POLISI, ummat Islam dan kritik liberal
28 Juni, 2007 oleh Herianto
(Teringat dari peristiwa sang “Abu dujana“)
Menilai prilaku berbagai aksi para “teroris” [muslim] memang sangat menggemaskan dan sekaligus menyedihkan. Kenapa menyedihkan ? Yang pertama, karena ternyata yang paling banyak dirugikan akibat dari isu ini adalah ummat Islam sendiri, dan kedua ternyata pelaku “teroris” itu ter-identifikasi dan terbukti [berdasarkan pengakuan mereka] merupakan bagian dari ummat Islam.
Kalangan pengkaji dari non Muslim (orientalis + Missionaris) dan liberal-sekuleris secara hampir bersamaan menengarai bahwa fenomena “teroris” ini terjadi akibat rendahnya kadar intelektual [pelakunya]. Hal ini membuat peran emosional tak terkendali lebih condong menjadi pilihan mereka [yang disebut teroris muslim tadi] saat menyikapi “fakta” keterbelakangan dan “kekalahan” [?] ummat [Islam] dalam berkompetisi di berbagai lini kehidupan [di era ini] atas ummat lain [non muslim, si kafir].
Ide [solusi] yang ditawarkan oleh pengkaji non muslim (orientalis) adalah agar ummat Islam merekonstruksi ideologi Islam ke ideologi yang mereka sukai melalui strategi [tradisi] [berpura] tanpa berharap muslim beralih ke agama mereka. Sedangkan ide [solusi] dari kalangan muslim liberal-sekuleris adalah, agar ummat Islam “bergegas” mengedepankan peran akal (rasional) dalam memahami pesan2 agama, dan bila perlu membuang peran perangkat apapun [yg pernah dipakai sebelumnya] yang menurut mereka [selama ini justru] menghambat kaum muslimin dalam mengoptimalkan peran akal tersebut. Ada pertalian tak kentara dari kedua tawaran di atas yg selanjutnya terindikasi dari kesamaan dalam menyebarkan faham pluralisme [agama], diiringi munculnya wacana teologi global.
Para aktivis “to the point” Islam, yang percikannya membakar aksi “terorisme” dan sebagian lain ke aksi “kolotisme” tersebut, pada akhirnya mendapat perlawanan keras di negerinya sendiri. Baik perlawanan keras secara fisik (diperankan oleh militer/polisi) maupun keras secara non fisik (diperankan oleh barisan intelektual liberal-cs tadi). Pada akhirnya fakta yang terjadi adalah, bahwa kaum muslimin berlawanan dengan kaum muslimin (Muslim vs muslim), yaitu : Fundamentalis (Teroris) vs Nasionalis (Militer/Polisi) dan Konservatif (Kolotis) vs Liberal (Akalis).
Ketimpangan atas fenomena ini dapat dilanjutkan melalui pertanyaan berikut :
[1] Apakah institusi militer di negeri ini (TNI, POLRI) merupakan institusi yang [jelas2] terlarang untuk “digauli” ?
[2] Apakah barisan liberal-sekuler dan turunannya merupakan faham yang [mesti difatwa] terharam [semata] ?
Melalui postingan ini diusulkan jawaban dari 2 (dua) pertanyaan di atas dengan, yang pertama cendrung : TIDAK, dan yang kedua cendrung : YA.
Saran sesungguhnya adalah, agar kedua permasalahan di atas dapat direspon secara “FUZZY”, sehingga institusi militer (TNI, POLRI) dan faham liberal-cs tidak direspon secara hitam-putih semata.
Kita tidak mungkin merangkul institusi militer se-erat2nya, seperti kita juga tidak semestinya meninggalkan teman2 liberal cs sejauh2nya. Polisi [sangat] memiliki kekuatan, dan anak2 liberal [sedikit-banyak] tentu berkapasitas intelektual. Ada muatan manfaat yg dapat disinergikan. Kriteria full-ideal (keikhlasan, kejujuran, kebersihan, ketulusan dan sejenisnya) adalah dari kita, tetapi [kan] dapat ditularkan untuk mereka [juga]. Mereka2 kebanyakan [barangkali] tidak masuk pada kriteria ideal tesebut, tetapi keputusan menjauh adalah mirip2 dengan “kejumudan” bahkan bisa saja menjadi bentuk “kejahilan” [baru].
Namun, demi menghadapi fakta [menguatnya] tekanan dan serangan terhadap [ideologi] Islam dan ummatnya akhir2 ini, maka kecendrungan di awal tadi perlu dipelihara.
Ini adalah strategi jitu [kita] melawan strategi jitu [mereka], sehingga menjadi strategi jitu [bersama].
Sekali lagi :
“Kita tidak mungkin merangkul institusi militer (TNI, POLRI) se-erat2nya, seperti kita juga tidak semestinya meninggalkan teman2 liberal cs sejauh2nya.”
Lalu, apa keberatan kita terhadap POLISI dan diskusi LIBERAL ?
Mestikah POLISI (militer) terus-menerus menjadi partner “bertempur” kita ?
Mestikah teman2 liberal hanya menjadi lawan “bertengkar” kita [saja] ?
Ini masalah paradigma.
Saya berkata kepada teman2 [tertuduh] teroris, teman2 liberal [dan turunannya], teman2 [pengaku] moderat, teman2 yang [berkata] tak suka pengelompokan, teman2 apatis [ah, bodo ah..], teman2 [yg atas izin syetan] selalu dipenuhi kecurigaan, teman2 di tikung-pencarian [mencari mlulu, kapan ktemunya?], dan juga teman2 bermain saya di masa kanak2 [
].
Ini masalah paradigma.
Bukan kecepatan berpikir, atau sekedar teriak2 saja, dan bukan juga sekedar bergegas berkeputusan ?
Ini masalah paradigma…, teman2 !
Polisi (militer) dan intelektual liberal bisa saja menjadi bagian dari sinergi yang kita harapkan.
Sekian.












[...] Mbenahi relasi polisi dan ummat Islam [...]
fenomena jaman skrg memang seperti itu pak
saling hujat sesama muslim
saling mengkafirkan padahal satu umat!
di kampus ku juga masih seperti itu!
Herianto :
Maksudnya, mas wahyu juga masih seperti itu ?
#Lah, kok jadi su’udzon aku ini…#
[...] wacana lapor polisi yang sempat saya jadikan dagelan dalam postingan sebelumnya, cuma sebagai pemanis [...]
euh… pendidikan budaya adu domba selama 350 tahun++ teh… memang hasilnyah ampuh… terbukti aparat pun bisa dijadikan domba juga yah…. kabayan pikir2 teh memang kurang pas, pelajaran sejarah disekolah yang hanya mengingat tahun dan tempat teh… bukannyah pada esensi nyah sejarah ituh sendiri…. beu… domba nyah pinter sembunyi dari sejarah… inih barangkali arti dari peribahasa domba berbulu tahun teh…
Hmm, entah kenapa membaca post ini saya jadi teringat kasus penyusupan PKI terhadap Sarekat Islam, sehingga SI pecah menjadi SI merah dan SI putih
ahh, mungkin saya terlalu ngelantur (tapi saya yakin ada yg paham maksud saya)
@Fadli
Wah Fadli pake istilah PKI nih, kan sudah tammat tuh … Emang masih hidup ? Masih ya ide2 nya …
“Asbabun nuzul” postingan begini :
Saya kasian aja dengan pak POLISI kita yg kadang2 jadi tunggangan Amerika cs.
Tindakan Teroris jelas salah, tapi jgn dengan target mbasmi teroris lalu disambilkan hendak mbasmi Islam. Saya yakin kebencian Bush dan keluarganya terhadap Islam ikut menggiring tindakan2 politisnya.
Mnurut saya kita bodoh kalo terus mmusuhi pihak militer yg notaben pemegang kekuatan secara ril (senjata). Kita tidak mnutup mata kalo pelakon militer tercitra kotor, baik tangannya maupun kjujurannya (terutama polisi).
Saya setuju waktu sejumlah politisi kita mndekati militer dalam bekerja di jalur politisnya (istilahnya dulu kan ada Tentara Hijau). AR pernah mendekati prabowo, teman pks sempat mndekati wiranto dan dalam pilkada Jkt ini pun mereka pertama sekali mendahulukan militer dengan bharap dari kkuatannya. Pertama saya dengar yg didekati Syafri Syamsuddin (TNI), …, lalu KAPOLRI dan akhirnya yg jadi WAKA POLRI : Adang Dj.
Tak mudah menemukan orang2 kuat (militer) yg hanif, katakanlah benar bahwa semuanya tentu ada cacat atau bkotoran.
Jujur saja, ada unsur kampanye dalam postingan ini, dengan pengertian menyampaikan alasan2 kebaikan yg saya tahu ttg kenapa pak Adang yg mereka pilih.
Lalu sejumlah kelompok (partai lain) berprasangka “akbar” bahwa teman2 struktural pks diuluri uang yg berlimpah, sehingga ktika mereka minta jatah tapi pks tak menggubrisnya, maka larilah mereka ke yg mau mberi.
Ma’af saya mendengar langsung dari tim kampanye kelompok Foke ttg ini. “Mereka ibarat semut yg berkrumun di seonggok gula”, lalu mereka berdalih bahwa krumun mereka karena hendak mjegal bibit2 anti keragaman, sementara di sebagian krumun itu pun turut serta kekompok yg semisal dengan pks, tapi tak punya kader militan. lalu apa alasan mreka ssungguhnya … 
Inti gerakan ini adalah GOLKAR, yg paling faham ttg partai potensial yg dapat mjegalnya di kemudian. Aksi2 nya belakangan mperlihatkan hal ini. Demikianlah akibat mereka menganut pemahaman “Politik adalah kotor”.
Lagi2 ini :
http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-%e2%80%9ckotoran%e2%80%9d-itu/
Sebenarnya tidak mesti Adang, kebetulan KAPOLRI mengusulkan Adang waktu dia yg diminta dgn sejumlah kbaikan yg direkomendasi-nya dan kehanifan yg mampu terselidiki.
Masalah apakah Adang 100% bersih atau apakah sudah 100% amalan Islam-nya, tentu tidak. Tapi meng-akomodasi kriteria : kebersihan, kekuatan, dan kemauan bekerjasama, itu yg saya dengar menjadi ukuran dalam mencari “mutiara” di timbunan kotoran, istilahnya.
Wallahu a’lam.