Kritik, Hujat, Gunjing dan Hasut
2 April, 2007 oleh Herianto
Ini materi berat….
Yah…, membaca judulnya aja rasanya serem banget.. terutama di kata-kata : gunjing dan hasut.
Oke lah tentang ‘kritik’, ini masih berkonotasi ‘positip’ karena ‘seakan-akan’ (baca: ‘bisa jadi’) si pelaku menginginkan ke-lebih-kebaik-an dari yang di-kritiknya. ‘Hujat’ juga masih bisa berkonotasi positip, jika yang dihujat misalnya orang yang dikenal dominan ‘negatip’.
Tetapi kalo mendengar istilah ‘gunjing’ dan ‘hasut’. Wow.., telinga sendiri rasanya rada-rada ‘tersinggung’ (habis ‘merasa’ sebagai pelaku kali, he he…, nggak dong), atau kadang muncul pembelaan tanpa sebab, “Ah enggak.., kita-kita kagak sedang bergunjing atau meng-hasut, cuma meng-kritik aja kok, beda pendapat boleh dong…”. Demikian salah-satu contoh adegannya…
Okelah… tapi yang jelas ini memang termasuk materi berat.
Mirip dengan pembahasan masalah ‘ketulusan’ atau ke-ikhlas-an. “Siapa yang gak tulus, saya tulus kok melakukannya”, bela seorang teman. “Ah…, jangan munafik lo, penampilan dan kata-kata lo aja yang kayaknya santun dan tanpa pamrih, tapi di hati lo, gue tau deh, diam-diam lo mengincar ini-itu ( …..)
kan ?”, celoteh teman yang lain.
Begitulah…, di dunia yang fana ini, pengertian-pengertian ‘virtual’ menjadi begitu banyak yang memanfaatkan.
Kembali ke masalah kritik, hujat, gunjing dan hasut…
Wow, masih berat juga…. Apa ya ?
Darimana kita mulai…?
Kita mulai aja dari pengertian. Why… ? Karena dari ‘pengertian’ biasanya kita bisa memahami ‘perbedaan’-nya masing-masing. Pertanyaan-nya menjadi ‘Apa perbedaan : kritik, hujat, gunjing dan hasut? Dimana ‘garis-merah’ bisa kita tarik untuk mengatakan bahwa semua istilah itu masing-masing merupakan hal yang berbeda?
Begini :
Kritik adalah : Tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb. Seorang teman blogger menyatakan : kritik adalah vitamin dengan saran sebagai suplemen-nya. Yang lain ada menyebutkan bahwa Kritik adalah ibarat pil pahit yang terpaksa (semestinya : red) kita makan untuk meningkatkan kualitas kita sendiri. Bahkan ada yang sampai menyatakan kritik adalah (ibarat :red) pahlawan di setiap momen kepahlawanan yang tak pernah mendapat tanda pahlawan dan tak pernah diakui sebagai pahlawan. Milan Kundera menyebutkan, kritik adalah perjuangan melawan lupa. Kritik merupakan alat untuk mengingatkan. Tentu saja tidak semua kritik mesti ‘diikuti’ . Istilah kritik di dalam Islam adalah seperti nasehat (nashuha) dimana setiap muslim wajib melakoninya. Bahkan ‘kritik’ bagian dari aktivitas dakwah.
Hujat adalah : Kata padanannya ‘caci-maki’. Suatu cara dalam mengungkapkan kekecewaan, tetapi cara yang salah karena menggunakan kata-kata yang tidak ‘patut’ yang ditujukan ke orang/pihak tertentu.
Gunjing adalah : (Dalam pandangan Islam) menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Sederhana saja contohnya, misal kita menyebut seseorang ‘Hitam’, padahal itu adalah fakta bahwa ia memang hitam, dan ia tidak suka itu disebut-sebut, maka ini merupakan : gunjing. Jika ternyata sesuatu yang dibicarakan itu ‘bukan fakta’, maka itu tingkatannya lebih tinggi lagi yaitu : fitnah.
Hasut adalah : Menganjurkan orang lain (pihak ke-1) untuk melakukan sesuatu terhadap pihak lain lagi (pihak ke-2) dengan maksud membuat pihak lain (pihak ke-2) tersebut mendapatkan situasi/hal yang tidak diinginkannya atau bermaksud men-celaka-i pihak lain melalui tangan pihak lain dengan menyebarkan berita tertentu.
Metamarfosa
Ada metamarfosa yang mungkin terjadi dari tahapannya masing-masing. Mulanya berniat meng-kritik, lama-lama menjadi hujatan, lambat laun kok jadi ber-gunjing, eh…, ujung-ujung jadi meng-hasut. Ini metamarfosa alamiah ketika si pribadi tak kuasa men-stabilkan niat dan mengontrol di keberlanjutannya.
Lalu gimana dong ?
Intinya (Baca : nilai ruhiyah-nya) ada di : niat dan prasangka yang melanjutinya. Apakah anda sedang meng-kritik atau meng-hujat tergantung niat dan prasangka yang anda bawa. Ketika anda berniat mem-perbaiki pihak lain, dengan pertanda tidak ada dendam yang anda bawa atas niat tersebut (yang tahu anda sendiri toh ?), lalu anda tujukan padanya langsung ‘kelemahan-kelemahan’ yang semestinya dapat dicegah jika ia mengetahuinya, maka anda sedang meng-kritiknya. Tetapi ketika ada dendam yang anda bawa, anda mengira dia tak pantas untuk mendapatkan apa yang saat itu dia raih, maka saat itu anda sedang meng-hasut. Ketika anda menyampaikannya kemana-mana, dimana dengan cara itulah hati anda merasa puas menghakiminya, maka saat itu anda sedang meng-hujat sekaligus meng-gunjingi-nya.
Bagaimanapun setiap prilaku ada tingkatannya, sehingga setiap kita jadi berdebat apakah itu prilaku baik atau jahat. Yang jelas secara alamiah proses metamarfosa itu ada, ketika pribadi anda tidak kuat maka ‘kritik’ dapat berubah bentuk menjadi ‘hujat’, lalu ’gunjing’ dan akhirnya ‘hasut’.












Terima kasih. Pencerahan yg mcairkan..