Bagi saya teman2 FPI adalah saudara2 saya sendiri yg patut diperhatikan. Ada sejumlah potensi yg mampu mereka perlihatkan, walau beberapa kalangan tidak menyukainya. Beberapa yg tidak disukai kalangan tersebut pun ssungguhnya juga tidak saya sukai. Tetapi alhamdulillah, ketidak-sukaan tersebut tidak membuat saya grasa-grusu untuk menuntut pembubaran organisasi Islam yg tergolong baru ini. Ada satu potensi yg mereka miliki yg tidak dimiliki oleh organisasi Islam lain di tanah air, yaitu ghirahnya dalam memberantas kemaksiatan (Nahi Munkar). Katakanlah mereka melakukannya secara berlebihan (membabi-buta), tetapi lemahnya organisasi lain dalam memperhatikan bagian ini semestinya menjadi lecutan internal bagi kita2, atau membiarkan mereka kembali menyadari sejumlah kekeliruan yg ada.
—
Melakukan profesi nahi munkar memang tidak gampang. Ibrahim as berhasil melakukannya dengan membabat-habis semua patung-patung yang dijadikan simbol tuhan bagi kaum kuffar di masanya. Di masa rasulullah tahapan ini juga lebih dilakukan ketika kondisi keummatan cendrung telah stabil dan segala sesuatunya telah tersampaikan. Memang selalu saja ada orang2 yg keras kepala dan sekaligus keras hati dalam mengamalkan kebaikan2 yg disodorkan-NYA. Adalah tugas bersama untuk membantu manusia2 yang modelnya bagaimana pun, agar dapat menikmati hidup ini sesuai dengan petunjuk-NYA.
Hukum positip sebenarnya juga mengakui hal ini, makanya selalu ada yg memegang peran pengawal kebaikan bersama (misal disebutlah polisi) dan ada istilah hukuman bagi yang kebiasaannya memang membangkang. Bukankah bentuk hukuman di dalam sistem hukum positip juga acap dilakukan dengan kekerasan. Terserah, tersembunyi atau terang-terangan.
—
Menurut saya apa yg diperlihatkan oleh teman2 FPI biarlah kita anggap sebagai bentuk ke-satire-an mereka. Saya tahu kalo sebenarnya mereka tahu bahwa mereka telah mengambil alih pekerjaan pihak keamanan di negeri ini (kepolisian). Anggap aja mereka sekedar hanya ingin mengingatkan agar petugas2 di kepolisian tidak lalai. Melalui sejumlah media Islam akhirnya saya juga tahu kalo sebenarnya sebelumnya mereka telah berkomunikasi dengan pihak kepolisian tentang tindak pelanggaran yg dilakukan oleh beberapa pihak di tempat umum [lagi]. Saya juga membaca dari media tersebut bahwa pihak2 yg melanggar juga telah diberitahu sebelumnya tentang pelanggaran tersebut. Lalu mereka melakukan apa yg semestinya dilakukan, terutama sesuai dengan perintah agama [Islam] yang dipahaminya.
Yang salah kalo mereka terus-terusan melakukan hal tersebut tanpa mempertimbangkan adanya kesadaran kembali pihak kepolisian. Juga salah jika mereka melakukannya secara serampangan tanpa melihat kiri kanan terlebih dahulu.
—
Siapa pun yang tidak menyukai FPI kebanyakan karena pertimbangan atas komunitasnya sendiri dan pertimbangan struktur yg lebih universal. Yang dimaksud dengan komunitasnya sendiri adalah pihak-pihak tertentu yang secara gegabah komunitasnya telah diapa-apa-in oleh kelompok FPI ini. Sedang yg dimaksud dengan struktur universal adalah semisal para pendukung hukum negara yang telah dengan rela menyerahkan kehidupannya bagi negara ini, dimana bagi mereka kaidah2 universal harus dimenangkan dari kaidah pemahaman keagamaan sepihak.
—
Suka atau tidak suka itu adalah pilihan.
Tetapi unsur-unsur yang dapat mengganggu hajat hidup orang banyak harus sama-sama disingkirkan. Fenomena pelacuran, perjudian dan mabuk2an adalah bukti2 kemaksiatan yang dapat menggiring manusia2 bangsa ini ke arah kemaksiatan di level atasnya (korupsi, kolusi dan nepotisme). Fenomena keberandalan FPI memang tidak pantas diteruskan, tetapi sesekali mereka perlu. Saya suka kok.
Pihak kepolisian semestinya didekati, bukan dijauhi dan jangan dianggap sebagai pesakitan yg malang. Inti dari kestabilan masyarakat adalah polisi kita. Saya suka dengan strategi mendekati mereka untuk mengajaknya berbuat yang sepatutnya walau tangannya telah berkotoran dimana-mana. Sama dengan FPI, mereka saudara2 saya. Sebangsa dan se tanah air, se-aqidah lagi. Jangan [dulu] pancing kebringasan mereka, dengan kriminal, kemaksiatan dan caci maki.
Jangan pancing kebringasan mereka, dengan kriminal, kemaksiatan dan caci maki.
Polisi dan FPI kita.











sebenernya sayah binun jga menghadapi kasus kayak gini.. maksudnya dalam satu sisi FPI bertindak tidak bener tapi dalam sisi lain Aparat negara ini terutama POLRI/TNI tidak bisa bersikap sebagaimana pelindung rakyat..
mungkin ini hanya sebab akibat satu sisi Negara Mandul satu sisi Rakyat Beringas dan keberingasan rakyat ini tertumpah dibawah bendera agama
haiya puyeng dah
ikut puyeng.
wah kok seperti mendukung FPI yah.. atau saya yang salah… bagaimanapun, FPI dengan kebringasannya (tidak tepat kalau mengatakan FPI tuh satire; satire tuh masuk wilayah bahasa, bukan wilayah tindakan, sedangkan FPI saya kira sudah masuk wilayah tindakan) , adalah sesuatu yang tidak bijak dan berlebihan…
Kemaksiatan sering kali juga merupakan buah “dari satu sisi”, minuman keras tuh maksiat dalam pandangan Islam (FPI dalam hal ini, karena beberapa pribadi yang beragama islam juga secara diam-diam karena takut dibilang kafir atau dimusuhi, tidak menganggap minuman keras sebagai kemaksiatan), tetapi dalam pandangan yang bukan-islam (entah itu dari pihak manapun) bukan merupakan kemaksiatan (orang bule sebagai turis asing misalnya, atau orang islam di daerah yang sudah mengakar minum-minuman, seperti clubnigth, atau daerah wonogiri tempat saya KKN dulu)
Tapi entahlah, semua juga lagi berproses. Dalam pandangan saya sendiri, minum minuman keras, merokok, dan sejenisnya bukan merupakan perbuatan kriminal (walau saya bukan peminum, atau perokok tulen), tetapi jika itu sudah berlebihan dan mengganggu kenyamanan orang lain secara fisik dan mental (memukul, mengancam, merusak, membahayakan diri orang lain, sebagaimana tindakan FPI yang sempat saya saksikan lewat televisi) itu merupakan tidakan kriminal.
Lagi pula, minuman keras juga merupakan salah satu penghasil devisa yang tidak sedikit, pabrik gula seperti madukismo di yogyakarta juga mengekspore “minuman seperti ini” untuk menghidupi para karyawan yang notabene beragama “islam”.
Salam Damai di Hati
@almascatie
Sama seperti saya dulu, sebelum nikah juga banyak binun nya.
Lha… ini tentang apa ya ?
Oh tentang FPI.
Saya sebenarnya salut juga dengan keberanian mereka ketimbang bapak2 polisi kita, tetapi itu kan bukan wilayah mereka secara UU negara. Kepikiran oleh saya, mereka pantas melakukan itu, tapi sekali2 aja ya…
Haiya puyeng dah…
#Ternyata yg sudah nikah bisa binun juga ya#
Ngliat almas jadi kangen om deKing nih…
@danalingga
Gara2 almas ya…
Iya tuh almas, buat binun..
#Lempar batu sembunyi tangan, eh lempar kata sembunyi makna#
@Suluh
Ada sejumlah peraturan yg ternyata oleh polisi kita entah karena gak sampe hati atau karena takut, atau karena… (apa ya, ada yg bilang kena cogok), ternyata mereka sendiri gak berani menindaknya. Nah, beberapa peraturan yg berkaitan dengan agama, oleh FPI akibat gak sabaran mereka ambil alih. Saya mendukung ini (yg ada UU pelarangannya), tapi jangan keterusan, sekedar menyetrum ingatan pak police aja. Gak tau lah niat FPI selanjutnya…
Tentang istilah satire…
Katakanlah ini analogi aja. Memang gak cocok menyambung paksa antara istilah “satire” di bahasa dan di tindakan.
Coba pahami secara kontekstual aja, jangan literal…
Tapi seperti kata si Joe kemaren, satire bahasa mudah dihindari, satire tindakan sukar dihindari… Mungkin si Joe pernah buka warungnya di bulan puasa, padahal maksud si Joe kan untuk santapan berbuka …
tapi, kalau memang FPI itu berniat menyindir aparat keamanan (baca polisi), kenapa mereka nggak berani nyerbu kantor polisi ya?
btw…. salam kenal ya pak
Usul!
*jingkrak2 sambil nunjuk tangan*
gimana kalo jangan beringas, Pak?
@mardun
Apa mungkin ya FPI itu antek2 nya polisi…
Dan kenapa juga pak polisi kabarnya main aksi diam dengan sejumlah tindakan FPI ?
Apa mereka maen mata ?
Atau pak polisinya bosan ngurus yg gituan, atau karena merasa bersalah juga, atau justru bersyukur karena pekerjaannya diselesaikan oleh tim FPI…
Saya tidak sepenuhnya mendukung prilaku FPI, tapi tidak suka juga dengan opini semacam mem-vonis FPI, seperti seolah2 mereka preman bayaran. Atau men-generalisir agar organisasi itu dibubarkan aja.
Media secara umum jauh lebih memperburuk citra FPI ketimbang keburukan sebenarnya yg mereka miliki.
Salam kenal, sorry tadi si site nya lupa…
@calonorangtenarsedunia
Gmana kalo tanpa bringas ternyata polisi dan pelakunya selama ini “tenang-adem” saja…
Polisi anti teroris itu kan bringas2… Kenapa ? Karena teroris itu sudah keterlampauan…
Kenapa mereka gak bringas pada kemaksitan yang diberingasin FPI …
Bukankah duluan telur dari ayam, eh duluan ayam dari telur, eh duluan mana ya ?
Binun juga…
wah, kalau yang itu (antek polisi) belum kepikiran pak. Tapi kalau memang benar alangkah sayangnya…. Kenapa harus ikon salah satu agama, dalam hal ini Islam yang digunakan untuk kamuflase ya?
Kan mereka bisa saja mengatasnamakan “Pasukan Penjaga Moral” atau sejenisnya
Herianto :
Sejumlah teori (baca:prasangka) telah dikembang-sebarkan untuk menjelaskan fenomena FPI. Teman2 sesama Muslim yg merasa gerah mengajukan prasangka melalui opini2 berikut :
- FPI itu disusupi antek2 intel untuk mempermudah menyerang Islam radikal
- FPI itu preman bayaran yg berkedok agama [Islam]
- FPI itu salah satu aliran Islam yang anti toleran
Sejumlah media telah berjasa dalam memperburuk citra FPI. Perhatikan di televisi, mereka mempertontonkan kebringasan gerombolan FPI tanpa klarifikasi (pemberitaan) kenapa itu terjadi, bahkan klarifikasi apa pun dianggap nista. Opini yang mereka kembangkan telah mendogma diri mereka sendiri : FPI harus disingkirkan.
Penyeimbangan opini perlu kita lakukan.
Mereka [barangkali] tidak sebaik yg mereka sangka tetapi [tentu saja] tidak seburuk yg kita duga.
Saya rasa memang bentuk satir yang paling mengena ketika dimana-mana para pemuka agama termasuk Islam berusaha mendampingkan nama agama mereka dengan kata ‘damai’, sementara sekelompok penganut agama yang sama menunjukkan tingkah laku mereka yang sangat ‘damai’
Ditambah lagi apologi bahwa mereka itu sekadar oknum yang menyimpang, ah ternyata agama dan kitab sucinya memang penuh dengan hal-hal satir.
Salam kenal pak Herianto.
Herianto :
Fenomena satire diungkapkan dengan gaya satire.
Biar saya beri istilah : Rekursivitas ke”satir”an.
Salam kenal juga…
Seru aja ada yg begituan……. Emang terkadang perlu juga ada yg bertindak sedikit represif (bener ga nulisnya).
Tapi, sy suka malu klo ngeliat di tv kebrutalannya. Ga tau knpa…..
Herianto :
Sama… dong:D
Sama juga…
Kok bisa ya lihat yg seru sambil malu2…
Media masa kayaknya berjasa juga membuat kita sama dan malu2…
Ali bin Abi Thalib r.a. merupakan teladan yang luar biasa. Walau berseberangan dengan kaum Khawarij (yg mengkafirkan orang2 Islam yg tidak sepaham dg mereka), beliau menyikapi mereka dengan adil.
Mudah2an Mas Herianto bisa lebih baik drpd beliau.
Amin.
Herianto :
Benar, kita harus berlaku adil dalam menyikapi teman2 FPI ini…
Walau berseberangan dengan kaum Khawarij (yg keras spt FPI), Ali bin Abi Thalib bersikap adil kpd mereka.
Semoga kita bisa adil pula seperti beliau.
Amin.
Herianto :
SubhanaLlah… bahkan walau sampe Ali ra terbunuh oleh tangan2 mereka pula…
Semoga kita dan FPI dapat mengambil pelajaran bersama..
Kenapa satire dalam kata lebih bisa dimaklumi ketimbang “satire dalam tindakan” ? padahal akibatnya bisa jadi lebih merusak satire dalam kata. Dalam domain umum mungkin satire dalam kata bisa diterima berdasarkan azaz freespeach, tapi dalam domain agama satire dalam kata bisa sangat berbahaya.
Sudah bukan rahasaia lagi bahwa seringkali para pengagum dan penyebar “islib” bersembunyi dalam satire agama ini (* yang seringkali tentunya men-satire-kan ISLAM *) mengaburkan yang jelas dan membelokan yang samar, bagi sebagian ummat mungkin tidak terlalu berpengaruh tapi bagaimana buat ummat yang masih dalam proses pembelajaran ?
Bahkan terbukti pengikut “islib” ini lebih banyak didominasi kaum muda yang sangat terdidik dan cerdas (* cerdas diluar masalah akidah *).
Masihkah menganggap satire dalam kata bisa dimaklumi ?
Salam Damai.
Herianto :
Mulutmu harimaumu…
Bukankah lidah dapat lebih tajam dari pedang, karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…
Kekerasan makna bisa lebih berbahaya dari kekerasan nyata. Selalu ada cara untuk ber-satire dengan lebih baik…
Gmana ya ?
*ngakak guling-guling*
Btw, bagus juga, melihat dari sudut pandang berbeda. *insert Nat Geo advertising here*
Herianto :
Hati2 pak kopral kalo lagi gulang-galing, ntar pistolnya lepas dari sarang…
Buka kamus dulu, apa ya…
Kami mengundang Bang Heri menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/
Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.