Hikayat ‘takut’
1 Mei, 2007 oleh Herianto
Ada dua hal yang [umumnya] membuat kita takut.
Yang pertama karena kelemahan kedangkalan kita dalam memahami-NYA sehingga takut itu muncul dari sikap yang selalu su’udzon (ber-prasangka buruk) terhadap segala kemungkinan kehendak-NYA di kemudian.
Yang kedua karena [sedemikian] meyakini Kebenaran kehendak-NYA, sehingga takut itu muncul dari kekhawatiran melanggar aturan-NYA.
Yang pertama terlarang, yang kedua dianjurkan.
Takut juga muncul dari ketidak-benaran diri. Jika kita takut ketidak-benaran tersebut terbongkar (diketahui) orang lain, ini adalah tahap pertama. Selanjutnya jika kita takut ketidakbenaran itu diketahui oleh Allah Azza wa Jalla, inilah tahap puncaknya.Yang pertama belum tentu benar, yang kedua selalu benar, karena Allah senantiasa tahu apapun tentang kita. Bahkan yang terlintas di hati pikiran sekejap kita, pun…
Ketakutan yang benar tidak mungkin (tidak boleh) mendorong kita untuk melarang orang lain melakukan hal yang benar. Orang-orang yang benar yang membuat orang lain ketakutan, yang salah tentu orang yang ketakutan. Untuk menghilangkan ketakutan tersebut maka semestinya orang itu melakukan hal yang benar juga. Intinya, jangan sempat ketakutan itu justru menjadi penghalang bagi orang lain untuk melakukan hal yang benar. Biarkan ketakutan itu menjadi pendorong bagi pemiliknya agar ia melakukan hal yang benar. Sederhananya, tidak sepatutnya kebenaran itu membuat orang lain ketakutan kecuali jika orang itu tidak benar.
Firman-NYA yang sering kita dengar : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati ini menjadi tenang”
Alangkah pesan ini sedemikian universal.












Apakah “takut” kedua muncul karena “takut” pertama? Mungkin kata yang pas adalah takut sebagai tafsiran dari “taqwa”. Bagaimana dengan takut yang bercampur harap, apa masuk dalam lingkup Su’udz Dzhan yang dimaksud pada pengertian pertama?
Herianto :
Ada beberapa sumber lain dengan tema serupa, contoh :
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4709&Itemid=76
Tentang :
,
maksud pertanyaan mohon perjelas … (takut bercampur harap (asalkan) terhadap “ridha-NYA”, tentu bukan su udzon pada-NYA?)