Pengantar
Bisa dipastikan saat ini semua instansi menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk memperlancar berbagai jenis pekerjaannya. Jika penggunaan komputer di instansi tersebut cukup intensif maka biasanya dibentuk unit khusus untuk mengelola sistem komputer beserta sistem lain yang mendukung kerjanya. Struktur pengelola sistem komputer di setiap instansi yang ‘berbeda’ umumnya ‘tidak sama’ (beda=tidak sama, iya juga ya
) . Mereka menyusun struktur organisasi pengelola komputer sesuai kebutuhan dengan membentuk bagian-bagian yang diperlukan. Lalu apakah dalam konteks ini dibutuhkan standarisasi organisasi pengelola sistem komputer tersebut ?
Kronologi konseptual
Lenyapnya dikotomi hardware - software
Pada jaman dahulu kala ( jaman purba kali
) rasanya sudah cukup di setiap perbincangan komputer kita menjelaskannya melalui model dikotomi : hardware dan software saja. Secara sederhana bisa saja didefenisikan bahwa hardware adalah bagian dari komputer yang tampak sedangkan software adalah bagian dari komputer yang tidak tampak. Pengertian ini sebenarnya tidak cukup, tetapi oleh karena terlihat sederhana bagi kalangan awam yang baru-baru mau belajar, ya kita biarkan aja begitu sementara.
Di era kita sekarang, dikotomi di atas jelas sudah tidak mempan lagi untuk menjelaskan apa itu komputer secara komprehensif. Kenapa ? Karena sebagai sebuah alat, fungsi komputer diberlakukan dengan mempekerja-samakannya dengan sistem lain, sehingga semata membicarakan komputer saja adalah suatu ke-naif-an.
Yang pertama, komputer di jaman sekarang adalah sistem komputer yang bekerja secara team-work, yang disebut dengan jaringan komputer, yakni hasil perkolusian antara komputer dan teknologi telekomunikasi. Yang kedua ‘isu’ perkembangan komputer sekarang lebih mengarah ke pe-model-an knowledge ketimbang sekedar istilah pengolahan data atau infomasi yang hampir-hampir disebut sebagai pengolahan primitif. Dengan demikian perbincangan tentang komputer menjadi me-luas, dan aspek rekayasanya mengembang ke masalah content (content yaitu knowledge dan teman-temannya tadi).
Aspek hardware komputer dalam pengertian sempitnya CPU cs, saat ini semakin menjadi miliki kalangan ‘grace root’ ketimbang kalangan ‘elit’ IT di negeri kita (IT atau ICT sih?). Betapa tidak, sebagai bangsa dengan kemampuan rekayasa ‘teknikal’ yang cendrung pemula (pemula melulu dari dulu), kita memang sedari dulu tidak signifikan dalam mempengaruhi perkembangan hardware komputer. Dalam kaitan ini kita faktanya memang hanya sekedar menjadi ‘konsumen’ (sebenarnya dalam hal lain juga). Perbincangan hardware di negeri kita hanya sebatas otak-atik mainboard (bongkar pasang CPU, overclock, atau yang lumayan tinggi sebatas penambahan modul interfacing). Di tingkat elit akademiknya ada juga yang melakukan riset semacam desain semikonduktor (chip) dan sebaginya, tapi hasilnya ya so pasti hanya sebatas sampai perancangan aja, impelementasinya butuh perangkat lain yang umumnya kita belum punya. Itu barangkali makanya orang-orang semacam pak Onno atau pak Budi ’melampiaskan’ minat mereka ke yang bukan bidang focus akademiknya (maaf ya pak…), dan mencari pijakan lain yang lebih aplikatif kebutuhannya di lapangan (tapi masih di jalur asalnya dan ternyata mereka malah lebih berhasil dari mereka2 yang akademiknya original IT).
Inti pesan yang hendak disampaikan pada bagian ini adalah, bahwa dikotomi hardware-software sudah ’selamat tinggal’, dan kelihatannya masalah perbincangan software (atau content dalam arti luasnya) lebih ng-trend ketimbang masalah hardware (yang ini kelihatan semakin menjadi milik kalangan ’grace root‘ IT saja :-( ).
Kenapa ICT ?
ICT = Information and Communication Technology, adalah istilah sistem komputerisasi yang lagi ‘ng-trend’, bahkan penguasa negeri kita pun ikut-ikutan dengan menggunakan istilah nasionalnya TIK = Teknologi Informasi dan Komunikasi. Kenapa istilah ini sekarang lebih digunakan ? Jawaban praktisnya adalah karena di jaman ini komputer (Information device) tanpa dibantu perangkat (tele) komunikasi adalah ‘penyendiri’ yang ‘minim-guna’, maksudnya kelihatan seperti alat yang biasa-biasa saja (padahal komputer kan alat yang luar biasa, ya gak?). Makanya, ya ikutan sajalah, kita pake juga istilah ICT atau TIK itu (meneruskan karakter peng ‘ekor’ bangsa kita).
Anatomi ICT
Ketika wacana sistem komputer berkembang ke istilah ICT maka bersamaan dengan itu kita juga harus punya bentangan yang memperlihatkan isi dalam dari ’makhluk’ ICT itu. Isu ini menjadi penting karena pengantar dari tulisan ini mempertanyakan masalah sistem pengelolaan ICT. Bagaimana kita hendak mengelolanya kalau tidak mengetahui isi dalamnya.
Maaf, to be continued…
(to be continued melulu.. yah maklumlah orang sibuk. Orang sibuk atau orang yang tidak bisa mengatur waktu? Yah, mirip-mirip lah..)
————–
NB.
Buat pak Agus cs, ini file yang saya janjikan : draft-tugas-unit-tik-unsada.doc
Terima kasih telah membaca blog ini (walau sedikit dipaksa kali ya). Oh ya sekalian saya mau pamitan, karena mulai besok dan 5 hari ke depan saya mo ke Medan ada Kondangan adik yang ‘baralek’ an. Jadi saya liburan nih …. Pami…iiiiit.












Tulisannya membuat saya lebih memahami dunia IT. Oya, mungkin kata komputer sendiri harus dijelaskan asal muasalnya dulu kali mas. Jadi biar lebih mudeng hehehe. Saya tahu blog mas Herianto dari membaca komentar mas di blognya Wadehel. Salam kenal.
Herianto :
Terima kasih mas erander…
Saya memang punya keinginan membuat tutorial yang se ‘gamblang’ nya ttg komputer bagi kalangan awam, tapi belum juga kesampaian. Semoga komentar ini memberi inspirasi dan motivasi …
Oh ya tulisan ini tujuannya untuk orang2 di
kantorkampussayakami, yang lagi nyusun2 organisasi TIK kampus, jadi cerita komputernya memang gak komplit …Tks atas mampirnya, memang sejak saya kasih komentar di blog wadehel banyak juga yang nglink ke blog ini melalui site itu, saya sengaja agak kasar di komentar wadehel itu untuk perhatian aja, pada dasarnya dan rasa2nya saya gak kasar2 gitu deh, he he …
Menurut Mas Hery, Bagaimana cara mengembangkan ICT di Indonesia? Mengingat teknologi tersebut membutuhkan biaya sangat tinggi untuk mengembangkannya hingga semua orang bisa merasakan / menggunakan ICT…
Trims
Herianto :
Wow.. pertanyaan berat dan level atas tuh…
Perlu kebijakan strategis untuk optimalnya langkah2 teknis…
Tetapi pengembangan dan penerapan IT di negeri ini perlu dikedepankan. Jadi pihak pengambil keputusan di negeri ini sudah saatnya berpihak pada IT.
Setahu saya bukan sekedar biaya mengembangkan IT/ICT itu saja yg sangat tinggi, tapi proyek2 IT di negeri ini kebanyakan dananya bocor, berceceran kmana2, sehingga yg digunakan untuk pengadaan yg real jadi tak kelihatan.
Gak percaya ? Ikuti atau amati proyek2 IT yg lagi marak di negeri ini… Puih… Mereka bermain di level yg cukup tinggi.