Saat Dirimu Bermaksiat, Apa Yang Kau Derita ?
17 Juni, 2007 oleh Herianto
—
(Maksiat sederhananya adalah melakukan [dengan sengaja, sadar] apa yang dilarang-NYA dan/atau meninggalkan apa yang diperintahkan-NYA. Lalu siapa yang berani mengaku tak [pernah] bermaksiat ? Yang ada justru manusia-manusia yang bangga ketika [telah] bermaksiat padaNYA. Kenapa ? )
—
(bacaan seperti prosa)
Paparan :
Saat dirimu bermaksiat, apa yang kau derita ? Pertama dirimu merasa bersalah, Kedua kau mencari ‘celah’ bagi pembenaran salah [itu], Ketiga akhirnya kau mrasa biasa2 saja, Keempat dan selanjutnya kau justru [akan] merasa bangga, berkata, ”Inilah maksiatku”.
Di era kebebasan yang manfaatnya luar biasa, kau jungkir ’bersambil’ manfaatkan kemaksiatan. Lalu dimana manfaat kebebasan ?
Dan hanya polisi syariat dunia, yang [mampu] membuatmu takut [?]. [Takut mencuri, takut korupsi, , takut zina, takut tak shalat, takut tak shaum, takut tak berjilbab, ...]. Lalu apakah bermakna kau takut juga pada Allah ?
Jika keberadaan polisi dunia mudah akalmu menerima, lalu mungkinkah polisi akhirat (syariah) menurutmu tak beda kebutuhannya ?
MuraqabatuLlah, MuraqabatuLlah, MuraqabatuLlah … pertama dulu esensialnya ?
Saat dirimu bermaksiat, apa yang kau derita ? Tak ada. Kau malah bersuka ria. Nikmati menghilangnya segala problema. Berganti dengan berbangga [atas] dosa, dosa, dan dosa.
Saat dirimu bermaksiat, apa yang kau derita ? Betapa berat menghindar untuk dosa berikutnya. di sini berlaku teori kelembaman dosa. “Akibat satu dosa, untuk menutup malumu pada dunia, [umumnya] mesti disusul [ditimpa] dengan terjadinya [konsekuensi] dosa berikutnya”. Amati.., bersinerginya dosa2, menutup kesadaranmu akan [keberadaan] akibat [buruk] dosa2 itu ke depannya.
Maka kau pun berkata, “Ah, aku biasa2 saja.., dimana penyakitnya, bukankah inilah jalanku dari-NYA ?”
Kau kira2 itu kehendak Tuhan [saja]
Saat dirimu bermaksiat, apa yang kau derita ? Banyak. Walau kau optimalkan fungsi akal, demi mencerna ragam makna benar dan perjalanannya. Tetapi simak hakekat munculnya tema ini :
“Adalah tak mungkin kau mcapai Kebenaran yang sesungguhnya dari sana”
Setiap satu titik maksiat yang kau lakukan akan menutup satu titik celah bagi masuknya sinar Kebenaran yang aseli (Haqiqi) ke dalam hati dan pikiranmu.
Saran sederhana [saja] :
Buat adik[adik] siapa saja [lah] aku juga. Jangan sekali pun tinggalkan shalat, shalat, shalat, shalat, shalat dan doa2 disertai permohonan hidayah !!! [bahkan kalau dilebihkan pun tak mengapa, ... seharusnya].
Di tengah galaunya [kau] membaca ‘akal’ [ragam faham] dunia. Di tengah kau kata kau mencari2-NYA. Di tengah kau perbincangkan Kebenaran yang menghukumimu semena-mena. Di tengah kau muak menyaksikan Kebenaran tak berlangsung dengan sebenarnya. Jangan sekalipun tinggalkan shalat dan doa.
Akhirnya, bersamalah.
Tuhan tak suka kau sendiri mencapainya. Kegagalan [menemukan sang Benar], biarkan menjadi gerak untukmu memulainya..
Yang bergumul di serak KebenaranNYA
Jakarta, Juni 2007
akulah dia…












kalo menurut Ma,, kalo kita sering ngulangin buat ngelakuin hal yang ga baik, kita jadi kebal,, mungkin itu kali ya maksudnya “salah satu dosa besar itu mengulangi dosa dosa kecil,,”
@Rizma
Saya dulu pernah “tersinggung” dengan ceritera tentang seseorang yg berada dalam gua. Saya mengira kisah itu diperuntukkan untuk saya “semata” . Kisahnya begini :
Seseorang sedang berada dalam gua yang sangat gelap tanpa sinar sedikit pun masuk ke gua tersebut. Di dinding dan di atas gua itu dipenuhi oleh kelelawar yang selalu saja mengeluarkan kotorannya sehingga seseorang yang berada dalam gua itu dipenuhi oleh kotoran sang kelelawar. Oleh karena gelapnya suasana, ia tidak sadar betapa kotor tubuhnya saat itu, dia mengira biasa2 saja. Tetapi suatu ketika ada sinar yg berhasil menggiringnya keluar melalui pintu gua. Dan di luar gua yang suasananya terang benderang dia mendapati betapa sebenarnya tubuhnya itu telah dipenuhi kotoran kelelawar. Di dalam gelap gulita, kita sering tidak menyadari siapa diri kita, seberapa menyimpang kita dari-NYA. Kita baru menyadari betapa ‘jahil’ kita dalam berpikir, bertindak-tanduk dan bermaksiat selama ini setelah kita berhasil menggapai sinar, yg mengeluarkan diri kita dari kegelapan yang menutup diri ke terang benderang yg membuka cakrawala sesungguhnya. Kita tak mungkin berpikir dengan jernih, menatap “Kebenaran” dan menelanjangi diri sendiri dengan sepatutnya dalam suasana kegelapan (kemaksiatan) diri kita. Jangan mengambil kesimpulan Haqiqi pada situasi seperti ini. Biarkan sedikit demi sedikit [jika tak mampu drastis] sinar2 kecil itu membantu, menggiring diri, mencapai pintu gua, pintu terang benderang milik-NYA. Raih dan perbaiki dengan shalat dan doa. Memikirkan manfaat shalat dan doa secara rasional [semata] memang [kadang] tak ditemukan dengan segera. Karena itu memang bukan untuk dipikirkan, tetapi dilaksanakan. Laksanakan, baru pikirkan ! Kami dengar dan kami ta’at !
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat !
Syukron
cukup menerangkan hati yg lagi dan sering bebuat dosa ini, thanks ………….
Herianto :
Allahummaghfirlana… Amin.
Pendaftaran Top Posts periode Mei-Juni 2007 telah dibuka. Postingan Anda yang tertayang pada Mei-Juni 2007 bisa Anda daftarkan di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/07/06/pendaftaran-top-posts-mei-juni-2007/
[...] d. Saat Dirimu Melakukan Maksiat [...]
[...] Reformative Post May-June 2007: 100% Halal Top Indonesian Low-Profiled Post May-June 2007: Saat Dirimu Melakukan Maksiat Kepada mereka yang terpilih menjadi pemenang, saya ucapkan: “Selamat, ya! Semoga prestasi ini [...]
Tunjuki kami jalan yang benar, bimbing kami, Beri jalan kelaur dari kesulitan dan permasalahan hidup kami Ya Rab
Sangat “nyentuh” buat aq yang masih sering terlena oleh maksiat-maksiat,., bahasanya puitis tapi akrab.,.
syukron ustadz…
[...] tidak ada celah untuk kebaikan LALU kenapa dipertahankan ? Mungkinkah setitik kemaksiatan untuk yg lain tidak mengapa asalkan diri sendiri tak tersentuhkan ? Egoiskah [...]