Toleransi yang luar biasa (di luar kebiasaan kah ?) telah berhasil diperlihatkan oleh sejumlah teman2 muslim saat menyikapi perbedaan antara kebolehan dan ketidakbolehan dalam mengucapkan Selamat Natal terhadap teman non muslim (nasrani) nya. Jangankan sekedar memahami, bahkan sejumlah teman2 muslim ada yg secara pro aktif menyampaikan UCAPAN SELAMATAN TERSEBUT demi memperlihatkan sikap toleran-nya. Eh, jangankan sekedar pro aktif bahkan sejumlah teman2 muslim lain telah dengan rela (ikhlas kah ?) mengawal kegiatan peribadatan di sejumlah gereja akibat teror (bom siluman) masa lalu yang konon secara tidak langsung menjadi diakui bahwa itu dilakukan oleh teman2 muslimnya yang memiliki pemahaman luar biasa pula DALAM HAL INTOLERANSI secara berbeda (berlebihan).
Mainstream baku pemahaman kebanyakan kaum muslim [tentu] saja standar dalam menilai siapa sesungguhnya Isa as (Yesus). Bahwa Isa as adalah hanya seorang nabi dan rasul (utusan) Allah, dan profesinya tidak diakui ummat muslim secara umum untuk sampai kepada derajat (sifat ) Ke-Tuhan-an. Bermulanya kelunakan pemahaman sejumlah ulama dalam menyikapi ucapan SELAMAT NATAL tentu bukan dimulai dari titik ini, kebanyakan di mulai dari fakta bahwa keinginan untuk mencapai peradaban kemanusiaan yang minus gesekan harus dimulai dari kemauan saling tegur, saling sapa atau istilah bakunya : dialog antar peradaban harus benar terjadi. Sejumlah ulama ternyata memiliki kekhawatiran bahwa fatwa ketidak-bolehan mengucapkan Selamat Natalan dapat memicu sikap antipati dari teman2 non muslim terhadap muslim, dan ini dianggap mengganggu target pencapaian peradaban yg lebih baik tersebut. Lebih jelas lagi, secara tidak langsung para ulama tersebut mengira bahwa teman2 non muslim akan bersikap intoleran (over-defensive : berprasangka di serang) jika sekiranya ummat muslim diarahkan untuk antipati terhadap hari raya mereka. Toleran demi menghindari intoleransi mereka.
Secara logika sederhana saja sebenarnya mudah dipahami, kenapa peradaban manusia perlu didaur-ulang demi tercapainya sikap toleran yang lebih baik (baca:lebih nyata). Logikanya begini : Fakta akibat dari peperangan antar agama (berperang atas nama tuhan : perang salib) dan peperangan antar bangsa (Perang Dunia) di masa lalu cukup menumbuhkan kekhawatiran seandainya dilanjutkan ke peperangan antar peradaban yg tentu lebih parah lagi kerusakannya. Semua kalangan yang berpikir tentu mudah memahami (menyetujui) target dari fenomena ini. Permasalahannya adalah, apakah akibat dari target2 baik tersebut kita juga perlu merombak (mendaur-ulang) keyakinan (akidah) ? Nah, ini pertanyaan sensitif dalam konteks apa yang saat ini sedang rame2nya dibahas (didiskusikan) kalangan blogger. Debat kusir bisa saja dimulai ketika salah satu pihak meng-klaim bahwa itu bukan bentuk dari pengalihan akidah, sementara pihak lain berdalil bahwa itu nyata2 bukti kelemahan menjaga akidah. Diskusi yang dimulai dari sini biasanya akan berakhir dengan selongohan : ca… pek dee….eeh. Gak percaya ? Coba aja…
—
Toleransi di fenomena Intolerans
Katakanlah, sejumlah ulama yg membolehkan [sekedar] ucapan “Selamat” tersebut adalah demi menghindari sikap intolerans sebagian ummat nasrani yang belum mampu memahami sikap “intolerans” muslim yang tak mengucapkan [sekedar] “Selamat” itu padanya. Atau, katakan jugalah, bahwa ada sejumlah ayat yang dapat dimanfaatkan untuk berdalih atau berdalil tentunya demi memperlihatkan kebolehan SEKEDAR ucapan tersebut. Berkaitan dengan adanya sejumlah ayat yang dapat “diajukan” ini (istilah dimanfaatkan kedengaran kasar ya ?), tentu berdasarkan tafsir masing2 yg jika sekira mau diperbincangkan pun mudah menuai debat [kusir] untuk kita2 yang pas2 an ilmunya ini. Saya jadi teringat dengan adanya sejumlah ayat dan fakta yang juga dapat dimanfaatkan untuk melegalkan perzinahan, perjudian, minuman keras dan bentuk2 kekerasan. Ini masalah kemauan memilih tafsir tentunya.
Baiklah, Akhirnya begini.
Berharap bahwa setiap muslim akan sudi mengucapkan Selamat Natalan tentu sia-sia. Sekuat apa pun argumen dan dalil, mereka akan menjawab dengan argumen dan dalil yg semisal, setidaknya menurut masing2 sama kuat.
Tetapi perhatikanlah,
Sikap toleran yang dipertontonkan sebagian muslim yang memperbolehkan [sekedar] “ucapan” ini adalah sikap yg luar biasa. Sebuah kemauan yg membuktikan bahwa kita seserius itu dalam berkurban eh berkorban kali ya, untuk bersama2 membangun peradaban yang konon akan lebih baik dengan bersikap demikian.
Lalu,
Kesia2an (ketidakmungkinan) berharap kepada setiap muslim agar mau mengucapkan “SELAMAT” semacam itu tentu harus disikapi oleh para non muslim dengan toleran pula. Berkata bahwa mereka picik. kolot dan semacamnya, justru dapat memperkeruh suasana, karena istilah-istilah sesat dan pengkufuran pun sangat tidak nyaman jika dialamatkan ke diri kita.
Mari kita toleran di intoleran ini. Bukankah para pendukung target “peradaban nan lebih toleran” yg konon lebih ber-”akal” dan lebih manusiawi tersebut semestinya mudah mencerna : bahwa tak sederhana mengubah orang lain dengan kata2/perdebatan saja. Buktikan anda selalu lebih baik, di perjuangan ini. Itu sudah lebih dari cukup untuk mampu mengubah orang lain.
Apa pun perjuangan itu, ubahlah kami ke arah yg lebih baik. Ya, kami… karena saya pun bagian dari apa yg [sering] dianggap ketidak-baikan tersebut di sini.
Anda bisa, maka kami akan lebih mudah untuk bisa.
Untuk kita saling toleran. Benarkah ?












Saya sih lebih melihat perayaan Natal itu tradisi, bukan ritual. Mbo ya mereka juga tahu persis bahwa kelahiran Nabi Isa itu bukan 25 Desember dalam sejarahnya….
Makanya saya nggak mau ikut terjun dalam polemik haram halal mengucapkan selamat natal ini. Sebab bagi saya sih, jika menganggap haram ya memang haram, dan jika menganggap boleh ya memang boleh. Tentu dengan alasan masing-masing.
*duduk manis menikmati perdebatan yang mungkin muncul*
Sekedar mengucapkan selamat hari raya hanyalah hal kecil dari bentuk keluasan hubungan antar manusia. Itu sebabnya saya tidak menganggapnya sebagai bagian dalam lingkup akidah. Perdebatan mengenai masalah ini hampir setiap tahun kembali mencuat. Yang saya yakini, mereka yang berpendapat “boleh” tidak pernah serta merta mengitikadkan sebuah pengakuan akan kebenaran akidah yang menerima ucapan selamat darinya. Jadi saya rasa, tidak penggadaian akidah demi toleransi dalam hal ini.
Sikap intoleran agaknya akan terus muncul sepanjang sejarah peradaban umat manusia selama perbedaan menjadi pemicunya. Islam sendiri kan mengajarkan bahwa perbedaan itu sebuah rahmat. Dalam konteks keindonesiaan yang multikultur, sikap toleran terhadap perbedaan itu, kalo menurut saya segh, harus dibangun sekarang juga. Jangan sampai sikap intoleran yang dipicu oleh perbedaan tidak mewaris dari generasi ke generasi.
Wah, ada sedikit ralat Pak Heri, kalimat yang terakhir, seharusnya: “Jangan sampai sikap intoleran yang dipicu oleh perbedaan mewaris dari generasi ke generasi.”
Makasih, Pak.
Intinya ikutin dalil oleh para ulama terdahulu yang telah memfatwakan dengan sumber yang shahih dan jangan jadikan akal dan pikiran kita sebagai sumber aturan akidah kita.Wallahuallambishawab
Waaah makin berisi(k) saja nih ide-ide toleransinya…
Tapi saya sedikit catatan di postingan ada kekurangan yaitu permintaan kepada yang minoritas akan juga membawa kesejukan-kesejukan.
Benar kata njenengan bahwa kita (muslim) telah rela berkorban untuk masalah ini. sebab sesuai dalilpun begitu menghargai.
Ketidaknymanan terjadi bila kemudian akhirnya, mereka (bukan kita) justru memanfaatkan toleransi itu untuk misalnya dengan mengajak2 orang-orang muslim untuk ikut kepada mereka. Tapi lagi2 masalah ini pun masuk wilayah perdebatan lagi.. akhirnya cappe deeeh…
Karenanya Dahulukan RASA daripada SARA
Ralat pak maksud kata : “sedikit catatan di postingan” itu maksudnya di postinganku…
@kang Agor
Kalau di komunitas saya seringkali mengikuti perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw atau dikenal dengan Maulid Nabi saw itu bukan pada tanggal 12 Rabiul Awal saja. Bahkan semua bulan Maulid bergantian peringatannya. Bahkan dulu waktu di pondok, setiap malam Jum’at dan Senin itu muludan dengan baca barzanji, shawalatan khataman quran dll… itu menurut Kyai saya, memperingati Kelahiran Muhammad saw.
Dikalangan Kristen sendiri di salah satu wilyah bagian Mesir malah diperingati Natal itu tanggal 7 Januari ..
Tapi, bagaimana toleransi antar jamaah Islam sendiri? Maksudnya antara NU, Persis, salafy, syiah, dll? Ada ga ya? Apa bukannya lebih hebat lagi tuh pertentangannya?
@agorsiloku
Tapi bagi ummat nasrani kan ada ritualnya juga pak di hari itu …
@danalingga
Apa itu langsung pesan dari Siti Jenar Dan …
@Ram-Ram Muhammad
Bahwa Isa as adalah hanya seorang nabi dan rasul (utusan) Allah, dan profesinya tidak diakui ummat muslim untuk sampai kepada derajat (sifat ) Ke-Tuhan-an. Gitu kan pak ?
@Sawali Tuhusetya
Betul pak, seperti halnya perbedaan yang akan tetap terus ada, seperti halnya yang hak dan yg batil yang akan tetap terus saling melengkapi … Kehidupan ini kan justru dilengkapi dengan hal2 yg semacam itu ya pak. Tinggal kita aja milih mana yg disuka…
@dwi Yanto
Ulama terdahulu (salaf) dan ulama kontemporer (khalaf) tentu berfatwa sesuai problem di masanya …
Karena fatwa adalah ijtihad, ada fungsi waktu dan ruang bermain di sana … Kalo qath’i tentu tdk perlu lagi difatwakan …
@kurtubi
Adakah batasan di toleransi ya pak ?
Kalo tidak tentu prinsip pluralisme “bablas” akan maju ke depan …
Apalah arti sebuah tanggal (waktu) ? Apa gitu maksudnya pak ? Bukankah kita sendiri juga sudah sekian kali bertikai di masalah waktu ini …
@Menggugat Mualaf

Wah ini peringatan yang menyadarkan …
Kenapa kita sampai lupa betapa ukhuwah diantara [internal] sendiri ternyata sering lebih jelek dari pengorbanan bertoleransi terhadap ummat [eksternal] lain …
iya betul pak dosen her, akidah kita tetap seperti itu. Pengakuan (i’tikad) kita mengenai status dan kedudukan Nabi Isa AS seperti yang pak Her bilang, tidak akan berubah hanya karena mengucapkan selamat natal. Haqqul yakin, insya Allah pak Her.. *memaksakan pendapat MODE ON*
Toleransi itu dibatasi oleh….
Gak jadi, itu kan pertanyaan buat Kyai Kurt.. Saya duduk sila saja…
@ Herianto
Kalo saya sih, namanya jaga sikap profesionalisme saja. Disaat lebaran kita di beri ucapan “selamat idul fitri/adha” dari kalangan non muslim - saya tahu mereka hanya menjaga hubungan baik sesama umat manusia. Tidak ada salahnya membalas ucapan selamat hari raya idul fitri/adha dengan mengucapkan selamat Natal, Waisak dan lain lain.
Toh kita sama sama manusia. dan saya percaya apapun agamanya mengajarkan kebaikan.
Sikap toleran itu sepertinya punya level, pak. Mulai dari yang paling rendah sampai ke paling toleran.
Saya ambil contoh saja toleransi terhadap perbedaan agama [yg di Indonesia masih ada]. Ada beberapa pertanyaan yg bisa menandakan level toleransi kita thdp perbedaan ini,
Pertanyaannya misalnya :
[lvl 1] Apakah kita mau berkenalan dengan seorang yg berbeda agama ?
[lvl 2] Apakah kita mau bertetangga dengan orang yg berbeda agama
[lvl 3] Apakah kita mau berteman dengan seorang yg berbeda agama ?
.
.
.
[lvl XX] Apakah kita mau menikah dengan orang yang berbeda agama ?
Bisa diukur sampai tahap mana kita bisa menerima perbedaan itu sebagai bagian dari diri kita. Ini cuma salah satu cara mengukur toleransi yang bisa dikaitkan dengan mengukur prejudice (prasangka).
Tapi masalahnya, level toleransi bisa turun pada level terburuk yang bisa berujung pada prasangka dan diskriminasi berdasarkan perbedaan [agama] itu. Level terburuk itu adalah kebencian.
Saya sendiri yang non-muslim selalu menghargai pandangan umat muslim menyikapi ucapan selamat hari natal. Itu karena pemahaman thdp perbedaan [agama, ras, suku, dll] pada masing2 orang memang berbeda. Level toleransi itulah yang menurut saya menentukan wujud dan batasan-batasan toleransi yang kita punya.
Tapi, jangan pernah menurunkan level toleransi itu menjadi kebencian. Karena itu adalah pangkal dari bencana.
Tapi sempat terpikir bahwa seharusnya ada batas minimal bagi seseorang untuk dikatakan toleran. Batas dimana penerimaannya terhadap perbedaan menjadi wujud sebuah toleransi. Tapi apa batas minimalnya, mungkin saja ini sangat subyektif dan juga sensitif.
*sorry jd ngeblog…*
@Ram-Ram Muhammad
Ya tentu, saya juga yakin …
Kalo boleh saya menggunakan paradigma dari fikih prioritas (fiqul awwaliyah) bahwa masalah2 yg lebih besar (katakanlah dalam hal ini masalah membangun peradaban tsb) dibandingkan dengan keyakinan pada diri kita sendiri tentang Al-Haq yg sudah tertanam kuat, maka tentu tidak ada salahnya bagi kita utk berperan menanamkan prinsip toleransi yg kita pahami pada orang lain.
Saya setuju, toleransi itu dibatasi …

Tapi toleran itu sendiri sebenarnya apa ya artinya …
Mungkin pak Kurt bisa menjawab melalui versi Pesantren Buntet nya …
@RETORIKA
Saya mengutip satu poin ini saja :
“menjaga hubungan baik sesama”
Dari sekian varian cara utk mencapainya, tentu kita bisa memilih satu atau dua dari diantaranya …
Tidak satu jalan untuk ke
RomaMekkah.@Pyrrho
Nah… ini dia. Level (batas-batas) dari toleran.
#sambil [masih] menunggu lembar jawaban dari pak Kurt …
Lalu siapa yg paling pantas membuat level itu ya bang ?
Tentu sistem nilai kita. Jika kita mengakui keberadaan sistem nilai universal, tentu ini tidak menjadi masalah. Tetapi selalu saja prinsip2 lokal (sektarian) menjadi sandungan saat berada di ranah implementasi.
Makanya saya setuju dengan prinsip :
“Mari kita bekerjasama dalam hal2 yang kita sepakati, dan saling menerima/memahami (toleran) dalam hal2 yang kita tidak sepakat”
Selalu ada cara bagi kita untuk bekerja sama, bahkan terhadap orang yg memusuhi kita sekali pun.
Hmm, setuju sama Mas Fertob. Ada berbagai level dalam toleransi. Cuma, menentukan sampai level mana itu disebut “toleransi” atau “pengakuan”, itu yang susah.
Seperti kata Pak Heri,
Ah, jadi teringat omongan dosen agama saya.
@ agorsiloku
Hehehe, iya. Saya sendiri memandang Natal itu lebih ke arah festival budaya daripada ritual.
Lha, kenapa pula ada sinterklas, kereta rusa, dan pohon cemara? Memangnya mereka hadir di malam kelahiran Yesus?
@sora9n
Adakah toleransi dalam memahami perbedaan batas toleransi ?
Mengacu ke nilai2 universal, lalu siapa yg [mesti] menyetujui (men-sah-kan) nya … ? Seperti halnya Hak asasi Manusia (HAM) yang konsepnya telah dimonopoli, akankah nilai2 universal tsb juga akan dibelenggu smacam itu. Hukum rimba bisa saja masih berlaku walau konon era ini katanya era pengetahuan. Yang kuat yang memang. HAM dan nilai2 universal sepertinya tak bisa dipaksakan.
————————–
Masalah natal itu festival budaya atau ritual, bukankah itu masalah keyakinan. Keyakinan kan tak mesti sesuai dengan kenyataan ..
welgedewelbeh
setuju…
=======================
Herianto :
Saya pikir… setubuh.
Sama ya ?
lagi2 menuntut TOLERANSI , memang yang di sebut bertoleransi harus yang bagaimana..? apakah hanya sebuah “pengakuan” atau harus ikut Dengan “ide” nya.
karena masalah kata ” toleransi ” malah timbul peperangan , yang akhirnya sangat jauh dengan yang namanya toleransi.
seharusnya antar Umat ber agama mbok ya,saling menghargai perbedaan, tetapi tidak harus “mengakui” , itu hak masing2.
supaya lebih aman dan tidak menimbulkan perpecahan, maka
sebaiknya antar umat yang berbeda jangan saling mengganggu.
mengusik2 rumah tangga orang,atau tetangganya….
bahasanya samar aja dech biar gak : TERLALU…( kata bung Roma) hehehe
Herianto :
Memang… Toleransi adalah saling memahami, bukan saling mengikuti. Gitu ya mas ?
Mohon maaf ya? saya baru mau komentar…
Pada dasarnya, kita semua adalah manusia dan bukan malaikat. Saya rasa kita sudah tahu kalau manusia itu apa dan bagaimana? (ada rasa sakit… malu… tersinggung… marah… sedih… dan masih banyak lagi).
Masing-masing kita dilahirkan pada waktu dan tempat yang berbeda.
Jelas, berbeda waktu akan melahirkan perbedaan suasana… dan berbeda tempat akan melahirkan perbedaan budaya dan keyakinan, karena itu sudah tersurat dalam kitab suci kita masing-masing. Bukankah dari pihak Islam dan non-Islam, sangat menghargai perbedaan?…
Mengapa kita harus menghargai perbedaan?…
… karena dengan menghargai perbedaan kita sudah pasti menghargai Tuhan yang telah menciptakan Bumi, Langit dan segala isinya dengan segala macam perbedaan yang adalah hasil ciptaan-Nya.
… jika kita tidak menghargai perbedaan, berarti kita tidak menghargai karya penciptaan-Nya. Dan, tentu itu akan sangat tidak menyenangkan Tuhan.
Mengapa harus ada perbedaan agama?
… menurut saya perbedaan agama harus ada di dunia ini, untuk menjadi ujian bagi kita manusia. Semua agama memang mengajarkan kebaikan. Jika tidak mengajarkan kebaikan tentu bukan agama namanya…
… menurut saya semua agama mengajarkan, bagaimana cara kita menuju ke tempat khusus yang telah disediakan Tuhan untuk kita (Surga, Sorga, Nirvana, Paradise, dll… entah apa namanya tergantung kita menyebut dan meyakininya).
Nah, kesimpulannya… semua agama baik adanya.
Sekarang tergantung kita, entah apa agama yang kita anut, seharusnya kita fokus pada kitab suci kita masing-masing. Karena kitab suci (Alkitab, Kitab Suci, Al Qur’an, Weda dll), selama itu masih tertulis dengan campur tangan Tuhan bukan manusia, itu sudah pasti mengajarkan tentang kabar baik dan kebaikan bagi manusia itu sendiri.
Saya rasa, agama Islam sangat mengedapankan toleransi antar umat beragama. Sekarang tergantung manusia yang memeluk agama Islam tersebut, apakah mereka mau bertoleransi atau tidak.
Kalau dari pihak kami yang non-Islam, tidak perlu diragukan lagi soal toleransi antar umat beragama. Jangankan mengasihi dengan manusia, dengan binatang dan tumbuh-tumbuhanpun kami bisa mengasihi.
Entah apa yang membuat saudara-saudari kita yang beragama Islam begitu sangsih dan curiga terhadap agama lain. Sehingga mereka takut bertoleransi dengan agama lain. Padahal sudah jelas dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW intinya “Agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku”.
Toleransi is toleransi, tidak ada level atau tingkat-tingkat toleransi.
Toleransi tidak membedakan apakah itu ritual atau festival budaya. Kalau kita mau toleransi… ya toleransi saja, kalau tidak… ya tidak, begitu.
Kita tidak perlu berdebat tentang agama mana yang benar dan mana yang tidak benar… sia-sia bahkan bisa menimbulkan global konflik.
Menurut saya tidak ada agama yang benar di dunia ini, karena semua agama di dunia ini adalah buatan manusia fana saja… yang ada adalah bagaimana caranya agar tiba waktunya, kita bisa diterima di sisi-Nya.
Allah tidak menciptakan agama Islam…
Allah tidak menciptakan agama Kristen…
Allah tidak menciptakan agama Budha…
Allah tidak menciptakan agama Hindu…
Allah tidak menciptakan aliran-aliran kepercayaan lainnya…
melainkan…
Allah menciptakan cara bagaimana agar manusia bisa mencapai kesempurnaan dan layak untuk ditempatkan di sisi-Nya menurut waktu dan tempat di mana manusia itu terlahirkan dan berada…
… kalau manusia itu berada di Arab, Allah tentu menggunakan bahasa Arab… kalau di Timur Tengah, Allah tentu menggunakan bahasa Aram… kalau di India, Allah tentu menggunakan bahasa Sansekerta… dll.
Masalahnya sekarang, tentu selain ada kuasa Kebaikan dan Kebenaran… tentu ada kuasa Dosa dan Kejahatan…
Selama masih di dunia ini, Allah mengijinkan kuasa jahat berlangsung untuk melihat mana umat yang betul-betul bertakwa kepada-Nya dan mana yang tidak.
Sebenarnya kita bisa melihat dengan kasat mata, mana perbuatan Allah dan mana yang bukan.
Akhirnya, marilah kita bertekun dan bertakwa terhadap apa yang telah kita anut dan yakini… tentu dengan bersungguh-sungguh, niscaya dunia ini akan penuh dengan keharuman dan keharmonisan satu sama lain.
Pada kesempatan ini saya (yang kebetulan beragama Kristen) akan memberitahukan kepada saudara-saudara saya yang kebetulan bukan beragama Kristen, bahwa di pihak kami…
“Tidak ada rasa cemburu dan curiga serta rasa bermusuhan sama sekali dengan agama dan aliran kepercayaan apapun. Kami menerima anda apa adanya dengan bangga, yang merupakan ciptaan-Nya yang mulia.”
Urusan masuk ke Surga atau tidak… mutlak adalah keputusan Tuhan Yang Maha Kuasa.
MARILAH KITA BERGANDENGAN TANGAN MEMAJUKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA YANG KITA CINTAI BERSAMA INI
Kita sudah semakin ketinggalan dengan negara lain yang sudah mulai mencoba tekhnologi baru untuk kesejahteraan rakyat mereka… sementara kita masih berjalan di tempat bahkan mundur dan terus dibingungkan oleh SETAN dengan pertentangan antar etnis, suku dan agama.
Salam sukses.