Dasar Mahasiswa Swasta
10 Desember, 2007 oleh Herianto
Ini teriakan seorang rekan dari ruangannya beberapa waktu yang lalu.. Yah… anggap saja waktunya sudah lama sekali.
“Dasar mahasiswa swasta“, begitu awal makiannya. Eh, ma’af, itu kalimat makian gak ya ?
“Diberi tugas sejak minggu lalu, hari ini tak satu pun yang mengumpulkan. Disuruh baca bab III minggu sebelumnya, tak satu pun ada yang sangkut di kepalanya. Sudahlah nilai2 ujiannya gak ada yg beres, tugas juga gak dikerjain. Bah, masam mana pula kalian ini ha… Ke laut aja lah kalo gitu pas tamat kuliah nanti”.
Saya senyum2 saja membaca kalimat grutu di atas. Bukan karena apa-apa lho… soalnya kalimat aslinya gak persis seperti itu. Yah, maklum ajalah, namanya juga postingan ini diawali dari celotehan, dikarang2 dikitlah biar agak menarik untuk action berikutnya.
Boleh gak ya ?
Ambil aja hikmahnya…… kalo ada.
—
Tapi ini isu beneran. Sudah beberapa rekan yang mempersalahkan taqdirnya sebagai dosen swasta tatkala mendapati hasil belajar para mahasiswanya tersebut jeblog alias untuk cukup makan pun tidak. “Dasar mahasiswa swasta“, begitu memang biasa kami menggerutu (Kami ? Lha ternyata anda juga ya…
).
Yah, begitulah. Terus siapa lagi yang mo dipersalahkan, mau mempersalahkan diri sendiri kan gengsi. Emang enak. Maka salahkanlah sesuatu yang di luar diri anda…
Nah… ini menarik.
—
Siapa yang harus dipersalahkan tatkala mendapati hasil belajar mahasiswa, atau siswa juga (dalam hal ini sama saja) ternyata bukan sekedar kurang memuaskan, tapi sangat tidak memuaskan.
Versi 1 : “Yang salah mahasiswanya dong, kan yang harus belajar mereka.“
Versi 2 : “Ah, yang salah dosennya, sudah ngajarnya gak becus, ngasi ujian yang sulit2 lagi, ca…pe deh“
Versi 3 : “Oh bukan, yang salah sistem pendidikan di negeri ini, gak di swasta gak di negeri, sebenarnya sama saja kok“
Versi 4 : “Yang salah sistem di negeri ini. Tau kenapa ? Karena orang mau pintar atau tidak, ternyata tidak mempengaruhi kecemerlangan hidupnya ke depan nanti. Wong cari kerja aja bukan karena pintarnya, wong promosi jabatan aja bukan karena prestasinya, wong kaya aja bukan karena usaha kerasnya, …. “
Versi 5 : …
—
Dasar mahasiswa swasta, kenapa seh kalian gak “kepengen” pintar…












kita selalu sibuk cari yang salah…seolah-olah ada kemauan untuk memperbaiki…
seolah-olah, inilah kata kunci untuk menjelaskan mengapa segala sesuatu di negeri ini serba tidak beres.
salam bang herianto, apa kabar ?
@tobadreams


Iya nih laei… kabar saya baik, terima kasih
———————
Kalo saja kritik kita, keluhan kita, ocehan kita, grutu kita, dstnya terhadap orang lain, diselaraskan tatkala melihat diri sendiri…
Yang mahasiswa menyalahkan dirinya, yang dosen menyalahkan dirinya, …, yang rakyat melihat ke dirinya, yang penguasa melihat ke dirinya…
Knapa kita lebih sering berharap agar orang lain berubah sebelum diri kita sendiri …
——————
ini mengingatkianku pada tulisan di sebuah makam di Westminster, Inggris, abad ke-11 kalo nggak salah. Inti pesan di nisan itu :
penyesalan yang terlambat karena semasa hidup dia selalu bermimpi untuk mengubah dunia. barulah menjelang ajal dia menyadari : kalau saja dia lebih dulu mengubah dirinya, mungkin dia bisa mengubah keluarganya, kemudian masyarakat sekitarnya, kemudian negerinya dan akhirnya…”siapa tahu aku bisa mengubah dunia.”
Menurut saya bukan permasalahan swasta namun saya cendrung masalah motivasi. Di Perg. Tinggi negeri umumnya adalah mahasiwa yang belum terkontaminasi dengan urusan perut. Mereka tamat sekolah menengah langsung masuk PT. Dan semua biaya orang tua. Kalau di Perg. Tinggi swasta mahasiswa sudah bercampur. Ada yang pegawai, ada bapak2/Ibu2 dll. motivasi mereka sudah bervariasi. Tidak ada rasa saling berlomba memperoleh prestasi.
Disisi lain banyak Perg. Tinggi Swasta tidak punya fasilitas yang memadai. sehingga motivasi mereka jadi sangat rendah. Tapi kalau kita hitung banyak diantara entepreneur sukses berasal dari perguruan Tinggi Swasta.
Yang dimaksud mahasiswa swasta itu apa mahasiswa yang kuliah di PT Swasta, Pak Heri. Walah, kalau urusan tugas sih saya kira ndak ada bedanya antara mahasiswa negeri dan swasta. Gejala yang tampak belakangan ini memang etos belajar siswa dan mahasiswa dinilai drop. Beda mahaiswa jadul. Rajin dan tugas selalu selesai tepat waktu.
saya kira semuanya sama pak, gak mahasiswa dan gak dosennya, baik negeri ato swasta. Yang penting kemauan dari keduanya yang mahasiswa mau pintar dan dosen mau memberi ilmu yang benar , saya kira akan berjalan dengan baik. Rajin selalu deh biar pintar, mudah cari kerja ato bikin usaha hehehhehehehe… peace aja deh
Dasar dosen swasta.
@tobadreams
Nah, ini dia point utamanya…
@zulidamel
Tapi masih lebih banyak mahasiswa swasta yg belum kerja (fresh) lho pak dibandingkan yg sudah itu…
Barangkali ide postingan ini cuma fenomena aja, belum bisa dijadikan generalisir bahwa semua mahasiswa swasta begitu…
@Pak Sawali

Tentu saja mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi swasta pak …
Apakah evolusi manusia Indonesia justru mengarah ke penurunan kualitas ?
Bingung juga ya pak ?
@hugy78
Nah ini dia. Lalu apakah semua kita sudi mengakui kelemahan masing2 tersebut dengan jujur dan memulai mengoreksinya…
@danalingga
Ini versi yang ke-2 itu ya Dan ?
Saya setuju dengan Pak Sawali kalau tidak ada perbedaan antara mahasiswa swasta dan non swasta. Banyak kok mahasiswa (dan juga perguruan tiinggi) swasta yang memiliki prestasi lebih baik dari mahasiswa (dan juga perguruan tinggi) negeri.
Tapi kalau kita menanggapinya dengan “Ach itu kan kembali ke individu masing2″ sepertinya juga tidak tepat dan tidak bijaksana.
Yang jelas … kita tidak akan pernah maju jika kita hanya memandang dan mencari kesalahan orang lain.
Kita akan mengalami kesulitan untuk mempercantik atau mempertampan diri jika kita tidak mau memakai cermin untuk melihat kekurangan kita. Betul begitu Pak?
Mahasiswa swasta + Dosen Swasta = Berfikir Wiraswasta. Mas Danalingga bisa memberikan tafsir kontemporer terhadap rumus di atas.
@ 9 deKing yang biasa2 saja
Sama-sama dari Korps Mahasiswa Swasta ya… Setuju deh
Sorry, angka 9-nya kepencet nih deKing! Dasar swasta! (memaki diri sendiri)
@deKing van de biasa
Iya pak… saya juga setuju …
Memang ada beberapa Perg. swasta yg gak kalah malah lebih baik lagi dari perg. tinggi negeri dalam hal input-proses-output-nya.
Tetapi kita tidak bisa menutup mata kalau ada perg. tinggi swasta yang menerima bahan mentah/input (mhs baru) dari lapisan ke sekian dan ke sekian. Di lapisan ini, mahasiswanya memang luar biasa.
Kadang2 saya mendengarkan keluhan2 yang meneriakkan “Dasar mahasiswa swasta”. Tetapi di sisi lain ada beberapa yg memanfaatkan fenomena ini untuk menutupi keengganan mengubah diri sendiri.
Dalam hal ini saya suka membaca komen-nya bang toba dreams di atas.
@Ram-Ram Muhammad


Nah, ketemua tafsir yg berbeda nih …
Tapi perbedaan ini benar2 memperkaya pesan dan pemahaman di postingan ini. Swasta menjadi wiraswasta… Metamofosa yang hebat …
Di luar negeri swasta dianggap wuah dalam hal quality, di dalam negeri swasta dianggap wah juga dalam hal cost …
Quality ? Ntar dulu …
Pak Dosen Herianto, terimakasih sudah berkunjung.
SAya mau ndompleng blog sampeyan buat komen balik soal kearifan dalam menyikapi perbezaan…
Saya ingat nasihat Kyai sepuh saya, Prof. Irfan Hilmi, beliau pernah menasihati saya bahwa sepatutnya seorang muslim memiliki sikap fundamentalisme dalam hal berkeyakinan, namun tetap arif dalam menyikapi perbedaan. Beliau merangkum kedua kata ini (Fundamentalisme dan arif) dalam satu kata, yakni MODERAT.
Fundamentalisme di sini bukan dalam pengertian keras tanpa arah, namun lebih tepat disebut Istiqomah. Karakter orang yang Istiqomah adalah berpegang teguh terhadap sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran Ilahiyyah. Jika pada suatu ketika, ia menemukan suatu “pencerahan baru” bahwa selama ini ternyata ada hal-hal yang keliru, salah atau kurang tepat menyangkut keyakinan dan perilakunya, maka ia akan meninggalkannya dan beralih kepada sesuatu yang dinilainya lebih benar atau lebih mendekati kebenaran. Bukankah keyakinan yang kuat merupakan salahsatu syarat tercapainya “orgasme” dalam beramal sebagai bentuk pengejawantahan dari nilai-nilai prinsipil yang diyakininya. Bagaimana mungkin seseorang akan dapat menikmati keikhlasan berzakat, jika ia sendiri meragukan kebenaran tentang ajaran berzakat?
Jika boleh beranalogi, sikap fundamentalisme ibarat sebilah pedang tajam, sedangkan kearifan adalah sarungnya. Setajam apapun pedang, ia tidak akan melukai siapapun terlebih orang lain selama pedang tersebut berada dalam sarungnya. Sebaliknya, pedang tanpa sarung bukan hanya bisa melukai orang lain, si empunya sendiri bisa terlukai tanpa sengaja.
Mas Her barangkali pernah melihat satu kelompok yang sering mengumbar pengkafiran, pembid’ahan dan label musyrik kepada “kelompok” lain secara membabi buta? Ia tidak sadar telah melukai orang lain, sekaligus melukai dirinya sendiri. Orang lain terluka karena dicap dengan segala label menyakitkan: kafir, bid’ah, syirik dan sesat. Tanpa ia sadari, dirinya sendiri juga terluka. ia dimaki, diserang balik dan balik dikafirkan, dibid’ahkan dan seterusnya. Masih ingat perseteruan Antosalafy dengan para Karkun? Hehehe.
Aduh, punten saya kok jadi melantur begini pad Dosen Her…
@Ram-Ram Muhammad
Jadi malu nih dipanggil pak dosen oleh pak Kyai…
Saya balas komen nya di situs pak kyai aja ya ?
Ma’af nih, saya minim pengalaman di kehidupan pesantren. Istilah “pak Kyai” itu salah ya… atau kyai aja kali … kmaren kyai Kurt protes waktu saya panggil pak kyai …
Kyai aja ya …
Ehm, balik lagi….
Soal rumus Mahasiswa Swasta + Dosen Swasta = Wiraswasta
saya kok mentafsirkannya sebagai berikut (pasti beza dengan Kyai Danalingga):
“Yang mahasiswa harus wiraswasta alias cangkul sana cangkul sini, soale biaya kuliah di PTS mahal, makanya tugas dari dosen seringkali terbengkali”
“Yang dosen swasta harus wiraswasta alias nyambil sana nyambil sini, mendingan menggarap proyek penelitian daripada ngajar mahasiswanya dengan khusyuk, soale honor per sks-nya gak cukup buat dapur di rumah. Makanya sering-sering kasih tugas sama mahasiswa karena jarang masuk”
Hehehehehe….
@Ram-Ram Muhammad
Kalo penelitian masih mending … Dari penelitian dapat ilmu, dari ilmunya bisa nambah2 bahan cerita waktu ngajar…
Tapi ternyata dosen2 swasta, apalagi di Jakarta, pada umumnya banyak juga mereka yg “tawaf”.
Tawaf = keliling jakarta = Keliling ngajar dari dari satu perguruan ke perguruan tinggi lain.
Analisis tentang dosen-nya tajam dan mengena pak …
#Aku sembunyi di bawah meja aja ah kalo diskusikan ini …
Diskusi in kesalahan mahasiswa aja yuk …
tapi kan mahasiswa swasta tidak memakan duit rakyat sebanyak yang dimakan para mahasiswa negeri?
@ Dee
Emang mahasiswa negeri suka makan duit rakyat ya… hehehe
buat para pengusaha jangan cari karyawan lulusan univ swasta. jelek2
Buat para mahasiswa swasta jangan mau kerja di perusahaan orang lain, gajinya jelek-jelek. Mendingan wiraswasta…
saya mahasiswa swasta, tapi kok mahasiswanya rajin-rajin ya? (bukannya ngebelain kampus sendiri lho). ngerjain assignment selalu tepat waktu dan jarang datang telat karena memang ada peraturan ketat di kampus saya. dosennya juga asik-asik. bahkan dosen dan mahasiswanya sering kongkow bareng..
Makan duit rakyat secara halal eh legalkah ?
@cK
Pasti dosen kamu itu seperti saya ya chik…
killerwah, pernyataan sampeyan tak kritik lo pak di blog saya.. ^^
Herianto :
Bagus… Itu namanya baru mahasiswa ….
Walah, ternyata sudah banyak pencerahan di sini.
Hem, jadi wiraswasta ya… *kontemplasi*
Herianto :
Iya nih… jadi agak melenceng ya Dan ?
Pak Heri, saya mahasiswa swasta lho hehe, saya menilai daya juang yang dimiliki mahasiswa di kebanyakan perguruan tinggi swasta memang lebih rendah dibandingkan negeri. Tentunya daya juang berbanding lurus dengan prestasi. Mungkin karena itulah mereka tersisih dari seleksi masuk PTN, bagi yang mencobanya. Namun tidak semua mahasiswa seperti itu. Beberapa diantaranya memilih swasta karena tidak mempunyai pilihan. Mungkin karena usia ataupun karena faktor pekerjaan. Saya juga melihat faktor dosen yang sering tidak fokus pada tugas & tanggung jawabnya sebagai penyampai ilmu, mereka seringkali mangkir. Entah apa alasan mereka. Seringkali saya datang ke kampus berharap mendapatkan pencerahan, eh yang ada malah dongkol, bener dongkol pak dosen, karena dosen yang ditungu tidak muncul sama sekali. hehe jadi esmosi nih, maap pak..
satu lagi seringkali perguruan tinggi swasta yang dimiliki yayasan cenderung untuk mementingkan keuntungan dan mengabaikan kualitas para dosen.
demikian, terimakasih.
ini saya ada link yang berkaitan :
http://klipingut.wordpress.com/2008/01/04/lulusan-pts-tak-kejar-kualitas/