Menyandingkan Konsep dengan Action
22 Agustus, 2007 oleh Herianto
Saya termasuk yang tidak begitu antusias mengikuti perkembangan ilmu manajemen, tapi yang akan saya ceritakan kali ini justru berkaitan dengan ilmu manajemen atau katakanlah sekedar dalam tataran praktisnya.
Saya memulainya dari pertanyaan berikut :
Mana yang lebih penting di sebuah organisasi, konsep2 selangit yang dimiliki organisasi itu atau action2 (operasional) [nyata] yang dilakukan oleh personalnya ?
Pertanyaan lebih spesifiknya begini : Mana yang akan lebih signifikan mempengaruhi kemajuan sebuah organisasi, konsep selangit tetapi operasionalnya minim atau konsep yg minim tetapi operasionalnya OK.
Pertanyaan ini muncul gara2 saya pernah mengajar di dua Perguruan Tinggi dengan dua tipe berbeda di atas. Perguruan tinggi pertama memiliki konsep2 yang lumayan OK : bunyi visi, misi dan tujuannya wah OK banget, nyambung banget dari atas ke bawah. Aturan2 dan berbagai prosedur lain tersedia detail2nya dengan lengkap. Tapi operasionalnya kacau. Pengawasan (kontrol) cuma di kertas doang, rencana2 tak jelas kenyataannya bagaimana dan seterusnya (gak perlu saya omongin semua dah, menjaga privasi mereka tentunya).
Sementara perguruan tinggi kedua memiliki konsep2 yang minim bahkan menurut saya bisa dikatakan tak karuan. Visi misinya aja bunyinya gak beraturan, sejumlah peraturan kalo ditanya tidak tersedia dengan lengkap dan seterusnya. Tapi di ranah operasional atau yang saya sebut action tadi lebih maju. Dosen2 terus dipacu kompetensi terutama materi ajarnya, mahasiswa diberi pemotif yang nyata, karyawan2 bekerja terawasi dan seterusnya. Semua ide dilakukan cuma sekedar dari obrolan2 kecil, tetapi begitu dia (pimpinan) tau bahwa itu “baik” langsung dia [mau] menerapkan.
Seterusnya apa yang saya saksikan ? Perguruan tinggi kedua jauh lebih nyata “unjuk kerjanya” ketimbang yg pertama. Unjuk kerja di sini maksudnya adalah seperti prilaku intelektual mahasiswanya (lebih rajin), kesigapan kerja karyawannya (lebih disiplin) dan yang terpenting adalah animo masyarakat untuk memasuki perguruan tinggi tersebut (lebih banyak).
Satu2 nya kekalahan yang dialaminya adalah tatkala orang2 BAN (Badan Akreditasi Nasional) datang ke kampus yang kedua tadi dan ditanyakan masalah visi misi dan konsep2 lain tadi. Orang2 BAN sendiri ketawa dengan “bunyi” konsep dan jawaban2 pimpinannya waktu itu. Tetapi menyaksikan hasil dan berbagai hal nyata lain (data/fakta) di tempat itu, mereka (orang2 BAN tadi) justru takjub. Kampus ini mendapat nilai B dari BAN, dan anda tentu terkejut jika saya katakan bahwa kampus pertama yg lengkap dengan konsep2 sempurna tadi ternyata hanya diberi nilai C oleh BAN. Ternyata tidak jadi kalah juga tuh yang kedua ?
Saya tahu. Yang benar adalah : “Sebuah organisasi dengan konsep yang matang dan operasional (action)-nya juga OK”. Tetapi [kberadaan] yang begini kan namanya ideal[is]. Yang umumnya terjadi di lapangan adalah, ada yg condong mengutamakan konsep dan ada yang condong mengutamakan konsep dan ada juga yang condong mengutamakan konsep. Lha…, kok konsep semua. Saya ingin mengatakan bahwa kbanyakan kita tertipu oleh konsep2 yang matang, lalu mengira dengan berhasil menyusun konsep yang matang itu saja sudah merasa puas lalu akhirnya mengabaikan tahap operasionalnya.
Betapa konsep yang matang itu penting, tetapi betapa lebih penting lagi mengawalnya sampe level operasionalnya (aspek kontrol). Lihatlah Jepang (kayak pernah ke Jepang aja… jujur belum pernah, tetapi mengamati dari media), konsep2 sederhana yang mereka miliki langsung dilakukan dalam bentuk nyata, bahkan walaupun sebenarnya konsep itu kecil atau belum matang benar.
Spirit yang hendak saya sampaikan :
Jangan tunggu2 munculnya konsep yang matang [dulu] untuk bekerja. Lakukanlah, walau sesederhana apa pun konsep [jika baik menurut anda saat ini, lakukanlah], itu [melakukan] lebih penting ktimbang menunggu, menunggu dan menunggu [kesempurnaan konsep].
Ah, saya bicara pada diri sendiri.
Bukan pada tempat dimana saya berdiri, bukan pada negeri dimana saya lahir dan dibesarkan. Cuma pada diri sendiri.
—
Berteriaklah sang [pengaku] Nasionalis, “Indonesia… jiwa raga kami”.
Ah… konsep. “Mereka” bahkan tak perlu berteriak sekeras itu.
—












Kemarin tulisan Pak Herianto tentang skripsi jadi saya hanya membaca tanpa berkomentar karena itu hanya akan mengingatkan saya pada thesis yang masih macet hehehe…
************************
Kalau pilihannya hanya di antara dua tsb maka akan saya analogikan sbb:
Pilih mana jika kita diberi resep masakan rendang sapi atau kita diberi tempe, tepung dan minyak untuk ditindaklanjuti (dimasak)?
Jika kita memilih resep ya silakan makan tuch resep…(maaf istilah kasarnya seperti itu).
Tapi jika kita memilih tahu maka kita bisa menggorengnya walau mungkin tempe goreng tidak selezat rendang sapi.
*********
Tapi…
Jika pilihan tidak sempit pada dua pilihan tsb maka tentu saja akan lebih baik jika diberi resep masakan (walau tidak mewah) beserta bahan2 yang diperlukan untuk dimasak.
**********
Hehehehe kok analoginya makanan sich
Maaf Pak, pulang dulu. Jadi lapar nich
“Kerjakan apa yang ditulis, tulis apa yang dikerjakan”. Bagai mana kita bertindak kalau tidak ada konsep. Namun konsep saja tidaklah cukup tanpa tindakan. Bertindak tanpa konsep seperti apa jadinya. Seminim apapun dia, konsep tetap harus menjadi acuan dalam berindak.
@deKing
Antara postingan ini dan postingan masalah skripsi kmaren berkaitan lho pak … Ayo
Di negeri saya (Indonesia), jauh lebih banyak manusia2 yg ahli membuat konsep ktimbang yang profesional dipelaksanaannya. Perhatikan misalnya di dunia Pendidikan. Menurut saya hampir semua model Pendidikan (kurikulum) yg acap berganti2 itu bagus semua (secara konsep). Hanya saja ketika di penerapan (lapangan) pada umumnya tidak benar2 terseriusi dan terawasi benar pelaksanaannya. Jadinya ya kebaikan dari setiap konsep itu belum sempat ternimati, eh sudah diganti dengan sistem lain.
Kita kbanyakan sminar dan penelitian yg dananya mahal2, hasilnya seakan2 dibuang aja ke tong sampah. Tanya kenapa ? Karena kita mengabaikan [kepentingan] operasionalnya.
Biarlah ilmu kita dikit tapi dilaksanakan, ktimbang ilmu kita segunung tapi tak [jua] diterapkan. Kita sdemikian sibuk seminar, diskusi, dari dialog ke dialog, dstnya, itu mlulu.
Dikisahkan para sahabat di masa rasuluLlah, bahwa ilmu [keislamannya] tidak ditambah oleh rasuluLlah sebelum mereka melakukan (mengamalkan) apa yg sudah diberikan sebelumnya.
Kita tidak berdosakan mengamalkan suatu amalan sesuai ilmu kita saat ini. “La yukallifuLlahu nafsan illa wus’aha”. Malah dianjurkan.
Jadi ke masalah agama nih…
Teruslah belajar, tapi lakukan apa yg anda capai pemahamannya saat ini.
Ada lagi manusia perfeksionist. Segala sesuatu itu harus sempurna dulu [ideal] baru dilakukan. Misalnya :
[1] Ada sejumlah mahasiswa yg merasa dirinya pintar, gara2 dia tidak diterima di PT kelas atas eh dia tidak mau sama sekali kuliah padahal [dana ortu] mampu.
[2] Juga berkaitan dengan mahasiswa yg merasa dirinya selama ini hebat/pintar, trus cari judul skripsi maunya juga yg hebat2, model pembahasan juga harus hebat, akhirnya skripsi gak juga digarap2, karena dia merasa belum ideal trus, akhirnya macetlah pekerjaan skripsinya (contohnya saya lho, yg lain jgn tersinggung)
[3] Ada pemuda yang mnunda2 pernikahan, karena maunya cari calon istri yang kpribadiannya ideal [sempurna] trus. Stiap ada calon ditawarin, kalo ada “cuil” sedikit ditolak, “cuil” yg lain ditolak, dstnya. Kapan kawinnya ?
“Mei”, katanya. Maybe Yes maybe not.
[4] Ada pemuda yg lain yg menunda2 pnikahan juga karena mrasa belum punya kpribadian. Penghasilan pribadi, rumah pribadi, mobil pribadi, dstnya. Melakukan persiapan sebelum nikah ya bagus sih, tapi kan gak mesti memiliki kpribadian ideal2an bgitu.
Dan masih menjalani kuliah juga mnurut saya bukan alasan untuk mnunda2 pernikahan, apalagi kalo kuliahnya S2, di luar negeri lagi, kan godaannya besar tuh…. Lha ujung2nya kok jadi gini ya…
#Ah sudah dulu ya, penyakit usil saya memang mudah kambuh kalo dengan pak deKing ini#
@mys
Yup, bagus tuh komentar mu lae…
Tapi login dulu ke blogmu biar ada photo avatarmu, OK.
hhoooooiiiiiiiii….maksudnya apa Pak?
Jangan gitu dong pak, saya kan juga belum siap kalo sekarang.
Hik hik hik…
@deKing n cK(nyamar)
Saya juga bingung, ini ngomongin apa sih ???
[...] buat gara2 di jalur darat ada sjumlah bisik2 yang mempertanyakan pemahaman saya di postingan sebelumnya yg seakan2 menafikan kpentingan konsep (teori). Saya khawatir juga jangan2 mahasiswa yg mbaca [...]
ya memang kita tidak bisa bertanya seperti itu. kosep yang baik ada pada organisasi mapan. tapi jangan terlalu baik bagi organisasi yang sedang bertumbuh. itu tahapan yang memang harus dilalui. penempatan strategi juga harus tepat. memang mengesalkan kadang, tapi ya kita anggap sebagai hal biasa saja
@Boston
Pdapat mas Boston mberikan pcerahan yg berarti agar kita eh saya bisa mlihat fenomena ini lebih bijak. Tks.
Maaf nih gak sempat login, lagi kabur dari kantor.