Perfectionist
12 Desember, 2007 oleh Herianto
Postingan ini berpeluang untuk dinilai “sok tau aja” karena secara sok2 an akan membahas kajian bertema psikologis. Mungkin terpengaruh dengan aliran sesat profesor kita (amii..n) yang sudah ngobrolin fenomena psikologis nya duluan. Tapi sebagai bagian dari proses pembelajaran sendiri semoga gak ada masalah. Toh, kan ada ahlinya untuk minta izin nulis ginian (kapan ?) dan sekalian mohon koreksinya .. (kayak pembimbing skripsi aja). ![]()
—
Tentang Perfectionist itu
Haruskah segala sesuatunya itu matang terlebih dahulu baru kita bergerak dan bertindak ? Bagi seorang perfectionist, jawabannya : ya.
Lalu, apakah ini sikap yang baik ? Jika kita berpikir moderat, maka jawaban semestinya adalah : ya dan tidak. Maksudnya, di satu sisi sikap perfectionist adalah baik (normal) tetapi di sisi lain bisa jadi tidak baik (neurotic).
Positip-nya perfectionist adalah, berusaha mengadakan [atau mengharapkan] segala sesuatunya secara optimal (atau maksimal ?) [sempurna], sedangkan negatip-nya adalah sang perfectionist bisa jadi tidak melakukan apa pun akibat menunggu2 kematangan (kesempurnaan).
—
Masalah-masalah di Perfectionist
Masalah di perkuliahan
Mengamati sejumlah mahasiswa (dari hasil celingak-celinguk saja) yg berkaitan dengan idealis mudanya, ternyata tidak sedikit mereka yg terperangkap di prilaku perfectionist menyimpang ini. Misal, mnyaksikan sistem perguruan tinggi yang amburadul, melihat dosen2 nya gak pada becus, melihat karakter akademik sivitas yang belepotan, dstnya ini membuat dia undur diri untuk giat di perkuliahan formal. Maka nilai2 nya pun amburadul, skripsinya gak kelar2 (maunya kajian/judul yang topcer aja), … ini misal lho (tapi benar gak ya ?). Padahal sebenarnya tentu saja dia pintar bahkan cenderung jenius…
Sejumlah dosen bisa jadi ada juga yg terperangkap di prilaku menyimpang perfectionist ini. Tetapi demi menghargai sesama kolega, ogah ah membahasnya…
—
Masalah di Percintaan
Seorang perfectionist, menikahnya cenderung lama … Tau kenapa ? Udah ah gitu aja…
Jangan dibahas ya ?
—
Masalah di Keagamaan
Apakah sikap perfectionist ini ada fenomenanya pada ragam sikap keagamaan kita ?
Pasti ada …
Mulanya saya mau mengajukan contoh2 ini,
Sikap seseorang yg mengulang wudu’ berkali2 karena terus2an ragu apakah baru buang angin atau tidak. Ada yg takbiratul ihram [di awal shalat] diulang2 … merasa selalu saja ada bisikan syetan yg menggangu niat shalatnya. Enggan mengucapkan salam ke sesama saudara, khawatir apakah dia Muslim atau tidak. Ada lagi yang kebiasaan membersihkan bekas/jejak tamunya di rumah atau bekas sujud seseorang di mesjid[nya] karena dianggap imannya munafik atau apalah gitu. Atau sebagian kita yg menunda2 amal karena merasa belum mendapatkan pemahaman yang “bablas” tentang Tuhan dan agama… dan seterusnya dan seterusnya. {bisa jadi akan diupdated}
Tapi sepertinya contoh-contoh di atas sebagian besar cenderung ke sikap wara’ atau ghuluw, atau barangkali ada juga yang tepat untuk mencontohkan fenomena perfectionist ini…
Positip atau negatip kah fenomena perfectionist ini saat dijadikan sikap dalam merespon aspek2 keagamaan ?
Silahkan lanjut sendiri-sendiri [kalo mau] meng-eksplore masalah ini..
—
———–
*Sudah gitu aja dah, gak berani nulisnya panjang2, jelas nih, bukan ahlinya …
![]()


ada hubungannya gak dengan narcis?
@Cahya
#jawaban asal nih
Bisa jadi berkaitan …
Tapi sepertinya perfectionist dan narsis ini dua fenomena yg berbeda …
Ada lagi yg mirip yaitu egois …
sebagai masukan, saya ada teori yang tidak populer soal regresi manusia ditinjau dari… apa namanya nih
1. Idealis: mengharapkan sesuatu serba sempurna, nyaman, aman, damai, dll.
2. Pragmatis: kalau sudah tidak kesampaian di tingkat utama tadi larinya ke sini. Pokoknya ada, bisa, dll.
3. Egois: kalau masih susah juga… ya sudah pokoknya gua dapet bagian, ambil yang bisa diambil, dll.
4. Apatis: ini yang paling parah… he he he… udah bener-bener gak bisa apa-apa. Akhirnya anti segala macam yang tidak bisa (mampu?) diambil, dilakukan, dipikirkan
jadi perfeksionis bisa jadi masuk ke dalam salah satunya atau ada di “ruang” yang berbeda dari empat tipe di atas atau… mumet kalau pake ukuran-ukuran sono. mending cari ukuran sini (kalo nemu).
@Cahya
Mas ini siapa sih… Kok jago.
Psikolog ya…
#jadi malu …
————-
Sepertinya perfectionist dalam tulisan ini mengarah ke idealis itu ya … ?
Milih mana antara perfeksionis dan oportunis?
Maaf Pak … seharusnya memakai “atau” bukan “dan”
Milih mana antara perfeksionis atau oportunis?
waduh… he he he… bukan mas. cuma pengamatan aja dari perilaku pekerja kantoran (termasuk saya). biasanya kan kalo baru masuk idealis, pengen memajukan ini dan itu, pengen suasana kerja yang bla bla bla. begitu tahu fakta yang terjadi… nah baru deh turun lagi sampe akhirnya ada juga yang jadi apatis itu tadi
ya, perfeksionis kayaknya emang masuk idealis. saya jadi inget cerita soal perempuan yang ambigu dalam mencari jodoh:
20 tahun: pokoknya ganteng, kaya, baik, dll
30 tahun: pokoknya setia, tanggungjawab
40 tahun: pokoknya mau sama saya
50 tahun: pokoknya sampe mati gak bakal nikah
@deKing van de biasa
Lho, kok aku disuruh milih pak, kayak pemilu aja, apa ada kaitan dengan pilpres 2009 nih …
Gmana kalo oportunis sekaligus perfectionist pak, mungkin gak ya ?
@Cahya
Sering2 maen ke blog saya mas, masukan2 nya asyik …
No body’s perfect. Untuk harapan saja terkadang banyak yg tidak berkesesuaian dgn kenyataan. Yang penting, bagaimana diri kita memberikan yg terbaik (persembahan, apapun bentuknya-dlm hal2 yang baik tentunya) bagi sesuatu yang berada di luar diri kita (siapapun dan apapun) dengan kelapangan hati tanpa harus mengharap pengembalian serta belajar melihat “kelebihan2″ yg ada pada sesuatu dan bukan memvonis kekurangannya, dan bukan mengukur sesuatu karena melihat “kelebihan2″ yg ada pada diri kita, apapun dan siapapun itu.
Berharap segala sesuatu itu sempurna, namun alat yg digunakan utk “mengukur” kesempurnaan itu adalah diri sendiri, bukan melihatnya dengan nilai2 yg disepakati-kira2 pas nggak ya Mas Heri?
Komen saya nyambung nggak ya?
Wassalam
@Fakhrurrozy
Benar mas, manusia tentu tidak seperti Kesempurnaan-NYA.
Bagaimana kaitannya dengan keyakinan, pemahaman dan pengamalan. Ketika syarat amal adalah faham (berdasarkan ilmu), layakkah kita menambah syarat dengan kesempurnaan pemahaman itu. Secuil pemahaman lalu diamalkan atau menunggu keutuhan pemahaman baru beramal. Bukankah pemahaman tentang din ini di era kita sdemikian beragam. Pemahaman mana yang berdasarkan kesempurnaan-NYA.
Kalo sekiranya kita sangat sukar mencapai kesempurnaan ilmu-NYA tentang din ini, apakah tidak lebih baik kita amalkan apa yang sudah sampai, walau ternyata di kemudian hari ternyata itu bukan pemahaman yg semestinya. Atau gmana ya ?
Membaca ini :
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini ” [Alhijr, 15:99]
Saya mengira bahwa beramal (beribadah) justru mendorong kita pada keyakinan, ketimbang menunggu2 keyakinan (pemahaman) yang “utuh” dulu baru beramal…
Mohon koreksinya kalau saya terlupa …
mangsalahnya, banyak orang merasa sudah “sampai”, dalam arti tidak mengembangkan pemahaman lebih jauh. cuma ngandelin katanya…
kalo katanya bunuh diri itu syahid, jadi mari bunuh diri… lha bahaya kan? jadi ada yang punya kepercayaan berlebih terhadap ritualnya, tidak mau cari penjelasan atas pesan dalam ritual itu. mendahulukan ritual, tapi tanpa nalar, apalagi spiritual
kalau hidup ibarat perjalanan, berarti kan memang harus terus “berjalan”. dengan harapan bahwa mudah-mudahan mangkin banyak ajaran yang sanggup kita yakini kebenarannya.
@Siti Jenang
Intinya memang mau belajar dan terus belajar …
Hidup yang singkat ini [sepertinya] tidak mungkin lagi kita gunakan untuk memulai dari awal setiap tahapan2 pencapaian Sang Hakikat tsb. Kita diuntungkan dengan peninggalan wahyu dan khabar dari para pendahulu…
Seperti halnya metoda ilmiah yang saling sambung menyambung kebenaran, dari awal sampai penemuan terkininya. Maka penerapan Kebenaran itu tentu [semestinya] rentetan dari Kebenaran2 yang telah sampai pada para pendahulu.
Masalahnya, kita memang harus menempatkannya ssuai dengan problem kontemporer.
Sosok perfeksionis menurut hemat saya lebih banyak kekurangannya ketimbang kelebihannya.
Selalu menghendaki sesuatu secara sempurna, tanpa cacat. Tapi, saya kira kok nggak ada sesuatu yang sempurna. Ketika seseorang menginginkan sebuah kesempurnaan, maka akan terbuka banyak kekurangan pada aspek yang lain. Jadi nggak akan pernah sempurna. Bahkan, akan lebih banyak sia2nya. Yang bagus, *halah sok tahu* berbuat yang terbaik menurut penilaian pribadi kita masing2, meski di mata orang lain masih banyak cacatnya.
saya nggak ahlinya Pak…. karena bukan disitu spesialisasi saya.
Apa yg pak Herianto sebutkan dlm contoh ttg perfeksionis dlm agama memang “tendensi”-nya kearah sana. Itu contoh ttg kompulsivitas (compulsive), yang memang sering terjadi pada orang-orang yang perfeksionis.
Perfeksionis sendiri memang konsep yg cukup “blur” dlm psikologi. Banyak yg mengatakan itu adalah gangguan psikologi, tp dlm “Kitab Suci” Psikolog (DSM), perfeksionis sama sekali tidak dikenal. Dia cuma dikenal lewat deskripsi Cattel ttg 16 Personality Factor (di link wikipedia jg sptnya ada)
Perfeksionis itu adalah suatu fenomena [menurut saya] dimana Konsep Diri seseorang Sangat Tinggi. Penilaian thdp dirinya sangat tinggi (high self esteem) sehingga terkadang tidak bisa lagi menilai “harga” yg sebenarnya dari dirinya.
Kalau di agama, spt contoh Pak Herianto diatas, bisa jadi itu trait perfeksionis. Tapi memang agak kabur, karena kita bisa mengkaitkannya dgn pemahaman kepercayaan yang kaku dan tidak toleran.
Sedikit cerita : dulu waktu saya bikin thesis di psikologi, dosen pembimbing saya juga [menurut saya] terkesan perfeksionis. Beliau mem-push saya melebihi batas kemampuan yg saya capai. Thesis disamakan dengan disertasi, sementara lingkupnya saja sudah beda. Prinsipnya, semua mahasiswa yg dibimbingnya harus mencapai “nilai sempurna” dlm sidang ujian nantinya.
Kecurigaan awal saya, itu tidak berhubungan dgn sifat perfeksionis dirinya. Tetapi lebih kepada “penilaian” kepada dirinya sendiri yang melebihi batas. Sehingga dia mendorong orang lain menjadi sama seperti dirinya. Yang terkadang jadi tidak toleran dan tidak bisa melihat perbedaan kemampuan antara dirinya sendiri dgn orang lain.
Kalau di pernikahan…. no comment lah….
terkadang banyak pertimbangan disamakan dengan perfeksionis.
*karena belum menikah*
Sepertinya perfeksionis berkaitan dengan idealis ya Pak. Seseorang yang memiliki idealisme terlalu tinggi tanpa diiringi kesadaran untuk menatap realitas yang ada mungkin cenderung berakhir pada perfeksionis. Tapi itu mungkin lho ya Pak …
@Pak Sawali
Membaca komen pak Sawali di atas jadi teringat dengan pesan ini juga pak : “Melakukan sesuatu lalu gagal, sebenarnya jauh lebih baik dari tidak melakukan sama sekali”.
Ini sepertinya juga pesan agar kita jangan takut gagal atau jangan menghukum diri akibat kegagalan.
Kata seorang motivator : Kalo saja saya diberi sekali lagi kesempatan hidup maka saya bukannya akan menghindari kegagalan2 yg pernah saya lakukan di kehidupan sebelumnya, tetapi saya justru akan melakukan lagi kegagalan2 itu lebih awal.
@Phyrro
Dulu adik kami suruh ambil aja jurusan psikologis karena dia agak lemah di berpikir eksak, eh ternyata “eksak” nya bidang ini lain lagi …
Ilmu psikologis ternyata mumet pak ya..
Eh, di lapangan saya juga menangkap beberapa fenomena lain, seperti ketidak-utuhan memahami sesuatu juga dapat membuat kita janggal dan terlihat seakan2 idealis atau perfectionist…
——————–
Nah, jadi ketauan nih bang Fertob belum ada yg punya…
Saya ngusulkan kalo lagi cari2 gadis carilah yang memiliki kepribadian.
Rumah pribadi, pekerjaan pribadi, mobil pribadi …
@deKing van de bia sa saja


Kayaknya pak deKing mulai memahami maksud postingan saya ini …
http://herianto.wordpress.com/2007/05/16/fuzzy-1-logika-sang-kompromis/
Saya pernah mikir, apakah “fenomena” teman2 salafy kita itu dapat dibahas melalui “fenomena” perfectionist ini ya pak..
————
BTW, istilah “van de” itu apa sih artinya di nama2 orang belanda pak …
[...] Saya ingin berterima kasih kepada seluruh fans-fans saya yang telah mendukung saya, baik support maupun doa. Kepada teman-teman saya, tanpa kalian, saya bukan apa-apa. Terima kasih juga untuk semua yang sudah mampir, komen, menorehkan kenang-kenangan berupa pertamax, hetrix, top skor dan lain-lain di blog ini. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih. [...]
Pak Dosen Her ini pandangannya asyik ya? Saya sendiri sedikit melihat kalau Pak Dosen Her ini agak “malu-malu” katika ingin mengekspresikan diri, sama kaya saya ya pak Her… hehehe
Mengenai fenomena teman-teman Salafy, hubungannya dengan kajian perfectionis, saya kira cukup menarik untuk dibahas. Tentu dengan niat bukan untuk membenturkan atau menyudutkan. Toh boleh jadi, kesimpulannya malah bagus buat Salafy sendiri, tul gak?
Wah menarik ini, tapi kalau bisa jangan cuma Salafy, entar mereka merasa sedang dighibah lagi 8)…
Herianto :

Malu2 itu apa ya pak ? Bukankah itu sebagian dari iman …
Saya mungkin bukan malu2, tapi hati2 kali ya pak maksudnya …
Berkaitan dengan teman2 salafy, tidak sepantasnya kita membenci semua dari mereka, seperti halnya tidak semestinya kita menerima begitu saja… Sebagian apa yg saya pahami tentang Islam adalah seperti halnya teman2 Salafy memahami, tetapi tidak semuanya, terutama dalam hal wasilah dan pemahaman kontemporer…
Tapi kalo ditanya kecendrungan, saya lebih suka untuk cenderung ke mereka …
Saya juga tertarik mengkajinya dari sudut pandang komunikasi dakwah. Karena benturan, kontroversi dan friksi dengan kelompok islam kultural di Indonesia makin menguat. Ada apa ini? Tanya Kenapa?
Herianto :
Nah ini dia, masalah metoda dakwah bisa saja mereka belum adaptasi…
Tapi asalkan saling konsisten saya kira kita mungkin untuk mencapai titik bersama…
Menyimak saja postingan dan komentarnya …
dan diperkaya oleh @cahaya
tanya:
kalau ada kyai yang pengen dihormati sama muridnya itu masuk perfectionist gak yaa pak ?
Herianto :

Jangan2 pak Kyai ini mas Cahya itu ya ? Wadduh, aku kok jadi prasangka
burukbaik gitu …Kalau ada kyai yang pengen dihormati sama muridnya itu fitrah kali pak …
Asal jangan pengen di-upeti i …
Wah ini postingan provokatif bin diskriminatif lagi mendiskreditkan orang-orang berkepribadian melankolis.
]
Saya perfectionist, so what?
[perfect emotion mode
Herianto :


Iya ya ?
Baru tau nih …
Maksudnya perfectionist si Fadli : Di masa perkuliahan-nya, perjodohannya, pemahaman agamanya, atau semuanya.
Kalo gitu… Waspadalah… waspadalah … ini postingan provokatif bin diskriminatif..
Lama saya merenung-renungkan kata ini :
Haruskah segala sesuatunya itu matang terlebih dahulu baru kita bergerak dan bertindak ? Bagi seorang perfectionist, jawabannya : ya.
saya merasa tidak pas lho… tapi sulit menjawabnya…
kemudian terpikir… seorang perfeksionis berusaha menyelesaikan masalahnya dengan sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin. Segalanya diperhitungkan dengan baik dan tidak mau resiko terjadi tanpa bisa diprediksi….
Kalau profesinya tukang pahat atau pelukis… wah kayaknya cocok. Jadi artis deh… tapi kalau profesinya marketer… unsur spekulasinya banyak… tidak cocok.
Perfeksionis bukan peragu, tapi hati-hati… (lihat sisi positifnya)…
Herianto :
Dalam hal ini pertama sekali saya pinjam dulu komen pak Sawali di atas :
Lalu konsep perfectionist pada wikipedia sbb :
Serta seruan kbanyakan pemotivator :
Saya sendiri (tentu menurut saya juga) pada satu titik [persimpangan] ternyata termasuk pelaku perfectionist [menyimpang] ini.
Tentu benar, ada aspek2 positip di perfectionist, yaitu dalam hal Optimalisasi.

Tapi saya mengingatkan ke diri sendiri : Jangan sempat “kenikmatan” perfectionist ini menjadi tanpa action karena kelamaan kontemplasi. Dari action ada evaluasi, action lagi, evaluasi lagi… dstnya. Itu yg ada dalam benak wacana kontemporer saya.
Salam,
Ada sisi positifnya dari orang perfectionist :
1. Loyalitas tinggi.
2. Cenderung konsisten.
3. Kejujurannya dapat di harapkan.
Wassalam.
Herianto :
Setuju mas… tentu untuk jenis NORMAL perfectionist seperti definisi dari wikipedia itu …
Tapi apa jabaran yang di wiki itu dah cukup ya ?