Ma Ota Lamak
15 Nopember, 2007 oleh Herianto
Sekilas catatan dari perjalanan seminggu di ranah Minang
Seminggu full kmaren hari-hari kami sekeluarga berada di Padang “Kota Tercinta”. Ini kali pertama untuk saya, istri dan ketiga anak-anak [lucu] kami pulang kampung bersama. Sebenarnya sebelumnya kami sudah pernah pulang ke Medan (maksudnya Sumatera Utara, tepatnya Kabupaten Simalungun, persisnya Kecamatan Dolok Batu Nanggar - Serbalawan) juga bersama-sama (sebelum ada si terkecil sekarang). Tetapi oleh karena saya dan/atau istri bukan keturunan Medan, cuma saya aja yg numpang lahir dan menghabiskan masa remaja di sana, maka tidak kami sebut itu sebagai pulang kampung. Benar gak ya ? Trus yg namanya kampung itu, kampung kelahiran atau kampung keturunan sih … ? Ah, pertanyaan gak penting kali ya…
—
Baik, begini…
kali ini saya cuma mau postingan tentang kesan terkuat dari pulkam kmaren itu, yaitu masalah : “ma ota lamak“ yang artinya [kira-kira] : ngobrol enak. Masalah kemampuan : ma ota lamak ini sebenarnya merupakan keahlian khusus orang minang. Bisa dikatakan salah-satu kriteria [kehebatan] seorang minang adalah : kemampuannya dalam “ma ota lamak“, atau ngobrol dengan orang lain dengan “nikmat“. Dari tradisi memang seorang minang secara sengaja atau tidak, telah diajarkan untuk mampu bercerita atau bertutur yg dapat membuat lawan bicara bisa betah (tertarik) mendengarnya. Bahkan kemampuan ngomong sedemikian (seperti dari ber-pepatah pepitih) telah mempengaruhi sistem nilai di ranah minang dalam mengukur kualitas seseorang. Tentu ini juga yang membuat [kbanyakan] orang minang tampak cakap saat berperan sebagai diplomat, negosiator, dan [termasuk] juga saat manggaleh (jualan).
—
Yang Tidak
Sayang sekali ternyata saya tidak mencapai kualitas sedemikian. Maksudnya, saya tidak memiliki kemampuan ma ota sdemikian, … kecuali. Kecuali apa ?
Kecuali pada orang2 tertentu dan kecuali pada topik2 tertentu. Saya kan guru/dosen, jadi bagaimana pun di depan kelas harus ma ota dong. Tetapi secara umum, walaupun saya [asli] orang minang, tetapi kemampuan ma ota itu tidak saya capai sebagaimana mestinya.
—
Nah kmaren itu ada kejadiannya berkaitan dengan hal ini (lebih tepat : kata lagunya,“ Kamu ketauan…“).
Apa itu ?
Begini,
saya pulang ke Padang kmaren itu kan karena ado dun sanak nan ka ma alek an anaknyo (ada keluarga yang mau menikahkan anaknya). Posisi saya dalam pernikahan (baralek/pesta) tersebut adalah sebagai : urang sumando (yaitu orang yang mengambil istri/suami dari keluarga tersebut). Pada suatu perkawinan ala [adat] minang, ada kegiatan yg istilahnya : menjapuik (menjeput). Salah satu event nya adalah menjapuik sang marapulai (pengantin pria) dari rumahnya untuk kembali ke rumah nak daro. Kenapa mesti dijeput ? Karena [di adat minang] setelah perkawinan, antara nak daro (pengantin wanita) dan marapulai (pengantin pria) tidak langsung satu rumah, tapi dipisahkan dulu beberapa hari (bahkan ada yg minggu-an) dan pada waktu2 tertentu dijeput (untuk di serumah kan semalam) kemudian diantar lagi (untuk kembali dipisah), begitu berulang selama beberapa hari. Kayaknya repot banget ya ?
Kacian deh lu … Untung saya [dulu] perkawinan-nya di Jakarta.
Kenapa ya modelnya seperti itu ? Ada yg mengatakan hikmahnya adalah agar kedua pengantin yg masih malu2 tersebut tidak canggung dalam memulai interaksinya (terjemahkan sendiri lebih lanjut tentang interaksi ini…
), jadi setiap mau ketemuan di awal2 ini harus diantar jeput dulu. Saya kurang tau sih kalo ada hikmah lain, tetapi sepertinya hikmah ini untuk jaman sekarang sudah primitif ya ?
—
Tapi sudahlah masalah hikmah tersebut, saya ingin melanjutkan ke masalah “ma ota“ tadi.
Begini,
malam pertama penjemputan, saya [ dalam hal ini] sebagai urang sumando menurut adat-nya mendapat tugas untuk menjeput marapulai. Oleh karena urang sumando yg lain sudah pada pulang, maka malam itu yg menjeput cuma saya sendiri diantar oleh ayah dari sang nak daro (karena memang tidak ada orang lain untuk diajak). Setiba di rumah marapulai, saya masuk sendiri dan ayah nak daro tadi menunggu di dalam mobil. Dengan bersikap polos tanpa pepatah-pepitih langsung aja ngomong kalo saya diutus oleh keluarga untuk menjemput marapulai. Eh, gak taunya keluarga marapulai tersebut gak senang (merasa direndahkan) karena yg menjemput cuma saya sendiri dan tidak bawa apa2 lagi (ada syarat bawaan istilahnya). Saya gak tau harus ngomong apa, karena memang sama sekali tidak mengerti, dan tidak biasa ma ota ala minang … [] ![]()
Akhirnya karena gak tau harus berbuat apa2 saya memanggil ayah dari nak daro yg nunggu di mobil tadi (SOS gitu lho). Nah, setelah ayah nak daro tadi berada di rumah marapulai inilah saya menyaksikan bagaimana kepiawaian (fungsi) ma ota (diplomasi) urang minang terlihat nyata. Dengan lihai sang ayah menjelaskan kenapa yang datang cuma saya, dan dengan lihai pula sang tuan rumah membalas dengan argumen berikutnya. Mereka berbalas argumen dan saya senang2 aja menyaksikannya.
—
Intinya, saya semakin memahami betapa orang minang itu memang “ebat” dalam berdiplomasi (saling bertukar jawab argumen), dan bersamaan dengan itu semakin saya menyadari betapa [malangnya] saya [yg] tidak memiliki keahlian itu.
—
Dulu saya percaya bahwa diam itu emas. Tapi sepertinya tidak selalu.
Kita juga perlu [terampil] bicara !
—
Itulah kesan saya.
Lalu, adakah yang salah ?












interaksinya sama tidak dengan lagu: “bulu bertemu bulu, kulit bertemu kulit……
oleh2 pulang kampung yang bikin capek ya bang, tapi saya salut dengan orang awak yang sabar dan telaten merawat budaya dan tradisinya…
Herianto :
Ssst…, ntar dengar teman2 yang masih lajang
kayak Almas yg masih di bawah umur, bahaya lho pak…bakat alam pada orang minang dalam diplomasi emang hebat pak…
salute
Herianto :
Benar nih… punya bukti ?
Wah Pak her, untung masih seperti itu, coba kalau seperti saya yang “Pariaman Mentok” lebih repot lagi (* khususnya buat pihak mempelai perempuan *), harus ada kata sepakat dulu antara “Datuak” pihak lelaki dan “Datuak” pihak perempuan, juga antara “Ninik Mamak” si mempelai lelaki dengan “Ninik Mamak” si mempelai si perempuan, trus menentukan “Japuik-tan” yang jumlah/bentuknya tergantung dari “kualitas” si mempelai pria-nya (* termasuk besarnya “uang hilang” yang akan diberikan *).
hehehe… karena bikin pusing dan barangkali coz saya lahir-besar-hidup dijakarta saya putuskan cari istri si “ayuk” saja yang lebih simpel meski ortu mencak - mencak (* coz seharusnya saya yang di “Japuik” he.. he.. he.. *).
Hmmmm… biar bagaimana saya sangat rindu kampung halaman…
Herianto :
Istri saya juga urang piaman.
Tapi saya gak pake di jeput2… datang sendiri..
“Dulu saya percaya bahwa diam itu emas. Tapi sepertinya tidak selalu. Kita juga perlu [terampil] bicara !
Hadits Nabi :
Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah mengatakan yang (dan dengan) baik atau (segera) diam saja.
Kalau soal ma ota, memang saya akui orang Minang pada umumnya jagok. Dan itu pula yang membuat mereka bisa survive (bahkan menjadi pembesar) dimana saja, tapi tidak sebaliknya (siapapun akan sangat kewalahan “menghadapi” orang Minang dikandangnya).
Lepas dari kelebihan ma ota itu, ada satu hal paling berarti yang saya pelajari, yakni “packaging technique” atau bagaimana orang Minang mengemas semesta pembicaraan menjadi begitu menarik meskipun yang dijual (cuma) cabe. Tengok penjual emas, umumnya kalem2 aja…
.
.
Sebenarnya, kemampuan ini tidak lepas dari kemampuan dasar orang Minang (baca : Menang) yang diatas rata2. Bak kata Taufik Bahaudin, kemampuan komunikasi itu identik dengan (mungkin tepatnya perpaduan) kemampuan kognitif/logis dan kecepatan berpikir, smarter and faster. Kata lainnya ini bagian dari brainware management systems yang tentu saja dapat dibina, dikembangkan. Kalau tidak, mungkin tak akan muncul orang2 seperti Buya HAMKA, Agus Salim, M Yamin, Emil Salim, dst (tak terkecuali owner blog ini
Nah, malangnya, keahlian ini pula yang kadang2 membuat (paling tidak anggapan saya) kita agak “susah” mempercayai (mentah-mentah) orang Minang… maaf. Kata tepatnya : orang Minang susah diajak untuk BAIYO-IYO. Prinsip hidupnya pun pelik : takuruang nak dilua, taimpik nak diateh (terkurung maunya diluar, terhimpit maunya di atas). Prinsip yang bagus banyak juga, tapi maunya “yang orang Minang tetap Menang”. He..he… maaf Da.
Trik : menghadapi orang Minang, anda harus punya kecerdasan diatas rata2, kosakata yang banyak, interpretasi tak hanya satu, dan yang pasti siap untuk adu jotos bila diperlukan…he..he.
(Komen berdasarkan pengalaman hidup).
Salam
Herianto :
Karakter Ma Ota Ala Minang, memang ada positip nya dan [ternyata] ada [juga] negatip nya. Namanya juga alat, ya tergantung user yang menggunakannya.
Ah, kalo yg ngomong gini orang minang ya gak heran, tapi ternyata orang non minang juga mengakui hal ini juga…
Mungkin karena sudah kadung cinta pada minang, eh maksudnya pada istrinya yang minang …
Ha ha ha… takana ambo dulu waktu aju jotos jo urang ko di Yogya …
ABis dijotos lari …
@ atas,
he.. he.. saya se-7 nehh, dolo waktu saya kuliah di YK, saya gabung dengan perkumpulan orang awak disana, meski saya orang minang asli (* kata ortu “bagindo” lageee *) tp saya merasa kurang klop juga, mungkin karena saya lahir-besar di Jakarta jd kurang piawai memainkan jurus “takuruang nak dilua, taimpik nak diateh” yang ada malah saya sering jadi cepet “panas” ke.. ke..
Herianto :
Ada yang bilang : Urang awak dek (karena) makanannya banyak nan paneh (padeh), jadi utaknya pun jadi capek lo paneh… Terutama kalo sadang : takurung di dalam dan ta impik di bawah …
Oh, jadi mengenal budaya ranah Minang, nih, Pak. Sering2 saja Pak Heri posting tentang kekhasan daerah Minang, Pak. Biar saling mengenal budaya antardaerah, gitu!
Herianto :
Maunya sih gitu pak…
Tapi kadang saya ragu… karena saya sendiri gak begitu banyak taunya tentang sesuatu yang lebih khas lagi dari budaya minang. Taunya cuma kulit2, abis gak besar di sana sih …
Tapi kalo nanti ada [nemu] ke khas an yang lain dan seru, saya postingin deh…
Saya juga senang kalau nonton (di TV) acara saling berpantun itu.
Diplomasi dan negosiasi yang dilakukan dengan cara berpantun sepertinya lebih asyik ya Pak … otak harus waspada jangan sampai “salah” dalam menanggapi pantun.
BTW maaf numpang OOT …
Itu yang di header putri Pak Heri ya?
Mirip Pak Heri eui
Herianto :
Berpantun itu kan salah satu bentuk seni pak, mungkin unsur indahnya itu yang membuat asyik…
Eh, tentang BTWnya : yang di header itu Benar dong anak saya… mirip ya… Ah gak juga katanya lebih mirip ke ibunya, mirip ke saya nya dikit aja…
yang penting tidak lebih mirip ke tetangga aja…
Haa haa haa haa………………..
Sedapkan jadi urang sumando??… Rasakan nikmatnya.
Herianto :
Tau saja kalo yg nikmatnya…
Hei… kemana saja kau… BAH !!!