Adang Daradjatun, Episode : “Kenapa tidak orang mereka ‘saja’ “ (2)
7 April, 2007 oleh Herianto
Dari fenomena Pilkada DKI Djakarta
(Telah kritis)
PKS memang ‘fenomenal’, dari namanya ‘tidak dikenal’, lalu menjadi ‘kuda hitam’ dan sekarang menjadi “siapa yang tak kenal’. Menjadi ‘wajar’ sepak terjangnya mengusik perhatian banyak kalangan, mulai dari kalangan ‘masinis’ (yang ‘masih sinis’), sampai kepada si simpatisan ‘kerasan’, apalagi pemerhati politik. Partai ini sesungguhnya diprakarsai oleh ‘orang-orang’ yang pada mulanya lebih ‘intens’ di dunia dakwah ketimbang ‘ikutan’ di hiruk-pikuknya politik era orba. Tak banyak juga yang mengekspose bahwa berbagai ‘proyek’ dakwah telah berhasil mereka bangun di berbagai ‘kalangan’ (terutama kalangan elit akademis). Pola dan prosesnya memang ‘unik’, harakah dengan model khas Indonesia.
Ada pertanyaan menggelitik dari keputusan Partai ‘Potensial‘ ini, yang mencalonkan seorang Adang Daradjatun sebagai Calon Gubernur DKI Djakarta di Pilkada DKI mendatang. “Kenapa sih tidak orang mereka saja”, tanya beberapa pengamat politik termasuk simpatisannya. Ternyata pemahaman ‘politik-kekuasaan’ (politik 100% untuk meraih kekuasaan) masih ‘mengikat’ kalangan kita. Pemahaman inilah sesungguhnya yang mengantarkan orang-orang pada prinsip politik adalah kotoran, politik adalah permainan curang, politik adalah uang, politik menghalalkan segala cara, politik adalah fitnah-hasutan, dan akhirnya : politik harus ‘orang saya’.
“Politik harus orang saya” ? Justru jadi mengherankan jika ‘wacana’ ini harus diterapkan oleh orang yang ‘notaben’ menggemakan politik ‘moral’, dan tentu menjadi wajar jika ‘yang meng-haruskan’ adalah mereka yang selama ini sering menyebarkan paham bahwa politik itu ‘kotoran’. “Politik harus orang saya” sesungguhnya milik penganut paham ‘men-segala-gala-kan’ kekuasaan.
Pada setiap aktivitas pasti ada tujuan. Politik adalah salah satu cara mencapai tujuan. Jika targetnya adalah tujuan dan caranya berlandaskan ‘moral’ (seperti slogan ‘dakwah’ PKS), maka untuk mencapai tujuan tentu tidak salah jika harus menggunakan tangan ‘orang’ yang diberi kepercayaan. Karena di ‘politik moral’, politik tak mesti meraih kekuasaan. Ambisi ‘kekuasaan’ (boleh, tapi bukan semata2, karena) dapat menutup mata atas aturan-aturan norma. Tak dipungkiri bahwa aktivitas politik akan menggiring pada kekuasaan. Tapi tak mudah dan tak sederhana untuk ‘menjinakkan’ Jakarta. Perlu ‘tangan’ khusus untuk meluruskan aturan dan menghentikan kesalahan dan berbagai kenakalan. Perlu tangan yang kuat sekaligus terkendali ke-bersih-pedulian-nya. Perlu tangan-tangan bersama untuk benarnya perubahan.
“Kenapa tidak orang mereka saja ?”. Karena kekuasaan adalah amanah. Beri amanah pada yang anda percaya. Bukan ‘sekedar’ pada orang-orang anda. Suatu ketika, ketika waktunya tiba, di ‘kesanggupan’ dan di ‘dukungan’ bersama, ‘kekuasaan’ bisa saja datang secara penuh, untuk yang layak dipercaya, untuk mereka.
.…to be continued…












Mr. Herianto,
Bahasanya terlalu abstrak, hanya bisa dipahami oleh orang-orang dengan standar IQ seperti saya.
betull..IQ saya juga tinggi maka saya pun paham hehehe
apalagi saya,ho,ho,ho
@Nuan Qamry
@wonkdeso
@wonkkoto
Terima kasih telah mem-fungsikan IQ nya …