“Meta” Hipokrit
25 Juli, 2007 oleh Herianto
Meta hipokrit [secara sepihak] saya maknai sebagai karakter orang2 yang merasa kebaikan yang sebenarnya itu tidak ada pada prakteknya di dunia ini. Akibatnya orang2 seperti ini kbanyakan pun pada akhirnya memang benar2 tidak mampu menerapkan nilai2 kbaikan itu di kehidupannya sendiri.
—
“Orang yang benar-benar] ‘baik’ itu tidak ada. Itu hanya ada pada cerita2 di kitab suci, hanya ada di omongan2 para ustadz/ulama/moralis, atau sekedar kisah yang didongengkan di masa kecil sebelum tidur“, Katanya.
—
“Tidak mungkin ada orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih, tanpa dalih, [atau tanpa] demi menguntungkan kehidupan [dunia] nya”, Katanya.
“Tidak mungkin ada orang yang berjuang yang dananya di keruk dari kantongnya sendiri2, itu cuma omongan2 demi mengangkat citra diri komunitasnya semata”, Katanya.
“Tidak mungkin ada orang yang berjuang benar-benar [murni] karena Islam, itu cuma gembar-gembor aja untuk memperalat agama demi menaikkan simpati masa”, Katanya.
“Mana mungkin dia mempopulerkan kelompok atau partai-nya kemana2, menempel stiker, spanduk dimana2, memperkenalkan citra baiknya di/ke mana bisa, kalo tidak karena ada apa2 nya, kalo tidak karena ada upah duitnya, kalo tidak karena …, kalo tidak karena …, kalo tidak karena …, katakanlah karena berharap nanti2 bisa jadi anggota perlemen, yang peluang masuk duitnya lumayan besar, atau karena…, atau karena …”, Katanya.
“Mana mungkin orang mau bekerja dan/atau memilih orang2 untuk diminta bekerja, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang”, Katanya.
“Mana mungkin ada orang baek2 di jaman seperti ini…”, Katanya. ”Hare gene ngaku sebagai orang baek-baek ??!?”
“Mana ada cerita ikhlas, cerita tanpa uang, cerita tanpa ‘gila’ kekuasaan atau cerita tanpa ‘gila’ perempuan, atau tanpa gila-gila-an ‘laen-nya’, di jaman gila ini”, Katanya.
Teriakan-teriakan di atas hanyalah sekelumit contoh dari merebaknya fenomena meta hipokrit di sekitar kita.
Prasangka
Sebenarnya kalo mau, kita bisa menilai kualitas (ruhiyah, spiritual) diri sendiri melalui ”kadar” prasangka yang sedang dimiliki. Seperti kata-NYA, ”Aku seperti apa yang kau sangka tentang AKU“. Di kalangan sufi beredar cerita tentang seseorang yg ter-vonis ”neraka” berdasarkan hasil proses “aplikasi hisab versi 4kh1r4t”. Kemudian dia ditanya,”Lalu menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirimu ?” Si seseorang tadi menjawab,”Engkau pasti akan mema’afkan aku dan memasukkan aku ke surga Mu”. Dan akhirnya ia benar2 dimasukkan ke komunitas surga berdasarkan prasangka baiknya tersebut.
Tapi, semudah itukah untuk masuk ke surga ? Ini tentu ada penjelasan komprehensifnya. Inti pesannya adalah, prasangka baik itu perlu dan kepentingannya adalah untuk kita sendiri.
Kita tidak dilarang berprasangka, bahkan berprasangka adalah bagian dari prilaku “fitrah” yang tak adil kalau itu sekiranya dilarang. Seperti kita juga tidak dilarang atas prilaku fitrah yg lainnya semacam : gusar, cemas, takut dan seterusnya. Yang diminta dari kita adalah manajemen atas itu semua. Manajemen prasangka, manajemen gusar, cemas dan takut yang kita miliki harus berorientasi pada standarisasi yang digariskan-NYA, yakni : ridha-NYA.
Dalam kaitan ini, manajemen prasangka yang dianjurkan-NYA adalah : kita harus lebih condong kepada prasangka baik (husnudzan) ketimbang prasangka buruk (su’udzon) atas sesama. Sebuah anjuran sederhana, tapi jangan kira mudah menguasainya. Butuh ilmu, latihan dan kearifan.
Berprasangka baik pada siapa ?
Berprasangka baik pada orang2 yang tidak ada larangan untuk berprasangka baik padanya.
Akibatnya
Akibat dari prasangka buruk yang menyimpang adalah : kita akan terdorong untuk melakukan apa yang kita pra sangka buruk-i itu.
Contoh-contoh :
Kenapa ada orang yg [tega2nya] korupsi ? Salah satunya adalah karena dia mengira semua orang di sekitarnya korupsi. Dia mengira “MUNAFIK” kalo sekiranya ada orang2 yang ngaku tidak akan korupsi.
Kenapa anda berbohong ? Karena anda mengira berbohong itu biasa2 aja. Anda mengira berbohong itu adalah strategi semua orang untuk berkelit dari [cara mnutupi] klemahan2 kualitas diri. Eh, bukan kualitas diri yang diperbaiki, tapi malahan keluasan ragam (keragaman) berbohong yang dikantongi.
Kenapa mereka berzina, kenapa mereka berselingkuh ? Ya sama, karena itu. Karena mereka mengira orang2 laen juga pada berzina atau selingkuh itu.
Kenapa mereka minta uang untuk sekedar [mau] berkoalisi, kenapa mereka mengira “hidung” kita tersedoti pundi2 waktu memilih ? Ya penyebabnya juga sama.
Kenapa mereka berteriak, “Politik itu kotor ? Berkata,”Awas, pinggir, pinggir, moral dan agama di larang masuk…“.
Kenapa kita mengira semua orang pada brengsek, yg menggiring kita pun menjadi brengsek…
Kenapa ada yg tidak shalat ?
Kenapa kita santai2 saja ?
Kenapa kita mesti apatis, “Ah bodo ah, emang gue pikiran?“
Karena kita mengira dan mengira bahwa seolah-olah :
“Tidak ada lagi peluang kebaikan di dunia ini”
Coba tanya, kenapa ?
—
Aku kasihan aja, kalo sekira itu adalah aku.












setahu saya pamrih yang terbesar khususnya dimasyarakat indonesia adalah
“balasan surga-Nya” dan ” mengharap ridlo-Nya”
NYa untuk siapa saya juga tidak ngerti…
Jangan khawatir mas Suluh, masih ada peluang kebaikan dari sedemikian banyaknya kemunafikan yg bertebaran.
Selalu ada.
Tuhan akan mendekatkan kita ke orang2 yg se “hati” dengan kita. Ini semacam hukum resonansi gitu lu. Yang frekunsi-nya sama akan mudah konek-nya.
Apak kabar nih dah lama gak silaturrahmi, eh saya juga ya…
Termasuk orang2 yang beribadah karena mengharapkan imbalan pahala dan surga dari Alloh ya Pak
@deKing
Memang dari peng-giat sufi, tarekat dan semacamnya ada yang [sampai] pada anggapan bahwa “tidak sepatutnya kita mengharapkan surga dan pahala dalam beribadah pada-NYA.
Kalo tidak salah kata2 ini pernah diungkapkan oleh Rabithah dan/atau Siti Jenar ya ? CMIIW, saya lupa.
Tapi pada postingan ini bukan itu yg saya maksud. Agar tidak terjadi kesalah-pahaman, maka sejumlah redaksi pada postingan ini saya edit kembali.
#Sebenarnya pada postingan ini saya sok berlagak Satire, tapi gagal#
mas… urlnya jelek banget.. ada persen2 segala… coba diedit biar asik
/2007/07/25/%e2%80%9cmeta%e2%80%9d-hipokrit/
Herianto :
Wes ewes ewes…
baru tau aku kalo bisa diedit….
Thanks..
test aja…
meta hipokrit memang tengah kaprah…. tapi mungkin itu hanyalah lintasan pemikiran ses(a)at. banyak yang kemudian menyadari karena tercurahi hikmah… akhirnya sadar… tapi kadang kembali lagi.. ya begitulah pengalaman saya.
inilah hebatnya kader2 pks. Hampir semuanya mau berjuang… anehnya partai lain kok enggak ya… (saya masih ragu pilih mana)
salam kenal mas…
aku sih cukup meminimasi prasangka buruk dan meningkatkan amal lillahi ta’ala aja..

jd mulai dan terus bergerak dalam amal aja deh..
@kurtz
Terimakasih pak atas kunjungannya…
Eh, teman2 NU kan umumnya milih pak Foke…
Ya silahkan aja pak ? Kan gak mungkin kita harus sama di banyak hal, tapi di lain hal pasti ada celah dimana kita bisa bersama… misalnya di Pilkada DKI sama2 milih : Adang, la la kok masih kampanye nih… Panwasda… priit…
@oRiDo
Amal shaleh dan aktivitas… Insya Allah
Salam kenal mas …
assalamualaikum..
saya sedang mencari seorang teman dimana saya bisa belajar lebih jauh tentang agama islam..
saya sendiri seorang muslim tapi pengetahuan saya sangat minim tentang agama.
wassalam.
Herianto :
Wa alaikum salam…
Dalam situasi apa pun jangan tinggalkan shalat, shalat dan shalat akhi…
Khazanah pemikiran dan aktivitas Islam memang beragam, dan keragaman itu membentuk komunitasnya sendiri. Hati kita mudah konek dengan komunitas yg frekuensi nya setala dengan kita. Wallahu a’lam…
Saya sekeluarga mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” mohon maaf lahir dan bathin.
Herianto :
Sama-sama mas Tutang.
Mohon ma’af lahir batin juga.