Ketika ada anggapan bahwa politik dan kekotoran itu adalah pasangan yang alamiah tentu kita akan biasa-biasa saja (merasa lumrah) untuk melakukannya.
- - -
“Etika” apalagi “agama” … wow, dilarang masuk, prii…t !!!
Benarkah ???
Negeri ini barangkali perlu “bersih-bersih”, pasalnya ia didirikan dan dikendalikan atas sesuatu yang “mengandung” kotoran. Politik, ya… politik. Bukankah pengaturan Negeri ini telah kita serahkan pada satu sistem yang disebut dengan politik. Jika sistem pengaturnya kotor, tentu yang diaturnya (yaitu Negeri ini) juga jadi kotor. Seorang bapak tua bercerita pada saya,”Politik itu kotor”. Saya sih pada mulanya diam aja, tapi kemudian otak (kritis) ini bertanya,”Kalo begitu negara ini didirikan atas dasar sesuatu yang kotor dong pak ?”. Ia menjawab,” Iya, ibarat air dari PAM, sumbernya itu kotor, tapi kemudian dilakukan proses “bersih-bersih”, baru didistribusikan.” Wah…, logika apa ini ? Di saat saya masih kebingungan ia menimpali lagi,” Atau seperti koruptor yang pergi (naik) haji. Uangnya itu kan kotor karena diperoleh dari mencuri, untuk bersih-bersih dia lakukan dengan pergi haji, jadi bersihkan ?” Saya ngangah (maksudnya terperangah),”Ha… ??”. Menyadari “kekacauan pemahaman” si bapak tua, saya ngelongsor aja pergi.
Bertanya ke ahlinya
Jelas si bapak tua itu bukan ahlinya. Pemahamannya tidak lebih hanya sekedar berdasarkan “ota-ota” (ngomong-ngomong) antar rekan-rekannya seangkatan atau “ambuih-ambuih” (hembusan) pemahaman yang kadarnya menyesatkan. Atau bisa jadi ia peroleh dari orang yang “sedikit” ahli, tapi dengan “target politis” tertentu (ini aksi Meta Politik, baca wacana : “Meta” Politik di site ini), ada yang melakukan “pembodohan” (penyesatan makna) politik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Politik_Islam, http://pedoman-hidup.blogspot.com, http://hnw.or.id/id/main.php?op=isi&id=2237, …)
Realita
Realita adalah fakta, tetapi (untuk kali ini atau kali lain bisa juga) ternyata tidak mesti menjadi ‘kebenaran’ apalagi ‘Kebenaran’ (lho kok 2 kali). Sekali lagi, tidak semua fakta merupakan kebenaran.Contohnya begini…, adalah fakta bahwa 75% pemirsa televisi menyukai adegan ‘a-moral’. Lalu atas dasar fakta tersebut apakah menjadi wajar (maksudnya “legalkah?”) jika si ‘empunya’ siaran memperbanyak tontonan se “misal” demi “kesukaan” pemirsa tersebut ? Contoh kedua, adalah fakta bahwa “ummat” Islam saat ini banyak yang “bodoh-bodoh” (kasar amat ya istilahnya ?). Lalu apakah benar jika atas dasar itu ada sekelompok orang yang mengambil “action” untuk me-reka-ulang “bangunan” (sistem) ajaran Islam? Nah…, adalah juga fakta bahwa banyak pelaku “Politik” di Negeri ini berlaku “kotor”, lalu apakah benar kalau atas dasar itu kita berkesimpulan bahwa politik itu kotor ? Tidak toh ? Benar.., realita adalah fakta, tetapi ternyata tidak mesti menjadi ‘kebenaran’ apalagi ‘Kebenaran’. Simaklah.
Sebab Akibat
Mereka yang beranggapan bahwa politik itu kotor pada umumnya (atau jangan-jangan semuanya) adalah pelaku dari kekotoran politik itu.
Betapa tidak … Ketika di dalam kepalanya ada anggapan bahwa politik dan kekotoran itu adalah pasangan yang alamiah tentu dia akan biasa-biasa saja (merasa lumrah) untuk melakukannya. Sederhana sekali untuk memahami logika sebab akibat ini, tidak seperti logika si bapak tua. Wadduh….
Logika selanjutnya : Ketika anda menganggap bahwa sedekah itu baik, maka betapa merasa bersalahnya anda ketika ada kesempatan bersedekah tetapi tidak anda lakukan. Maka sama saja dengan ketika anda beranggapan ada celah untuk melakukan aksi politik dengan baik (termasuk berdasar moral, agamis), maka tentu menjadi betapa merasa berdosanya anda ketika tidak melakukannya dengan cara baik itu. Ini masalah peluang.Orang yang berpemahaman bahwa kebaikan itu ada,maka lebih besar peluang bagi nya untuk melakukan kebaikan itu, tapi orang yang berpemahaman hanya sedikit peluang keberadaan kebaikan di sana, maka …
Politik Moral
Nah sekarang kita jadi menyadari, betapa tidak dibutuhkan ahli khusus untuk mendefenisikan hal ini. Politik moral adalah politik yang aksinya tidak melanggar prinsip bermoral. Mudahkan ? Dalam hal ini ada teman bertanya,” Tapi bukankah ukuran moral itu bercabang-cabang, moral yang mana ?”. Ok, inilah jawabannya..
Partai Dakwah
Yang ini menjadi lebih sederhana lagi mendefenisikannya. Partai dakwah adalah suatu aktivitas yang menjadikan partai sebagai salah satu sarananya untuk berdakwah. Kalau anda mengira bahwa Partai itu beraliran hitam, dan dakwah beraliran putih, lalu mengira bahwa partai dan dakwah adalah seperti minyak dan air, tidak dapat dipersatukan, tentu anda sesungguhnya … wadduh…
Pendidikan Politik
Istilah ‘Partai Dakwah’ sesungguhnya dimaksudkan sebagai pendidikan politik bagi masyarakat dan ummat, bahwa keterlibatan kita terhadap negara ini secara baik-baik bisa dilakukan.
Konsistensi
Ini maksudnya tetap pada pendirian. Jika pendirian itu ‘Benar’ maka ajaran Islam menyebutnya : Istiqamah.
Ada pertanyaan (kritik) menarik tentang hal ini. Ternyata si “pengaku” Partai Dakwah juga tidak konsisten, mereka bohong di “slogan”, dan (maaf), mereka ternyata mengelabui ummat (Islam).
Ada apa? Ternyata gara-gara beberapa aspirasi (keinginan) politik ’sebagian’ tidak bersesuaian dengan keputusan Partai Dakwah ini. Dalam hal ini ada 2 kemungkinan. Pertama adalah benar si Partai dakwah tidak konsisten, mereka khilaf di dalam berkeputusan (dalam hal ini tergantung niatnya, jika niat di hatinya tetap benar semoga Allah mengampunkan dan meluruskan, insya Allah). Kedua ternyata si Partai Dakwah benar, tetapi tidak tersampaikan logika pemahamannya ke yang membutuhkan. Perhatikanlah, sesunggguhnya ke-2 kemungkinan di atas secara logika iman masih tetap bernilai istiqamah. Kenapa ? Karena yang terjadi sesungguhnya adalah ketimpangan di masalah kelengkapan informasi dan macetnya saluran komunikasi.Tetapi jika sekiranya kesalahan keputusan itu adalah karena mereka “tergoda” rayuan duniawi (wahn), maka sesungguhnya adalah benar bahwa mereka tidak konsisten.
Tetapi, jika kita menduga-duga saja bahwa mereka melakukan inkonsistensi tanpa melakukan proses pencarian (tabayyun) tentang ada apanya terhadap keputusan mereka, jangan-jangan jadinya kita yang terlebih dahulu inkonsisten sebelum terbukti keinkonsistensian mereka. Tabayyunlah… Allah memerintahkan ! (QS Al Hujurat: 6)
Wallahu a’lam bishawab.
(Link berkaitan : http://azzam.wordpress.com/2007/02/12/kajian-ilmiyyah-tentang-hizbiyyah )












[...] 1. Holistic: memandang sesuatu secara menyeluruh dari berbagai sudut-pandang selengkap-lengkapnya. a. Politik dan “kotoran” (itu) (?) [...]
Dakwah mencari kawan,
Politik mencari lawan
Hayoo, tebak ini ucapan siapa
Yang jelas saya sangat mengagumi tokoh ini
Herianto :
Berarti, Dakwah+politik = Seni menggugah lawan menjadi kawan
Hayoo, yang ini ucapan siapa ?
[...] Adakah kekotoran semata di keikut-sertaan [...]