Kritik virtual bagi yang melakukan
(“Untuk mengubahnya, kalian tak mesti berkuasa”)
Para alumni suatu negeri, mereka berkompromi. Me ‘gunjing’ kan kesempatan, dimana jalan untuk mencapai tampuk kekuasaan. Maka jalan pun ditemukan. Yang sesungguhnya “Makar”.
Begini…
Sebar ‘sanjungan’ ke setiap kelebihan teman. Sebar ‘hasut’ kelengahan ke yang di kira-kira ‘lawan’. Beri tenaga untuk ‘pemuka-pemuka’ corong keributan. Di sudut-sudut kota. Dimana suara dapat terdengar. Di titik-titik penting, dimana sempat bisa berkuasa.
Prii…t. Menjauhlah…Ketika keributan target tercapai. Benar saja… itulah makar.
Para alumni suatu negeri, Dengan perisai ‘kritik’ memperbaiki. Dengan alas kakinya demokrasi. Mereka mem ’benar’ kan caci-maki. Puh…
Para alumni suatu negeri, Para jendral maupun kopral. Mereka berkompromi. Yang sesungguhnya “Makar” . Simak petuah ini, bergumam,
“Untuk mengubahnya, kalian tak mesti berkuasa kan ?”.
Kecuali ‘birahi’ ambisi, tak pernah capai penuhi amunisi.
Kepada para jendral dan politisi (ter)pinggir(k)an.
Sabarlah 2009.
Tafsir :
Ketika ada yang baru datang (maksudnya baru berkuasa), yang lama merasa terpinggirkan. Mereka memuja-muja kerja masa ‘berkuasa’ nya (padahal sama saja) pada sesama atau pendatang baru terlantar.
Dengan perisai ‘kritik’ memperbaiki.
Dengan alas kakinya demokrasi,
Mereka mem ’benar’ kan caci-maki.
Puh…












Kata Mas Tukul, anggaplah orang lain seperti cermin, jika anda tersenyum kepadanya, dia pun akan tersenyum kepada anda, dan sebaliknya. Filosofis juga Mas Tukul itu ?!!
Ingat, jangan dijerumuskan oleh blog ini untuk bergunjung Mas, Uda?!
Me :
Kritik vs Gunjing, semoga berbeda…
Kritik juga seperti cermin,
Ketika kita berkata, sesungguhnya akan tampak bayangan kita dari sana, siapa..