Seorang rekan dari kampus tetangga menumpahkan curhat-nya begini :
“Kampus itu pada mulanya tidak mengenal dunia IT sama sekali kecuali beberapa PC tua yang menyisakan keperkasaan masa lalunya, plus seonggok aplikasi akademik kecil yang feature – nya sangat pas2 an. Lalu beberapa dari kami yang merasakan keterpurukan itu pun menggeliat, mempropagandakan kepentingan penerapan IT di tempat itu demi menaikkan kadar competitive institusi pendidikan tersebut“
“Terus bagaimana“ pancing saya demi mengorek beberapa isu lain.
“Mereka waktu itu menolak“ jawabnya ketus.
“Alasannya aneh-aneh, mulai dari ketiadaan dana sampai isu kecurigaan pada kami yang katanya sekedar ingin menaikkan bidangnya sendiri. Ya…, memang kebetulan kami2 yg paling semangat tersebut adalah orang2 dari jurusan IT sendiri. Dan wajar dong yang paling mengerti bagaimana nilai dan pengaruh dunia IT di era ini tentu kami. Jadi itu bukan sekedar propaganda untuk kebanggaan kemajuan bidang kami sendiri, tapi ada banyak alasan2 realitas dan objektivitas yang melandasinya“.
“Wah terus-terus, gimana ?“ saya jadi tertarik dengan obrolan ini karena fenomena di proyek IT juga akhir2 ini jadi pemikiran saya.
“Sampailah akhirnya suatu ketika kami berhasil mendapatkan dana cukup lumayan untuk pengembangan IT di kampus itu. Maka dengan gegap-gempita dan semangat 45 kami garaplah proyek IT di kampus seperti apa yg kami sekedar bayangkan sebelumnya. Semua lini di-instalasi [titik] network, unit-unit terpenting PC nya diganti dengan yg lebih wah, aplikasi akademik yg sebelumnya diupgrade habis, dan yang terpenting lagi adalah… koneksi internet disediakan“
“Barangkali semuanya pada kaget… siapa sih kami, sampai bisa2 nya membuat perubahan sedemikian yg menghebohkan. Tapi oops tunggu dulu…“
“Kenapa ?“ saya refleks aja bertanya demikian.
“Itu ternyata cuma sambutan di lapisan pertama“ katanya memelas.
“Lha, maksud sampean apa ?“ saya jadi terkesima juga dengan kata2 nya terakhir.
“Belakangan muncul kehebohan lain“ katanya pula.
“Apa itu ?“
“Mereka justru khawatir kalo semua proyek yg kami prakarsai tersebut dapat menurunkan pamor mereka2 yang tidak terlibat“
“Ah, itu pasti cuma prasangka kamu aja ? Lagi pula saya tidak melihat hubungan sebab-akibat yang kuat dari sana“
“Tapi ini serius dan fakta itu terjadi. Mereka ketakutan ketika tersadar akan hal itu dan mulai mengembangkan isu aneh-aneh“
“Isu apa sih“ kata saya mencoba sedikit tersenyum menenangkan kemarahannya.
Saya melihat wajahnya sedikit tegang, lalu kembali berceloteh, “Mereka mengembangkan isu kalo kami menggunakan dana secara tidak benar. Menyebarkan praduga miring kalo imbalan kami atas semua proyek itu ratusan juta“
“Ah, barangkali mereka cuma bermaksud mengkritik dan mengingatkan saja“ kata saya mencoba menularkan pikiran positip.
“Kritik apa ?“ jawabnya dengan nada sedikit amarah.
“Mereka menyebarkan itu sampe ke mahasiswa. Untung saja si mahasiswa check and recheck dan melakukan konfirmasi ke kami atas semua isu itu. Nah dari konfirmasi inilah ketauannya kalo ternyata isu2 miring lain telah mereka sebarkan juga kemana-mana termasuk ke mahasiswa2 tersebut. Dan dari si mahasiswa jugalah ketauannya siapa2 manusia di belakang semua itu“
“Lha kok sampean lebih percaya ke mahasiswa. Mahasiswa sekarang kan tingkahnya aneh-aneh. Mereka selalu bersikap cari aman kalo berbicara“ kata saya
“Tapi ini bukan cerita satu dua mahasiswa. Dari mahasiswa yang kualitasnya antena-kuali sampe yang kualitas antena-parabola bercerita seperti itu“ katanya sambil sedikit bercanda.
“Oo begitu…“ kali ini saya mencoba memperlihatkan kesan memahaminya.
“Kenapa mereka2 yang menyebar gosip itu dulunya tidak dilibatkan saja oleh tim anda di proyek itu“ saya mencoba membantunya menguak akar masalah.
“Karena tidak ada pekerjaan yg sesuai untuk mereka“ jawabnya cepat.
“Kalo pun ada itu sangat dipaksakan. Bukan dari kemampuan secara objektif, tapi karena merasa mampu saja secara subjektif. Maksudnya motif mereka ya karena uang dan jabatan saja …“ katanya lagi.
“Nah kalo motifnya uang. Kenapa anda tidak menyisakan sedikit uang untuk mereka dari proyek tersebut. Atau kalo motifnya jabatan, kenapa tidak anda sisakan kursi itu untuk diduduki agar mereka merasa sedikit nyaman“
“Itu yang saya tidak mau“ katanya.
“^$#@*(<“.
—
Manajemen katrol
Saya jadi teringat dengan istilah manajemen katrol di negeri ini. Untuk amannya pengerjaan suatu proyek, setiap orang [konon katanya] harus dilibatkan (masuk jadi tim) atau kalo pun tidak dilibatkan mereka harus kecipratan (bisa uang bisa jabatan). Atao kalo semua itu (syarat manajemen katrol di atas) tidak dipenuhi, maka bersiaplah dengan fenomena “panas“ seperti yang di alami dari cerita teman di atas.
Jangankan untuk suatu proyek, untuk menyusun kabinet saja sang presiden (RI) harus [mau] melibatkan semua pihak (kelompok) agar tidak terus digoyang oleh pihak2 yang [merasa] tidak dilibatkan.
Intiplah sekilas ilmu [andalan] praktisi manajemen kita, mereka kbanyakan demikian !
Tapi…, apa ini benar ya untuk ke depan ?












ehhh Pertamax…
wakakakaka… jujur aja Pak, proyek IT itu memang melibatkan dana besar dan mudah menggelembungkan budget kekeke…
Coz pertama gak semua orang paham proyek IT dan kedua tingkat bargain pada pembelian barang / jasa IT bisa berbeda - beda tergantung kapasitas knowledge si pemegang proyek tentang IT, so walau dana yang dipakai jauh lebih kecil dari yang dilaporkan buat orang awam IT atau cuma tau dikit kemungkinan besar lerlihat wajar seperti kasus rencana pembelian laptop untuk para wakil rakyat.
Nahhh karena kadung di blow-up bahwa proyek IT selalu banjir duit bagi pelakunya, jadilah rekan - rekan kita yang (* berusaha *) jujur jadi kena getahnya.
OOT… klo mau sistem informasi manajemen kampus yang open source pake ini aja
http://www.sisfokampus.net/
berhubung yang gawe gampang dicari he.. he..
Herianto :
Berkaitan dengan manusia2 IT saya melihatnya seperti ini :
Ada fenomena dari manusia “Elit IT” yang banyak tau, ada fenomena “Awam IT” yang tak mau tau dan ada fenomena “Marketing IT” yang sok tau…
Nah ketiga oknum ini kadang saling menyalahkan, saling menaruh mosi tidak percaya dan kadang juga saling kerja sama dalam ketidak-baikan ….
Why ? :lol:
hehehe tambahin ahhh…
==> “Jangankan untuk suatu proyek, untuk menyusun kabinet saja sang presiden (RI) harus [mau] melibatkan semua pihak (kelompok) agar tidak terus digoyang oleh pihak2 yang [merasa] tidak dilibatkan.”
Barangkali Pak tujuanya untuk tetap melestarikan keragaman yang konon katanya negara kita ini memang terdiri dari individu yang sangat majemuk
==> “Saya jadi teringat dengan istilah manajemen katrol di negeri ini. Untuk amannya pengerjaan suatu proyek, setiap orang [konon katanya] harus dilibatkan (masuk jadi tim) atau kalo pun tidak dilibatkan mereka harus kecipratan (bisa uang bisa jabatan). Atao kalo semua itu (syarat manajemen katrol di atas) tidak dipenuhi, maka bersiaplah dengan fenomena “panas“ seperti yang di alami dari cerita teman di atas”
Nahhh klo kita (* berniat *) bersih kenapa pula mesti khawatir ? tetapi sekali lagi jika suatu proyek memiliki tingkat godaan korupnya tinggi, biasanya orang jadi cari aman, jd kalo akhirnya tergoda masih merasa agak aman he.. he..
Herianto :
Apa mungkin ya fenomena gebyarnya fenomena proyek IT saat ini menampakkan karakter menyimpang dari sebagian anak bangsa ini …
Ah, saya terlampau meng-generalisir …
modelnya ga tahan sayah wakkakakaka
btw penerapan IT pada intansi kadang emang bikin heboh disatu sisi disambut dengan antusias bagi yang mengerti manfaatnya namun disisi lain kadang dijadikan bumerang bagi mereka dengan alasan yang tidak mutu sama sekali
hidup IT
Herianto :


Masalah antena-kuali…, kadang2 saya berpikir kalo yang berantena-kuali itu sebenarnya bisa lebih bagus kali ya… (baca : lebih aseli dan nyetrik…)
Bandingkan monolog dari 3 oknum berikut :
Elit IT : Pokoknya IT itu wajib ada dan pengembangannya harus dilakukan di semua lini, sekalian proyek gua ada terus…
Awam IT : Ah sial, gara2 IT kerja kok malah jadi nambah (harus belajar lagi, ngurus virus, dsb) dan malah nggeser posisi ku (bisa gak kpake)
Marketing IT : Apa pun teknologi IT anda, selalu ada cara untuk mengatakan itu belum optimal dan sudah ketinggalan, maka beli-lah dagangan saya…
Benar almast..
Hidup IT !!!
Kenapa yaa pak, IT negara kita masih begini2 saja. Selalu klise dan klasik ceritanya… padahal semestinya, IT kita itu bagus jika semua mendukung tidak (curi)gak-curigai …. tapi semoga bapak bisa mendobrak semua itu.. namunmampukah kah kah??
Herianto :
Kagak …
Wong saya juga bermasalahMasalah IT cuma jadi salah-satu penunjuk jalan saja, betapa secara mendasar bangsa ini bermasalah… Lalu menjadi kompleks dan dibiarkan… maka menular kmana2 …
Termasuk ke fenomena dunia IT kita…
Kan di bidang lain juga ada jejak2 masalahnya…
Terhadap tantangan : Mampukah, mampukah … ?
Jawaban saya : Yuk …!!!
Manajemen katrol ya Pak?
Hehehehe…dalam ilmu fisika, katrol merupakan salah satu dari peswat sederhana (pengungkit, bidang miring dan katrol) yang bermanfaat untuk memperingan kerja.
Nach…kira2 sama dengan konteks di dunia nyata atau tidak ya Pak?
Herianto :
Wah, persis seperti apa yg saya pikirkan sebelumnya.
Berarti kita sama ebat ya pak..
Mulanya saya juga ragu untuk menggunakan istilah manajemen katrol ini, khususnya di kata katrol nya itu…Tapi setelah saya renungkan lagi, ada kaitannya juga :
Model manajemen katrol kan bertujuan untuk memudahkan (menyetabilkan) tujuan2 praktis menejerial, kan sama (mirip) dengan katrol yang fungsinya untuk mempermudah (memperingan) tadi …
He he… apa saya berhasil ya ma ota pak prof deKing …
hanya 1 tanggapan pak Herianto kok begitu, harusnya mendukung dong. sudah jelas ini permainan kotor orang yang gak seneng.
ngapain orang yang gak kerha diberi uang dan jabatan
alhasil ya seperti nasib bangsa kita !!!!!!!!!!!!!!
Yang paling repot, menolong orang di proyek “kumbangan lumpur”, kita jadi ikut kotor !!!