Aliran Sesat, HAM dan Masalah Liberal (Kebebasan)
5 Nopember, 2007 oleh Herianto
“Memangnya anda Tuhan, Yang berhak menentukan apakah kami termasuk kafir atau tidak, beraliran sesat atau tidak, masuk surga atau neraka ? Anda jangan sok merasa mewakili Tuhan dong di dunia ini ? Apalagi berlagak seolah-olah jadi Tuhan !“
—
Kata-kata di atas sudah sangat sering kita dengar terutama dari kalangan (aliran, pemahaman) minoritas yang sedang berjuang di antara kalangan mayoritas (konservatif) dalam usaha menjajakan ideologi (prinsip) “unik” - nya. Argumen dari kata2 di atas memang kadang ampuh tatkala digunakan [oleh kelompok minoritas tersebut] sebagai perisai awal demi membungkam tuduhan langsung penentangnya yang mencoba “melawan” ide-ide kebebasan [mereka] yang acap berada di luar mainstream. Dalam hal ini kalangan minoritas akan terlihat lebih ulet dan gigih. Secara umum memang posisi minoritas mampu membangkitkan fenomena “heroic” (semacam merasa menjadi pejuang) dan memunculkan militansi tersendiri. Itu makanya kelompok minoritas [ini] semangat dan ide2nya seakan tampak [lebih] segar.
—
Katakanlah, tidak ada yang salah dari argumen pertahanan di atas, apalagi peringatan,“ ..jangan berlagak jadi Tuhan !“. Siapa yang berani mengaku jadi Tuhan ? Bahkan merasa menjadi wakil-NYA sendiri pun kita tak pantas.
Tetapi ke-tidak-mampu-an orang lain untuk membuktikan bahwa dirinya bukan wakil Tuhan atau bukan Tuhan itu sendiri, bukan berarti orang tersebut tidak berhak untuk memberi justifikasi (maksudnya seperti mem-vonis) mereka2. Kalo semua kita bebas ber-ide apa pun tanpa ikatan apa pun, atau tatkala kita berbicara tentang Tuhan tanpa me-refer ke Pesan (The Message) Tuhan itu sendiri, lalu apakah itu bukan memperlihatkan sifat ke-tuhan-an yang dimaksud. Lalu siapa yang mereka tuduh mengaku sebagai Tuhan ? Bukankah tuduhan tersebut [lebih tepat] untuk mereka sendiri ?
—
Berkaitan dengan fenomena di atas dan maraknya isu aliran sesat akhir2 ini, menarik juga untuk mengkaitkannya dengan komentar Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang terpublish di situs antaraNEWS (Rabu 31/10/2007) seperti berikut : “Bahwa fenomena aliran sesat bukanlah persoalan kebebasan dalam bingkai hak asasi manusia (HAM) sebagaimana dikampanyekan sebagian kalangan. Mengaku nabi itu bukan hak asasi manusia, tapi hak ketuhanan. Harus dibedakan antara hak asasi manusia dan hak ketuhanan. Hak asasi, tidaklah bebas nilai. Hak tersebut, menurutnya, tetaplah harus dalam bingkai norma, etika dan agama.“ (http://www.antara.co.id/arc/2007/10/31/pbnu-perlu-aturan-yang-tegas-terkait-aliran-sesat/)
—
Hal yg senada juga diungkapkan oleh Ketua Tim Pengacara Muslim (TPM), Mahendradatta. Ia menilai : Sikap pemerintah terhadap aliran sesat yang ada saat ini sudah sangat benar. TPM sangat tidak setuju dengan sejumlah pihak yang menyatakan bahwa tindakan pemerintah itu merupakan pelanggaran HAM. ”Mereka yang mengatakan itu melangar HAM, benar-benar ngawur. Jangan kemudian mengatasnamakan HAM dan membenturkan masalah HAM dengan umat Islam. Sikap pemerintah yang melarang aliran sesat, sama sekali tidak ada kaitannya dengan HAM,” papar Mahendradatta. Justru aliran sesat sepwerti Al Qiyadah, dianggapnya melanggar kebebasan umat Islam menjalankan agamanya. Sekaligus melanggar HAM umat Islam yang dilindungi oleh International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) jo UU No 12/2005,Article 18 (1) dan(3). ”Khusus dalam ayat (3), jelas bahwa kebebasan beragama dapat diatur menurut hukum demi kepentingan keamanan, kesehatan, ketertiban, dan moral publik,” kata Mahendradatta. Kebebasan umat Islam menjalankan agama selanjutnya dilindungi pasal 1 UU No 1/PNPS/1965, yang melarang adanya penafsiran menyimpang dan penyebaran ajaran yang menyerupai agama Islam. (sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=312555&kat_id=3)
—
Main Hakim Sendiri
Main hakim sendiri dalam menghadapi kasus ini tentu bukan tindakan yg tepat. Tetapi jika pemerintah (aparatur yang berkaitan) tidak cepat dalam mengambil tindakan sesuai dengan wewenangnya (yang diatur UU) maka masyarakat kita yang dominan masih awam dan cendrung emosional ini bisa saja terpancing mengambil tindakan dengan caranya sendiri. [?]
Lemahnya peran tokoh-tokoh agama dalam mendidik masyarakatnya, yg dikritik oleh sebagian kalangan sebagai faktor penyebab utama tumbuh-nya sejumlah aliran “menyimpang“ tersebut, bisa jadi benar adanya. Tetapi kritik ini perlu juga dikaitkan dengan fakta prilaku tokoh-tokoh tersebut plus sejumlah opini yang [sebagian] berhasil disusup ke masyarakat [awam maupun intelektual] yg memperdayai (sebenarnya mereduksi) tingkat kepercayaan mereka terhadap tokoh-tokoh agama tersebut.
—
Opini Sendiri
Hemat saya, masalah ini erat kaitannya dengan masalah kepemimpinan. Ummat ini butuh kepemimpinan yang terpercaya, bersama dan terpusat.
Melirik ke masa lalu dan/atau ke tetangga sendiri yang menconteknya dari kita.
Gmana yg ini …












Saya sependapat dengan kutipan tersebut. Dan saya juga sependapat dengan pak Her bahwa fenomena tersebut terjadi karena kita belum ada kepemimpinan yang amanah dan adil.
Sehingga .. banyak umat yang akhirnya bingung sendiri. Orang bingung, paling mudah untuk dibujuk2 atau dihasut dengan permainan kata2 sehingga seperti apa yang dikatakan itu benar.
Semoga .. fenomena ini membuat kita semakin beriman kepada Nya. “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki” (Surah Ibrahim ayat 27)
Herianto :
Wah, mantap sekali membaca komentar bang eby di atas …
::assalamu’alaikum ww, mas herianto, bukankah Allah mengatakan “dariKUlah semua masalah berasal kepadaKUlah kembalinya”, jika kita melihat bentuk yang menyampaikan, memang akan terjadilah fenomena kafir-mengkafirkan, sesat menyesatkan, padahal inikan memang hak kekuasaan Allah,
saya bukan bersetuju pada ini atau itu, namun Allah telah menciptakan segalanya termasuk orang itu, jika nyamuk atau lebih kecil dari itu saja menjadi umpama, mengapa memilah umpama Allah, bukankah itu malah memiskinkan content kemahakayaan…
Rasulullah ada dalam suatu hadist berkata “kepadaku telah dihamparkan Allah bumi ini, hampir-hampir kulihat timur dan baratnya”…apa memang realitasnya seperti kalimatnya…
sungguh Allah menyampaikan pesan lewat apa saja…, Allahlah pemimpin yang baik, yang menuntun manusia pada jalanNYA…menurut caraNYA….wallahu a’lam bissawab…
Herianto :
Wa alaikum salam wr wb
Pesan-NYA tersebut termaktub di Kitab-NYA. Tak mungkin kita memahami-NYA tanpa akal melalui Kitab-NYA, dan lebih lanjut lagi tanpa penjelasan dari utusan-NYA.
plus menurut Kitab dan rasul-NYA…
Ada Allah, ada Kitab ada rasul-NYA, ada mainstream yg harus dijaga bersama ….
[...] Aliran Sesat, HAM dan Masalah Liberal (Kebebasan) [...]
KH Hasyim Muzadi berkata,
Sepakat Pak..
Opini pak hery maksudnya mengarah ke kepemimpinan Islam satu pusat ?? seperti dalam doktrin Kristian??? ada pempmpin umat sedunia … ??? atau istilahnya Khilafah???
ayo dong pak, diperjelas … heheh
@Fakhrurrozy
Setuju juga..
@kurtubi
Ah, pak kyai bisa2 aja.. 100 utk p kyai..
Memang ada gagasan lain ..
Maaf nih.. lagi di luar kota (Padang .. ), so gak bisa komen panjang2 .. Layar hape gak mcukupi ..
Assalamu ‘alaikum
Fenomena maraknya aliran2 sesat sesungguhnya bukan hal yang baru dan mengejutkan, ia bahkan sangat dinamis sebagaimana berputarnya kehidupan manusia.
Secara umum, saya menarik satu benang merah bahwa :
“Dimana peran ulama + pemerintah tidak bersatu dan kuat, maka serta merta “aliran sesat” akan tumbuh dengan sendirinya (dan bahkan subur)”.
Dgn kata lain, saya berpendapat bahawa “aliran sesat” ini sesungguhnya bentuk lain dari pelecehan terhadap ulama + pemerintah tadi. Kita bisa lihat didua negara (yg kita kenal baik), yaitu Malaysia dan Arab Saudi. Didua negara ini, nyaris (kalau tdk 100%), kita tak mendengar yang namanya aliran sesat (mudah2an saya tak salah amati). Kenapa? Karena begitu muncul (sedikit saja) gejala, maka Mufti akan langsung berbicara dan memberi rekomendasi, shg tidak memberi ruang gerak bagi pencetus dan pengikutnya untuk melar dan mengembung. [btw mungkin ini sejalan dengan opini penulis]
Jangankan aliran sesat, isu HAM dan Liberalisme pun nyaris tak terdengar (cam Isuzu Panther aja :)).
Nahh, persoalannya kemudian adalah : apakah adanya kepemimpinan [versi penulis & beberapa comments] yang kuat akan menjadi jaminan ??
Kita tahu bahwa kepemimpinan yang (terlalu) kuat mempunyai kecendrungan untuk anti-demokrasi (Di Arab Saudi, demokrasi adalah bid’ah. Di Malaysia, demokrasi = anarkhis dan penghancuran, claim pemerintah). Efeknya tentu kepada lahirnya kehidupan anti perbedaan, tidak toleran / tasamuh, berpikir monoton alias tak kreatif dan inovatif dan malah benar2 konservatif. Ini menjadi trade mark negara2 kerajaan dibanyak tempat.
[Saya teringat dengan sekelompok "jama'ah" yang mulai banyak di Indonesia, perihal kebiasaannya menjatuhkan vonis bid'ah, sesat, menyimpang, tidak sesuai sunnah, dsb yang sejenis, sampai2 kesimpulan saya, kalau berbeda dengan jama'ahnya berarti sesat. Menurut saya, ini merupakan produk dari negara dengan Grand Mufti dan kepemimpinan yang dominan. Mungkin lain waktu bisa kita bincangkan]
Islam sejatinya berada diantara dua kutub ini alias moderate (dengan batasan tsawabit dan dinamika mutaghayyirat). Karena itu Islam menjadi (satu2nya) alternatif jika kita menginginkan kehidupan yang dinamis (bebas berkreasi, berinovasi demi kemajuan dan peradaban Islami) namun tidak melewati batas2 baku tadi. Islam wasathan, Islam modernis. Islam yang bisa mengatur alam ini dengan berbagai corak pemikiran manusia (yang pasti selalu berkembang), tanpa meninggalkan akar umbi tamadun yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Sunnah Rasulullah saw. Wallahu a’lam.
Salam
wahhhh saya salut sama zal # 2 yang tetap konsisten dengan perjuangan kelompok yang Pak Her sebut “…kalangan (aliran, pemahaman) minoritas…” seperti komen - komen zal dibanyak postingan lainya. Uuups bukan mau maen mayoritas ato minoritas loh yaaa….
@ zal # 2,
wahhh kalo pake konsep anda ==> “…jika kita melihat bentuk yang menyampaikan, memang akan terjadilah fenomena kafir-mengkafirkan, sesat menyesatkan, padahal inikan memang hak kekuasaan Allah,…” jadi mestinya melihat yang mananya ? atau apanya bung zal ??? atau dilihat saja apa yang disampaikan ??? bukankah malah lebih ngawur ???
mari kita balik logika anda…
kalau mayoritas ummat muslim berusaha melindungi agamanya diangap keliru, apakah anda berbicara mewakili Tuhan sehingga anda berani memfonis keliru ? bukankah wilayah ini juga hak kekuasaan ALLAH ? bukankah anda juga telah memiskinkan content kemahakayaan… ?
hehehe…
* kmane neh konconya zal yang laen ?… *
Pak Her, entah “…masalah ini erat kaitannya dengan masalah kepemimpinan. Ummat ini butuh kepemimpinan yang terpercaya, bersama dan terpusat…” atau hal lainnya, tp kalau kita mau sedikit melebarkan pandangan, kita bisa lihat masalah ini bukan muncul dengan sendirinya, bukan “ide gila” yang tiba - tiba hinggap dikepala, semuanya terorganisir dengan rapi, memiliki sumber dana (* paling tidak dana awal *) dan meski tiap - tiap aliran memiliki kelompok tersendiri, mereka sadari atau tidak ada ” main set” besar yang direncanakan oleh si “pelaku dibelakang layar” entah itu lingkup nasional atau malah lebih besar lagi…
Wallahu a’lam bishshawab.
“lakum dinukum waliyadin” bukan berarti boleh merusak “din”, tp untuk berdampingan dengan “din” yang berbeda, semisal aliran - aliran sesat tersebut membuat “din” baru gak masalah, tp kalo masih atas nama “din” ISLAM dan menyesatkan ummat jelas ini harus diluruskan. Kenapa mereka gak buat “din” baru dan namain aja “din megadeth” kek, “din metallica” kek ato “din lenon” kek…
kalau merusak “din” ISLAM, lilahhita’ala kita musnahkan mereka, jika karena hal ini ALLAH murka kepada kita maka serahkan dan kembalikan segala urusan kepada ALLAH SWT.
bukankah ikhtiar itu perlu ? masalah “hasil” dan “restu Illahi” kita kembalikan kepada yang berHAK.
Salam kenal pak,
Bukankah ini zaman ketika peradaban sampai pada puncak kegulitaan? Malam pasti berlalu, dan cahaya yang dijanjikan pasti akan merekah. sedang buih-buih lautan itu akan hilang, dan yang bermanfaatlah yang akan tetap di bumi.
Deal ??
http://rolays.blogspot.com
::salam jumpa lagi fer, terima kasih atas hebat-hebatan ini..
fer jika kukatakan masalah menyesatkan dan memberipetunjuk itu wilayah kekuasaan Allah, silahkan ferry baca sendiri pada AQ 14:2,
Masalah apa itu agama dan Islam, silahkan Ferry baca sendiri pada AQ 5:3,
Masalah apa itu Agama, silahka ferry cari Hadist Rasulullah Muhammad SAW yg muatannya kira-kira seperti ini “telah datang seseorang dari hadapan Rasulullah dan bertanya “apakah agama itu jawab Rasulullah agama itu akhlaq yg baik” lalu dari kanan Beliau dan bertanya “apakah agama itu, jawab beliau agama itu akhlaq yg baik”, dari sebelah kiri Beliau Beliau dan bertanya “apakah agama itu, jawab beliau agama itu akhlaq yg baik”, lalu dari belakang Beliau dan bertanya “apakah agama itu,…Beliau menjawab, apakah Engakau tidak mengerti, itu agar Engkau tidak marah…”, perawinya saya kurang tahu…
Ferr, jika kukatakan masalah bentuk, itu karana sesungguhnya pada tiap bentuk ada keluasan, jika Allah berkata “antara manusia dan Qalbunya, ada hijab” maka yg mana sebenarnya manusianya Fer…,
dan jika Allah berfirman , setelah KUsempurnakan kejadiannya lalu Kami balut dengan Tulang dan daging” sampai disini yang mana manusianya Fer,
Fer, jikapun kamu baca semua buku, dan kamu hafal, bukan disitu letak ilmu, Ilmu adalah salah satu Sifat Allah, bukankah kita juga diberi sifat, apakah sifat itu kita, atau sesuatu dari kita….,
Ferr, aku memang picik dan tak sehebat kamu, aku memang bodoh, engga sepandai siapapun, jadi jika kamu temui aku menulis di blog manapun, sesungguhnya aku belajar dari apa yang kutulis dan apa yang ditulis yang lainnya…
maaf fer, aku bukan perusak “Din”mu masalah “din”mu engkaulah yang membangunnya , aku masih tetap ..”jangankan sudah Islam, bahkan memasuki kafirpun belum” , ingatkan ferr, kalau Rasulullah berkata “tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan Akhlaq”…
wadduh dipanggil pak kyai oleh kyai teknolog… waaah sesama kyai dilarang saling memanggil danam gelarnya heheh
Assalamu’alaikum
@ atasku
“Dan jika ada yang hendak menemui Allah, segerakanlah, namun jangan bunuh diri, jika mati menurutmu cara bertemu, sebab itu amat sangat terlarang, namun jangan menunggu mati karena mati itu merupakan batas waktumu…”
Kalimat ini saya kutip dari blog Abang karena membuat saya terkesima, dan saya rasa amat berkaitan dgn cerita di atas.
Saya sependapat dgn Abang perihal “memberi petunjuk dan memvonis sesat” adalah hak prerogatif Allah SWT, dan kita tdk boleh sliding tackle hak itu.
Abang, banyak memang orang tertipu karena melihat (hanya) yang ma’rifat (dikenal secara umum) saja, tanpa melihat hakikat “Pesan” yang disampaikan Khaliq dan kekasihNya. Namun, perlu kita pahami juga bahwa tidak sedikit pula yang sebaliknya, tertipu oleh hakikat tiada ujung padahal sejogjanya dipahami secara ma’rifat saja. Menjadi konsensus para Professor bahwa kebenaran hakikat (filosofis, punyanya para sufi) selalu mengalahkan kebenaran faktual (yang nota bene seringkali kita hanya melihat dari sisi ini). Saya teringat dgn Al-hallaj yang saking cintanya dgn Allah hingga menyebut (baca mengakui) dirinya pun Al Haq (Kebenaran, Allah). Apakah ini salah ? Ini refleksi cinta yang teramat dalam pada Al Haq ?
Memang Bang, seperti yang Abang bilang, cinta itu membutakan… hilang rasionalitas… mabuk… kaki botol…
Wong CINTA kok dibilang SESAT ?? Susah diterima…
Nah, kalau saya cinta Allah, pingin segera bertemu, lantas saya bunuh diri aja, gimana ?? Boleh…gak ?
Boleh dan tidak itu bukan jalur hakikat lagi, tapi dah ranah ma’rifat (atau kerennya Syari’at). Tentu saja acuannya adalah Al Qur’an & Sunnah, alias ya..kita harus ittiba’, ngikut aturan Nya. Apalagi kalau persoalan masuk ke segmen Aqidah, wilayahnya hitam putih, asasi, Al Qur’an dan Sunnah ttg ini amat terang (ma’rifat banget). Karena itu, siapapun yang melanggarnya serta merta akan ketahuan (meski tak ada yang memvonis dengan alasan menjaga akhlaq). Itulah yang Allah maksudkan dalam QS 2:256. So, jikapun ada yang menasehati/memperingati, anggap itu sebagai wujud CINTA kita akan agama ini dan saudara kita yang menyimpang tadi, bukan mengambil (mendahului) hak Tuhan, justru kita bisa mengejahwantahkan perintahNya disisi yang lain (lihat QS 3:104). Renungkan QS 55:33.
Salam
Adik yang sama2 belajar.
::nuanne, wa’alaiku salaam, makasih, mestinya AQ 14:4 ya…koq bisa ya… :roll:, selaput …selaput.. dasar..karep tak sejalan.. :lol:, hadistnya salah juga ya…he..he…habis datang ingat itu yg tertulis…bisa dibenarin…???, makasih lagi ya…..
@ zal # 12,
wahhh soal hebat menghebatkan saya rasa anda lebih piawai dari saya zal, saya hakul yakin anda jauh lebih pintar dari saya tentang kajian ISLAM, begitu pula dosen - dosen UIN/IAIN yang sealiran dengan anda. Bukankah mereka para DOKTOR dalam kajian ISLAM ? atau barangkali anda juga sedang mengambil DOKTOR dalam kajian ISLAM ?
Perbedaanya barangkali zal, saya masih diberi rizqi keselamatan aqidah dari ALLAH, meski saya lebih bodoh dari anda tapi ALLAH masih melindungi saya, saya rasa itu saja bedanya.
Saya rasa jawaban nuane # 14 sudah mempertegas kengawuran teori pembenaran pemahaman AKIDAH ISLAM secara serampangan. Ahklak yang baik adalah buah dari ketekunan terhadap syariat, jika anda berteori pada contoh kehidupaan saat ini disekitar kita yang masih amburadul padahal mayoritas adalah ummat muslim barangkali kita coba periksa lagi pelaksanaan syari yang sudah kita lakukan, bukan menjadi pembenaran akan kesimpulan bahwa agama hanya sekedar baju dan yang penting adalah Tuhan.
Salam Damai.
Berbagai wacana tentang khilafah telah meyakinkan bahwa problematika umat manusia sekarang ini, butuh solusi tuntas. dan solusi tuntas itu butuh suatu motor yang beraqidah benar separti para ulama NU dan kadernya. Yang patut kita garisbawahi bahwa khilafah hanya akan bisa ditegakkan oleh ulama-ulama seperti kader-kader NU. Kalau khilafah berdiri di negeri ini, maka NU-lah yang akan menegakkannya bukan yang lain.