Islamku, Islammu : Antara Simbol dan Substansi
19 September, 2007 oleh Herianto
Mencari irisan di antara dimensi simbol dan substansi
Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.
(1) Muslim minus shalat
Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat ?
Jawabnya : Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi saya shalat ? Bahkan saya menyaksikan mereka2 yang shalat kebanyakan tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar tersebut ?
(2) Muslim minus shalat, lagi
Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat ?
Jawabnya : Pernyataan anda sangat literal/tekstual kawan, substansi dari diutusnya rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Waktu itu memang ada sebagian orang arab di Mekkah yang dianggap hanif (berakhlak baik) yg melakukan tradisi [ritual] shalat. Lalu antara tradisi shalat dan akhlak yang baik ini diasosiasikan sedemikian untuk mengarah ke target perbaikan akhlak tadi. Kalo dengan tanpa (simbol) shalat kita bisa menjamin memiliki akhlak yg baik, lalu kenapa simbol-simbol masa lalu itu yang lebih dipertahankan ?
(3) Muslimah minus jilbab
Tanya : Kenapa anda sebagai muslimah tidak berjilbab ? Bukankah Al Qur’an mengajarkan anda untuk menutup aurat di hadapan muhrimnya ?
Jawabnya : Jika dieksplor lebih jauh sesungguhnya substansi dari kewajiban menutup aurat dari al qur’an sendiri adalah agar [muslimah] lebih mudah dikenal [sebagai identitas] dan dapat menjaga diri. Di jaman sekarang masalah identitas dan penjagaan diri itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi jilbab itu kan kebiasaan kaum wanita di arab sana.
—
Konsekuensi logis atas prinsip pemahaman di atas adalah :
- Kenapa anda tidak puasa ? Karena substansi dari puasa adalah pengendalian diri dari hawa nafsu. Saya [bahkan] bisa lebih mengendalikan hawa nafsu dengan tanpa berpuasa ketimbang mereka2 yang sibuk dengan [simbolik] puasa tersebut.
- Kenapa untuk masalah moral anda tidak mengacu ke tradisi Islam ? Karena tradisi Islam lahir dari histori dan sejumlah parameter lain, dan ini semua sesungguhnya adalah bersifat simbolik saja. Substansi dari moral adalah standarisasi kebaikan berdasarkan zamannya. “Moral itu dinamis bung”, katanya. Kenapa kita mesti mengacu ke standar moral zaman doeloe (tentu jaman rasulullah maksudnya).
- Kenapa anda menganggap remeh dengan [kewajiban-kewajiban literal/tekstual] agama ? Karena substansi dari keberadaan agama adalah [semata sarana] kebaikan kehidupan di dunia ini. Sekarang kaidah [pedoman hidup] kehidupan modern jauh lebih hebat dari pada dogma2 agama dalam mengarahkan manusia untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Malah orang2 yang beragama kebanyakan merusak tata kehidupan ini dengan fanatismenya.
……….. cukup panjang jika dialog semacam ini diteruskan.
—
INTI dari dialog di atas [sepertinya] adalah :
Begitu kita tersadar bahwa ternyata SUBSTANSI itu jauh lebih penting dari SIMBOL, maka dengan serta merta ketersadaran ini mengeluarkan energi impuls dari diri kita, lalu bergegas berkesimpulan :
Buang semua simbol-simbol Islam, peras nilai2 di simbol2 tersebut untuk mendapatkan [saripati] substansinya !
Bahkan seakan-akan berkata,
“Mari kita mulai Islam dari substansinya saja dan ciptakan simbol-simbol yang baru yang sesuai jamannya [sekarang] !“
—
BENAR - SALAH
Kita sering kebablasan.
Barangkali premis yg digunakan adalah pernyataan : “SUBSTANSI lebih penting dari SIMBOL”. Premis ini bisa saja BENAR. Tetapi meneruskannya dengan kesimpulan bahwa segala yang berbau SIMBOL harus dimusnahkan, tentu SALAH. Apalagi kita sendiri belum mampu mengklasifikasikan dengan TAJAM yang mana dari ajaran-ajaran Islam yang dimaksud dengan SIMBOL dan yang mana yang termasuk SUBSTANSI.
—
IBADAH MAHDAH
Seorang teman [yg sepertinya penganut, tetapi tidak mau disebut] liberal pernah berkata,”Segala bentuk peribadahan (ritual) yang sudah jelas2 petunjuknya, jangan lagi diutak-atik [oleh akal kita]. Tetapi aspek2 lain, silahkan saja, kita bebas bermain“
Ketika saya mengkonfirmasi tentang apa yang dimaksudnya dengan ibadah ritual, maka dia menyebutkan seperti : shalat, puasa, zakat, dan haji. Itu sudah harga mati, katanya. Saya menyebutnya dengan ibadah mahdah (yang ritualnya telah dikhususkan : waktu dan caranya)
Saya tertarik dengan kata2 : ...kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu]. Maksudnya tentu melakukan eksplorasi tanpa lagi perlu peduli dengan nash2 atau tuntunan dari Kitab dan/atau generasi sebelumnya.
—
Akal saja tidak cukup
Jujur, saya suka dengan teman [liberal] seperti yg tersebut di atas. Bahkan di masa kecil kami [sesungguhnya] dia jauh lebih lincah di aktivitas dan keilmu-Islaman, dari pada saya tentunya. Tapi kata2 “...kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu]” di atas, walau saya tafsir sendiri maksudnya, seperti ada yang belom “plong” rasanya.
Kenapa ?
Karena sampai sejauh ini saya tetap meyakini bahwa selain akal, saya juga punya hati dan ruh. Amalan2 saya jauh lebih mempengaruhi keyakinan dan kenyamanan saya ketimbang akal saya semata. Bahkan saya tetap melakukan satu amalan asal ada “nash” nya walau akal saya masih bertanya2, “Itu untuk apa sih gunanya ?“.
Lalu, bagaimana jadinya dengan teman2 yang memvonis dirinya untuk tidak shalat, tidak puasa… dstnya, dengan argumen2 akal[2]an nya seperti di [paling] atas di atas.
Ketika saya sempat bertanya lagi,”Apakah anda masih shalat ?” Ia menjawab diplomatis,”Oh, masalah shalat itu urusan saya dengan Tuhan”. Bahkan katanya lagi dia merasa keikhlasannya terusik kalo mengiyakan keshalatannya.
Weleh, weleh, weleh… bablas angine.
Ketika batas2 ruang antara simbolik dan substansi itu belum matang, kita mudah kebablasan jadinya.
Ihdinasysyirathalmustaqiim.
Amien.


Mmm… bisa ndak Pak, ritual simbolisnya dapet, sekalian substansinya juga kena?
@Amed
Menurut saya sangat mungkin.
Saya setuju banget dengan usulan ini.
Tetapi identifikasi lalu proses pemilahan serta proses mendapatkan Irisan dari yang SIMBOL dan yang SUBSTANSI tersebut memang harus dilakukan. Biar jangan gegabah alias kebablasan.
Kita mengambil yang irisannya saja ? Wallahua’lam.
Jangan2 ada ritual simbol yang kita belum ketemu hikmah substansinya… Ayo…
kami memahami kegundahan mas Herianto mengenai sebagian saudara kita yang berlebihan dalam mengutamakan substansi
bagaimana dengan sebagian saudara kita lainnya yang berlebihan dalam mengutamakan simbol? tidakkah jumlahnya lebih banyak?
@Pacaran Islami
That’s right. Saya setuju.
Tapi usaha kita mengingatkan kembali kpentingan substansi tsb jgn sempat kbablasan atau malah menoreh goresan luka baru.
Yah.. Kalo bisa kayak Pegadaian itu lho : Memecahkan Masalah Tanpa Masalah.
Thanks Pak
sudah membuat saya ber refleksi nih.
Salam kenal juga
Agusampurno
Wah tulisan yang mantapzx Pak…
Jadi bahan renungan nich…
Kalo jawabnya:
Kan setiap helaan nafas saya adalah shalat
gimana tuh pak?
@agussampurno
Kita sama-sama ber refleksi pak …
Salam kenal, salam guru…
@deKing
Kalo lagi2 puasa begini ngomong : mantapzx, bisa batal puasa lho pak. Uraiannya : kerongkongan bisa keseleo lalu menyulut muntah. Lah… muntah [sengaja] kan gak boleh…
@danalingga
Itu implikasi dari shalat… Tapi tentu tidak bisa menggantikan posisi [ritual] shalat yang mahdah tadi. Kalo secara analogi, ada yg bilang shalat itu adalah miniatur dari aktivitas kita di kehidupan. Ada pemimpin (Imam), ada yang dipimpin (makmum), ada yang boleh menegur, ada yang harus patuh… dstnya.
Next question pak
:
Apakah memang salat itu ritual?
Dan jika ritual bagaimana sebenarnya gerakan ritualnya?sebab sepengetahuan saya gerakan shalat yang sekarang di kenal itu merupakan hasil dari penggabungan bermacam hadist. Bukan berasal dari AQ.
maaf kalo nanya terus, soale saya sangat penasaran tentang bagaimanakah sebenarnya gerakan shalat ini.
Ah, jawaban seperti ini jelas dan pasti berasal dari orang2 yang sombong dan angkuh……., gak usah dengerin
Maju terussssssss…….
ini bukti kesombongan itu,
jelas….. (asal membangkang….)
@danalingga
Karena ummat Islam [diwajibkan untuk] menggunakan kedua referensi tersebut : Al Qur’an dan Hadist, so gerakan yg sebenarnya tentu diyakini yang berasal dari sang manusia penuntun (uswah) tsb, Muhammad SAW, yang disebut dengan Hadist tadi. Fungsi hadist memang menjelaskan lebih detail apa yg ada di Al qur’an. Allah telah memberi hak penuh kepada Muhammad SAW untuk itu.
@ k* tutur
Saya pake istilah : kebablasan…
nanya dikit duluw, entar lanjutan pertanyaannya malem aja.
Apa ini benar pak? Bisa tahu dalilnya?
Hahaha, Pak Heri. Dah, bosen ya ngajar dikampus pancoran itu
Menohok!
Aku juga dulu “kepleset” di situ, Pak. Menjadi cenderung agnostik. Tapi, yaa… namanya syarat untuk menjadi muslim ya butuh ritual. Kalo cuma ngikutin substansi, jadi agnostik saja.
Belakangan kalo ketemu yang “akal-akalan” lagi, jadi punya jawaban yang cukup “mumpuni” buat nembak: “Kamu jadi warga negara Indonesia mesti patuh hukum ndak? Mesti ikut aturan ndak? Mesti? Ya udah. Agama juga begitu…”
Kalo menurut saya , harus mengetahui dulu esensi dari manusia itu sendiri, kenapa ada Tuhan dan sebagainya..
hal itu bisa anda dapatkan salah satunya di training ESQ yang pernah saya ikuti, kegundahan2 itu akan terjawab bukan dengan jawaban sebenarnya tetapi dengan menunjukkan kebesaran2 yang dimiliki oleh Allah…
Semoga tercerahkan!
Kalau saya melihat mereka-mereka ini adalah orang yang mencari cari dalih untuk mengelak dari kewajiban agama saja. Untuk menjadi baik tentu harus melalui suatu proses panjang dan itulah peranan ritual agama. Di sisi lain juga ada orang yang sangat mementingkan ritual dan simbol tanpa memahami maknanya. Orang-orang ini kalau menghadapi cobaan hidup biasanya tidak kuat. Kalau jadi pejabat misalnya, shalat, zakat, puasa, haji dilakukan tapi korupsi jalan terus.
Saya melihat dialog itu mencerminkan kesombongan sebagian orang yang mengaku islam. Ketika ia mampu menahan dari berbuat keji dan mungkar, maka ia tidak perlu shalat lagi(?). Padahal shalat adalah ibadah wajib yang sudah ditetapkan cara dan waktu pelaksanaannya. Kalau dengan shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, itu baru satu dari sekian banyak dan mungkin terlalu banyak lagi hikmah/fadilat/manfaat ataupun rahasia dalam shalat itu sendiri. Maka betapa sombongnya orang tersebut ketika hanya mengetahui satu saja dari manfaat shalat sudah tak mau shalat lagi.
Begitu juga dengan simbol-simbol lain, ketika ia mampu menangkap substansinya, maka simbolnya diganti/ditinggalkan. Bah.. fuang sombong nian orang ini.
Assalamualaikum,
Halo teman-teman semua, ikutan nimbrung.
Salah satu perbuatan keji dan mungkar yang paling besar adalah meninggalkan sholat fardhu 5 waktu.
Jadi bagimana mungkin seseorang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar wong dia sendiri gak sholat.
Gampangnya seperti ini, kita bekerja di salah satu institusi, Bos kita menyuruh kita untuk mengisi daftar absen kedatangan maupun pulang, tapi kita menolak, itu tidak perlu yang penting substansi yaitu kita masuk kantor dan menyelesaikan pekerjaan kita, tidak perlu cape2 mengisi daftar hadir. Yang pasti si Bos pasti marah ke kita dan menegur kita.
Jadi bukti kita sebagai karyawan itu mengisi daftar hadir dan tanggung jawab kita sebagai karyawan menyelesaikan pekerjaan kita.
Menurut saya, saya tidak setuju dengan kata-kata simbol, karena Rasullulah tidak mengajarkan sebuah simbol, tetapi rasulullah mengajarkan sebuah amal.
Contoh memanjangkan jenggot menipiskan kumis, hal itu bukanlah simbol tetapi amal. Dimana setiap amal memiliki substansi tersendiri jika kita menjalankan dengan penuh ghirah (baca: semangat) dan ikhlas.
Rasullullah mengajarkan 3 perkara kepada umatnya yaitu sirah, suroh dan sariroh.
Salam,
Fahrul Nurzaman
Tulisan pak heri bertajuk antara amal dan substandi kayanya cukup cliear. Kenapa ada orang (katanya beragama Islam) tapi nggak mau menjalankan ajaran agamanya. Sederhananya mungkin itu hanya alasan untuk menginkari bahwa dirinya sesungguhnya lemah. Ya… termasuk lemah ilmunya, sehingga lemah pemahamannya …(ee nggak tau deh yang satu itu apa lemah juga atau nggak)
@danalingga
Dalilnya ada dong, baik kalangan liberal (penganut dominan kontekstual) maupun kalangan literal (penganut dominan tekstual) mengakui hal ini :
Contoh yg saya sempat ingat nih :
Al Qur’an : “Sesungguhnya pada diri rasulullah itu ada suri teladan yang terbaik”
Hadist : Sesungguhnya akan dtinggalkan untuk kamu [ummat Islam] dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh pada kedua tsb akan selamat : yaitu : Al Quran dan Sunnahku.
Memang ada di kalangan Islam yang coba2 ingkar sunnah, tak mengakui keabsahan hadist sama sekali. Untuk yg begini ya tanggung sendiri deh akibatnya.
@Fadli
Itulah untungnya ngajar di sana, jadi nambah ide waktu mbuat postingan semacam ini..
@Alex
Jangan mau kebablasan lagi ya …
@aRuL
Maksudnya dengan amal kan ?
Ilmu + amal … SETUJU !!!
doeytea
Sebenarnya kalo kita mau berkaca dari sirah nabawiyah, sejak dulu (di jaman rasulullah) juga manusia2 dengan prilaku smacam ini sudah ada. Abu jahal kan dikenal cerdas secara akal, orang2 yg ingkar dari suku qura’is banyak juga yg mereferensi ke pemikiran2 dia.
Zaman memang berubah, tetapi rombongan dengan tabiat/ pelaku2 [pengingkar] tsb hampir sama.
myunuss

Bah.. fuang…
Apa itu maksudnya kebablasan juga ya …
Jadi teringat kernek mopen di siantar..
Assalamualaikum,
Lemahnya seseorang untuk beramal. karena ketidakpahaman akan nilai sebuah amal tersebut.
Kemarin waktu 17-an, maka dibuat satu perlombaan dimana diikuti oleh anak-anak kecil dimana peserta disuruh untuk mengambil isi yang ada di 2 buah keranjang di taruh di tempat finish. Satu keranjang berisi coklat dan permen, satu keranjang lagi berisi emas dan berlian. Ketika lomba dimulai, kira-kira anak-anak kecil tadi mengambil isi yang mana???
Otomatis coklat dan permen, mengapa ???? karena mereka tidak paham bagaimana perbandingan antara nilai coklat+permen dengan nilai emas+berlian. Kalau saja mereka paham akan nilai emas+berlian mereka tidak saja mendapat satu keranjang emas+berlian tapi bahkan bisa membeli satu pabrik coklat+permen.
Begitulah keadaan diri kita seperti anak kecil tadi.
Sholat sunnah sebelum subuh itu nilainya bagaikan dunia beserta isinya bagaimana dengan sholat shubuh berjamaah, tetapi kita tidak paham maka kita pilih untuk memperbaiki posisi selimut kita agar tidur kita tetap nyaman.
Untuk itu perlu kita hadirkan nilai amal dalam setiap kita beramal agar kita memiliki semangat dalam beramal.
Salam,
Fahrul Nurzaman
Eh ada lagi ya…
@fnurzaman
Argumen pak fnurzaman mantep banget…
Dan saya terkesan dengan kata2 ini :
Nah ini dia pak…
Justru saya pengen mereka2 pendukung pemikiran yg sering menggunakan istilah simbol dan substansi tersebut nimbrung di sini… Sebenarnya yang mereka maksud simbol itu apa sih ?
Kok jilbab, janggut, jidat dstnya itu seringkali mereka sebut cuma simbol …
——–
Ayo yang berwenang siapa yg mau ikut dan mjelaskan hal ini ke teman2…?
——–
Wah apa ini pak, jadi nambah ilmu, boleh juga nih…
@Sufayasa
Maaaaksudnya ?
Lho pak fnurzaman ada lagi tho…

@fnurzaman
Wah…, jadi pengen nyantri neh dengan pak fahrul…
Yah, ketebak deh pola pikir saya pak. Emang yang saya pertanyakan itu adalah sebuah pola pikir dari orang yang anda sebut ingkar sunnah itu. Walau tentu jika di tanya yang anda sebut ingkarus sunnah , tentu mereka akan menjawab kami mengikuti sunnah Allah kok. Dan akhirnya menjadi debat kusir yang berkepanjangan.
Tapi soal ingkarus sunnah kita tinggalkan ajalah sesuai dengan pandangan masing masing.
Yang saya belum dapat jawabanya pak, yaitu
benarkah bahwa tidak ada gerakan sholat yang sekarang ini dilakukan di AQ,?
Apakah memang tidak ada satupun hadist yang memuat gerakan sholat ini secara lengkap?
Eh ini OOT nggak sih?
Tulisan yang cukup mencerahkan, pak Heri. Kalau kita perhatikan belakangan ini, tampaknya ada beberapa kelompok yang lebih mengutamakan simbol ketimbang substansi, misalnya, untuk melakukan nahi munkar, mereka membawa pedang sambil mengucapkan lafal-lafal suci yang belum tentu mereka hayati sepenuhnya. Kenapa mesti pakai jalan kekerasan untuk memberantas kebatilan? Ini pertanyaan mendasar yang tampaknya sederhana, tetapi mengandung permasalahan yang cukup kompleks.
OK, salam hangat, Pak.
@danalingga

Di Al Qur’an bertaburan kata-kata yang memerintahkan kita [muslim] untuk shalat.
Gmana yg shalat itu, waktunya, cara(gerakan, bacaan)nya, adanya memang di hadist (uswah dari rasulullah, muhammad saw). Waktu shalat seperti shubuh kapan, dzuhur kapan dst-nya, adanya juga memang di hadist. Di Al Qur’an gak ada.
Kan ada yang bilang hadist itu ibarat petunjuk teknisnya Al Qur’an. Apa yang ada di Al Qur’an muatan-nya kbanyakan bersifat umum, lalu kita butuh hadist dimana berisi petunjuk rasullullah mengenai hal2 yg teknis. Tapi menurt saya ya tidak setajam itu sih… Ada juga yg hal2 tertentu yg petunjuknya belum teknis benar, makanya ummat muslim butuh juga yg namanya : ijtihad. Siapa2 yang anti ijtihad, pasti dia rigid. Wah ini lain lagi..
Belum lagi kalo kita membahas, yg berhak berijtihad itu siapa sih, apa cuma MUI…
@Sawali Tuhusetya
Yup pak…
Yang dominan di simbol melupakan substansi menurut saya sama parahnya dengan yang dominan substansi lalu melupakan simbol (dalam pengertian ritual/amal).
Yuk beramal, yuk mengejar substansi-nya…
assalaamu’alaikum
tambahan dikit Pak, buat para sekularis…
Akhlaq dari kata Khaliq. Khaliq adalah pencipta. Jadi akhlaq adalah segala perilaku yang mengedepankan petunjuk2 dari Sang Khaliq (simbol dan substansi).
Kalo bicara akhlaq, berarti bicara agama, dan ini sudah paten.
Kalo bicara moral, maka definisinyapun relatif. Moral orang jawa dgn orang amerika tentu beda. Bagi amerikano, ber (maaf) bh+cd didepan umum masih dikatakan bermoral. Tentu tidak demikian bagi orang jawa.
Jika bicara simbol dan substansi dalam konteks akhlaq, maka akan muncullah semua dalil2 yang ada di Quran dan hadits.
Jika bicara moral…..
Mungkin para sekularis itu lebih cocok bicara moral daripada bicara akhlaq.
–end of comment–
maaf kalo bahasanya rada2 berantakan. Maklum, masih dalam tahap mempelajari simbol, wue-e-e-e-e…..
wassalam
maen-maen ke web kita yaa…
@maman_herry
Wa alaikum salam wr wb
JazakaLlah atas tambahan penjelasannya.
Masalah moral dan akhlak di atas ana setuju banget..
Link antum kayaknya ana sudah pernah ke sana sbelum2nya..
Sudah sebulan ini malah ikutan milisnya.
Moderatornya antum ya ?
Wassalam
sayah dulu lebih percaya ama logika…
tapi…. ya gitu deh.. ada saatnya logika hanya mencapai otak tapi tidak mencapai jiwa
Herianto :
Ramadhan penuh berkah, almascatie banyak dapat hikmah…
Yang berpegang sepenuhnya pada substansi memang bermasalah. Misalnya: Benarkah substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar (saja)?
@Sawali Tuhusetya
Pak Sawali salam kenal,
Perlu kita pahami bahwa untuk nahi munkar (mencegah kemungkaran) ada tiga tingkatan untuk mengamalkannya tergantung dari kadar keimanan seseorang, jadi tidak bisa digeneralisasikan. Tingkat yang paling tinggi dengan tangan, kedua dengan lisan, dan yang paling rendah benci di dalam hati dan inilah selemah-lemah iman. Bisa dilihat hadist riwayat Muslim.
@M Shodiq Mustika
Pak Shodiq salam kenal,
Ukuran minimal dari benar tidaknya sholat kita adalah bagaimana diri kita dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Dan keberhasilan yang paling tinggi dari sholat kita adalah dapat menurunkan pertolongan Allah.
Salam,
Fahrul Nurzaman
bukankah ritual-ritual itu salah satu tujuannya supaya kita lebih dekat, ingat denganNya?
Herianto :
Yup… BETUL SEKALI… Setuju !
hehe numpang nimbrung ya, Pak, kok tertarik nih. kebetulan bersinggungan dg bbrp orang seperti yg dicritakan di atas.
kalo dari sayanya, sih, simpel aja. saya mengkaitkan dg cinta. analoginya gini ; saya punya pacar, udah dua tahun kita jalan. selama ini saya bener2 sayang dan cinta sama dia, saya juga yakin kalo dia pun begitu. seringkali, krn cinta dan sayang, saya rela melakukan hal tertentu asal dia seneng. tujuan saya ketika mencintai dia emang satu, dia bahagia. jadi kadang saya melakukan hal konyol atau hal yg merepotkan pun, saya jalani, krn saya tahu itu akan membuat dia seneng.
nah, sama pacar aja, saya begitu. kenapa sama Gusti Allah, enggak ?? sholat kenapa ditinggal dg berbagai alasan seperti yg dikemukakan di cerita Bapak ??
well, saya akui, saya belon sampe taraf segitu sih, dalam mencintai Gusti. saya sholat baru sampe sekedar menggugurkan kewajiban. dan saya masih terus berjuang dan beajar utk lbh baik (ugh….susah bener, mengalahkan diri sendiri).
kalo saya renungi, jangan2 alasan sebenarnya ato dasarnya, seperi yg uda disebut temen2 diatas, SOMBONG, merasa uda berperilaku baik dan berakhlak baik. ego itu muncul haluuuus banget lho…..
Herianto :
Saya suka kata2 di atas …
[...] “…kita bebas bermain…” dalam wilayah-wilayah akal adalah hal yang saya setujui sepenuhnya. Bukankah Al Qur’an itu juga untuk orang-orang beriman dan jelas adalah petunjuk untuk orang yang berakal. [...]
Jadi ingat iklan salah satu merek rokok .. tanya kenapa ???
Jangan2 jawaban dari pertanyaan tersebut hanya untuk pembenaran saja?
Herianto :
Iya kali bang… pembenaran dari kebablasannya…
Masih di kalimantan nih… ???
Insya Allah saya Islam
Herianto :
Gak ada yang meragukan kok Wahyu…
emang kamu ragu ?
Assalammu’alaikum pak ….
cuma mo nambahkan aja….
Menurut yg sudah saya pelajari itu…
Kalo kita sudah meyakini Allah adalah Tuhan, Muhammad rasullullah, maka itu sudah kompleks…
Karena petunjuk sudah ada di Al quran dan Hadist…
Kalo ada orang shalat tapi masih kerjakan perbuatan mungkar berarti shalat nya blom benar….
Trus hidup ini secara garis besar: bahwa Allah ingin melihat sapa2 yg mo melaksanakan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.
dan tentu nya perintah Allah itu berlawanan dengan hawa nafsu.
maka nya Allah beri manusia itu nafsu sebagai pendorong yg cenderung kepada kejahatan dan syaitan sebagai penghasut nya.
Pada dasar nya semua agama itu benar dan berasal dari Allah, dan itu adalah kebenaran.
Namun manusia telah berbuat kerusakan dengan merubah2 ajaran yg sesungguh nya dan ini setelah “berlalu masa yg panjang”.
sehingga Allah mengutus para nabi kepada umat manusia.
maka terjadilah pertempuran antara yang batil dan yg haq.
dan ini akan berlangsung trus sampai Allah menutup lembar kehidupan ini.
dan kita berada pada zaman dimana umat islam bagaikan buih di lautan, yg tidak ada manfaatnya….
ini adalah suatu tanda akan datang pembaharu yg Allah sembunyikan dari musuh2 islam dan ini terserah sapa yg mo ikut…dan tentu ada tanda2 nya…
“Kebenaran itu dapat dilihat dari mata hati yg jernih yg tidak di tutupi oleh hawa nafsu”
Banyak kita sekarang sudah kembali berakhlak jahiliyah, tidak punya sopan santun (etika), padahal semua yg diajarkan rasullullah adalah untuk mencapai Akhlakul karimah.
Di depan manusia saja kita bersikap serampangan, bagaimana bisa bersikap yg semestinya di depan Khaliq Sang Pencipta..???
berarti saya juga termasuk…….
maaf udah kepanjangan….
wassalam
Herianto :
Syukron nih atas pencerahannya…
Pak, masih ada satu lagi nih pertanyaanya…
(4) ngaku muslim mencaci-maki muslim lain
Tanya : saya ngaku muslim tapi saya benci muslim yang bangga sama agamanya, saya benci muslim yang merasa agamanya paling benar, saya anti sama muslim yang cuma bisa mengamini sesama muslim, saya cuma senang sama muslim seperti saya yang mencaci-maki sesama muslim lainnya, siapakah saya ?
Jawab : ???
Herianto :
Boleh juga tuh…
Berniat benar, cara menyampaikan [kritik] nya juga yg benar dong…
Problem ummat memang kompleks, karena kita sendiri (internal) juga menjadi bagian dari problem itu…
Jujur saya sih gak tahu mana harus mengutamakan yang mana dari pilihan tersebut diatas…
sejauh pengalaman dan pemahaman saya, mengutamakan salah satu atau keduanya [simbol atau subtansi atau keduanya] secara absolut dan membabi buta [konsisten: konsistensi bukan harga mati: konsistensi bukan moral] bukan merupakan sesuatu yang bijak karena malah sering menimbulkan kegundahan dan gesekan yang contra produktif…
anda mau berjilbab anda mau solat silahkan…. mau tidak silahkan…
terutama dalam kerangka hidup bermasyarakat (bukan hidup dalam kotak agama absolut)…..
kelenturan moral dan sikap diperlukan dalam hidup…. atau kekacauan yang tak terkendali akan meraja lela….
salam damai di hati…
semua menurut hemat saya aja kok. kalau di pengalaman atau keyakinan anda atau mereka, entahlah saya gak begitu paham….
Herianto :
Akal memang menghendaki kebebasan, karakternya tak suka dikekang. Tapi hati butuh keyakinan, ia butuh tempat berlabuh, berlabuh dari pengembaraan akal yg menjanjikan kebebasan tersebut. Ternyata kita tak cuma punya akal.
Silahkan mendambakan hidup dgn penuh kebebasan, tapi kesempurnaan manusia yg diciptakan-NYA juga menginginkan pengikatan. Siapa pun yg mengingkari maka kebahagiaannya adalah kebahagiaan semu, karena tak mengakui kesempurnaan dirinya sendiri. Asah akal dengan berpikir, asah hati dengan beramal karena-NYA.
@ Pak Her # 40,
Maksud saya juga gitu Pak, tetapi kenapa ya banyak blogger yang ngakunya muslim lebih senang menghujat sesama muslim dengan alasan memperbaiki citra ISLAM, apa gak aneh Pak ???
@ Suluh # 41,
Substansi tentulah terpenting tetapi simbol toh tetap harus diusung, substansi bisa memperbaiki diri dan orang lain baik secara langsung dan tidak langsung, sementara simbol adalah penguat / pengasah iman dan pemersatu umat.
Tapi terpenting adalah sebagai muslim yang baik, kita tidak perlu memperuncing simbol dan substansi tetapi lebih baik berpegang pada tuntutan dan tuntunan dari AQ maupun apa yang Rasulullah ajarkan, substansi adalah paparan bukti bahwa tentu tuntunan dan tuntutan dalam ISLAM ada faedahnya sementara sesuatu yang terlihat simbol tentunya jika dilihat dari sisi non muslim, dari sisi muslim sendiri semuanya kembali kepada tuntutan dan tuntunan dalam ISLAM.
@Ferry ZK

Kalo mereka mengatakan ingin memperbaiki citra ISLAM, mari kita mengatakan ingin memperbaiki prilaku mereka…
Yang pertama jangan tiru cara2 mereka dalam memperbaiki, kita perlihatkan cara2 kita …
@ Ferry ZK # 41
“tetapi kenapa ya banyak blogger yang ngakunya muslim lebih senang menghujat sesama muslim dengan alasan memperbaiki citra ISLAM, apa gak aneh Pak ???”
Mas Ferry untuk masalah ini kita harus hati-hati ada adab-adab yang perlu diperhatikan.
Baca dan Kaji kembali, bagaimana siroh Nabi dan kisah para sahabat r.hum
Mungkin karena ketidakpahaman dan ketidaktahuan mereka, sehingga mereka berbuat seperti itu.
Salam,
Fahrul Nurzaman
@ fnurzaman,
wah menarik nih Pak, minta pencarahan nih Pak tentang adab - adab nya
Mas Ferry bisa mengkaji di Siroh Nabi dan kisah sahabat,
Bagaimana adab Nabi SAW menghadapi seorang sahabat Anshor yang meminta izin untuk melakukan zinah.
Bagaimana adab Nabi SAW ketika bereaksi melihat arab badui “buang air kecil” di pojok masjid.
Bagaimana adab Umar Ibnu Khatab r.a dan Abu hurairah r.a ketika mereka berbeda paham.
Bagaimana adab Hudzaifah r.a memegang rahasia nama-nama orang munafik, walaupun beliau tahu persis tetapi tidak disebarluaskan.
Bagaimana adab Ibnu Masud ketika melihat pemuda yang sedang bermain musik.
Bagaimana adab Nabi SAW menghadapi orang tua yang bertanya kepada beliau.
Bagaimana adab Hasan dan Husein r.hum ketika mengajarkan seorang kakek tua berwudhu.
Bagaimana adab Abu bakar r.a ketika berdebat dengan seorang Yahudi.
Perlu diperhatikan bagaimana keadaan umat islam pada saat ini, sangat lemah baik iman dan ilmu begitu juga amal.
Dalam penyampaian baik yang sifat mengajak maupun mengingatkan perlu kita perhatikan kondisi dan keadaan saudara-saudara muslim kita.
Salam,
Fahrul Nurzaman
salam kenal from bali
Herianto :
Salam juga…
[...] yang sering tampil di ruang publik sekarang ini : Dimensi Dogma dan Dimensi Simbol dalam agama. Simbolitas dan ritualitas bukanlah hal yang salah dalam agama, karena dalam simbol-simbol agama terdapat substansi agama itu [...]
Aduuh mas saya saja yang dibiasakan shalat dan dibela mati²an untuk selalu dikerjakan => kadang malesnya minta ampun.. maunya kalau nuruti (entah apa namanya NAFSU kali) yaa tak tinggalkan…
ini saya belum bicara dilogikakan. Misalnya inti dari shalat adalah bla-bla bla..
Herianto :
Salahkah jika kita mencari lingkungan yg bagus yg dapat mendorong kita utk senantiasa melaksanakan perintah2-NYA semacam shalat tsb ? Tentu tidak ya pak …
Nah, makanya saya setuju kalo pergaulan (lingkungan) adalah salah satu aspek dalam menjaga kstabilan iman, selain misalnya : ilmu, amal itu sendiri dan saling-nasehat.
Saya tunggu nih post-nya pak eh kyai ttg : Hikmah shalat..
hak anda mau shalat atau tidak..mungkin yang sya tahu shalat pun ada fase nya.asshaltu ala wakiah..(begitu kata dalil)
shalat lah pada waktunya.kebanyakan orang beranggap bahwa yang lima waktu lah yang wajib..padahal klo diteliti lagi hadist nya pun tidak soheh.tidak satu ayatpun di Alquran yang menjelaskan tentang subuh zuhur ashar dan maghrib.
Herianto :
Untung ummat Islam gak cuma diberi Al-Qur’an.
Dan Al-Qur’an bercerita tentang manusia2 yg diutus-NYA. Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yg diberi hak untuk menjelaskan sejumlah muatan Al-Qur’an. “Sesungguh rasulullah adalah suri teladan yg hasanah”. Bisa dijelaskan tentang hadist tidak shahih yg anda maksud, dan kenapa tidak shahihnya … Memang ahli hadist ya…
Yuk baca Al-Qur’an, yuk baca hadist …
Mereka kok masih malu-malu mau bilang saya males shalat aja. Langsung aja kok pakai alasan substansi ataupun simbol segala. Males shalat tapi biar ada kesan imiah gitu..jadi bikin alasan yang terkesan ilmiah. Memang manusia, dikasih kemampuan berpikir sedikit saja sudah sombong. Sombong terhadap sesama manusia saja tidak boleh eh apalagi sombong sama yang Maha Pencipta. Aneh.
Herianto :
Persis… tampaknya memang seperti itu…
BTW, emang orang Syiah tetap shalat ya … He he he… sorry bercando bro …