Muhammadiyah vs NU : Siapa tradisional, siapa modern [?]
18 Juli, 2007 oleh Herianto
PRAKATA
Semacam Biografi Islam[ku]
Yang menulis postingan ini (Saya, Herianto) menjalani pendidikan dasar (SD) dan ibtidaiyah di sekolah berbasis NU. Pagi SD, siangnya ibtidaiyah di Lembaga Pendidikan berlabel Al-jami’atul Washliyah yang disebut berbasis NU tadi. Sebenarnya [mnurut saya sekarang, CMIIW] lembaga pendidikan ini tidak benar2 turunan/cabang dari NU, tapi keberpihakan terhadap mazhab Syafi’i dan kecendrungan membiarkan (tak meneruskan/menyempurnakan) bekas jejak (marhalah) dakwah “Wali Songo“, membuat saya tergoda untuk memasukkan Lembaga Pendidikan ini ke kelompok NU (NU like, sekali lagi CMIIW). Lalu pendidikan tingkat SLTP saya jalani di sekolah Muhammadiyah. Kalo ini saya yakin benar Muhammadiyah-nya, makanya tidak pake istilah “berbasis“ Muhammadiyah. Seperti yg kita ketahui, Muhammadiyah tidak menyandarkan diri ke salah-satu Mazhab Fikih yang ada, walaupun secara tersirat [menurut saya] kecondongan itu ada juga (ke Mazhab Maliki atau Hanafi ya? CMIIW). Lalu pendidikan selanjutnya (SLTA, Sarjana, Pascasarjana) saya ikuti di sekolah2 umum/sekuler (tidak berbasis agama).
Gejolak
Ada gejolak yang “tak nikmat“ yg saya rasakan di masa2 awal perkembangan pemahaman keagamaan (di sekitar usia 6 s/d 15 tahun). Ini berkaitan dengan perbedaan faham ke-“NU“-an Al-jami’atul Washliyah dan Muhammadiyah. Ada konflik, debat [kusir], saling sikut[-sikat], bahkan di tingkat “grace root“ “grass root” terjadi aktivitas berantem alias tonjok2 an antar pendukung masing2.
Kekaguman dan Kebencian
Sampe sekarang (alhamdulillah) saya masih mudah mengingat guru2 [agama] yg saya kagumi di masa-masa itu seperti berikut (sambil mengenang) : [Alm] Mu’allim Bajolli/Panusunan (pengajaran nahu-syaraf ustadz ini sampe sekarang masih mbekas, insya Allah), Mu’allim Husein (sekitar sebulan lalu di walimahan adik ktemu ustadz ini, sudah puluhan tahun tidak bertatap muka, subhanaLlah ustadz tidak lupa), Mua’llim/ustadz Yunus (Beliau ini dulunya termasuk ustadz muda, sekarang kabarnya sudah jadi Pengusaha sukses dan Politikus kawakan dari PPP di Sumut, masih dakwah kan ustadz ?), Mua’llim/ustadz Adek (Beliau ini juga di masa itu masuk kelompok ustadz muda, subhanaLlah ustadz ini bertahan/istiqamah di Sekolah lama saya itu sampe sekarang), dan [alm] bapak Yauman BY (Bapak ini guru sekaligus paman saya, “Ma’af maketek/keluarga, saya gak sempat menghadiri pemakaman itu, semoga Allah melapangkan peristirahatan dan menerima dengan ridha-NYA. saya sudah menerima jejak tulisan tangan langsung maketek tentang Islam dan Muhammadiyah yg belum sempat terpublikasikan itu). Dari yang tersebut di atas yaitu Mu’allim Panusunan, Mu’allim Husein, Mu’allim Yunus dan Mu’allim Adek adalah ustadz-ustadz dari pendidikan Al-jami’atul Washliyah (NU like), sedangkan bapak Yauman BY dari pendidikan Muhammadiyah. Kenapa lebih banyak mencantumkan (baca:mengagumi) ustadz-ustadz yang dari non Muhammadiyah, padahal pemikiran antum sekarang lebih dekat ke Muhammadiyah ? Jawab saya,“ Karena saya belajar di Pendidikan Al-jami’atul washliyah (NU like) tersebut secara formal bisa dikatakan terjalani selama 12 tahun (6 tahun paralel, SD+ibtidaiyah), sedangkan di Muhammadiyah hanya 3 tahun formal.
Tentu ada bahkan lebih banyak lagi mu’allim/ustadz/guru yang saya pantas kagumi di masa-masa itu. Tapi katakanlah, yang tersebut di atas adalah yang lebih membekas.
—
Di masa-masa ini terjadi kontradiksi antara kekaguman dan kebencian yang menimbulkan gejolak pribadi saya atas ’pemahaman’ tentang Islam. Saya (Herianto muda) seperti dipaksa (waktu itu) untuk memahami segala yang terjadi dengan arif. Tapi saya gagal. Fenomena gontok2 an antara 2 (dua) kelompok pemahaman itu (Alwashliyah vs Muhammadiyah) menoreh rasa kebencian khusus. Benci pada mereka2 yg bertikai “faham“.
Sayangnya kebencian itu tidak tersalurkan secara normal. Yang terjadi adalah saya jadi membenci apa pun formalitas bentuk implementasi Islam (katakanlah seperti jilbab, janggut, jidat istilah anak2 sekarang). Di tatapan mata saya semua itu seperti ”kemunafikan”. Apalagi setelah itu saya masuk ke SLTA sekuler (STM Negeri Pematangsiantar, Negeri Batak), dimana komunitas non muslim (di tempat itu) lebih berkuasa. Opini2 negatif tentang Islam yang digulirkan teman2 non muslim di sana, ditambah dengan kenangan ketidak-akuran antar kelompok Islam sendiri, cukuplah menjadi dalih bagi saya untuk menggemari pemahaman (buku2) sekuler yang sama sekali tidak meng-kaitkan pembahasan apa pun dengan masalah2 keagamaan. Untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan tentang ‘moral’ dan pengembangan diri, saya hanya mau membaca (kebetulan hobinya membaca nih) buku-buku yg tidak mengkaitkan pembahasannya dengan agama. Bagi saya agama (waktu itu) adalah, BUSYET … Pencipta “konflik” [?]. Astaghfirullah…
PEMBAHASAN
Bukan Waktunya
Pesatnya perkembangan (penyebaran) pemahaman/pemikiran keagamaan (Islam) akhir-akhir ini sebenarnya [semestinya] menyiratkan satu kesimpulan, bahwa bukan saatnya lagi menghadapkan face to face antara : Muhammadiyah dan NU. Kenapa ? Karena [menurut saya, merujuk pada fiqul waqiyah] permasalahan nyata ummat [Islam] saat ini [kontemporer] yaitu tentang ketertinggalan ummat dalam banyak hal baik di pengamalan ajaran Islam itu sendiri maupun kancahnya di kehidupan ini, jauh lebih prioritas untuk dihadapi bersama, ktimbang ribut2 [misal semacam debat kusir apalagi debat kasar] yang tidak jelas manfaat dan penyelesaiannya.
Lalu Kenapa Judulnya ?
Ada satu hipotesa yang saya setujui yang menyatakan bahwa : pada suatu ketika setiap kelompok (pemikiran, jema’ah, gerakan) ummat yang ada saat ini akan mencapai satu titik kesimpulan (wasilah,manhaj) yg sama dari sejumlah perbedaan yang [masih] mereka miliki saat ini. Hipotesa ini [menurut saya] didukung oleh perkembangan Teknologi Informasi yang semakin pesat yang membuat ruang dialog (fasilitas saling pengaruh) semakin nyata, dekat dan meng-global.
Postingan ini hendak memperlihatkan bahwa batas-batas perbedaan antara Muhammadiyah dan NU (dalam hal gerakan pemikiran) semakin tak kentara, yang sekaligus dapat jadi rujukan dan/atau bagian fakta awal atas hipotesis di atas.
Muhammadiyah vs NU : Siapa modern, siapa yang kolot ?
Dahulu muhammadiyah dikenal sebagai organisasi (gerakan) Islam yang lebih modern ketimbang NU yang disebut2 organisasi Islam Tradisional. Ini sering dijadikan premis yang [kadangkala] dimanfaatkan oleh teman2 Muhammadiyah untuk memperlihatkan bahwa kelompoknya lebih baik (baca : lebih maju/modern). Kenapa ? Karena Muhammadiyah merasa lebih menggunakan pemahaman terbaru dalam hal pemikiran keagamaan [Islam] yang tidak condong ke mazhab tertentu (Entah kenapa sikap netral ini dahulu menjadi dianggap pilihan orang2 modern) dan lebih membuka pintu ijtihad (peran akal) di dalam fatwa2 keagamaannya. Lalu NU, kesan dominasi para Kiai (teokrat ?) dan optimalnya penggunaan kitab kuning (warisan ulama masa lalu) membuat kelompok ini wajar dimasukkan ke kelompok tradisional waktu itu.
Lalu apakah dikotomi seperti ini sekarang masih relavan ?
Ketika istilah Islam kontekstual diperkenalkan, dikotomi seperti ini mulai mencair. Fakta dan sejumlah kajian justru memperlihatkan bahwa Islam model NU jauh lebih kontekstual dibanding Islam model Muhammadiyah, yang justru bisa saja disebut lebih literal. Lalu ketika aliran kontekstual dikait2kan dengan suatu pemahaman yang modern dan literal dianggap sebagai pemahaman yang sifatnya ketertinggalan (kuno), maka dikotomi di atas menjadi berbalik. Muhammadiyah menjadi tradisional dan NU justru yang modern. Fenomena keterbalikan skor ini menjadi bertambah tajam ketika orang2 NU mengaku bahwa Islamnya adalah Islam substantif dan yang lain [kbanyakan] Islamnya masih Islam simbolik. Akibatnya bertambahlah “kecongkaan“ atas “pengakuan” ke-modern-an si NU. Ini wajar karena akibat dari julukan kekolotan (tradisional) sebelumnya membuat keterperanjatan mereka atas “titel baru“ modern itu membentuk sinyal “impuls“.
Selanjutnya ketika aliran dengan klasifikasi modern dianggap sebagai sesuatu yang lebih baik, maka sejumlah anak2 muda masa kini mulai mengalihkan perhatiannya ke Islam model NU. Istilah mereka Islam yang lebih meng-Indonesia dan tidak sok kearab-araban. Kelompok anak2 muda dari NU sendiri akhirnya membentuk grup (karena ternyata sebagian kiai NU merasa terusik dengan gebrakan mreka) yang [tentu saja] demi optimalnya gerakan pemahaman mereka lalu mempopulerkan istilah : Islam Liberal. Secara struktural, gerakan ini berlabel : JIL. Teman2 lain ada yang mem-plesetkan ini dengan kepanjangan : Jaringan Iblis Liberal. Ada benarnya sih, karena akibat dangkalnya kedalaman akal2 an sebagian dari mereka, iblis pun menjadi lebih mudah memainkan perannya. Yah…, dari sini jadi ketauan nih aliran pemikiran saya. Tapi kenapa ? Berikut alasannya.
Kontekstual vs Literal
Pada akhirnya pemilik postingan ini harus memperlihatkan pijakannya. Netral ternyata tak mesti dikaitkan dengan kebaikan apalagi pilihan modern. Bukankah prilaku “Bunglon” dan “Netral” seringkali memperlihatkan hasil yang sama, yaitu : fenomena “cari aman”.
Begini,
Ada dua kelompok ekstrim dalam hal ini. Ada yang ekstrim kontekstual dan ada yang ekstrim literal. Gerakan Islam Liberal adalah representasi dari ekstrim kontekstual, lalu teman2 yang menyebut dirinya dengan pengikut Salafy adalah representasi dari Islam literal. Biasanya para pendukung Islam liberal protes bahwa tidak semua mereka dominan (murni) di gerakan kontekstual, sebaliknya justru jarang sekali teman2 Salafy yang protes tentang tuduhan terhadap ke-literal-an mereka. Kenapa ? Karena pada umumnya mereka tidak mau tau dengan istilah literal tersebut, apalagi [mnurut mereka] tidak ada rujukannya dari ulama2 masa lalu (as-salaf) yang mereka “kultuskan”.
Mengacu ke hipotesis tersebut di atas, kedua kelompok ini pun [dihipotesa] suatu ketika akan “keluar” dari pemahaman ekstrimnya masing2, lalu mencapai satu titik “syar’i” bersama, yaitu terjadinya : konvergensi antara metoda kontekstual dan literal.
Manfaat Kebebasan (Liberal)
Kebebasan semestinya bermanfaat, tetapi ternyata kbanyakan dimanfaatkan. Hakekat kelompok liberal sesungguhnya bukan masalah kontekstual semata, ilham dari gerakan mereka tentu seperti dari rujukan namanya : liberal (bebas). Entah darimana asal-muasalnya, mereka2 yang ekstrim dari kelompok ini menjadi menafikan kepentingan amar ma’ruf nahi munkar. Istilah-istilah seperti : Kebenaran adalah milik Tuhan, sesama manusia jangan mem-vonis, Siapa yang tahu batas akal, dan sebagainya, dan sebagainya, sering dijadikan dalih bahkan larangan bagi orang lain untuk berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar). Mulanya mereka2 ini sekedar melarang (menyebar opini negatif) dakwah dengan kekerasan, lama kelamaan mereka2 yg ekstrim dari kelompok ini juga mencemo’oh dakwah dialogis, terutama ktika ketersudutan “vonis-syar’i” tak mampu dilawannya dengan argumen akal yang mengaku tak tahu batasnya itu.
Perhatikan bahwa postingan ini berakhir dengan melupakan tema dikotomi : Muhammadiyah vs NU di atas.
Pengakhiran
[1] Muhammadiyah dan NU adalah 2 (dua) kelompok/organisasi Islam terbesar di negeri ini, kemudian belakangan muncul juga kelompok lain dalam bentuk jema’ah dan/atau gerakan. Citra positifnya adalah mereka bekerja, sedangkan citra negatifnya adalah : adanya fenomena saling serang/melemahkan.
Munculnya kelompok2 lain di luar Muhammadiyah dan NU di negeri ini semakin mengukuhkan (mempertajam) citra positif dan negatif di atas.
Kriteria kbaikan dalam hal ini [tentu] adalah seberapa banyak amal shaleh yang sempat dilakukan (fastabiqul khairat) dan seberapa mau kelompok2 itu bkerja sama.
Bersikap “Netral” bisa saja baik, tapi kalo tanpa amal [shaleh] dan sekedar mencari aman, tentu gugurlah kbaikan itu. Banyak fakta membuktikan, bahwa sulit sekali beramal-shaleh dengan optimal tanpa kerja-sama atau tanpa keberadaan kelompok struktural tersebut.
[2] Dominan berpikir semata (minim kerja) akan membuat keberadaan kita sia-sia, sebaliknya dominan bekerja semata (minim pikir) akan membuat kita kelihatan “dungu” di kerja-kerja itu. Yang pertama tersebut, sepertinya mirip dengan prilaku “ekstrim kontekstual”, sedangkan yang kedua terkesan merupakan prilaku “ekstrim literal”.
[3] Lupakan ketajaman perbedaan di dikotomi : Muhammadiyah vs NU. Ada permasalahan akbar yang lebih urgen dikedepankan. Apa itu? Kebodohan dan ketertinggalan ummat.
Dengarlah caci maki ini,”Ummat [Islam] kebanyakan luar biasa bodoh2 nya”. Puas…, puas ?!!!


yah kalo menurut saya sepanjang tidak menyimpang dr aqidah oke oke saja pak
apa kabar neh pak!!
Mmm, koreksi dikit Pak, yang bener “grass root” kan? Bukan “grace root”…
Jadi ingat pas ditanyai salah seorang anggota lembaga dakwah di kampus dulu,
“antum NU atau Muhammadiyah?”
Bah!
Sbagai orang NU aku justru baru tahu kalo ada landasan utk mmasukkan NU ke klompok MODERN.
Makasih nih infonya, biar tak katai tuh si Muhamadiyah.
Eh, gak boleh ya pak..
Stuju, peace..
@Wahyu
Wah bagus Wahyu… saya setuju tuh ttg aqidah.
Tapi ada lanjutannya lho …
Aqidah itu hanya dapat diketahui/dibuktikan dari amalan kita, bukan [sekedar] dari catatan/kata2 maksudnya. Walau kita tercatat beraqidah muslim atau katakanlah ahlussunnah wal jama’ah, tapi kalo amalan-nya tak sesuai/mendukung, ya…
Kabar alhamdulillah…
Eh gimana UII dan bu Sri nya …
@amd
Ah mungkin penglihatan mas amd saja tuh, atau monitor mas amd yang error kali, lihat saja ke atas, kan benar tuh…
#Ini istilah Padangnya: pintar2 jatuh. Apa kaitan dengan Padang ya ?#
Sebenarnya saya mo bilang salah ketik, ah.. gak mungkin
#Pantes aja Allah belum mengizinkan saya kuliah ke luar negeri …#
Tks banyak atas koreksiannya… ditunggu koreksi2 selanjutnya.
Kalo ditanya,”“antum NU atau Muhammadiyah?”. Jawab aja,” Saya manusia… atau lengkapnya amd juga…. manusia”.
Emang mas amd berbentuk organisasi, manusia kan ?
@Raden
Pertandingan belum selesai mas Raden, jgn2 di babak [pemikiran] berikutnya, model Muhammadiyah kembali dikukuhkan ke-modern-an nya.
Tapi apakah modern atau tradisional bukan kriteria KEBENARAN lho. Modern itu [mnurut saya] cuma ukuran kemampuan kita beradaptasi thdp realita. Realita kan tidak mesti KEBENARAN.
Setuju juga… peace
Kan kita sudah dibekali Qur’an dan hadits, memang sangat jelas jika saya membutuhkan orang/pihak lain dalam penafsiran Qurán dan hadits tsb tapi saya pribadi tidak pilih salah satu “ormas” yang ada.
Menurut saya adanya “ormas” dengan aliran yang diusung masing2 kok malahan kesannya terdapat suatu pengkotak2an umat Islam ya.
Pengkotak2an gak masalah asal kita bisa menyikapinya dengan benar, jadikan perbedaan tsb sebagai sumber belajar jangan sebagai sumber perpecagan.
@deKing
Wah, pak deKing di Belanda belajar matematika atau ilmu agama… Banyak pencerahan nih…
Yang saya sampaikan maksudnya memang bgitu…
Saya sih sekarang memang masuk dalam salah satu kotak/ormas itu. Masalah saya saat ini masuk dalam salah kotak itu menurut saya : ya rezeqi aja…
Saya tidak seperti teman2 salafy yang langsung mem-vonis : “Kotak2 itu haram”
#Semoga tesisnya lancar dan kembali pulang mbawa banyak pencerahan bagi negeri ini#
Assalami alaikum wr wb. Mas Herianto apa kabar?, smg sehat selalu ya Mas. Numpang belajar nih Mas, sekalian silaturrahim dan kenalan. Selamat berjuang ya Mas,
Herianto :
Wa alaikum salam…
Saya sudah liat site antum… saya malah banyak dapat pelajaran.
Selamat bjuang juga ya …
Heri nulis:
[1] Muhammadiyah dan NU adalah 2 (dua) kelompok/organisasi Islam terbesar di negeri ini, kemudian belakangan muncul juga kelompok lain dalam bentuk jema’ah dan/atau gerakan. Citra positifnya adalah mereka bekerja, sedangkan citra negatifnya adalah : adanya fenomena saling serang/melemahkan.
Sudah ada penelitian saling serang? Seberapa besar intensitas saling serangnya? Hati hatilah kawan, “menceritakan sesuatu saling serang” akan dimanfaatkan pihak lawan supaya terus tetap saling serang.
Herianto :
Bah kupikir ini SPAM tadi, rupanya kaunya itu, “BAH”.
Muliate dongan, sudah mau berkunjung ke blog ku.
Jazakallah atas peringatannya.
Tapi berdasarkan pengalaman pribadi saya sejak kecil, dimana saya tumbuh dan berkembang, apalagi melihat fenomena di blog, antar aktivis Islam memang ada “fenomena” saling serang/melemahkan.
Teman2 salafy baik di alam nyata maupun mlalui sarana blog ini lebih suka mengingatkan teman2 lain dgn “gaya” serang (ideologi)-nya sendiri. Teman2 yang HT cs sering mengingatkan dengan gaya bebasnya yg ada deh kesan menyerangnya thdp teman pks atau partai Islam lain. Teman liberal yang hanif juga kadang2 gagal mengingatkan teman2nya yg ekstrim liberal waktu mengkritik teman2 aktivis yg kolot dalam bpemahaman dan bjuang. Sebaliknya juga terjadi …
Perbedaan kelompok antar aktivis Islam Ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi kelompok2 aktivis inilah yang nyata bekerja di lapangan yg tidak berkelompok justru cuma ngomong doang dan bangga dengan ketidak-bekerjaaannya itu, di sisi lain faktor fanatisme (ashobiyah) sulit sekali dihindari. Usulan kita semua adalah : fastabiqul khairat dan amal jama’i.
Kawan2 yg lain (teman2 alumni yg ikut mbaca postingan ini) saya beritahu bahwa yang mberi komentar ini adalah : si Yunus Sinaga, sudah hebat dia sekarang kerja di Pertamina. Gmana kabar dakwah di daerah antum akhi… Semoga tidak blepotan dengan minyak2 kotor di Pertamina.
regard;
Assalamualaikum,
Wach, yang namanya organisasi Islam itu setau saya malah memecah belah Islam, Knapa? (Tanya Kenapa???)
Liat aja di Indonesia… gara2 dua organisasi ini (Muhammadiyah dan NU), Lebaran di Indonesia ada dua hari… dan itu hanya terjadi di Indonesia. Muhammadiyah hari ini, NU hari itu. Nah lho… gimana ini? Bagaimana jalan keluarnya??
Begini… dari pada ngikutin “keegoisan” kedua organisasi ini, mending ikutin pemerintah… Karna Sunnahnya kita harus mengikuti pemerintah. Okey
Wassalam
Herianto :
Ide yang hendak saya sampaikan adalah bahwa keberadaan kelompok di tubuh [ummat] Islam seperti : organisasi/struktur/jema’ah/gerakan memiliki 2 (dua) citra, yaitu positip dan negatip.
Kelihatan anda hanya sekedar mlihat citra negatipnya saja…
Bayangkanlah Islam tanpa keberadaan organisasi dan klompok terstruktur seperti itu, pikirkanlah siapa yg bekerja selama ini sehingga Islam atau amal Islam terlihat nyata dimana-mana…
Keberadaan orang2 yang berjuang secara trstruktur adalah kwajiban (Al-Imran:104) di samping kita diminta agar berhati2 terhadap ppecahan (Al-Imran:103).
Bersikap pertengahan tentu itu yg lebih baik…
Maaf Pak Heri…
Saya mau numpang OOT
Mengingat perhatian dan pemahaman Pak Heri akan ilmu agama Islam, saya memohon tanggapan Pak Heri atas
beberapa komentar di blog saya
http://deking.wordpress.com/2007/02/07/oknum-umat-islam-melakukan-blunder/#comment-2335
(setelah komentar tsb masih ada beberapa komentar lain)
Terus terang saya sudah menanggapi komentar tsb semampu saya, tetapi mungkin Pak Heri mempunyai pendapat atau pertimbangan lain…demi Islam Pak
Maaf Pak Heri…
Numpang OOT lagi (soalnya tidak ada ruang tamunya sich hehehe)
Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Pak Heri telah berkenan berbagi pendapat menanggapi komentar di blog saya.
Semoga saja tanggapan dari berbagai sudut pandang (saya, Pak Heri atau mungkin ada teman2 lain yang mau menambahi) bisa memberikan pencerahan bagi orang2 tsb (Z. Anas dan B.Ali)
Herianto :
Saya baru buat namanya : ruang lalu lalang. Beda ya dengan ruang tamu…
Saya sudah liat2, orang2 itu memang kerjanya begitu …si ck benar.
ndak mau masuk golongan manapun.
ndak mau menggolong2kan.
ndak suka juga digolong2kan.
islam ya islam. agama yg diridhoi allah ya cuma islam, bukan islam-dengan-imbuhan-di-belakangnya.
ikutan golongan tertentu juga nggak ada jaminan masuk surga.
yg bisa masuk surga cuma 1 golongan: ya golongan yang memang disebut sebagai “golongan yg masuk surga”
tapi itu belum ketauan di dunia. taunya nanti, kalo sudah dihisab.
makanya di dunia ini saya ndak mau masuk golongan islam manapun yang ada-imbuhan-di-belakangnya.
tentang serang2an, yg jelas saya masih sama kayak jaman dulu: cuma meradang kalo diserang duluan
Herianto :
Yang berkata,”Mari bergolong2 an siapa Joe”.
Yang benar itu,”Mari bekerja sama, bersama2 bekerja”. Fastabiqul Khairat dan ber-amal jama’i.
Atur barisan, rencanakan strategi dgn perhitungan yg matang.
Kerja besar itu butuh banyak orang, Banyak orang itu agar optimal perlu diorganisasi, perlu tandzim.
Dari sana lah muncul berbagai organisasi. Organisasi kan butuh nama.
Kalo yang namanya berorganisasi itu bergolong2 an, dan bergolong2 itu diartikan perpecahan, maka terlaranglah itu berorganisasi. Tetapi kalo sekira berorganisasi itu ada manfaatnya, lalu ada juga mudharatnya, maka disanalah perlu berpikir, berpertimbangan, seberapa timbangan manfaat dan mudharatnya.
Kalo besar manfaat teruskan, kalo besar mudharat tinggalkan.
Lalu kalo ditinggalkan apa penggantinya ? Itu harus ada… berjuang.
Hmmm, kalau mau ditanggapi entah dari mana akan dimulai. Makanya saya cendrung mengkampanyekan pluralisme saja. Yang dengan sepihak saya definisikan sebagai “sebuah faham yang mencoba untuk mengakui keberadaan the others dan rela terhadap realitas keberagaman di masyarakata”.
OK, kenapa saya pikir pluralisme (dengan definisi saya) adalah jalan yang paling minim resikonya dan paling realistis?
1. Isyu persatuan itu bagaikan pameo “bagai pungguk merindukan bulan”. Tahu sendirilah. Nabi sendiri sudah bilang koq kalau Islam akan terdispersi menjadi 73 golongan
2. Memahami orang lain pun terasa sebagai impian muluk sekarang. So jangan diharap lagi jika kita mau memahami orang, lantas orang itu dengan sertamerta akan memahami kita. Lupakan sebelum anda kecewa.
3. Toleransi itu adalah suatu hal yang layak dianggap “keajaiban dunia” atau “fenomena alam” yang sangat langka. Jadi jangan terlampau sering mengkhayalkan itu.
4. Komunikasi. Hal yang terakhir ini kian hari kian hilang maknanya. Ia bukan lagi dialog. Namun hanya “dua buah monolog yang kebetulan pada prakteknya dilakukan secra saling berhadap hadapan” (faham khan maksudya)
OK, saya sebenarnya bukan orang apatis yang terlanjur putus asa. Cuma, saya pikir tidak ada jalan lain. Ayo sama-sama bekerja di jalur masing-masing tanpa perlu saling toleh, saling tegur, saling sapa, saling hujat, saling kritik dan saling intip.
Yang penting tidak saling tabrak dan tidak saling sikut.
Jalan raya masih lebar kok.
Gitu aja koq repot.
Herianto :
Ini namanya : Pluralitas di [pemahaman] pluralisme.
[menurut saya] pemahaman pluralisme ada juga yg ekstrim.
Tujuannya baik : Agar antar yang berbeda tidak terus2an cekcok (kasarnya : perang).
Ekstrim metoda-nya : Sampe2 ada yang menganjurkan agar kita meyakini bahwa : Semua agama sama saja.
Katanya,”Demi tidak berperangnya terus antar pemeluk agama”.
Emang perang itu cuma gara2 agama. Gara2 berbeda bangsa juga ada, terus apa bangsa2 yg berbeda itu juga mau disamakan saja. Ah… ada2 saja ya ?
Lalu fadli pun membuat pemahaman pluralisme “nya” sendiri.
Bagus juga. Menambah pluralnya pluralisme.
Herianto:::
Ah, bapak kayak ga tau aja yg bilang kayak gitu itu siapa
Herianto :
He he he…
“Joe yuk buka klub atau semacam LSM pemasyarakatan komputer yuk…”
Eh yang ngomong mari bergolong2 an dalam pemasyarakatan komputer siapa ?
#Eh iya saya#
Gak boleh ya buka klub kayak gitu ?
*ngakak*
@Kopral Geddoe
Maksudnya ngomong2 sendiri ya…
pantes ngakak…
#kalo ya itu, ikutan ngakak gaya Joe,”Kekeke…”#
Hahaha, jadi dialog itu cuma seremonial aja. Kalo dalam terminologi saya itu namanya latihan vocal
Jadi sebenarnya keinginan untuk mencari kebenaran atau saling memahami (walaupun pada tingkat metodologi) itu hanya khayalan belaka.
Makanya saya bilang, jangan terlalu berharap. Anda pasti kecewa koq pada akhirnya.
Soekarno juga udah pernah ketemu masalah ini, dan ybs bilang golongan ini adalah golongan “kepala batu”
@Fadli
Ada yg bilang Soekarno gagal karena terkibuli : PKI, saya setuju. Apakah mereka termasuk yg “kepala batu”, yah terserah fadli dah…
Kalo dibuat partai golongan “kepala batu itu”, jadinya : partai kepala batu… Jgn di singkat lho…
Buat partai yuk…
Si Joe pasti gak mau…
Itu bergolong2 an katanya
#Kata Joe,”Pokoknya sekali gak mau tetap gak mau#
….Ngarang
lho, ini konteksnya ke arah agama atau kemana?
jangan menafsirkan kata2 saya secara tekstual, dunk.
jangan kayak “orang2 yang hobi menafsirkan sesuatu secara tekstual”, ah
*fitnes serajin apapun ya tetap ga bakal bisa melintas langit*
@Shelling Ford
Tingkat tinggi ya Joe…
Wah, pake compiler apa nih…
Compiler nya general, atau harus yg buatan Joe…
Kamu biasa pake tool apa Joe kalo coding ?
Photoshop ?
Astagadinaga!
Kenapa jadi ngomongin compiler segala disini
*leng geleng geleng geleng geleng geleng geleng*
@Fadli
Bahasa si Joe kan tingkat tinggi, jadi makna substansinya tidak bisa ditafsir pake compiler (cara berpikir saya) yg biasa2 saja…
Saya nanya gmana dong Joe menafsirkannya, saya kayaknya pake compiler (cara menafsir) yang salah…
Gito lo…
#Eh kok jadi Fadli yang tekstual nih#
Tidak bisa menggunakan dalil surat Al Imran 103-104 untuk membuat sebuah organisasi.
Ayat ini (al Imran 103) memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu di atas jalan Allah dan melarang kita untuk berpecah-belah. Disebutkan dalam ayat ini, bahwa persatuan yang diperintahkan adalah persatuan di atas kitab dan sunnah atau di atas tali Allah. Barang siapa yang melepaskan diri atau mengambil jalan lain selain jalan Allah, maka dialah yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dan berarti dialah yang menyebabkan terjadinya perpecahan.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra bahwa dia berkata: Rasulullah saw pernah menggariskan satu garis (di tanah) dengan tangan beliau seraya berkata: “Ini jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau saw menggariskan garis-garis di kanan dan kiri garis tadi dan berkata: “Ini jalan-jalan lain, tidak ada satu jalan pun di sana, kecuali ada setan yang mengajak kepadanya”. Kemudian beliau saw membaca ayat: wa anna hadza shirathii mustaqiiman fattabi’iuhu… (HR. Imam Ahmad, Nasa’i, Darimi, Ibnu Abi Hatim dan Hakim dan beliau menshahihkannya)
Yang dimaksud adalah surat al-An’aam: 153
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.” (al-An’aam: 153)
Ayat ini pun mengajak umat Islam kepada persatuan dan melarang perpecahan, bersatu di jalan Allah dan jangan berpecah-belah dengan mengikuti jalan-jalan lainnya. Jalan Allah tersebut bukanlah satu organisasi, partai, kelompok atau firqah-firqah tertentu. Melainkan jalan yang Allah gariskan melalui lisan Rasul-Nya
Herianto :
Diskusi bgini mah sudah sering, tapi seringkali yang melarang prpecahan justru dia juga yang memunculkan ppecahan mlalui berbagai tuduhan dan pensesatan bbagai kalangan yg bbeda faham dengan-nya.
Gak papa dah diladeni dikit :
Mas2 yang berpendirian seperti di atas sekalian. Membacanya jangan sebelah mata dong, cuma melihat efek “perpecahan” doang. Apakah Al Quran tidak mngajarkan bekerja secara terorganisir, tertandzim dalam satu wadah yang rapi.
Saya tidak mlihat kerja dakwah yg besar ini harus dikerjakan secara semrawutan…
Keberadaan organisasi tak mesti dipandang sebagai perpecahan kan ? Fenomena dan kenyataan perpecahan itu memang ada, tapi adakah cara lain utk mendapatkan manfaat yg diharapkan seperti yg didapatkan dari keberadaan organisasi2 tsb?
Bahkan cara yg kbanyakan anda ungkapkan dan realisasikan pun nyatanya tidak me-reduksi perpecahan dan apalagi memperbanyak amal…
Kuncinya : Fastabiqul khairat dan ‘amal jama’i.
Wallahu a’lam.
Assalamu’alaikum warahamtullah. Apa kabar Pak Heri?
Perlu diketahui bahwa perkara2 yg menyangkut kaum muslimin dan menyangkut keresahan orang2 secara umum adalah perkara yang harus dikembalikan kepada ahlul ilmi (para ulama). Sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya yang agung (artinya): “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (Q.S. An-Nisaa’: 83)
Maka merujuklah kepada penjelasan dan bimbingan para ulama ahlus sunnah dalam perkara-perkara seperti ini. Wallahul muwafiq
Terlebih masalah agama, kembalikan kepada Kitabullah wa sunnah seperti apa yang dipahami oleh para sahabat ridwanullahu alaihim jami’an.
Akhukum fillah,
Anto Abu Maulid-Pondok Gede
mohon maaf jika ada salah ketik dalam salam atau yg lainya. Allahummaghfirlana
Wa ‘alaikum salam wr wb
JazakaLlahu akhi atas kunjungan dan pencerahannya…
Yang saya rasakan adalah,
Kita berada,
antara masa lalu (salaf) dan masa depan (khalaf)…
di antara idealita [Islam] dan realita [ummat] Islam
antara fungsi pengabdian dan kekhalifahan
antara nash (tekstual) dan kontemporer (kontekstual)
antara keharusan berdakwah (jama’i) dan kewajiban beramal (fardhi+jama’i)
antara sami’na wa atho’na dan keberfungsional akal [yang tidak mungkin berlawanan]
antara dunia dan akhirat [dimana kpentingan keduanya tidak mungkin diabaikan]
Dalam hal ini ada 2 kelompok yg mnurut saya timpang :
[1] Orang2 yg sangat mbuka pintu ijtihad sehingga peran “nash” kadang diabaikan
[2] Orang yg sama sekali menutup pintu ijtihad, sehingga peran kita di kontemporer terabaikan.
Tapi saya pikir masing2 kita bisa menjadi saling pengontrol, teman2 salafy mengontrol dan mengingatkan tentang kepentingan nash (literal), sementara teman2 moderat MELAKUKAN kontrol agar teman2 lain jangan terlena agar tdk mengabaikan fungsi akal (kontemporer/kontektual).
Sejumlah kisah dari generasi rasulaLlah, sahabat, tabi’in dan tabi’at memperlihatkan kalo peran nash dan ijtihad itu sama2 dibutuhkan. [walau hal ini sering diperdebatkan]
Mekanisme saling mengingatkan kita memang belum berjalan optimal. Kalo tidak yg mengingatkan kadang yg keterlampuan bisa juga yang diingatkan pun memang sering kelewatan.
Saya pikir konsistensi keberadaan ulama2 salafy yg diikuti teman2 salaf telah memberi fenomena tersendiri atas ummat Islam dan membentuk komunitas yg khas.
Keinginan teman2 salafy agar ummat Islam mengikuti apa yg mereka telah ikuti adalah sama dengan apa yg diinginkan teman2 komunitas [jema'ah/organisasi] lain. Ruang gerak untuk saling berbagi perlu disikapi secara arif. Wallahua’lam bishawab..
Akhukum fillah, Herianto
Lha kalau begitu, antum sendiri berdiri di mana akhi? Sekarang aktif ngaji di mana saja? Barakallahu fiikum
Sejak dari Padang ana sudah mengenal sejumlah teman2 yg berpemahaman salafy. Ana juga mengenal sejumlah teman2 yang berdakwah melalui jema’ah tabligh.
Ana sendiri pernah mengikuti sejumlah pengkaderan di Muhammadiyah (IMM), dan juga pengajian para ikhwan/pks.
Setahu ana kbanyakan ikhwan di Padang dulunya berasal dari kelompok salafy dan jema’ah tabligh. kalo di sana teman2 salafy dulu banyak dari Unand. Diskusi2 perbedaan pemahaman dan cara2 berdakwah sudah sering ana ikuti. Jadi sekarang sudah malas aja dengan memperpanjang diskusi semcam itu.
Oh ya, di awal2 kuliah di Padang bahkan ana sempat juga gandrung dengan pemikiran liberal, kagum dengan rasional dan ide kontekstualnya.
Saat ini, insya Allah ana berdiri di kepentingan Islam.

“Demi kepentingan Islam” adalah jawaban normatif setiap kita yg terlibat dalam aktivitas di komunitas tertentu tsb.
Tapi seiring dengan kterlibatan kita di dalam komunitas itu seringkali kita terjebak di demi kepentingan komunitasnya. Bahasa kita adalah demi kepentingan komunitas yg akan memperjuangkan Islam. Di sinilah peran kontrol antar kita. Mengingatkan demi Islamnya itu, kadang2 lupa. Ini kelemahan keberadaan komunitas tsb. Teman2 salafy menyebut fenomena “hizb” ya ?
Tapi kalo sekiranya komunitas khusus tersebut tidak ada , seperti juga halnya komunitas salafy, lalu what next … ? Teman2 salafy dengan “jargon” anti penggolongannya pun tak lepas dari penyakit ini [sebagian].
Saya mengerti kok bagaimana teman2 salafy tidak “menyukai” teman2 dari pks, tabligh, HT dan apalagi liberal. Tapi saya menganggapnya itu kontrol aja…
Saya mbaca sejumlah majalah dari komunitas Islam lain yang walaupun saya tdk berada di komunitasnya, seperti halnya juga majalah teman2 salafy, HT dan Tabligh. Kalo sekarang ada blog maka saya bisa membacanya dari blog aja.
Pengajian/liqo’ para ikhwan adalah kontinuitas tarbiyah yg saya teruskan. Pemahaman saya lebih dekat ke mereka.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Salam Kenal.
Silakan kunjungi blog saya:
http://www.fatih-mubarak.blogspot.com
(Blog yang berisikan berbagai tulisan bertemakan keislaman dan keumatan).
Terima Kasih.