Dibahas melalui :
Pendekatan filosofis (eksplorasi substansi ) terhadap peran L (induktansi) dan C (kapasitansi), si Sang Pembeda, Sang Kreatif-Guna
(Sepintas.., lebih keren judul dari isinya, tau kenapa? Biar gak salah, baca sampe tuntas atau cukupkan sampe di sini !) :-) *Kabur nih pembacanya*
Yang Berbeda, Yang Berguna
(Satu lagi singgungan masalah PLURALITAS)
—
Bagaimana jika yang ada cuma karakter “Linier”, seperti komponen R (Resistansi) semata pada suatu sistem kelistrikan, tanpa dibantu L dan C. Apakah mungkin muncul ragam rangkaian filter, bagaimana bisa ada osilasi, bagaimana fourier- laplace berperan, adakah guna belajar bilangan imajiner, untuk apa difrensial-integral diperkenalkan, dan seterusnya dan seterusnya. Ah, ini mungkin sekedar obrolan percuma yang sia-sia. Bagi [anda] sang pemikir linier, mungkin “YA”.
Tapi cobalah simak, betapa sang non linieritas, sang pembeda, yang suka [sudi] melihat dari sisi yang berbeda, mampu berkata,”Realita pluralitas, adalah fakta yang multi guna…“. Dialah si sang kreatif-guna. Ini ngomongi apa ya ?
Kelistrikan, kelistrikan, kelistrikan.
Ma’af, yang OOT (gak nyambung) dilarang berkomentar [atau lebih baik gak baca !!! Kalo mbaca, lalu gila stress, yah wes, salah anda. Sadis yang pertama :-O
---
Manusia-manusia linier contohnya adalah si sang manusia "to the point" saja. Segala sesuatu disampaikan apa adanya, apa maunya. Relasi antara keinginan (cita2) dan cara yang diusahakan adalah lurus meluruh tanpa lengkung penyesuaian (adaptasi) terhadap target capaian (tujuan) nya. Secara realita, semestinya ada lengkung penyesuaian tersebut. Dalam hal ini istilah lurus bukan berarti "yang benar". Terlampau sederhana jika si sang "to the point" tersebut berkata bahwa,"SAYALAH KEBENARAN..". Atau melalui beberapa argumen, seperti, "Sebagai orang eksak, kami bicara apa adanya, tanpa bias, tanpa kepentingan dan tanpa kepura2 an". Blegh...ma'af, anda salah sambung. Terlampau banyak orang2 di bidang eksakta, yang hebat2, yang tidak seperti anda. Contohnya, seperti saya. :-) Wah, ngomongi opo aku iki ... salah sambung juga. (Orang Padang sok ngomong Jowo, "Tambuah ciek da...")
---
Baik, begini...
Resistor adalah komponen linier, maksudnya, relasi antara tegangan listrik yang diberikan dan arus yang dihasilkannya, adalah linier terhadap besar resistansinya. Nilai resistansi menjadi besaran gradient dari persamaan linier rangkaian kelistrikan R tersebut. Analogikanlah (kalo gak bisa mau ya sudah, tutup mbaca postingan ini ! berlagak sadis kedua) begini : ‘tegangan' adalah usaha atau cara, dan ‘arus' adalah target atau cita2, sekali lagi ini analogi. Sehingga, kalo saya ngoceh di paragraf sebelumnya begini,
" Relasi antara keinginan (cita2) dan cara yang diusahakan, adalah lurus meluruh tanpa lengkung penyesuaian (adaptasi) terhadap target capaian (tujuan) nya."
Menjadi [seharusnya] bisa nyambung dengan kalimat,
“bahwa manusia linier, atau manusia dengan karakter ‘to the point melompong’ adalah mirip dengan rangkaian R (resistansi) semata”.
Mari kita kaitkan dengan hal yang lainnya :
[1] Pernahkah anda mendengar, orang yang bual-bual, katanya, ngBLOG itu sia2, habis waktu percuma, mengira bukan dunia nyata, ngobrol2 “kosong” semata dan seterusnya. Ah…, bagi saya ngBlog adalah masalah isi kepala dan isi kantong. Untuk mengukur isi yang punya kepala, ada atau tidak muatannnya, lalu kalo ada seberapa kedalamannya (emosi nih ?). Adakah menulis, me-narasi-kan sistematis pemikiran, dialog, diskusi, dan seterusnya pekerjaan sia2, knapa jadi menafikan kadar ilmiahnya? Emang yg ngBlog mesti anak E Be Ge Ye, yang sering kontrol waktu-diri-nya mode off. Maka belajarlah melihat dunia ini dengan cara yang berbeda (non linieritas), tidak sekedar dengan cara yang baru anda [mampu] fahami itu saja (satu cara = linier).
[2] Pernahkah anda melihat seseorang ngomong dengan bangganya bahwa dia “sering” bertikai dengan teman seiringnya, dengan sejumlah bosnya dan sebagainya, bertengkar hebat, beda pendapat, lalu bicara kemana-mana bahwa dia pemberani, tak takut apa n siapa saja. Orang begini hebat ? Kalo satu dua sih normal aja, tapi kalo semua, siapa pun dia serang, dia bongkar pasang, dia salahkan, dia sesatkan, dia munafikkan dan seterusnya. Bandingkanlah ini dengan ‘ekstrim’ yang satunya, dengan manusia yang membenarkan segala hal, membenarkan siapa dan apa saja, alias si pencari aman. Menurut saya ini sama saja karakter liniernya. Walah, walah… (sakit hatinya semua keluar …)
[3] Pernahkah anda menyaksikan dai2 yang menyampaikan kebenaran substansi Islam tanpa menyertai kriteria hikmah, yang nyorong masuk begitu saja ke sasaran mad’u (target dakwah) - nya ? (masalah fungsi fiqul awwaliyat)
[4] Adakah anda ada melihat para pegiat “Syariah Islam” atau “Khilafah Islamiyah” yang bekerja dengan tanpa melibatkan atau mempertimbangkan kesiapan realita lalu meributi mencelotehi kemana2 teman seperjuangan yang berbeda wasilah dengannya. (masalah fungsi fiqul waqi’)
—
Terhadap fenomena yang demikianlah, saya menyebutnya manusia linier, karakter to the point “melompong”, mengabaikan bil hikmah wal mauidzah, menistakan kebutuhan fiqul awwaliyah wal waqiyah.
—
Tetapi seperti rangkaian R semata yang tak selamanya tak berguna, maka tidak selamanya juga karakter linier ini mesti dicela. Ada porsi2 tertentu di realita yang tentu saja butuh di karakter linierkan. Contohnya dong apa ?
—
Keberadaan L dan C pada rangkaian kelistrikan menyebabkan pergeseran perjuangan, eh maksudnya pergeseran fasa, antara wasilah dan cita-cita, antara tegangan dan arusnya. Relasi non linieritas muncul pada sistem kelistrikan gara-gara si L dan C ini. Sang L mendahulukan tegangan dari arusnya, sang C mendahulukan arus dari tegangannya. Sang L membesar2kan arus pada awalnya sang C membesar2kan tegangan pada awalnya. Seperti telah disebut sbelumnya, tegangan ibarat usaha atau wasilah, sedangkan arus ibarat target atau cita2 nya. Selami sendiri maknanya ! Jangan mau enake dewe, he 27x, susah dah mahami postingan ini…
—
Sang L (induktansi) dan sang C (kapasitansi) adalah sang pembeda (fasa). Bayangkan jika sekiranya rangkaian kelistrikan cuma pake R semata. Jawabannya, tak banyak guna. Itu makanya pada kebutuhan sistem tertentu, perbedaan itu di rekayasa (direka dari tidak ada menjadi ada), yaitu dengan menyertakan komponen yang berkemampuan memberikan perbedaan tersebut. Sejumlah kreasi sistem kelistrikan telah dihasilkan dengan memberdayakan sang L dan C ini, dengan memberdayakan sang pembeda, dengan memanfaatkan perbedaan. Lalu kita, apa salahnya berbeda ?
—
Perbedaan pada alam adalah energi potensial. Contoh, perbedaan ketinggian, perbedaan muatan, perbedaan voltase, perbedaan tekanan, dsbnya Pada konteks ini dengan meminjam [sementara] metoda hermeneutik untuk slogan “Perbedaan adalah rahmat” [bukan hadist rupanya? CMIIW], maka menjadi terlihat sisi benarnya, yakni, energi adalah rahmat.
Pluralitas alam adalah realita, menafikannya berarti suatu kesia2 an dalam hidup.
Lalu pluralisme ? Ops…, tunggu dulu !
Pluralisme, jika dikaitkan kepada faham keagamaan, arahannya adalah, pemaksaan untuk menyama2kan sesuatu yang berbeda. Sejumlah “hakekat” yang bermakna saling kontra, tentu “tidak mungkin” benar bersama-sama. Sehingga faham semua agama sama [saja], yang diusung penganut pluralisme, justru menafikan realita. Secara realita, yang berbeda ya tetap berbeda, kenapa mesti disama-paksakan, bukankah itu menentang realita ? Realita bahwa kita berbeda.
Kegagalan implementasi toleransi di kancah pragmatis, tidak mesti mengorbankan diri dengan menerima [saja] faham relativisme terhadap “Kebenaran”.
Fakta terjadi ketidak-rukunan ragam pemeluk agama memang realita. Tapi, bagaimana menggali permasalahan ini secara syari’i-ilmiah. Mungkinkah akar masalahnya bersumber dari realita sehingga pluralitas mesti ditiadakan ? Ah, ada-ada saja…












Wah maaf Pak, karena keterbatasan ilmu saya maka saya bingung dengan tulisan bapak ini. Serius lho Pak, maaf jangan salah sangka lho.
Kalau saya menangkap analogi resistor yang bapak ungkapkan kok bukan mengacu kepada suatu linearitas vs non linearitas (kuadratik, kubik dst) tetapi lebih kepada “persamaan satu variabel”
Menurut saya manusia yang hanya memiliki R adalah manusia yang hanya menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja, jadi menurut saya bukan masalah to the point atau gak tetapi lebih kepada banyaknya aspek pertimbangan yang dipakai.
Jadi ketika suatu rangkaian menggunakan R,L,C dll maka rangkaian tsb tidak hanya menggunakan (memperhitungkan?) resistansi saja tetapi juga induktansi, konduktansi dll. Begitu juga jika kita menggunakannya dalam konteks kemanusiaan…manusia yang menggunakan R, L, C bukannya manusia yang TIDAK TO THE POINT tetapi dia adalah manusia yang mempertimbangkan suatu obyek (atau apalah) dari sudut pandang R, L, C (terserah kita mendefinisikan sebagai apa R, L dan C tsb)
Kalau masalah TO THE POINT menurut saya itu lebih mengarah ke bagaimana kita MENYAMPAIKAN pendapat (keputusan?)…bukannya ke bagaimana kita MENGAMBIL/MENENTUKAN pendapat (keputusan)
Jadi maaf sepertinya ada ketidaksinkronan antara penjelasan tentang TO THE POINT vs PLURALISME…
Kalau satu variabel vs multi variable mungkin masih agak nyambung dengan masalah pluralisme
Jadi inti tulisan ini adalah tentang TO THE POINT (sebagai suatu bentuk PENYAMPAIAN (pendapat?) atau tentang pluralisme yang berkaitan dengan banyaknya variabel dalam PENGAMBILAN/PENENTUAN ?
Oh ya Pak…kalau resistor adalah komponen linear lalu bagimana dengan C? Mengingat C=1/R
kok kesannya dipaksakan ya? ah apa cuma perasaan saya?
@deKing
Menarik nih, lama gak menemukan teman diskusi tentang masalah ke-elektro-an apalagi jika dikaitkan dengan ilmu matematis. Pada satu titik di perjalanan pembelajaran sendiri, saya pernah tertegun dengan sejumlah keterkaitan fenomena ke-elektro-an dan konsep matematis yg menyertainya. Salah satunya ya ini …
Begini penjelasan saya terhadap respon pak Deking (kalo ternyata salah, terutama dari aspek matematis-nya tolong dikoreksi lagi ya pak, CMIIW) :
Resistor (R) saya sebut linier dalam kaitannya dengan pengaruh tegangan terhadap arusnya, i=f(v) atau i= R.v. Bahasa [filosof]-nya : Berapa besar arus yang kita inginkan selalu berbanding lurus (linier) dengan berapa besar tegangan yang harus diberikan. Hubungan antara tegangan dan arus, lurus-lurus (sebanding) saja. Sehingga jika analogi saya V = Metoda atau cara, dan I = Tujuan atau target, maka manusia “to the pont mlompong [saja]“, saya ibaratkan orang2 yg menggunakan metoda yang lurus atau sebanding (to the point, hubungan satu titik langsung dengan menarik garis lurus ke titik lain, linier) saja terhadap tujuan (I) yg ingin dicapainya.
(Grafik I terhadap V adalah garis lurus jika komponennya hanya R).
“Tak selamanya sikap to the point ini NEGATIP, seperti juga tak selamanya sikap to the point ini POSITIP”. Jika boleh, saya mengusulkan agar kita menilai hal ini secara Fuzzy.
Intinya, ada hal2 trtentu yg memang lebih pantas di-karakter linier-kan, tetapi ternyata [kritik saya] : ADA JUGA YG TIDAK. Kalo di semua hal kita “to the point mlompong”, kok mnurut saya jadi mirip2 ember yg bocor. Istilah Joke-nya,”Bocor lu…”.
Tentang karakter non linier dari L dan C juga jika dikaitkan dengan prilaku-nya terhadap arus (i) dan tegangan (v). Arus C (iC) dan arus L (iL) tidak berbanding “langsung” dengan tegangan yang diberikan kepada-nya. Jika digambarkan secara grafis akan berbentuk eksponensial/transient (menurut saya ini non linier). Apalagi jika diberi listrik ac maka hubungan tegangan dan arus pada L dan C juga dipengaruhi oleh frekuensi (f).
Tentang pluralitas (fenomena sang Pembeda), penjelasannya begini :
Pada R, antara i dan v tidak berbeda fasa. Tetapi pada L juga C antara i dan v terjadi perbedaan fasa (konsep ini hanya orang listrik yg lebih tau, tolong dikoreksi teman2 yg murni elektro nih, si arul kali ya?). Jadi analogi-nya, L dan C membuat hubungan antara metoda (v) dan tujuan (i) menjadi berbeda. Kemampuan L maupun C memberi efek BERBEDA ini ternyata bermanfaat. So, kenapa kita merasa risih dengan perbedaan di alam realita (PLURALITAS).
Penekanan saya jika teman2 menangkapnya adalah : PLURALITAS adalah realita yang memang begitulah adanya bahkan banyak manfaatnya, tetapi PLURALISME justru kontra dengan realita.
PLURALITAS “Yes”, PLURALISME “No, no, NO”.
(Mohon di googling lagi beda pluralitas dan pluralisme)
@Suluh
*Sambil berpura2 OOT terhadap respon mas Suluh*
Memang kesannya dipaksakan mas Suluh jika [realita] PLURALITAS mesti dilanjutkan ke [aliran] PLURALISME. Kalangan awam banyak yg tidak sadar, kalo orang2 liberal mengarahkan konsep pluralitas ke aliran pluralisme mereka. Penganut PLURALISME yg “ekstrim” berkata, “Semua agama sama saja”. Menurut mreka akibat gagalnya prinsip toleransi di masyarakat harus diganti dengan prinsip Pluralisme agama. [Ini yg saya kritik]
Oh ya ralat Pak..saya salah tulis dalam komentar pertama saya…
maksud saya adalah TO THE POINT vs PLURALITAS (bukan PLURALISME)
Karena terus terang saja saya merasa analogi yang dipakai Bapak kurang pas dengan judul dan maksud yang ingin disampaikan
Maksud (yang saya tangkap dari judul) adalah tentang pluralitas tetapi penjelasan di dalamnya kok tentang TO THE POINT
Jadi menurut saya bukan masalah linearisasi ya Pak, tetapi masalah banyaknya variabel yang digunakan.
Walau seseorang hanya menggunakan variabel R dan y (sebagai fungsi) dalam suatu fungsi [ y=f(R) ] tetapi jika di dalam fungsi itu si R dikuadratkan maka itu bukan fungsi linear lagi
Oh ya Pak pertanyaan Pak Heri saya jawab di sini ya Pak. Saya harap Pak Heri tidak berkeberatan
Saya dulu kuliah S1 di UNY angkatan 2000 dan sekarang sedang menempuh kuliah S2 di Belanda (Utrecht University)
@deking
Bagi2 dong jatah kuliah luar negerinya. Saya kuliah dalam negeri aja (S3) gak dapet2… (versi tidak menerima taqdir)
Saya S1 juga Pendidikan, persisnya Pendidikan Teknik Elektronika di Padang (UNP), Alhamdulillah sempat S2 di UGM Yogya Teknik Elektro. Waktu kuliahnya di UGM kost di dekat kali code yg sepertinya si Joesat tinggal di sekitar sana juga sekarang [kalo gak salah ya Joe, asal ketik nih, lagi males mau buka2 data].
Saya mengawali karier dengan mengajar di SMP (fisika dan komputer), kemudian STM (spesialis digital dan komputer)dan sekarang di Perguruan Tinggi (spesialis IT).
Terus terang saya pernah hobi “habis” dengan matematika terutama ketrkaitannya dengan bidang saya (Elektro dan Informatika). Aneh dan mengagumkan, bagaimana prilaku alam ketika di model matematiskan menjadi saling bersesuian.
Coba menurut pak Deking, bagaimana konsep bilangan imajiner berguna di dunia kelistrikan (i^2=-1), belum lagi laplace dan fourier-nya, bagaimana konsep himpunan menguasai hampir semua turunan ilmu perkomputeran, dsbnya.
Pantas aja orang matematika memang lebih bagus taunya tentang banyak hal di fenomena alam.
Selamat belajar, selamat matematika !!!
Salam kenal, menarik juga kajian antum…
Herianto :
Terima kasih, telah mbalas kunjungan saya.
Salam kenal juga.
hmm….walau sedikit, tapi saya ngerti maksud tulisan bapak. Tapi saya kira “bisa” jadi apa yang bapak paparkan benar adanya. Hanya saja, bapak jangan samakan dong Karakter manusia dengan komponen2 Elektronika . Beda banget antara Makhluk Hidup dan Benda Mati. Berbeda pula antara metode Dakwah dengan Rangkain2 diatas, Lebih2 sistem Rangkain dan Sistem Islamnya..
Tapi bagus juga, memberi sedikit wacana berfikir bagi saya yang masih muda belia..walah !!!!!!!!
wassalamu alaikum
http://achfan.multiply.com
*Perindu Syariah dan Khilafah :-D!