketidak-terlibatan ?
[2] Adakah kekotoran semata di keikut-sertaan ?
[3] Kenapa mereka dibiarkan bergelimang ketidak-ikhlasan sementara sebagian asyik khusuk di peribadatan ?
Jika tidak ada celah untuk kebaikan LALU kenapa dipertahankan ? Mungkinkah setitik kemaksiatan untuk yg lain tidak mengapa asalkan diri sendiri tak tersentuhkan ? Egoiskah ?
Adakah topeng di dalam topeng?
Ayo tegakkan khalifah !
Di hati.
Dan bukan di diri sendiri.
Egoiskah ?
…………….
…………….
Lha jadi berpuisi… ![]()





Tapi, adakah cara lain selain politik? Maksud saya, selama masih berhubungan untuk ‘menguasai’ sesuatu, pastilah di sana terkait dengan politik. Bahkan, menjadi golput dan tidak memilih pun sebuah sikap politik juga kan?
@Donny Reza
Bukankah tidak pun mendambakan kkuasaan kita sulit berkilah dari prilaku politis. Bahkan yg mkritisi para politisi kita itu pun ssungguhnya bagian dari politik.
Lalu beruntungkah saya walau bukan seorang politisi ?
Saya jadi ingat waktu berdiskusi dengan Arief Budiman, sekitar akhir 80-an. Beliau mengatakan .. untuk mengubah suatu sistem politik, ada dua cara yaitu lawan (frontal) atau masuk dalam sistem. Kedua cara tersebut mempunyai konsekwensi yang berbeda2.
Kalau saya senang ber-politik dengan istri saya. Apalagi kalau malam Jum’at. Maksud saya kumpul, lalu itik-itik…
[...] sistemik karena rendahnya kesadaran manusia, struktur tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan penindasan; nyata atau [...]
pak hery, banyak yang bilang bahwa politik itu kotor. tak ada kawan ato lawan abadi. yang ada *halah* hanyalah kepentingan abadi. pernyataan itu agaknya kok bener juga ya pak. kalo para politisi masih saja ndak punya wisdom, negeri di mana pun pasti akan carut-marut, apalagi kalo sudah ndak punya kepekaan terhadap nasib rakyat, walah, politik ndak jaug beda dengan hkum rimba. siapa yang kuat, dialah yang akan jadi pemenangnya.
Barangkali yang dimkasud oleh pak dosen Her adalah politik kekuasaan. Bukan politik dalam arti yang lebih luas dan menyeluruh… *halah*
Pada dasarnya semua manusia berpolitik. Dalam bahasa Arab, politik disebut dengan as-Siyasah. yang berbeda hanya jenis dan kastanya saja. Kalau saya mungkin termasuk berkasta rendah, karena tidak aktif berpolitik namun kalau diminta memberikan suara saat pemilu atau pilkada, insya Allah saya datang dengan rela hati
Yang mengklaim tidak berpolitik; (biasanya tutup mulut atau ndak mau mengomentari kebijakan-kebijakan pemerintah dan pemimpinnya sekalipun jelas kentara jika pemimpinnya menyeleweng atau zalim). Boleh jadi yang seperti ini juga menyumbang dosa politik karena membiarkan sesuatu yang mungkar. Saya jadi ingat petuah Kyai. Kata beliau, bicara itu tidak cukup benar saja tapi juga baik. Tidak cukup hanya baik, tapi juga harus benar. Tidak cukup hanya benar dan baik, tapi juga harus tepat waktunya. Lha kita ini kebanyakan gak tepat waktu ketika bicara dan diam. Waktu zaman orde baru, banyak orang menutup mulut, padahal saat itu waktunya bicara. Sekarang, ketika dituntut bekerja, malah berlomba-lomba bicara… *ngelantur*
@ALL
Sebenarnya cara pandang saya yg lebih transparant terhadap kasus ini ada di link2 yg ditrackback pada postingan ini.
@Erander
Mmm… setuju.
Seperti yg terungkap di sini :
http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-kekotoran-itu/
@djunaedird

Kok istri nya di politiki mas ?
@Mas Agor di Kemiskinan Struktural - Spiritual
Apakah ini imbas dari politik itu mas Agor ?
@Pak Sawali
Kasihan si “politik” itu ya pak ?
@Ram-Ram Muhammad
Dengan cara yg berbeda bukankah saya juga mengatakannya :
[1] http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-kekotoran-itu/
[2] http://herianto.wordpress.com/2007/04/16/politik-dan-kesucian-itu/
[3] http://herianto.wordpress.com/2007/04/05/meta-politik/
[4] http://herianto.wordpress.com/2007/07/25/meta_hipokrit/
[5] http://herianto.wordpress.com/2007/04/27/gunjing-hasut-yes-politik-no/
dstnya.
menurut saya sih politik hanya punya kecenderungan kotor, tapi tidak kotor. katanya “power tends to corrupt. absolute power corrupt absolutely.” katanya sekadar alat mencapai tujuan. tapi, mungkin para pejabat sudah punya sugesti bahwa menjadi politisi ya harus berkotor-kotor. kalau perlu dengan bimbingan mentor supaya jadi diktator bergelar doktor. padahal aslinya piktor. .. he he he
Yes, I’ve got the point! Thank you Sir, for reminding me…
@sitijenang
. Misal : aspek bisnis. Berapa banyak orang2 yg juga tak kuasa melanggar etis ketika berebutan kue bisnis.
Bagaimana dengan dengan aspek2 lain di kehidupan ini yang juga memiliki kecendrungan kotor mas “jenang”
Prosa “or” nya bagus juga …
Berakhir pada si viktor ya …
Amed
Mmm. Thanks… I believe …
Puisi adalah bahasa hati
hati selalu mengucapkan jujur
dan tidak berbohong. Salam kenal
topeng dalem topeng
tebel dong pak
oh ya numpang link yah Road-entreprenuer.com
Politik itu emank licik
soalnya setan paling suka ama orang yang berpolitik
he…he…
@awan sundiawan
Kalo puisi itu bahasa kejujuran, lalu mungkinkah seorang politikus itu berpuisi …
@Arham Haryadi
Ya… Topeng dalam topeng :
Topeng pertama ini : http://herianto.wordpress.com/2007/04/05/meta-politik/
Topeng kedua ini : http://herianto.wordpress.com/2007/07/25/meta_hipokrit/
Gitu lho …
Numpang linknya diiznkan, tapi adesense nya bagi2 ya …
@Hair
Lho… lalu apakah negara ini berarti didasari oleh sesuatu yg disukai syetan itu…
Saya kok gak alergi sama politik. Lebih dari itu, politik memiliki porsi dan perlakuan yang sama dalam syariat. Bahkan menurut saya, Kanjeng Nabi telah meletakkan pondasi bagi kita tentang politik, kepemimpinan dan ber-kenegaraan. Maka segala sesuatunya akan kembali kepada dasar dari segala perbuatan, yaitu niat. Niat inilah yang akan menentukan kualitas, hasil dan nilai dari segala perbuatan, termasuk dalam berpolitik.
Adapun mengenai sistem politik dan kepemimpinan (khilafah), saya berpendapat bahwa hal tersebut masuk dalam wilayah urusan dunia. Selama sistem politik dan model kepemimpinan tetap dilandaskan kepada prinsip dasar dan tujuan syariat, maka tidak ada persoalan secara syariat.
Apabila ditelusuri secara mendalam maka akan ditemukan beberapa prinsip yang ditawarkan Islam (baca al-Qur-an) untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara demi mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur:
1. al-Syura (consultation), yaitu prinsip bermusyawarah untuk menyepakati yang paling maslahat bagi kehidupan masyarakat, seperti dalam urusan politik, ekonomi dll.;
“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Ali Imran (3) : 159.
“Dan orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan (dunia) mereka (diputuskan) dengan proses musyawarah diantara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” al-Syura (42) : 38.
2. “al-Musawa (equality) dan al-Ikha (brotherhood), yaitu prinsip persamaan hak dan kewajiban serta persaudaraan;
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal satu dengan yang lainnya. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal.” al-Hujurat (49) : 13.
Ayat ini menegaskan bahwa Islam menganut prinsip persamaan hak dan kewajiban, sekaligus memandang sama sederajat kepada semua manusia di hadapan Allah sang pencipta, sementara yang membedakan satu sama lainnya adalah kualitas ketaqwaannya. Dan yang dimaksud dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam ayat ini adalah Nabi Adam dan isterinya Hawa. Artinya semua manusia berasal dari nenek moyang yang sama maka berarti semua manusia itu bersaudara. Itulah sebabnya dalam konteks sosial kemasyarakatan manusia disebut Bani Adam (anak-cucu Adam). Lihat surah al-A’raf (7): 26, 27, 31 dan 35; dan surah al-Isra (17): 70.
3. al-‘Adalah (justice), yakni prinsip keadilan yang harus ditegakkan tanpa adanya diskriminasi dengan penuh kejujuran, ketulusan dan integritas yang tinggi. Demikian pentingnya prinsip ini al-Qur-an menempatkan keadilan sebagai parameter ketaqwaan dan tetap harus ditegakkan walau terhadap orang yang bersebrangan (baca musuh) sekalipun atau mungkin akan merugikan diri dan keluarga sendiri;
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali karena kebencianmu kepada suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” al-Maidah (5): 8.
“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” al-An’am (6): 152.
4. al-Hurriyyah (freedom), yakni kebebasan. Islam memegang prinsip ini karena manusia satu-satunya makhluk Allah yang dilengkapi dengan daya intelektualitas yang sempurna. Dengan kelengkapan ini manusia akan mampu memilih antara yang baik dengan yang buruk, antara hak dengan yang batil, sehingga ia akan menentukan sikap dengan penuh tanggung jawab. Dalam konteks inilah Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk memeluk agama yang diyakini olehnya;
“Tidak ada paksaan untuk memeluk agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” al-Baqarah (2): 256.
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan siapa yang ingin kafir maka biarlah ia kafir.” al-Kahfi (18): 29.
5. al-Amanah (trust), yakni prinsip kepercayaan yang harus dipelihara dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kekuasaan atau jabatan adalah amanah dari rakyat yang mengandung nilai kontrak sosial yang harus disampaikan kepada yang berhak menerimanya, ialah rakyat itu sendiri;
”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” al-Nisa (4): 58.
6. al-Salm (peace), yakni prinsip perdamaian yang senantiasa harus dikedepankan dalam segala aspek kehidupan. Prinsip ini diperintahkan oleh al-Qur-an dalam firman-Nya ;
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kamu kepadanya dan bertawakkallah kamu kepadaa Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” al-Anfal (8): 61.
7. al-Tasamuh (tolerant), yaitu prinsip saling menghargai dan menghormati antar sesama warga masyarakat, termasuk dalam hal beragama, sebagaimana firman Allah swt. dalam surah al-Baqarah (2): 256 diatas dan firman-Nya dalam surah al-Kafirun (109): 6:
“Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”
Ketujuh prinsip inilah yang diberlakukan dan diaplikasikan oleh Nabi Muhammad saw. secara konsekuen dan konsisten dalam membangun masyarakat al-Madinah al-Munawwarah sehingga keadilan dan kemakmuran di kota suci tersebut betul-betul membumi bukan hanya sebagai wacana semata.
Demikian kuliah politik Islam kali ini, sekaligus melengkapi kuliahnya pak dosen Her…
Jangan lupa honornya… bagi dua
Mhhyayuaaahaha
@ Ram-Ram Muhammad
Akur…
Beberapa postingan awal di blog ini pun memiliki “misi” untuk meluruskan nya …
Kasihan politik…
menjadi kambing hitam sang “non politikus” sebelum menyembunyikan topeng nya sendiri …
Mereka mengira “suci” begitu saja dengan seolah-olah hidup tanpa politik …
Link lagi ah … :
[1] http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-kekotoran-itu/
[2] http://herianto.wordpress.com/2007/04/16/politik-dan-kesucian-itu/
[3] http://herianto.wordpress.com/2007/04/05/meta-politik/
[4] http://herianto.wordpress.com/2007/07/25/meta_hipokrit/
[5] http://herianto.wordpress.com/2007/04/27/gunjing-hasut-yes-politik-no/
Maaf, bukan mau kampanye…
Tapi saya kira, teman-teman PKS telah-sedang dan insya Allah akan dengan istiqomah berpolitik dengan nilai-nilai akhlak.
Maaf ini rahasia antara saya dengan pak dosen Her saja…
Dalam pemilu kemarin, untuk memilih anggota DPR, saya pilih calon dari PKS. Tapi untuk presiden… saya pilih demokrat saja.
Untuk tahun depan, saya mau pilih pak Suharto dan Gus Dur sebagai capres dan cawapresnya.
*ditonjok*
@ Ram-Ram Muhammad
Semoga mereka Istiqamah ya pak ?
Dengan siapa lagi kita berharap kalo sekira sang hati nurani pun berkhianat …
Saya berharap semoga doa2 kita itu menjadi pengingat kalo mereka lupa …
*Menunggu karya pak dosen Her…*
Saya lagi nulis tentang yang setia dan yang tidak setia, dan merubah yang tidak setia menjadi setia.
@ Ram-Ram Muhammad
Siap dan Setia selalu memonitor/menunggu karya2 kyai Ram-ram melalui Blog Surfer , langsung click : Panel Admin - Dashboard - Blog Surfer.
Maaf lama tidak mampir Pak … saya sering hiatus sich hehehe
Hehehe tentang politik … politic …policy …

Seharusnya semua bermuara pada kebijakan ya Pak …
Lalu kenapa banyak hal2 indah yang ada di dunia politik?
Ya karena yang namanya politik itu tidak lepas dari yang namanya partai … party … (yang bisa diterjemahkan menjadi “pesta”
Jadi … kesimpulannya adalah …
main politik yang sehat !!!
@deking luar biasa

Pak deKing hiatus nya di beberapa blog saja, di ke rumah chika kayaknya gak ada istilah hiatus tuh …
————————————–
Politk adalah pesta …
Ada benarnya sih…
Partai politk tentu jadinya semacam wadah berpesta pora… termasuk pesta pora demokrasi, termasuk juga pesta pora yang sesungguhnya…
Lalu, mungkinkah demokrasi tanpa politik, dan politik tanpa partai…
Ah… pasti yg salah bukan demokrasinya, tapi oknum2 nya…
Lalu kalo politik sepenuhnya salah… Kemana ya sebaiknya pengaturan negara ini kita serahkan. Haruskah ke orang2 yang sembarangan …
Ayo tegakkan khalifah …

Kata pak Kurt, jangan2 lebih parah…
Ah… masak.
@andi bagus
Nyontek dari 4 sehat 5 sempurna ya mas.
Terus sempurna nya apa ?
terserah aja dah…