Ikhlas (2) : Komitmen kita
1 Mei, 2007 oleh Herianto
Beribadah (termasuk bekerja) dengan semata-mata (tujuannya) karena Allah, adalah WAJIB.
—
Lalu,
dengan cara apa kita menjelaskan fenomena kerja yang kita lakoni sehari-hari, bukankah pada kerja-kerja tersebut kita mengharapkan suatu imbalan atau tujuan lain, misalnya jabatan, uang, promosi, popularitas, dan sebagainya,
dengan cara apa kita menjelaskan fenomena motivasi kerja, dimana, bukankah stimulus dalam bentuk apresiasi positip mampu mempengaruhi kadar motivasi kita di kerja berikutnya,
dengan cara apa kita menjelaskan target-target kerja (proyek) kita, dimana sangat jarang sekali di dokumen target kerja (proyek) kita tersebut ada tertera tujuan Allah sebagai capaiannya,
dengan cara apa kita menjelaskan visi dan misi organisasi, dimana hanya sesekali organisasi mau memilih dan/atau menulis bahwa visi dan misi nya adalah Allah azza wa jalla,
Lalu,
haruskah kita berkata bahwa itu bukan urusan (wilayah) agama (Islam). Itu diatur oleh mekanismenya sendiri sementara agama mengatur wilayah yang lainnya (?). Tetapi,
Bukankah Allah menyatakan bahwa tujuan kita diciptakan-NYA adalah dalam rangka ibadah. Artinya, apapun yang kita lakukan di dunia adalah ibadah, dan ibadah yang diterima-NYA adalah ibadah yang berdasarkan aturan main-NYA dan tentu saja harus karena-NYA.
Dan,
Menjadi berdosakah kita ketika kita bekerja dengan tidak mencantumkan Allah sebagai tujuan, atau tatkala tidak menjadikan ridha Allah sebagai satu-satunya imbalan atau dorongan. Apakah imbalan, uang, promosi, jabatan, apresiasi dan seterusnya tersebut pertanda bahwa kita bekerja bukan karena ridha Allah ? Dengan cara apa kita menjelaskan fenomena ini ?
—
Pada umumnya kalangan sekuler dan liberal gagal menjelaskan fenomena ini, lalu mereka berpendirian bahwa agama harus disisihkan (dibuang ?) dari sejumlah aktivitas kehidupan. Sehingga (menurut mereka), tidak ada agama pada Sistem Pendidikan, tidak ada agama pada Kebudayaan dan Seni, tidak ada agama pada Ideologi, tidak ada agama pada Politik dan Kenegaraan, tidak ada agama pada Ekonomi, tidak ada agama pada … dan seterusnya.
Sebagai ‘aliran’ pemahaman yang ‘mengekor’ dari pemikiran para orientalis (yaitu kelompok pengkaji dengan kecendrungan ‘anti’ Islam), selalu ada dudukan ‘nyaman’ yang mereka manfaatkan untuk mem-perisai-i prinsip seperti ini.
Sementara, sebagian kalangan ‘penikmat’ spritual, sufi, tarekat, puritan, salaf-tekstual dan semacamnya, pun kadang-kadang gagal juga dalam memahami fenomena ini. Lalu mereka lari ‘tunggang-langgang’ meninggalkan dunia dengan segala corak riuh kehidupannya, lalu menghayati ikhlas dengan prinsip ‘seakan-akan’ anti-dunia, dan anti kehidupan.
—
Kaffah,
artinya keseluruhan, totalitas.
Jangan sempat kita meninggalkan satu amalan tatkala hendak melaksanakan satu amalan lain, karena nanti jadinya tidak kaffah.
Contoh :
Ketika Allah memerintahkan kerja di satu sisi dan ikhlas di sisi lain, maka kewajiban kita adalah melaksanakan kedua-duanya. Baik kerja maupun keikhlasan, tidak mungkin saling meniadakan satu sama lain.
Ketika Allah meminta kita beribadah dan juga menginginkan kita menjadi khalifah, maka kewajiban itu artinya pun kedua-duanya. Tidak mungkin kita sibuk ‘beribadah’ terus-menerus (dalam pengertian khusus-nya) di satu sisi, lalu meninggalkan fungsi ke-khalifah-an di dunia (ibadah dalam pengertian luas-nya), di sisi lain, dan sebaliknya
—
Ketika Allah menginginkan kita berperan di dunia, lalu akhirat sebagai targetnya, artinya tentu antara dunia dan akhirat saling berkaitan. Dunia adalah media konkritnya sedangkan akhirat merupakan inspirasinya. Artinya, di lini mana pun di dunia ini, peran agama harus difungsikan.
—
Apa pun yang kita miliki di dunia, harus kita khidmatkan dalam rangka mencapai ridha Allah. Kita memiliki intelektual, kekuatan, popularitas, kekuasaan, kekayaan dan sebagainya di kehidupan dunia ini, semuanya adalah dalam rangka cinta kita pada-NYA. Cinta itu harus kita nyatakan dalam kerja yang nyata yang selalu (dan tidak malu-malu) meng-atas-namakan DIA, di hati, di ucapan dan di perbuatan.
Konkrit-nya komitmen kita terhadap setiap aktivitas yang secara langsung menjaga ‘izzah’ (kemuliaan) dien-NYA, adalah suatu ukuran terhadap ‘bersih-tidaknya’ niat kerja-kerja dunia kita.
Untuk itulah kita bekerja. Untuk ikhlas.
Untuk Allah semata.
Sementara, dunia dan segala isinya, adalah perantaranya, saja.
Demikian ikhlas.
_______________
Terima kasih kepada mas Romi Satria W, sang penggagas Ilmu Komputer com ,atas inspirasinya.
“Biarkan Allah dan Rasul-NYA menyaksikan kerja-kerja kita “












benar pak
kita tidak bisa memisahkan kehidupan kita dari agama
segala sesuatu harus disandarkan pada Al Qur’an
Herianto :
Al Quran, Al Hadist, Ijtihad, Qiyash, Fatwa …
Ada yang sedemikian ‘rigid’ tekstual-nya dan ada yang sedemikian ‘fanatik’ dengan logika -nya …
Kita pilih aja yang moderat, yang di tengahnya …
Pendapat saya:
Ya nggaklah….
Saya tidak suka dan juga tidak setuju dengan sekulerisme.
Bukankah Al Qur’an tidak hanya membahas hubungan vertikal saja? Dalam Al Qur’an terdapat begitu banyak aturan (contoh dll) yg membahas hubungan horisontal manusia.
Itulah indahnya Al Qur’an…
Herianto :
Sedari awal saya memang mengamati kalo kita banyak persamaan pandangan, tetapi kalo pun ada perbedaan saya kira itulah fungsinya interaksi, nasehat, teguran, kritikan atau yang lebih tepatnya ‘diskusi’ melalui fasilitas (di) ‘teknologi’ ini. Saya sering menelusuri dan memasuki blog atau site dimana mereka memandang sesuatu secara berbeda dari saya … Saya bisa mengutarakan ide saya dan menangkap ide mereka, kebanyakan kita sesungguhnya bisa bekerja sama kok, asal ada saling pengertian…
By the way, mas Deking lagi kuliah ya di Eropa-Netherland … ?
Yo batua ma, awak ko harus ikhlas dalam satiok lini kegiatan dan slalu berlandaskan pada dien_Nya. Batanya ciek ambo ka apak, kalau manolong dengan menyebut/membawa embel-embel atribut awak(semisal partai ) supayo urang lain tahu, kiro-kiro nilai keikhlasannyo ba’a yo pak??…..
Herianto :
Baca di postingan lain : http://herianto.wordpress.com/2007/04/23/ikhlas-memilih-tanpa-pilihan-mungkinkah
Ya,….begitulah yang namanya keiklasan…..mungkin kitapun kadang berkata…saya lakukan semua ini semata-mata karena Allah,….nyatanya hatinya masih busuk….tidak sesuai dengan ucapannya…..
Iklas itu mudah di Ucapkan tapi susah di terapkan?…..ah…gak tahulah….
jujur aku juga bukan yang bisa 100% iklas menjalani kehidupan ini…..
kadang aku masih,….berkata begini dan begitu ketika apa yang aku harapkan tidak sesuai yang aku harapkan?……
tapi bagaimanapun aku juga ingin keiklasan selalu dalam hidup ini…amien
terkadang kita yang ngong ikhlas bahkan ada departemen yang mempunyai semboyan ikhlas beramal tidak bisa ikhlas,selagi kita masih ikhlas membiarkan saudara kita dalam kemaksiatan
@Zainure
Ma’af, baru sempat merespon komentarnya.
Ikhlas full memang sesuatu yang tak mudah, karena fenomenanya mengarah ke ideal, dan sesuatu yang ideal pada umumnya tak sederhana untuk mencapainya. Tapi jangan sempat keinginan idealis di ikhlas membuat kita terhalang melakukan amalan. jadikan amalan2 kita itu sebagai tahapan menuju keikhlasan ideal. Lakukan amalan dan perbaiki keikhlasan, bukan capai dulu keikhlasan [ideal], baru beramal. Kapan ber-amal-nya dong ?
Itu yang saya maksud di postingan ini : http://herianto.wordpress.com/2007/04/23/ikhlas-memilih-tanpa-pilihan-mungkinkah
@abdullah husein
Ma’af nama ini samaran ya ? Habis gak ada link ke site nya. Atau mungkin tak ingin menyatakan data diri secara jelas karena alasan menjaga : ikhlas. Ada sih yang beralasan seperti ini, seperti waktu menyumbang yg menyebut identitasnya dengan hamba Allah. Hemat saya, mencapai ikhlas tidak sesederhana dan sesepele sedemikian. Bukankah ikhlas berarti mengharap ridha Allah semata. Apakah Allah langsung tidak ridha jika nama kita disebut-sebut saat menyumbang? Bukankah itu terletak di hati, dan tak mudah menilai keikhlasan diri sendiri apalagi orang lain. Lalu dari mana antum (anda) tahu kalo sesorang atau suatu departemen itu tidak ikhlas ?
[...] mungkin ada orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih, tanpa dalih yang demi menguntungkan kehidupan [dunia] mereka [...]
@hatinurani21
AlhamduliLlah…
Seiring dengan kemajuan ilmu maka berbagai nilai2 di dalam Islam semakin terbukti Kebenarannya. Bahkan orang2 yg dulunya berpaling dari agama sekarang justru menjadi “gandrung” untuk mempelajari agama.
SubhanaLlah…
Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pembolak-balik hati dan akal, akan memberi petunjuk pada orang2 yang berhati dan berakal.
Kecuali pada orang2 yang tidak berilmu, atau kalau pun berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, atau orang2 yg dzalim pada dirinya sendiri.
“Allah menutup pintu hati, juga atas pendengarannya, atas penglihatannya dan atas akalnya, ada perisai yang menghalangi dirinya.”
Allahu Akbar…
[...] [3] Kenapa mereka dibiarkan bergelimang ketidak-ikhlasan sementara sebagian asyik khusuk di peribadatan ? [...]