Energi Baru dan Terbarukan
Sulit untuk mengatakan YA, bahwa ritual sebulan penuh kmaren (ramadhan) telah memberikan energi baru dan terbarukan pada setiap kita. Energi baru dan terbarukan dalam mengendalikan kemauan diri, dalam mengarahkan hawa nafsu dan dalam mengontrol pikiran sendiri agar tak lagi angkuh dan sudi patuh pada petunjuk-NYA itu.
Tau kenapa ?
Karena waktu sebulan itu saja tak cukup. Mengira bahwa waktu pelatihan sebulan (ramadhan) itu telah cukup untuk mengisi energi yg dibutuhkan selama 11 bulan berikutnya tentu bisa kecewa. Sekali lagi, karena waktu sebulan itu saja tak cukup.
Seorang pemikir Muslim dari Mesir, As-Syahid Sayyid Qutub mengingatkan bahwa untuk menjaga kestabilan energi tersebut, setidaknya kita butuh 4 (empat) mekanisme yang harus dijaga terus menerus (istimrar).
Yang pertama adalah menjaga ILMU.
Ilmu dalam wacana keislaman adalah pintu untuk memasuki khasanah Islam itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa memasuki suatu tempat dan menikmati segala fasilitas di dalamnya jika tanpa mengetahui (tanpa memiliki ilmu) tentang tempat itu. Semakin tipis dan sempit ilmu keislaman yg kita miliki semakin sedikit kita mampu mengagumi dan mendapatkan segala fasilitas yg ada padanya.
Yang kedua menjaga AMAL.
Amal muncul dari ilmu. Bahkan tidak disebut amal yang baik (amal shaleh) jika sebelumnya tidak terdorong oleh ilmu yang benar. Sebaliknya ilmu yang benar adalah ilmu yang mendorong kita untuk beramal [shaleh]. Perhatikanlah, betapa [ada] sejumlah ilmu di zaman ini yg justru dapat melemahkan kemauan kita untuk beramal. Sederhana saja, ilmu tanpa amal atau amal tanpa ilmu, ya sama saja… apalah gunanya.
Yang ketiga menjaga tradisi NASEHAT-menasehati.
Ini yang di zaman kita justru cendrung ter-reduksi. Ter-reduksi manfaatnya. Ada yg karena terlampau memberat2kannya, dan sebaliknya ada yg karena terlampau menggampang2kannya. Padahal tradisi nasehat-menasehati (saling mengingatkan) sangat besar pengaruhnya dalam menjaga kstabilan [energi] iman, baik yang melakukan (da’i) maupun yang diperlakukan (mad’u). Golongan yg memberatkan aktivitas ini mengira bahwa amalan nasehat-menasehati (berdakwah) harus melalui persyaratan yg sedemikian ketat, bahkan menakut2i sejumlah pelaku dengan memanfaatkan ayat yg sesungguhnya berfungsi utk mengingatkan saja, bukan melarang untuk saling menasehati. Di sisi lain golongan yg menggampangkan aktivitas ini lebih bahaya lagi, karena mereka berbicara tentang agama ini dengan melupakan referensi dari agama itu sendiri. Mereka mengira akal dan Tuhan adalah dua objek yg sama, akal adalah Tuhan kami dan Tuhan adalah apa yg ada di akal kami. Perlu keseimbangan dalam memahami fenomena ini. Teruslah [turut] berdakwah sambil [tetap] terus memperbaiki diri. Siapa yg berani mengaku paling tak memiliki dosa dan paling memiliki ilmu, kecuali usaha untuk mencapai itu semua. Termasuk usaha itu adalah melalui tradisi saling nasehat-menasehati ini.
Yang keempat menjaga PERGAULAN.
Pergaulan (muammalah) jelas dapat mempengaruhi kualitas energi iman kita. Bukankah cara termudah untuk menilai seseorang dapat dilakukan dengan melihat pada komunitas bagaimana dia berkumpul (berteman). Seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan ketiban harumnya dan seseorang yang berteman dengan tukang besi akan ketiban percik api pemanasnya. Ini kiasan, dan butuh kearifan untuk memahaminya. Tetapi pengaruh pergaulan memang luar biasa dalam mengarahkan diri kita, bahkan seringkali kita bisa lebih terpengaruh pada suasana sekitar ketimbang bisikan nurani sendiri. Sebagian kita kadangkala lebih khawatir kehilangan pergaulan (simpati komunitas) ketimbang kehilangan bisikan hatinya. Maka, pilih2 lah pergaulanmu.
Waktu sebulan itu saja tak cukup. Tak cukup dalam mempersiapkan energi diri bagi kebutuhan di 11 bulan berikutnya nanti. Perlu meneruskannya melalui sejumlah amalan yang terkendali dan sadar. Misalkan melalui 4 (empat) mekanisme seperti di atas. Perhatikan lagi dengan cara apa kita bisa stabil menjaga ke 4 (empat) mekanisme tersebut.












Yah… tereduksi… tak terasa keinginan untuk menafsirkan dan memahami apa yang kita pahami mengharuskan orang lain untuk mengerti seperti apa yang kita mau. Kita melihat orang lain seperti apa yang ingin kita lihat, kita beribadah maka Allah “menjadi seperti yang kita inginkan”.
Kita lupa untuk mengingat bahwa kita mencoba memahami asmaNya, sehingga semakin jauh dari mengenalNya.
Semoga dikuatkan hati untuk mengingatNya pada setiap gerak langkah dan nafas kita…
Cukupkah energi yang ada, atau kita enggan memanfaatkan energi yang diberikanNya….?
————
Herianto :
Apakah karakter ini fitrah manusia, tabiat atau semacam penyimpangan ?
Kita juga mampu mengenal-NYA melalui ciptaan-NYA.
Kita bahkan sering tak sadar kalo kita memiliki energi itu…
yang nasehat-menasehati kalau di budaya kita masih terbilang belum begitu berjalan dengan baik, sebabnya banyak yang masih beranggapan bahwa ‘menasihati’ orang merupakan manifestasi dari ‘menggurui’ dan juga ’sok tahu’, walaupun tentu tidak semua bangsa kita beranggapan demikian.
Begitu juga yang nomor satu yaitu menjaga ilmu. banyak yang beranggapan bahwa menjaga apalagi menambah ilmu, berhenti pada saat kita meninggalkan bangku sekolah/kuliah. Yang difikirkan hanya materi saja. Itulah yang sulit.
Kalau nomor dua, menjaga amal, mungkin sudah agak lumayan ya, cuma ya itu, beberapa masih ada yang terlihat sedikit riya. Hehehe….
Menjaga Pergaulan, ya itu dia, terkadang kita hanya menilai seseorang dari luarnya saja atau sepintas lalu saja, tanpa melihat lebih dalam lagi kualitas (dalam arti kata luas) seseorang, sehingga sering terjadi salah arah dalam pergaulan kita tanpa kita sadari.
———–
Herianto :
Benar mas Yari,
[1] Ada yang bilang : “Mengajak bukan mengejek”.
[2] Mekanisme menjaga ilmu atau menuntut ilmu terus menerus perlu diusahakan dengan sengaja…
[3] Amal dan riya… wadduh…
[4] Setelah pergaulan kita sendiri, selanjutnya pergaulan anak2 kita. hendak dibagemanakan mereka di zaman yg penuh jebakan ini….
Energi baru dan terbarukan.. hmm istilah keren bang…
Empat hal itu cocok sekali bahkan bisa ditambah terus sesuai penafsirankita.. namun sya tidak mau menyaingin Sayyid Qutb.
Menurut Kang Einstein, Energi itu tidak bisa musnah.. berarti puasa jika energinya semakin penuh maka ia akan terbarukan terus hingga mencapai limit 11 bulan .. energi puasa itu akan nyetrum ke semua komponen kebaikan fiduunya dalam profesi maupun kreasi heheh maaf pak OOT. nih komennya soale buru2 ditelponin terusss.. suruh pulang wis bengi jarene…
Herianto :
Benar pak, dari puasa [bisa] bisa jadi kita menemukan-kembali energi yg sebelumnya belum kita miliki atau menyegarkan energi yg sebelumnya memang telah kita temukan. Energi2 itu bisa jadi ibarat sayap dari metamorfosa itu…
Saya lebih terfokus pada “PERGAULAN”, dengan pergaulan yang baik, insyaAllah ILMU bisa diAMALkan, NASEHATpun akan lebih terasa mudah untuk disampaikan… Apalagi nasehat seperti kolaborasi Rasulullah dan Malaikat Jibril dalam menyampaikan kepada shahabat2nya…
Herianto :
Manusia adalah makhluk yg memiliki sesuatu (qalbi) yg sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar (mudah berbolak-balik). Prinsip ini harus dimanfaatkanagar kita senantiasa berada pada kebaikan. Teman bersama adalah pergaulan utama, dan dunia yg lebih luas ada tempat mengujinya… Bagaimana pun kita tak mungkin berjuang atau berusaha apalagi dalam hal kebaikan dengan sendiri2… Kebersamaan (pilihan pergaulan utama) akan membuat kita lebih kuat …
Sebenarnya di bulan puasa ramadhan tu enak banget…ati terasa adem…ayem….
met kenal