Mengajar di lab (untuk selanjutnya kata “lab” dianggap sebagai laboratorium informatika) berarti mengajar mata kuliah yang “berbau” praktikum. Tapi [sebenarnya] tidak semua kuliah praktikum harus dilakukan di lab, bisa jadi dilakukan di lapangan nyata (kayak kerja praktek), atau bisa juga di kelas teori yg dilengkapi perangkat praktikum (yah …sama saja, ruang teori yang di jadikan lab).
Sejumlah Perguruan tinggi memiliki cara yang berbeda (kurikulum warna-warni) dalam mengimplementasikan kebutuhan praktikum pada perkuliahan.
- Ada yang sks praktikum terpisah dengan sks teorinya, misalnya : mata kuliah algoritma (2 sks) di kelas dan mata kuliah praktikum algoritma (1 sks) di lab. Untuk kuliah praktikum yg 1 sks ini juga ada 2 macam implementasinya, ada yg 1 sks praktikumnya 50 menit dan ada yg 1 sks praktikum 120 menit.
- Ada yang sks praktikumnya merupakan satu bagian dengan sks teorinya, misal : mata kuliah algoritma (3 sks), 10 s/d 12 pertemuan dilakukan di kelas lalu sisanya dilakukan di lab.
- Ada yang tidak menyediakan waktu tatap muka untuk praktikum sama sekali. Misal : mata kuliah algoritma (3), seluruh tatap mukanya terjadi di kelas, praktikumnya diserahkan ke mahasiswa sendiri2, mau mencoba atau tidak, terserah aja. Untuk yang jenis ini ada juga yang tatap muka praktikumnya dikelola oleh asisten saja (mahasiswa senior) dan sang dosen tidak mau tau gmana kejadian pembelajarannya di lab dan tinggal nunggu asisten nyetor nilai.
Yang tidak ada adalah, yang semuanya dilakukan di lab (praktikum doang) tanpa penjelasan teori (di kelas) sama sekali. Tapi [barangkali] bisa saja ada/diadakan. Yuk… mau ?!
—
Ada fenomena sejumlah dosen yang ogah ah (gak suka bahkan gak mau) untuk ngajar di laboratorium, mendingan mereka (lebih memilih) mengajar di kelas teori. Ini sih berdasarkan fakta yang mampu saya amati dari jangkauan interaksi di sekitar saja. Di sekitar lain mungkin saja berbeda, atau barangkali malah berebut untuk mengajar di lab.
Tapi kenapa ada yang menghindar ? Berikut sejumlah alasan yang dapat saya tangkap :
[1] Karena perangkat lab nya gak memadai. Komputernya saja masih sekelas pentium celeron (hare gene ?), lemotnya minta ampun, banyak virus lagi, keyboard banyak yg ngadat, monitor kadang di jitak2 baru nyala, dan ac di lab nyaris tak terdengar (maksudnya gak ada gitu lho…) , programnya sering diusilin mahasiswa, dan… silahkan kalo mau mlengkapi segala penderitaan ini.
[2] Mahasiswa kalo di lab begoknya ketauan banget. Banyak dosen utk ngurus “kebegoan” yg kayak begini [justru] menghindar (lho…?). Jangankan mikirin logika pemrograman, ngetik kode program yg ada saja bersalahan, eh kemaren itu ada yang disuruh nekan tombol F2 yang ditekan tombol F abis itu tombol 2. Ya gak jalan2 tuh pogram. Abis itu waktu programnya jalan tanpa error senangnya minta ampun, padahal andilnya cuma ngetik dik doang, eh ngetik doang lagi.
[3] Karena untuk ngajar di lab persiapannya (sang dosen) harus lebih. Kalo cuma ngajar di kelas kan bisa dengan buku teks saja, tapi kalo ngajar di lab harus siap dengan modul praktikum segala. Kalo tidak ya siap2 lah untuk teriak2 di lab saat ngasi instruksi.
“Kamu yang di sebelah sana sudah nekan tombol F2 belum ?”. “Hoi… jangan ngobrol di lab, kamu dengar saya atau dengar dia”. “Astaganaga, lu di lab ini mau ngurusin blog, chat atau mau kuliah”. “Ha…, kalian lagi belajar atau pacaran sih?”.
[4] Karena fakta keilmuan kita (sang dosen) di lab harus terbukti nyata, jadi bisa mudah ketauan belangnya. Kalo di kelas kan bisa ngomong doang, apa saja bisa diomongin, mahasiswa sekarang kan bisa2 saja dibo’ongin. Kalo kita pintar jual obat, selesai dah semua.
Makanya jangan cuma jago demo, jadi dikibulin elu elu di kuliah… “Ah.. yang penting nilainya gitu lho…”. Kata siapa ini, ayo !
“Ah, bapak, kayak gak pernah jadi mahasiswa saja”
[5] Ada yang berpendapat, karena di lab itu kan dikit kadar ilmiahnya. Yang penting konsepnya, kalo konsep dah OK so pasti praktek pun akan OK. Jadi untuk kegiatan di lab kasi aja ke asisten, atau suruh aja mahasiswa praktek sendiri, itukan kerjaan yg sepele aja. Yang susah itu kan teorinya atau konsepnya, kalo tinggal kerja doang, siapa pun semestinya bisa.
“Hore…, gue jadi bebas keluyuran, mo cari tambahan nih…”
[6] Ada lagi yang bilang begini. Ah kalo mo jago di lab kenapa gak kursus aja, ini kuliah coy, bukan kursus. Kuliah itu sing penting otake, bukan tangane.
“Kursusnya di tempat saya ya ?”
[7] Ada lagi yang ngomong, karena saya dosen senior, gak perlu sibuk2 di lab. Gak level lagi da…h. Yang nglola lab kasi aja ke mahasiswa. Mereka lebih butuh ilmu di lab, bukan dosennya [?].
“Lha tua-tua (senior) itu kan keladi… Makin tua, makin menjadi ilmunya. Bagi2 dong”
[8] Yang lain bilang bgeni, di luar negeri aja kalo masalah lab dosen2 gak ngurusin, itu mah terserah mahasiswa saja mau ngapain mereka di lab, yg penting fasilitas ada.
[9] Lawan yang lain di atas bilang bgene, itu luar negeri yang mana ? Di luar negerinya saya pengelola lab nya malah profesor, mereka ahli luar dalam.
Ayo lo…
[10] Sebenarnya maunya sepuluh point biar genap, tapi apa ya ? Ya udah…, ini kan yg ke sepuluh.
Ok, kalo saya ngomongnya begini,
Mau ngajar di lab atau tidak, yang penting si dosen punya pengalaman langsung dengan bidang yang diajarkannya.
Teman lain ngomong lagi begini, “Emang semua materi di eksakta atau keteknikan bisa di pengalaman langsungin ?”
Saya berheran2 dengan pernyataan bgini,
Apa ya yang diomongin saat kuliah manajemen proyek padahal tak sekalipun proyek2 IT dilakoni. Apa ya yang di cerita in ttg perangkat lunak sementara tak sekali pun episode rekayasa sampe komplit digeluti. Merancang database apa yang diajarkan jika tak sekali pun rancangan databasenya pernah terpakai. multimedia apa yang diceritakan, sistem pakar bagemana yg diobrolkan di kelas, multi tier apa yang dicontohkan, desain web gmana yg diomongin, sistem jaringan komputer apa yang dibahas, … lanjut.
—
Kabar filosofisnya bgini (sok aja nih istilahnya) :
Memang sudah menjadi penyakit kebanyakan anak bangsa ini untuk gengsi terjun langsung ke lapangan. Lalu segala hal yang bernuansa lapangan dianggap mudah aja, bahkan sedihnya, orang2 di lapangan (ini tentang IT lho) jauh dihargai lebih rendah, padahal mereka2 yg di lapangan kadang masih juga harus merombak ulang hasil kerja sang perancang yang acap berantakan itu. Abis jarang ikutan ke lapangan sih…
“Oh.., inikan mudah, tinggal nambah koding di bagian ini aja …”
Kalo mudah knapa gak lo aja sendiri yg ngerjain…? :-( Erosi eh emosi nih…
“Yang berpikir tak terjun langsung ke lapangan. Yang di lapangan tak punya kemampuan berpikir-ulang.”
Yah.., kita sama aja, bayarannya mungkin yang beda.
—
Bapak/Ibu Dosen kenapa sih nghindar ngajar di Lab ?
Karena kita punya seribu satu alasan.
Iyakan ?
Tapi… bukan saya lho…
#Buru2 kabur dari lab#












Wah, Pak. Kalau para dosen ga mau ngajar di lab, para mahasiswanya pada kurang semangat doong !! Misalkan fasilitasnya kurang memadai, maka jadi tantangan para dosen untuk ngajukan proposal dana peningkatan kualitas pendidikan ke pemerintah pusat. Gimana Pak??
Jika mahasiswanya mau chat or lain-lain, bisa dibuat peraturan, ada pengawas asisten juga. Terus tugas-tugas praktikum dibuat yang menarik, insya Allah mahasiswa akan mengerjakan praktikum dengan senang hati, begitu.
Kalau dosen menghindar dari ngelab karena mau cari tambahan, sepertinya ini kurang bertanggung jawab. Padahal sebenarnya jika para dosen mau mendidik mahasiswanya, ini merupakan investasi yang jauh lebih besar daripada tambahan tersebut. Ini menurut saya lo pak.
Wah, artikel bapak lucu banget. Hihi…
Yang benar Pak? Kok keren
BTW kalau dosen malas ngajar di lab mah repot. Coba kalau semua hanya menekankan teori wah bisa berbahaya Pak…
Dengan masuk lab ternyata bisa diketahui kalau ada mahasiswa yang belum paham tentang F2…apalagi dengan hal2 yang lain.
Selain itu sepertinya learning by doing lebih bagus dan membekas dari learning by reading (and or listening).
Kalau begitu Pak Herianto saja yang mengampu semua kelas di lab
fenomena pertama yang menohok sekali hihihihhi
*jadi ingat lab komp kampus saya dulu pak*
bukan lagi celeron tapi P100 wakakkakakakak
sampe saya mengusulkan untuk dibuka museum komp aja :))
btw… kayaknya fenomena itu termasuk posisi kenyamanan dosen jga ya pak.. kalo nyaman dikelas berarti malas turun ke lapangan kali ya hahahhaha
@Annisa
Iya, ini memang fenomena sejauh yg bisa saya amati.
Kbanyakan pelaku [baca:petinggi] akademis merasa bahwa pekerjaan2 teknis adalah masalah sepele.
Untuk sementara aktivitas chat kami batasi secara manual saja, dulu sih pernah mlalui proxi, tapi kita2nya jadi kena blokir juga
Jadi malu nih… siapa ya ?
@deKing
Masalah tombol F2, itu pengalaman real saya lo pak. Kenapa ya, ada anak komputer yg gaptek bgitu. Salah dosen nya juga kali ya ? Atau salah waktu penerimaan nya.
Melihat komentar pak deKing ngomong : “Learning by doing”, jadi ingat waktu kuliah di IKIP.
Mengampu semua kuliah lab ?
Maunya mahasiswa sih iya…
Soalnya, yg lain gak ada yg berbobot sih…
#Ini bukan narsis lagi, tapi lupa ngaca#
@almas
Emangnya mas almas (panggil mas ya?) kuliah dimana ?
Habis gak kuliah di tempat saya sih…
Dulu pertama saya masuk (ngajar) di kampus yg sekarang, PC nya sih sudah pentium 4 semua katanya, ya rupanya maksudnya Intel 400-DX (Di bawah pentium I malah)

Tapi kalo sekarang dah P IV 2 dual core lo…
Beneran nih, sumpah… (masih boleh promosi gak ya?)
Masalah posisi kenyamanan dosen, iya kali ya.
Dan memang [kalo saya] lebih enak nya ngajar di kelas sih, walaupun karena posisi saya saat ini, jadinya banyak juga ngajar di lab.
Padahal, [tnyata] sebagian mahasiswa justru lebih mendengarkan penjelasan kita waktu di lab lho, motivasi mereka umumnya memang lebih besar waktu di lab, apalagi mahasiswa swasta.
yups pak.. sayah termasuk jenis ini pak.. suerrr mungkin kebanyakan duduk dikelas dan dengerin ceramah dari kelas atu SD kali ya pak.. sehingga mahasiswa lebih tertarik untuk belajar di “Lab” dari pada dikelas….
hihihihi Pentium 4 ya pak sippp bener tuh huehueuhehue
sayah dulu sempet mampir di deket Sby pak… 6 taon ga ngerti sama sekali kompi sampe mo skripsi baru ngerti hahahhaha….
panggil almas aja pak.. apalagi sayah kan masih muda jadi kalo “mas” kayak dah tua gitu heuhehuehue
*pak sekalian minta ijin sambung kabel ya pak*
Herianto :
Mantan Ajudan SBY ya ?

Masih muda atau merasa muda nih…
Iya.. saya juga lagi nyiapin space buat nyambungin kabel ke kos2 an tetangga…
hahah…. jadi ketahuan ya Pak jika dosen ogah praktek di Lab… ternyata oh ternyata karena takut ketahuan ilmunya…
barangkali kalau dosen tidak takut ketahuan begonya, maka adem2 aja kali …
salam kenal dan makasih sudah bertandang ke kebunku
Herianto :
Ya gitu lha pak sebagian fenomena yg terjadi…
Terima kasih pak, sama2.
Kapan manen di kebun nya pak ? Ikutan ya ?
saya yang ini gak ikutan komentar deh
)
(soale saya penjaga lab + tenaga pengajar di kelas juga
… nyari tambahan juga deh … wal hasil waktu tidur yang dikorbanin
Herianto :
… Ah, nyari tambahan itu kan manusiawi.
#Bela2 in teman satu aliran#
Sampe tidur di lab juga mas ?
Jangan Pak…
Panggil saja Pak Almas hehehe
Lha saya dan Almas usianya sama, jadi Pak Heri harus adil
Atau Pak Heri panggil saya dan Almas tanpa embel2 saja …
deKing dan Almas
Wah maaf jadi OOT Pak
Herianto :
Kalo guru itu harus siap dipanggil pak atau ibu lho…
Sebenarnya kalo pun pak deKing gak pantas dipanggil bapak itu hanya karena belum ada komplemennya yg untuk dipanggil “ibu” aja : bu deKing ato mrs. deKing
Eh embel-embel “van de Dreef” itu nama calon mertuanya ya ?
wakakkakkakakkakak
betul sekali pak…. Pak deKing skrang kecantol sama Marcellia de Dreef
*kaburrr*
Herianto :
Saya tahu almas agak girang, soalnya saingan di domain lokal jadi berkurang …
Baru baca bahasan ini ..
Jadi ternyata alasan dosen itu banyak ya. Pantes waktu dulu, mereka pada ga mau “turun” .. tapi gpp pak. Justru saya banyak mendapat manfaatnya selama jadi asisten dosen untuk lab.
Herianto :
Wah bisa jadi hubungan mutualisme ya bang…