Berapa Biaya untuk Koneksi (Bandwidth) Internet di Sebuah Perguruan Tinggi ? 20 juta per bulan : MAHAL AMAT ?
19 Oktober, 2007 oleh Herianto
—
Mahal ?
Ah, mosok.
—
Begini,
Berapa jumlah manusia2 di lembaga tersebut ? Katakanlah : 3000 an.
Berapa total pengguna aktif per hari ? Katakanlah 10% saja : 300 an.
Berapa kemungkinan terbanyak penggunaan serempak (dalam waktu yg bersamaan) setiap hari ? Katakanlah : 100 titik.
Berapa bandwidth yang disewa tersebut ? Katakanlah dengan biaya sedemikian (20 juta-an) : 256 Kbps lease line, Clear (1:1).
Untuk apa saja koneksi internet itu digunakan ? Katakanlah untuk : komunikasi remote dan/atau on line (emailling, chatting, blogging), mengikuti berita/isu terbaru, download bahan perkuliahan, download lagu2 terbaru (mp3), download software gratisan, bahkan buat koneksi web server ke publik/internet.
Cukupkah bandwidth sedemikian untuk memenuhi kebutuhan di atas ? Tidak.
Kenapa tidak ? Katakanlah : karena rata2 kebutuhan lebih dari itu, karena pengguna tidak disiplin dalam berbagi bandwidth (rebutan download mlulu), karena fasilitas management bandwidth belum optimal.
Mungkinkah dengan menerapkan policy (user/bandwidth management) yg ketat penggunaan bandwidth 256 kbps untuk kebutuhan di atas dapat dioptimalkan ? Wah, berat.
Butuh bandwidth yang lebih. Tentu dengan biaya yg lebih pula.
Mahal amat ?
Ah, mosok.
—
Anda orang IT ? Atau anda orang yang mengenal IT level “nyrempet2″ dikit ? Jika tidak, maka teriakan anda tentang betapa mahalnya harga koneksi internet untuk sebuah lembaga semacam perguruan tinggi dengan kemampuan anggaran pas2 an, tentu bisa jadi lebih keras. “Mahal amat ?”. Bahkan jika ada pihak2 yg mencoba mengeruk di air keruh (biasalah, adat anak bangsa), maka teriakan anda jadi lebih keras lagi, “Mahal amat !!!”.
—
Berbicara tentang harga kebutuhan IT khususnya koneksi (bandwidth) internet di negeri ini memang masih cukup mahal. Pemerintah melalui PT. Telkom memang telah mencoba melakukan sejumlah solusi bagi koneksi internet berbiaya murah. Katakanlah contohnya adalah : Speedy. Tetapi biaya [relatif] murah speedy tersebut ternyata juga diiringi dengan murahnya [maksudnya meriahnya] para konsumen mengeluh tentang layanan ini. Yang kita tunggu adalah, hadirnya teknologi WIMAX yg konon katanya bisa lebih kenceng, lebih murah dan lebih mudah. Tapi kapan ?
—
Coba bertanya lagi ?
Berapa biaya kebutuhan listrik yang dikeluarkan perguruan tinggi tersebut per bulan ?
Berapa biaya kebutuhan air/PAM yang dikeluarkan perguruan tinggi tersebut per bulan ?
Berapa biaya petugas keamanan (satpam) per bulan ?
………
Daftarkan lebih banyak lagi. Ayo !
Berapa energi percuma yg dihabiskan hanya sekedar untuk menggosip di sudut2 perehatan, jika itu diuangkan, per bulan ? Belum lagi dosanya.
Bandingkan dengan manfaat apa yang dapat diperoleh dari keberadaan fasilitas IT (bandwidth) tersebut ? Untuk dosennya, untuk mahasiswanya, dan untuk tim manajemennya.
—
Ketahuilah,
Ini jaman disebut juga dengan jaman informasi.
Anda lupa. Eits… maksudnya : jangan lupa !
Apa yg hendak anda katakan jika anda tak punya koneksi ke sumber informasi terlengkap, terbesar, terheboh di jaman ini. Apa yang bisa ada di kepala anda jika anda terkungkung di dalam tempurungnya para katak. Jika anda ibarat katak dalam tempurung. Maka, hari ini anda ngomong a, b c, d, sementara orang lain sambil tersenyum kecut bahkan sinis mendengarnya. Tau kenapa ? Karena dia sudah membicarakannya 6 (enam) bulan yg lalu. Hari ini dia justru sudah bicara x, y, z, aa, ab, dstnya.
Anda yang pengen disebut pemimpin. Jangan cuma ngaku2.
Sangat bisa jadi anda akan dipimpin oleh manusia yang anda kira anda pimpin.
Karena di jaman ini, yang paling pantas memimpin kita adalah : sang penguasa informasi.
Memimpin, bukan lagi [sekedar] kemampuan membuat orang lain melakukan pekerjaan anda. Itu pemahaman kuno dan sangat primitif.
Sang penguasa informasi. Peganglah dunia IT, dunia ide !
Percayakan pada ahlinya. Siapa ?
Ide-ide anda.
Ide-ide anda.
Ide-ide anda.
Itu sudah lebih dari cukup.
—————
*Jika anda bekerja di sebuah lembaga non perguruan tinggi, silahkan ganti istilahnya dengan yg bersesuaian.
Membayangkan apa ? Mahal amat ? Bisa Ya, bisa TIDAK. ![]()












Masalahnya sih pak memang bandwith di Indonesia itu mahalnya minta ampun, di bandingkan dengan negara di luar Indonesia, seperti USA misalnya.
Saya nggak tahu itu mahal karena biaya teknis, regulasi, atau lisensi? Mungkin ada yang bisa menjelaskan?
Herianto :
Biasanya mereka menjawab : untuk menutupi biaya infrastruktur (teknis).
Tapi mnurut saya jika sekiranya regulasi dan lisensi itu mau pro terhadap rakyat (bukan terhadap kepentingan bisnis), pasti bisa lebih miring.
tiket pesawat bisa murah … bandwith?
Herianto :
Iya juga ya…
Mungkin karena gak ada istilah bandwidth bekas kali pak, kalo pesawat2 murah itu kan kabarnya karena pesawat bekas yg dah gak dipakai lagi di tempat asalnya.
hahaha… ketahuan sekali XX nya.. masa sih ampe 20 juta.. wong sejam saja warnet cuma 2jt unlimit lagi..
Herianto :
Ada faktor XX nya ya pak ?
Kalo saya bukan faktor XX pak, tapi faktor XXXXXX ….
ngimpi kali ye ada WIMAX…. mo ditaruh kemana TELKOMnya… :D… lama2 bisa ndak laku kali ye…
Herianto :
Yang begitulah kalo masalah kepentingan orang banyak dikaitkan ke masalah bisnis, apalagi pihak regulator turut terlibat di sana (proyek bisnis tersebut). Perhatikan masalah coverage CDMA yg lemet benar plus fasilitas voIP kita yg ditahan melalui regulasi. Cape.. deh. Rakyat memang belum beruntung, karena regulator ikutan cari untung…
halah mahal Paaakkk …
hihihihi…
nahhh biasanya perguruan tinggi kan gak se “ekstreem” gicu Pak ngitungnya, katakanlah azaz nya “hanya” supaya gak kalah nilai jualnya sama PT lainnya, ya udah pasang aja koneksi yang pake wireless via pc-router link internasionalnya 128 kbps clear ling local bisa 1 mbps, sebulan paling 7,5 juta-an tp masalah traffic urusan belakangan yang penting buat “iklan” kan dah menjual he.. he..
“PTS anu memiliki hot spot disetiap sudut kampusnya… bla… bla…” hihihihhi…
Herianto :
He he he…
Masalahnya di kampus saya nyaris se “ekstreem” gicu…
Memang gak semahal yg disebutkan di atas, tapi ya menurut sebagian user masih lomot juga… Menurt saya karena gara2 usernya juga yg gak bisa menahan hawa nafsu “download” nya, plus ktidak-mampuan mengelola OS agar tak dilomotkan oleh malicoius program, plus management bandwidth, plus bandwidth yg memang pas2 an. Saya baru mendengar kampus UI yg user kbanyakan puas…
Ya, ya, ya, dunia IT di negeri ini masih tergolong mahala, padahal di banyak negara, katanya ini lho, pemerintah menggartiskan buat rakyatnya. Ya, seperti Pak Heri katakan tadi, kalau rakyat negeri ini jarang bergaul dengan sang penguasa informasi, ya, akhirnya kita terpaksa harus jadi bulan2an banga lain.
OK, salam hangat.
Herianto :
Setelah kalah (talat sadar) di bidang pendidikan, saat ini tampaknya kita juga bakalan kalah (telat sadar) di pentingnya IT (maksudnya fasilitas IT yg murah dan mudah untuk rakyat) …
Mastikah kalah terus… Ya..h, nasib kali #jadi fatalistik nih#
Ralat dikit, Pak. mahala = mahal, menggartiskan = menggratiskan, banga = bangsa.
*Maklum sering nggak lihat tombol keyboard saat ngetik*
Herianto :
Tapi masih liat monitor kan pak…
Ada teman saya guru kalo nulis gak liat ke papan tulis (white board), jangan2 p Sawali juga gitu…
Tapi walau salah ketik, masih ngerti kok pak maskudnya ..
Ternyata setelah tadi aku tanya pada temen-temen, memang biaya infrastruktur itu yang mahal pak. Misalnya kalo mo nanem kabel optik biasanya setoran ke beberapa instansi tuh.
Herianto :

Setoran ?
Kalo pengalaman saya ikutan proyek2 IT, siapa2 yg gak dapat setoran pasti nafsu provokator dan kritikator-nya meninggi…
Setoran ?
Inilah jenis korupsi terbesar anak bangsa…
Di proyek IT di kampus kmaren, ini berhasil kami habisi, tapi kami juga di habisi para penguber setoran itu.
Masalahnya lagi2 seperti lingkaran setan.
Biaya bandwidth mahal karena apa?? Jawabannya: Yah, karena pengguna internet di indonesia relatif sedikit sedangkan biaya infrastruktur mahal. Jadi kalau dijual murah tidak akan memenuhi Break-even Point . Di S’pore biaya infrastruktur jauh lebih murah karena negaranya ya cuma sebesar upil.
Sekarang ditanya, lho kenapa pengguna internet di indonesia relatif sedikit? Jawabannya: Ya karena biaya bandwidth mahal!!
Herianto :
Mmmm…
Wah ini masukin bagus dari mas Yari…
Gmana kalo solusinya dimulai dari biaya murah…
#Mulai mikir2 juga #
biaya infrastruktur itu sudah pasti mahal
namun tetekbengeknya itu yang bikin lebih mahal
Herianto :
Tetekbengek ?
Kayak istilah orang medan pak. Salam kenal nih..
Mahal Amittttttttttttttttttttttt
Herianto :
Amittttttttttttt itu istilah ambon ya mas ?
Trus kalo mahal apa nih
oleh-olehsarannya ?tapi mungkin murah buat korup
*kaburrrrrr*
Herianto :
Ciri khas korup… suka kabur
mo bikin warnet, bandwidth mahal
mo bikin gamenet, spec komputernya juga mahal
buat nikah?? ga balik modal donk