Akal saja tak cukup…[2]
13 September, 2007 oleh Herianto
Dari “Break down“ Dikotomi Jiwa dan Raga
Memodelkan sistem manusia dengan 2 komponen : jiwa dan raga saja mirip dengan memodelkan sistem komputer secara hardware dan software saja. Masing-masing mewakili komponen yang tampak dan komponen yang tidak tampak dari semesta pembicaraan.
Pemodelan manusia dengan komponen seperti tersebut di atas [tentu] tidak ada salahnya, tetapi menurut saya oleh karena kurang komprehensif maka seringkali gagal jika digunakan untuk membahas beberapa masalah yang spesifik.
Dari 2 (dua) komponen tersebut : jiwa dan raga, yang paling sering di break-down adalah masalah jiwa. Menyatakan bahwa manusia memiliki komponen yang tidak tampak dengan istilah “jiwa” saja tentu tidak cukup. Ilmu modern bukankah telah mengeksplor bahwa ternyata kita manusia memiliki : akal, emosi dan spritual, yg dianggap sebagai faktor-faktor (kekuatan) tak tampak yang kita miliki. Jadi apa yang tadi dikatakan sebagai jiwa isinya bukan akal saja seperti anggapan sementara beberapa pihak. Bahkan bukankah selain istilah IQ (akal) saat ini sudah lumrah kita mendengar istilah EQ (Emosional) dan [bahkan] ESQ (Spritual).
Saya jadi teringat tentang muatan di sejumlah buku harakah yg seringkali pembicaraan tentang manusia (ma’rifatul insan) disinggung melalui pendekatan : aqli, qalbu dan ruh, yang sama saja maksudnya dengan : akal, emosi dan spritual tadi.
Jelas bahwa akal (pikiran), hati (emosi) dan spritual (ruh) memiliki fungsi yang berbeda yang semestinya dapat dengan mudah kita mengidentifikasi masing2 nya.
Kebenaran harus dicapai dengan kesempurnaan kita sebagai manusia yaitu dengan : akal, hati, ruh dan jasad (raga) kita sekaligus. Memang ada satu jenis kebenaran yang hanya dapat kita capai dengan akal saja, yaitu kebenaran alamiah (kaidah duniawi). Tetapi Kebenaran Haqiqi adalah tidak mungkin kita capai dengan akal semata.
Bahkan kita butuh “info” dari sang Kebenaran itu sendiri (wahyu) tentang Kebenaran (Al-Haq) itu sendiri .
Pada porsi seperti ini yang saya maksud bahwa sulit dipahami jika kita bicara manusia melalui paradigma jiwa dan raga saja.
Membahas keindahan di bulan suci ini (ramadhan), saya suka dengan penjelasan yang mengisitilahkan bulan ini dengan : Tarbiyatul Ruhiyah (peningkatan ruhiyah/spritual). Tak pelak bahwa, akal, emosi dan raga kita juga dilatih di bulan ini. Tapi kapan lagi kita pernah berpasrah diri, melakukan apa pun yang diminta-NYA, bersikap sami’na wa atho’na, kecuali momen2nya bertebaran di bulan ini.
Marhaban ya syahrut tarbiyatur ruhiyah.












Lalu posisi “jiwa” relatif terhadap “hati” dan “emosi” itu bagaimana ya Pak?
@deking
Saya baru saja ngasi komen bolak-balik ke postingan pak deKing, tapi gak tau ntah ada apa, gak juga masuk2…
karena capek saya balik ke rumah sendiri, eh orangnya rupanya malah nyinggah di rumah saya…
Mungkin karena tadi orangnya gak di rumah, jadi komen saya ditolak terus sama penjaga SATPAM di kompleks kos2 an p deKing…
Yah responnya OOT sebentar…
Menurut saya [saat ini] yang dimaksud jiwa itu terdiri dari : akal, hati dan ruhiyah. Ini bersesuaian dengan paradigma IQ, EQ dan SQ yang mulai populer, dimana IQ=akal, EQ=emosi/hati dan SQ=ruhiyah/spritual.
Menurut saya, akal adalah yg mencari [pemahaman], hati yang mengarahkan [niat] dan spritual yang merasakan [manisnya iman]. Setiap faktor2 jiwa tersebut kualitasnya dapat dilatih.
Saya justru lagi mencoba mengkaitkan (mikir2) paradigma ini dengan paradigma iman, ilmu dan amal.
Wallahu a’lam.
Lagi bolak-balik catatan waktu awal2 ngaji dulu nih…
Ooooo gicu ya Pak… tp saya lebih memilih spiritual bagian dari EQ, itupun kalau menyambung penjabaran Bapak bahwa emosi dijadikan bagian dari hati. Hati sebagai salah satu komponen jiwa bukanlah semata berisi emosi (* dari sudut pandang saya *) , tetapi juga spiritual dan juga kebenaran awal. Sementara ruh adalah bagian yang murni yang ALLAH berikan kepada tiap - tiap manusia agar bisa menjadi hidup. Sebagai muslim saya meyakini salah satu ayat AQ bahwa tiap - tiap manusia telah diminta kesaksianya akan ilah ALLAH sebelum dilahirkan, inilah yang tersimpan di hati terdalam sebagai kebenaran awal, sementara ruh tidak tersinggung dengan dosa dan pahala.
CMIIW ya Pak.
Salam kenal Yo…
Urang awak juo mah?
Herianto :
Yo mah…
IQ, EQ dan SQ memang harus satu paket…dan ini mulai diperhatikan di dunia pendidikan, maupun dilingkungan pekerjaan. Pekerjaan saat ini kebanyakan dilakukan dalam bentuk teamwork, sehingga diperlukan orang-orang yang mempunyai IQ, EQ dan SQ…sehingga kerja tim akan solid.
@edratrna
Iya bu…
Saya heran aja dengan mereka2 yg bersikeras bahwa akal (IQ) adalah segala2nya…
Padahal baik wahyu maupun ilmu modern telah mereduksi dominasi akal dalam penentu pengembangan karakter manusia…
Akal perlu, bahkan sangat perlu. Tapi akal saja… tidak cukup.
Assalamu’alaikum
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS 32:9)
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”.(QS 2:7)
“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS 39:1
“Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS 26:2
1. Ruh
Ruh ini ibarat benchmark (nilai asasi / fitrah) kebenaran karena berasal langsung dari Al Haq (kebenaran). Tidak ada yang keluar daripadanya kecuali kebenaran (siapapun manusianya), ketundukan penuh kepada Sang Khaliq, serta gejala-gejala kebaikan lainnya. Dalam bahasa lain, orang kadang2 menyebutnya “malaikatku”, my spirit, my life, dsb dan semua diungkapkan secara refleks (tak ada pertimbangan lain dan macam2) karena memang itulah fitrah, hatta (maaf) orang gak punya agama pun bisa mereflesikannya. Dalam bhs Arab, dilihat dari sisi ruh, manusia (al insan) diartikan sebagai al uns (harmonis, baik, cenderung kpd kebenaran). Jika diibaratkan kedudukan Allah SWT sbg inti atom (ini ibarat saja), maka ruh ada dikulit 1 (mempunyai ikatan dgn inti paling kuat alias gak mungkin lepaslah). Maaf, ini illustrasi saja.
2. Nafsu/hawa/hawa nafsu
Ibarat atom tadi, inilah elektron2 dikulit terluar (paling jauh), shg pengaruh gravitasi inti nyaris tak dirasakan lagi.
Nafsu adalah lawan haqiqi dari Ruh, selalu mengajak kepada pembangkangan, kesalahan, keingkaran, kelalaian, dsb karakter buruk (lihat QS 12:53, 47:16, dll). Kata lainnya “setanku”, harga diriku, keinginanku, dll. Dlm bhs Arab al insan diartikan sbg nasiya yang berarti lupa, lalai. Walau dari akar kata yang sama, ternyata kedua ajakan ini (ruh dan nafsu) memiliki interpretasi berlawanan dan keduanyalah yang membuat kehidupan manusia menjadi dinamis, fluktuatif dan unpredictable serta unique, karena bentang diantara keduanya sangat jauh. (Tentu kita boleh memilih dikoordinat mana kita akan berada ?)
Pertanyaannya, kenapa Allah SWT membuat dua perkara ini sekaligus dalam satu diri ?
Ini dah ditanyakan oleh para malaikat, tapi kemudian Allah SWT menjawabnya dgn rahasia “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak ketahui” (QS 2:30).
3. Hati / Qalbu dan Aqal
Saya tdk sependapat dgn penulis (yg mengartikannya sama dgn emosi). Tapi kita mungkin sepakat bahwa keduanya pun adalah sesuatu yang soft, untouchable, but still the phenomenon. Kenapa saya satukan, karena peran keduanya dalam kehidupan manusia tak dapat dipisahkan. Jika saya mengambil analogi skema artifisial neural network bisa gak ya? Maksud saya gini, kita memfungsikan hati dan aqal itu delaynya hanya 1 sampel saja (antara k dan k+1). Ruh itu ibarat penghasil target/desired output, sedang aqal itu adalah penghasil aktual output. Jika kerja aqal (dengan berbagai olahan lapisan2 neuron) mengolah sinyal2 input (melalui sensor2 yang ada) tidak sesuai, maka hati akan berfungsi sbg aktivator (baca fungsi aktivasi) dan mengumpan sinyal koreksi thd bobot melalui sebuah learning algorithms, agar hasil olahan keduanya (hati + aqal) memiliki error sangat kecil (suitable). Dengan demikian, fungsi hati sangat berat krn disamping aktivasi, ia juga bekerja secara iteratif (bolak-balik)membuat perbaikan bobot.
Bisa dibayangkan jika hati ini sakit (maridh) atau bahkan mati (qalbun mayyit), maka orang hanya mengandalkan hasil kerja akal sebagai sesuatu yang dianggap (sudah) benar. Tapi jika dia bersih/baik/sehat, maka yang keluar sbg hasil adalah desired output.
Lantas apa fungsi aqal sebaliknya ?
Pada tahap identifikasi (temukenal), peran aqal menjadi berganda karena ia harus menetapkan parameternya sendiri dan disimpan sebagai “new knowledge”. Karena belum tersimpan kedalam hati (belum ada aktivasi), maka aqal akan melakukan autocorrect melalui pengalaman2 yang ditangkap sensornya.
Karena itu jangan heran jika ada orang mendapat “hidayah” sebab menggunakan aqalnya (hidayah letaknya dihati) melihat “ayat-ayat kauniyah maupun qauliyah”. Dan sudah tentu ini adalah usaha yang berulang2 (istimrar).
Secara ikatan (tadi), hati lebih dekat dgn ruh, sedang aqal lebih dekat dgn hawa nafsu. Itu sebabnya, orang “panjang aqal” berarti negatif, dibanding orang “bodoh, lugu”, jadi rada2 jujur. Tapi 1x lagi, keduanya tak bisa dipisahkan.
Apa tugas kita ?
Sangat mudah, yaitu menyeimbangkan jumlah elektron pada kulit terluar menjadi 8 (lihat gas mulia/akram). Gas mulia ini kan macam Rasulullah saw, stabil/ma’shum udah.
Nah, artinya seimbangkan interaksi aqal dengan nafsu (sebab tak mungkin untuk tak berinteraksi) dan kuatkan ikatan hati thd aqal (bersihkan hati, lebih dikenal dgn tazkiyatun nafs).
Orang yang seimbang inilah yang dikenal dgn istilah ulil albab. Tapi ingat akhi, syaithan itu selalu menguatkan daya tarik nafsu, shg ion2 aqal sering melawan hati (alias syaithan masuknya lewat aqal).
Wah panjang sekali, nanti lain kali disambung. He…he., afwan.
Salam