Tatkala lega melepas dendam
10 Agustus, 2007 oleh Herianto
Kisah ini renungan saja, namun demi menyembunyikan beberapa hal, telah digubah dari kejadian aslinya, harap maklum !
—
Tema asli :
Mengeratkan ukhuwah jauh lebih urgen ketimbang memperbesar celah di antara kita. Kita berbeda tetapi tentu ada saja titik2 samanya. Lalu kenapa yang berbeda ternyata lebih kita kentarai. Biar kujawab untuk diriku, “Karena kita sama egonya”. Tapi aku tak suka.
Ayo lomba cepat, siapa sigap berubah. Aku dan teman2ku lebih suka berdulu2an.
—
Begini kisahnya :
Seorang sahabat meng-erat-kan genggaman tangannya di antara jari-jari panjang kurus ini, bersalaman, berkata,”Semoga komunitas anda mendapat pelajaran atas hukuman ini“. Sungguh salaman ukhuwah yang menyulut senyum. Dia menepuk pundakku, dan kami sama tersenyum. Tapi sungguh itu bukan senyumnya yg biasa.
—
Sebenarnya aku tidak begitu peduli. Tapi teman lain membisikkan,”Mereka berpesta pora dan menghamburkan kata2 di ruang sebelah”. Lalu, bukankah kepalaku wajib bertanya : [1] Pesta pora apa ? [2] Mendapat pelajaran atas hukuman apa ?.
Ah, sedemikian sempitkah gaul hidupku sehingga tidak memahami keluasan ragam prilaku manusia ? Bahkan tentang sahabat sendiri pun aku tak mengerti dia.
—
Katakanlah, aku sedemikian polosnya.
Tetapi teman lain itu menceritakan,”Bla bla bla bla… bla bla bla bla….”.
“Ha…?!”.
—
Saudaraku…,
tidak sedikit pun aku menduga tentang terpeliharanya dendammu itu. Ternyata ada dusta diantara kita. Aku gagal membina ukhuwah yang semestinya. Alangkah dosa yang melekat dari pundak bahu sampai ujung2 kakiku, telah membuatmu sedemikian berprasangka asing dan mengabaikan kedekatan kita. AstaghfiruLlah…
Jangan pelihara lagi dendam itu sahabat, atas apapun itu nama yang kau berikan saat mendalihnya. Atas apa pun nash yang kau bacakan padaku untuk meng-argumentasi-kannya.
Bukankah aku juga manusia, yang dapat terlecut untuk menuntut ulang atas lampias dendammu. Oh, tidak. Aku tak ingin dirugi dendam.
—
Sahabat. Ma’afkan atas kepolosan aku dan teman2. Kami tak mengerti ternyata kau mampu pelihara selama itu. Bahkan sampe kini masih terlampau rumit untuk dimengerti tentang apa2mu yang kami curi ? Sudahlah.
Sudah kuajak mereka tersenyum atas legamu melepas dendam.
—
Tapi apa pun kisah tentang dendam, tak akan pernah terpuaskan.
Jangan pelihara dendammu lagi wahai sahabat !
“Dendam adalah lampias kebencian. Kebencian akibat perbedaan diantara kita. Lalu kenapa tak kau benci juga Tuhan ? “
—
Lalu, siapa yang bertobat ?












Kepada Allah kita kembali kan sgala urusan..
yg penting selalu tetap berniat, beramal dan berprasangka baik
keikhlasan adalah proses
salam kenal
sebaiknya kita lebih berpasrah atas pengalaman hidup yang begitu banyak critanya….anggap saja ini perjalanan hidup yang telah di nasib kan untuk kita….
Dendam pada kemiskinan yo ora popo